
**
Salwa sudah tertidur. Abhian lalu menatap dengan tatapan lembut, bagaimana bisa si pendiam Salwa mencemaskan dirinya seperti tadi.
Sungguh Abhian sangat bersyukur dengan adanya Salwa dalam kehidupanya. Kini dia benar-benar yakin kalau memang Salwa adalah bagian dari hidupnya yang hilang. Abhian sangat menyayangi Salwa begitu juga dengan Salwa, mereka bahkan hampir tidak pernah bertengkar sekalipun ada masalah hebat dalam hubungan mereka, tidak pernah renggang dengan apapun masalah yang sudah mereka terima.
Dari teror mulai SMA sampai di masa perkuliahan mereka selalu bersama dan tidak pernah menjadikan itu sebuah penghalang bagi hubungan mereka.
Samar-samar Salwa terbangun dari tidurnya, dia lalu duduk dengan tegak sambil melihat arloji yang melingkar di pergelangan tanganya, lalu menoleh melihat Abhian yang masih setia dengan mata yang terpejam.
Pukul 23.30
Malam ini udara terasa dingin, entah mengapa suasana hati Salwa sudah tidak seperti tadi. Sekarang jauh lebih tenang juga bisa berada di dekat Abhian membuat dirinya tidak perlu lagi khawatir dengan keadaan Abhian.
**
Pagi hari..
"Kamu sudah bangun bhi?" Tanya Salwa ketika melihat Abhian membuka matanya dengan samar.
Abhian menjawab dengan ber hem saja terlihat masih malas dan enggan menjawab dengan kata lain. Salwa yang bangun terlebih dahulu sudah menyiapkan beberapa makanan yang tadi sempat dia beli, dia pagi tadi sudah menemui perawat dan menanyakan makanan apa saja yang boleh di makan oleh Abhian untuk sarapan nanti.
Alhasil bubur dan beberapa roti sudah dia beli dan sudah dia hidangkan di meja yang memang sudah disiapkan rumah sakit ini.
"Kamu beli apa Sal?" Tanya Abhian dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku beli bubur sama roti Bhi" Jawab Salwa sambil melipat kasur lantai yang semalam dia gunakan untuk tidur.
Abhian kaget tentu saja mendengar jawaban Salwa, sedangkan Salwa sama halnya ikut kaget dengan reaksi Abhian.
"B.. BBU.. BUBUR SAL?" Tanya Abhian dengan terbata-bata
Salwa membulatkan kedua matanya, dia lalu mengangguk samar. Sebenarnya ada apa dengan BUBUR, memangnya ada yang salah dengan kata-kata itu?
__ADS_1
"Kenapa si bhi?" Tanya Salwa penasaran, Abhian masih kicep dengan raut wajah pucat.
"Aku ngga mau makan bubur Sal" Jawabnya kemudian disertai raut wajah tidak nafsu makan yang membuat wajahnya pucat.
Salwa memandang Abhian dengan tatapan penuh tanya. "Memangnya kenapa bhi, kamu kan lagi sakit" Terangnya dengan nada lembut seperti biasa.
"Enggak, enggak. Aku gak mau makan bubur, mending roti aja. Buburnya kamu aja yang makan" Jeals Abhian lagi sambil kelima jari tanganya ia ayunkan ke kanan dan ke kiri tanda tidak mau sama sekali menyentuh bubur itu.
"Kalo roti aja ya gabisa bhi, kamu harus butuh karbohidrat yang banyak" Kata Salwa lagi
Abhian masih dengan mulut yang tertutup rapat tidak ingin sama sekali membuka mulutnya. Dia tidak ingin sama sekali menyentuh bubur itu.
Salwa lalu berjalan mendekati Abhian, sambil melihatnya dengan tatapan lembut berharap Abhian mau makan bubur itu, dengan sabar Salwa lalu membujuk Abhian.
Meski dia tidak mau tapi Salwa dengan telaten membujuk Abhian dan pada akhirnya bubur itu habis tanpa sisa.
Abhian memang lah seseorang yang keras kepala, tapi dengan Salwa semua pasti bisa bisa selesai sesuai rencana.
**
Jadi mau tidak mau Salwa harus menemani Abhian di rumah sakit ini. Sebenarnya Abhian sudah melarang Salwa tapi Salwa tetep kekeuh ingin menemani dirinya.
Pagi hari Salwa bangun menyiapkan sarapan untuk Abhian dan berangkat ke kampus, setelah pulang dari kampus dia lalu pulang sebentar mengambil buku buku dan laptopnya lalu juga menyiapkan makan malam untuk Abhian.
Pihak rumah sakit sebenarnya sudah menyiapkan makanan untuk pasien namun Abhian berkata tidak nafsu makan jika harus makan hidangan rumah sakit. Jadi Salwa memutuskan untuk memasak saja di rumah dan dia bawa ke rumah sakit
Sudah seperti istrinya saja Salwa tersenyum ketika membayangkan betapa senangnya dia jika benar benar bisa menjadi bagian dari hidup Abhian.
Entahlah memikirkanya saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan. Setelah memasak dia lalu merapikan semua perlengkapan yang dia bawa, setelah semua siap Salwa bergegas pergi menuju pintu depan.
Dia keluar rumah dengan menenteng beberapa buku dan totebag yang berisi makanan yang sudah sempat dia masak tadi.
**
__ADS_1
Di lain tempat..
Terlihat seorang gadis dengan rambut lurus terurai sedang duduk di halte bus, sepertinya dia swdang menunggu seseorang.
Dengan memainkan ponsel nya dia sesekali melihat sekeliling. Masih dengan rambut lurus yang terurai dia kemudian menggelung rambut itu dengan asal.
Dia keluarkan sebatang rokok dari dalam tasnya, kemudian rokok itu dia nyalakan, gadis itu mulai menghisap rokok itu dengan santai.
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya datang mobil sport berwarna putih berhenti di depan gadis itu. Dengan cepat gadis itu mematikan rokoknya, membuangnya asal.
Gadis itu berdiri dan sedikit bercakap-cakap dengan seseorang yang ada di dalam mobil itu. Sebentar kemudian dia masuk ke dalam kursi yang ada di samping kemudi, lalu mobil itu melesat kencang meninggalkan halte dengan membawa gadis perokok tadi.
**
Salwa dan Abhian terlihat duduk di taman rumah sakit mereka sesekali bercanda dan melempar senyum satu sama lain.
Abhian yang duduk di kursi roda dan Salwa yang duduk di kursi tunggal yang memang sudah di siapkan rumah sakit disitu.
Rencananya besok Abhian sudah boleh pulang. Kata dokter setelah pulang Abhian hanya perlu menebus obat di apotek yang sudah di sediakan pihak rumah sakit.
"Kita masuk sekarang ya bhi, aku mau beresin barang barang kita dulu. Besok kita sudah boleh pulang kata dokternya" Terang Salwa dengan Abhian
"Iya, kamu kesana aja dulu aku tungguin disini aja. Soalnya kalo dorong aku kesana berat nanti kamu capek Sal" Jawab Abhian bernegosiasi
Salwa hanya mengangguk saja, kemudian dia berdiri, bergegas meninggalkan Abhian menuju lantai 4 untuk membereskan barang-barang yang ingin dia bawa pulang besok.
Setelah sampai di lift, Salwa segera masuk. Menekan tombol lift dengan cepat dan lift bergerak ke atas membawanya naik.
Pintu lift terbuka, Salwa keluar dan berjalan menuju ruang TULIP. Dia kemudian masuk dan segera mengemasi barang-barang yang dirasa perlu dibawa pulang.
Setelah semua beres. Salwa kemudian bergegas turun menemui Abhian lagi, masih di tempat yang sama. Namun Abhian tidak ada.
"Kemana bhian pergi ya, kok dia gada sih" Gumam Salwa, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri mencari Abhian.
__ADS_1
Lama dia berdiri disitu masih dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kemana Abhian pergi. Namun dia tidak menemukan keberadaan Abhian.