
Sepulang dari sekolahnya, Salwa bergegas pergi ke tempat nya bekerja. Dia bahkan sampai lupa tidak menunggu Abhian seperti biasa karena memang kelas Abhian tadi belum terlihat bubar walaupun bel sudah berbunyi.
Dia terburu buru pergi karena memang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan seseorang yang bisa memberi nya petunjuk di coffe shop tempatnya bekerja.
Sesampainya di depan coffe shop, dengan nafas tersenggal Salwa melangkah cepat menuju basement dan masuk ke dalam ruang ganti, setelah beberapa menit dia keluar lagi dengan pakaian seragam coffe shop lalu dengan secepat kilat lagi mengayunkan kakinya menuju ruang dimana dia bisa mendapatkan rekaman cctv satu hari yang lalu.
Kini dia sudah berdiri di depan pintu sebuah ruangan, ruangan itu terletak tak jauh dsri ruangan gantinya tadi, dab berada di samping mushola coffe shop.
Salwa segera mengetuk pintu dengan tak sabar, lama pintu itu tidak kunjung di buka dia lalu nekat memutar knop pintu sembari membukanya, lalu kepalanya melongok kedalam ruangan yang kira kira berukuran kurang lebih 6x4 meter.
Setelah beberapa detik memperhatikan ruangan itu, sorot matanya mendapati seseorang yang berada di dalam ruangan itu, Salwa lalu tersenyum canggung sambil sesekali menggaruk tengkuknya sendiri menyadari kecerobohanya.
"Duh kamu gak sopan banget, kenapa nekat buka pintu sih" Gerutu Salwa merutuki dirinya sendiri.
Di dalam ruangan itu Salwa melihat ada satu orang lelaki, mungkin dia lah operator cctv di coffe shop ini dan kemungkinan besar Salwa yakin kalau dirinya sudah bertemu dengan orang yang bisa memberikan petunjuk tentang rekaman cctv sehari yang lalu.
Lelaki berkacamata dengan gaya rambut undercut itu menoleh saat mendapati Salwa yang tiba tiba membuka pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam. Dia lalu melihat Salwa sekilas dengan tatapan datar tanpa mengucapkan apapun, setelah itu kembali pada layar komputer di depanya.
Dia mengacuhkan Salwa sambil dengan cekatan menggeser-geser mouse komputer, sepertinya sedang menyelesaikan pekerjaanya dulu sebelum bertanya lebih lanjut.
Salwa hanya diam dan salah tingkah menunggu lelaki itu bertanya padanya, Tidak lama Salwa menunggu sebentar kemudian lelaki itu beralih menatap Salwa lagi sambil melepas kacamatanya.
"Ada yang bisa saya bantu" Katanya memulai percakapan.
Salwa sempat terkejut mendengar pertanyaan itu pasalnya dia sudah berpikir akan kena tegur karena sudah lancang membuka pintu dengan paksa dan nekat masuk sebelum di persilahkan masuk, tetapi dugaanya salah, sepertinya lelaki di depanya ini adalah lekaki yang baik hati.
"Eh, I iya, Ada!" Jawab Salwa terbata, lalu melangkah mendekati lelaki itu.
"Apa Kakak bisa menolong saya?" Tanya Salwa lagi setelah lebih dekat pada lawan bicaranya.
Mendengar pertanyaan Salwa, lelaki itu lalu menyipitkan matanya seolah bertanya "bantu kamu apa?"
Salwa yang melihat ekspresi itu buru buru menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke ruangan ini.
"Begini kak, saya mau melihat rekaman cctv yang ada di sekitar basement dan ruang loker satu hari yang lalu. Apakah boleh?" Ucap Salwa menjelaskan sembari bertanya sambil memasang wajah memelas.
Lelaki itu manggut-manggut lalu memperhatikan Salwa dari bawah sampai ujung atas kepala, dia lalu menghela nafasnya pelan.
"Kamu karyawan disini ya?"
Alih alih menjawab, lelaki itu malah ganti bertanya, mendengar pertanyaan itu Salwa langsung mengangguk mantap menanggapinya.
Kemudian lelaki itu memutar duduknya menghadap komputer lagi, dia seperti sedang mencari cari sesuatu di layar komputer itu dengan menggeserkan mouse nya beberapa kali, setelah menemukan gambar satu file yang entah itu apa dia lalu menghadap Salwa lagi.
"Ada masalah apa memangnya sampai kamu membutuhkan rekaman cctv satu hari yang lalu?" Tanyanya kemudian menatap Salwa penuh kecurigaan.
Salwa sedikit menciut mendengar pertanyaan itu, dia lalu memutar otaknya untuk mencari sebuah alasan yang bisa meyakinkan lelaki operator ini. Tetapi usahanya gagal, dia bahkan tidak bisa menemukan satu pun alasan yang terdengar masuk akal.
Kalau sudah begini bagaimana? Salwa sedikit bingung, di dalam hatinya dia lalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah tidak apa apa kalau dia jujur menceritakan masalahnya pada orang ini.
Salwa lalu mengangguk saja. Lelaki itu masih setia menatap Salwa dengan tatapan penuh tanda tanya dan kecurigaan.
__ADS_1
"Masalah apa memangnya?" Tanyanya lagi "Barangmu ada yang hilang?" Lanjutnya masih setia dengan posisinya.
Salwa yang terus mendengar pertanyaan itu lalu menunduk, dia bingung harus menjawab apa. Apa dia jujur saja pada lelaki ini, ataukah dia beralasan lain. Tapi sepertinya tidak mungkin menggunakan alasan lain, bisa bisa nanti kalau ketahuan berbohong Salwa bisa kena masalah di coffe shop ini.
"Itu kak, kemarin sepertinya ada yang membuka loker saya dan menggeledah isi tas saya" Jawab Salwa dengan satu kali tarikan nafas, Salwa benar benar takut jika lelaki ini tidak mempercayai ucapannya.
Setelah mendengar jawaban dari Salwa, tanpa mengatakan apapun lagi lelaki itu kembali memutar duduk nya menghadap layar komputer.
"Baiklah, tunggu sebentar" Katanya kemudian.
Salwa akhirnya bisa bernafas lega karena tidak lagi di tanyai hal hal lain oleh lelaki ini. Sambil menunggu Salwa lalu melangkahkan kakinya menuju kursi panjang di dekat lelaki itu, dia lalu duduk.
Baru beberapa menit menghempaskan dirinya di kursi panjang ini, tiba tiba ponselnya bergetar, sepertinya ada panggilan masuk.
Salwa buru buru merogoh ponselnya yang berada di saku nya dan melihat layar ponsel. Setelah melihat nama si penelpon Salwa lalu menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Oh iya lupa!" Desisnya setelah mendapati nama Abhian tertera jelas di dalam layar ponselnya.
Salwa lalu menggeser tombol hijau dan mengangkat ponselnya, dia lalu menggeser duduknya sedikit menjauh dari lelaki operator tadi.
"Halo bhi?" Sapanya memulai obrolanya di telepon.
🌈🌈
Di sekolahnya Abhian sudah menunggu Salwa seperti biasa, tetapi hampir 20 menit dia berada di parkiran ini kenapa Salwa tak kunjung terlihat. Bahkan sekolah sudah hampir kosong, mungkin hanya ada beberapa murid dan guru saja yang belum pulang.
"Ini anak kemana dah" Ucap Abhian bertanya-tanya "Kenapa dari tadi gak keliatan, masak iya tuh anak jalan kaki lagi" Sambungnya sembari merogoh ponsel nya
Abhian menggeser geser layar di ponselnya mencari daftar kontak di ponselnya, setelah menemukan daftar kontak dia buru buru mencari nama Salwa, lama dia menilik satu per satu nama di daftar kontaknya itu tetapi tak kunjung juga menemukan nama Salwa.
Entah kenapa dia menjadi kesal, setelah berpikir beberapa saat dirinya baru sadar kalau memang nama Salwa bukanlah "SALWA" melainkan "MATA EMPAT".
"Bego banget lo van!" Gerutunya merutuki kebodohanya "Mau lo cari ampe kiamat juga gak ada yang namanya Salwa di kontak lo!" Lanjutnya sembari mencari kontak Salwa lagi dan secepat kilat sudah menemukan kontak Salwa..di ponselnya.
Abhian buru buru menekan tombol panggil dengan tak sabaran, lalu mengarahkan ponselnya di dekat telinganya.
Panggilan itu sudah tersambung, tetapi tak kunjung di angkat, Abhian masih sabar menunggu. Sebentar kemudian terdengar suara seseorang di seberang.
"Halo bhi?" Sapanya memulai obrolan
"Halo? Lo dimana?" Tanya Abhian langsung setelah mendengar suara Salwa di seberang sana.
"Aku sudah di coffe shop bhi, kamu masih nunggu aku ya?" Terdengar suara Salwa, suara itu terdengar hati hati.
Abhian yang mendengar itu buru buru menggeleng walaupun Salwa tidak bisa melihatnya. Dia lalu berbohong "E enggak kok, gue udah pulang ini" Jawabnya sedikit terbata
Abhian tidak mau membuat Salwa tidak enak dengan dirinya makanya dia berbohong pada Salwa.
"Oh yaudah kalau gitu syukurlah! Aku kira kamu masih nunggu, maaf ya tadi gak sempat ngabarin kamu soalnya aku buru buru banget, ada urusan disini" Ucap Salwa sedikit berbisik.
"Urusan apaan?" Tanya Abhian pada Salwa.
__ADS_1
"Besok aja aku ceritanya, ok?" Kata Salwa lagi
Lama Salwa tidak mendengar suara Abhian, dia lalu menarik ponselnya dari telinganya dan melihat layar ponselnya. Salwa kira panggilan itu sudah berakhir karena dia tak lagi mendengar suara Abhian, tapi ternyata belum.
"Bhi? kamu masih disana kan?" Tanya Salwa lagi
"Eh iya masih, yaudah besok jangan lupa cerita ke gue"
"Oke, yaudah kalau gitu aku tutup dulu ya" Kata Salwa mengakhiri
"Oke!"
Mendengar jawaban itu, Salwa lalu memutus panggilanya dan kembali mendekati lelaki operator tadi sambil mengantongi ponselnya kembali.
Lelaki itu tengah memperhatikan Salwa, dia lalu beralih menatap komputernya dan Salwa juga ikut mendekati layar komputer itu, dia lalu melihat sebuah rekaman video yang belum terputar.
"Ini rekamanya, kamu bisa lihat sendiri" Kata lelaki ini sambil meng klik tanda putar di bagian bawah video.
Salwa mengangguk saja, dia lalu memperhatikan rekaman yang terputar di dalam layar komputer itu. Setelah melihat seseorang yang mencurigakan Salwa lalu menyuruh lelaki ini menjeda videonya.
"Ini ini kak tolong kakak jeda" Titahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Mendengar intrupsi itu, lelaki tadi dengan gesit menekan klik mouse lalu video berhenti berputar. Salwa sedikit menyipitkan matanya mengamati gambar seseorang di dalam video itu, orang itu terlihat berada di dalam ruang ganti dan berdiri tepat di depan loker miliknya.
Salwa seperti mengenali orang di dalam video ini, tapi siapa? Lama dia berpikir dan mengingat ingat sesuatu, nafasnya serasa berhenti ketika mengenali orang di dalam gambar itu.
"Lisa!"
Ya gambar di dalam video itu adalah Lisa, Salwa yakin itu adalah Lisa, dia yakin karena memang orang yang berada di dalam video itu terlihat menggunakan pakaian yang sama dengan pakaian yang dikenakan Lisa kemarin.
Setalah benar benar mengamati lekat lekat gambar itu, Salwa amat sangat yakin dengan penglihatanya, tanganya sontak berubah menjadi dingin, dadanya bergemuruh hebat karena sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang ini badanya pun menjadi lemas tak bertenaga.
Bagaimana mungkin Lisa yang melakukan semua ini?
Dengan sisa sisa tenaganya, Salwa lalu merogoh ponselnya lagi dan mengeluarkan ponsel itu. Dengan suara lirih dia meminta izin untuk memotret.
"Apakah boleh saya foto kak?" Tanya Salwa meminta izin.
Amir lalu hanya mengangguk saja menanggapi Salwa.
Ya nama lelaki ini adalah Amir, sebenarnya ingin sekali Amir bertanya lebih jelas mengenai masalah apa yang membuat gadis ini berubah menjadi pucat ketika melihat gambar cewek di dalam komputer ini, mungkinkah dia mengenalinya atau bagaimana? Tetapi niatnya bertanya terpaksa dia urungkan arena tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan gadis karyawan ini.
Jadi saat gadis ini bertanya dengan suara lirih dan sedikit bergetar tadi, Amir hanya mengangguk saja menanggapi pertanyaan gadis ini dan mengubur dalam dalam rasa penasaranya.
Karena menurut Amir, itu jauh lebih baik daripada harus bertanya ini itu pada gadis yang belum dia kenal.
...HAPPY READING & SEE YOU NEXT CHAPTER🔥...
^^^Minggu, 28 Februari 2021^^^
^^^My house📍^^^
__ADS_1