
Malam semakin larut, Salwa dan Abhian bergegas pulang. tak lupa juga dengan menebus obat di apotek yang berada tak jauh dari rumah sakit tadi. Abhian benar benar merawat Salwa dengan baik.
Salwa sudah bisa berjalan tentu saja, meskipun tadi Abhian sempat ngotot ingin menggendongnya menuju tempat parkir, untung saja Salwa bisa meyakinkan Abhian kalau kakinya benar benar sudah baik baik saja.
Abhian membonceng nya dan mengantarkan pulang sampai di kontrakan nya. Tentu saja Salwa tidak bisa menolak karena tak ada pilihan lain. Sebelum Abhian berpamitan denganya tentu saja Salwa tidak lupa sudah mengucapkan terimakasih pada Abhian, juga merasa tak enak karena sudah behutang budi padanya.
Salwa janji akan membalas kebaikan Abhian nantinya.
Jam menunjukan pukul 02.30 dini hari.
Setelah Abhian pamit untuk pulang, Salwa segera masuk kedalam kontrakanya dan menuju ke kamarnya, ingin segera memejamkan mata dan beristirahat karena terlalu lelah.
Baru saja mata itu ingin terpejam, tiba tiba dirinya teringat sesuatu. Seragam sekolahnya!
Bagaimana besok dia bisa sekolah kalau tak memiliki seragam, sedangkan besok akan ada kuis fisika di kelasnya.
Salwa tetap pada posisinya, tapi matanya sudah tidak terpejam, otaknya berputar memikirkan cara untuk bisa mendapatkan seragam baru agar dirinya bisa sekolah dan mengikuti kuis untuk besok.
Sambil berbaring ia menatap sekeliling kamarnya, tetap berpikir, tatapanya beralih melirik kotak besar yang berada di atas lemari bajunya, sepertinya dia mengingat sesuatu. Ya! kotak itu, Salwa ingat di dalam kotak itu masih ada seragam sekolahnya yang dulu.
Dia segera bangkit lalu duduk di atas kasur, matanya tak lagi mengantuk, tanpa pikir panjang, dia bergegas membongkar lemarinya.
Sedikit susah menggapai kotak yang berada diatas lemarinya, dengan berjinjit akhirnya dia bisa meraih kotak besar itu, dengan tak sabar membawa kotak itu menuju kasurnya dan membukanya.
Matanya langsung berbinar setelah melihat isinya, seragam itu masih ada! terbungkus plastik bening dan terlipat rapi.
"Syukurlah masih ada" Katanya bernafas legas
Salwa bersyukur masih memilik seragam itu, meskipun seragam itu terlihat sangat pas di tubuhnya tidak masalah menggunakan ya sehari. Besok dia bisa membeli seragam yang baru di koperasi sekolah.
Akhirnya dia besok mengikuti kuis fisika!
🌈🌈
Melihat Salwa datang ke kelas dengan tangan yang terbalut perban dan dua lutut yang di tempeli plester, Vina begitu terkejut, dia tak henti henti nya mengoceh dan bertanya apa yang telah terjadi padanya, sampai badanya banyak luka seperti ini.
"Ya ampun Sal lo kenapa, Astagaaa!!" Teriakan itu menggema di kelas yang baru terisi beberapa murid saja.
Salwa hanya diam seperti biasa mengacuhkan pertanyaan Vina.
Vina kesal melihat Salwa diam saja, padahal dirinya sudah menunggu jawaban dari sahabatnya itu
"Sal, jawab ih?" Rengeknya yang langsung membuat Salwa menoleh padanya. Salwa hanya tersenyum menatap Vina
"Kebiasaan deh, ditanya malah senyum" Katanya dengan nada kesal
"Kemarin aku kecopetan Vin" Jawab Salwa singkat "Ceritanya nanti habis aku selesain tugas aku" Katanya sendu, lanjut mengeluarkan buku dan alat tulisnya
__ADS_1
"Hah kok bisa sih kecopetan" Jawabnya terlihat kaget, sebentar kemudian Vina kicep karena mendapatkan tatapan horor dari Salwa
"Nanti ceritanya, sekarang aku mau ngerjain tugas dulu. Vina" Jawab Salwa sembari mengalihkan pandangannya ke buku yang ada di depanya.
"Okeoke, lo selesain tugas lo dulu, ceritanya ntar aja" Jawabnya sambil nyengir.
Vina akhirnya diam, meskipun dia sangat penasaran. Tapi kalo Salwa sudah katakan nanti ya nanti. Kalau pun masih ngotot untuk menyuruh Salwa bercerita, Vina pasti yakin Salwa tak akan menceritakan kejadianya dengan detail karena terlalu fokus dengan tugasnya.
Oke, rasa penasaran nya bisa di tunda setelah tugas Salwa selesai. Menunggu sebentar saja tak akan membuatnya mati penasaran kan?
Salwa sudah menyelesaikan tugasnya, baru saja Vina ingin menagih janji nya pada Salwa untuk bercerita, bel berbunyi dengan nyaring.
Membuat Vina mencebikkan bibirnya dengan raut wajah kesal, padahal dia sudah sangat penasaran. Kenapa bel sekolah tak bisa diajak kompromi sih?
Istirahat📍
"Udah istirahat nih sal" Katanya telrihat tak sabar.
"Oke" jawab Salwa kemudian "Aku rapiin ini dulu" Lanjutnya memasukan buku buku ke dalam tas nya.
Vina masih setia dengan duduknya, dia bahkan sudah menghadap kearah Salwa dan menyingkirkan rambut yang menutupi kedua telinganya.
"Udah buruan" Ucapnya lagi lagi terlihat tak sabar.
"Jadi kemarin aku tuh........."
Salwa menceritakan semuanya dari yang A sampai Z tak ada yang di tambah ataupun di kurang, kecuali saat dia di tolong Abhian, masih malu jika harus bercerita kepada Vina tentang Abhian.
Bisa bisa Vina nanti heboh dan mencari Abhian ke kelasnya untuk bertanya ini itu.
"Makanya lo sekarang gausah lagi jalan kaki" Omelnya setelah Salwa selesai bercerita.
"Iya deh aku ga akan lewat jalan itu lagi" Jawab Salwa sambil memandangi tanganya yang terbungkus perban
"Tuh kan, tetep aja ngeyel" Ucapnya kemudian terlihat geram dengan jawaban Salwa yang melenceng dari kata katanya tadi.
Salwa hanya tertawa menahan geli menyadari jawaban yang baru dia katakan.
"Pokoknya lo sekarang harus janji gausah jalan kaki. Titik!!" Kata Vina tak bisa dibantah "Kalo lo tetep ngeyel, bisa bahaya Sal" Katanya lagi lagi terlihat gemas dengan ekspresi Salwa yang cuek bebek
"Iya Vin iya" Jawabnya terlihat mengalah
"Eh sal, tunggu deh" Kata Vina mencoba mengingat sesuatu
"Lo ngerasa ada yang aneh ga?" Lanjutnya terlohat serius. Salwa hanya diam masih belum ngeh dengan pertanyaan Vina.
"Aneh kenapa emang" Ucap Salwa bertanya balik pada Vina
__ADS_1
"Yealah si bego" Gerutunya terlihat kesal
Emang lo gak ngerasa aneh sama tu copet" Tanyanya kemudian lebih terlihat mengingat cerita Salwa tadi
"Yang di incer copet tuh biasanya duit kan? atau kalau nggak duit paling gak barang yang bisa di jual gitu" Jelasnya terlihat serius.
Salwa diam tak mengatakan apapun, masih belum menangkap maksud dari pembicaraan yang Vina katakan. Sebentar kemudian lalu mengangguk membenarkan.
"Terus tadi lo cerita ke gue kalo isi tas lo cuma seragam sama buku doang kan" Lanjutnya menatap Salwa dengan tatapan menerawang
Salwa lalu mengangguk masih terlihat berpikir
"Nah itu yang aneh maksud gue" Katanya sambil menjetikkan jarinya merasa sudah menemukan keanehan dalam insiden pencopetan yang dialami sahabatnya.
"Kalo emang tu orang niatnya beneran nyopet. Pasti mereka bakal balik lagi setelah tau apa isi tas lo!" Finalnya kemudian beralih memutar duduknya lurus
"Dan lagi, ngeliat lo yang udah lemes gara gara keseret motor, udah pasti mereka bakalan lebih mudah kan buat ngambil barang apa aja yang masih ada di tangan lo" Ucapnya memperjelas prediksi nya
Salwa mnegenyit heran memikirkan ucapan Vina. Sesaat kemudian iya mengangguk juga. Memang malam itu dia tidak berdaya bukan? tak ada siapaun juga disana.
"Ponsel sama dompet kan ada di saku lo" Tebaknya lagi, semakin serius dengan prediksi nya.
Salwa lalu manggut manggut baru menyadari maksud dari perkataan Vina.
Dua pencopet kemarin bukan berniat untuk mencopetnya, melainkan hanya untuk mencelakainya? Ya! itu terdengar masuk akal
Memang apa untungnya setelah membuat dirinya celaka, siapa sebenarnya yang menyuruh mereka untuk melakukan hal gila itu! Astagaa
Kemarin Salwa hanya berpikir pendek karena sudah bagus copet itu tidak kembali lagi untuk mengambil barang lainya, mungkin kemarin copet itu hanya berusaha melarikan diri dulu sampai tak sempat mengecek isi dari tasnya.
Tapi setelah mendengar penjelasn Vina, ini jadi semakin masuk akal? Pencopet itu tidak berniat mencopetnya, mereka hanya berusaha untuk mencelakainya!
Salwa merasa dirinya tak memiliki musuh sama sekali. Apa temanya di sekolah? itu tidak mungkin! Di sekolah dirinya hanya berteman dengan Vina kan?
Atau diantara para pegawai coffe shop? itu juga jelas tidak mungkin! Salwa hanya kenal beberapa orang saja, itupun hanya kenal saja dan tidak terlalu akrab.
Kemarin Salwa memang sempat memikirkan hal yang sama dengan apa yang sudah Vina katakan barusan, tapi tentu tak sedetail begini Sekarang Salwa yakin, bukan hanya dirinya saja yang merasakan keanehan itu melainkan Vina juga merasakan hal yang sama!
Jadi? Ada yang menginginkan dirinya celaka! Memangnya salah Salwa apa? dia tak pernah merasa punya salah pada siapa pun.
Siapa yang membencinya sampai melakukan hal gila itu, siapa pelakunya?
...**H a p p y R e a d i n g B r o ! ! !...
...Jempol mana jempol? Vote? komen. Ayolah yang rajin mencet jempol nya biar author tambah semangat buat update🤩**...
Minggu, 24 Januari 2021.
__ADS_1
My badroom 📍