
Jika ditanya apa yang diinginkan Salwa? sudah pasti ia berteriak dengan lantang kalo uang yang menjadi prioritasnya.
Hidup sebatang kara dengan umur yang masih muda membuatnya harus berusaha menghidupi dirinya sendiri di tengah kerasnya dunia luar.
Salwa memang mendapatkan beasiswa penuh di sekolah. Tapi bukan berarti ia bisa santai dan tenang tenang saja, memang benar yang dikatakan banyak orang kalau sekolah gratis tentu tidak semulus kata gratis di bagian akhir kalimatnya.
Salwa tetap harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri, dan juga membayar kontrakan kecil yang ia tempati hampir 2 tahun ini, sebenarnya dulu Salwa punya rumah peninggalan kedua orang tuanya tetapi rumah itu sudah ia gadaikan untuk membayar ganti rugi kecelakaan yang menimpa ayah ibunya 1 tahun silam.
Alhasil Salwa tidak bisa menebus sertifikat rumahnya dan ia harus diusir dari rumahnya sendiri.
Rumah kecil dengan 2 petak kamar, keramik yang sudah pudar, serta cat warna putih yang sudah tidak sebersih saat pertama kali Salwa menempatinya itu, sekarang menjadi satu satu nya tempat yang ia gunakan untuk berlindung dari panas dan hujan.
⭐⭐
Salwa duduk di kursi kelasnya sambil memegangi buku tebal di tanganya, pandanganya menerawang jauh memikirkan bagaimana bisa ia harus menanggung dan memikirkan semuanya sendiri disaat ujian kelulusan tinggal menghitung bulan saja.
Seharusnya ia seperti murid lain, tidak memikirkan apapun kecuali persiapan ujian dan kemana ia harus melanjutkan kuliahnya.
Tapi takdir berkata lain.
"Kebiasaan deh ini anak" celetuk Vina sambil menghela nafasnya kasar
Salwa tersentak, lalu tersenyum saja menghiraukan tatapan jengah vina yang seakan hafal dengan rutinitasnya setiap hari -melamun.
"Apa sih yang lo pikirin? dari tadi bengong mulu dah!" gerutu vina mengibaskan tangan kananya kedepan wajah sahabatnya itu
"Aku gak papa vin, kamu kayak baru sekali dua kali aja ngeliat aku ngelamun" komentar Salwa
"Hehe emang sih, gada salahnya kan gue tanya" Serunya dengan cengengesan
"Itung itung biar keliatan care gitu" Tambahnya sambil tertawa geli
Salwa hanya memicingkan matanya lalu memanyunkan bibir nya memasang wajah sebal, Akhirnya Ia membuka buku dan menyumpal telinganya dengan earphone.
Malas jika harus menanggapi ocehan Vina karena ujung ujung nya pasti bercanda dan ngawurable banget.
10 menit kemudian bel masuk berbunyi nyaring, Salwa melepas earphone dan menutup buku tebalnya, memasukan ke dalam tas lalu berganti mengeluarkan buku mapel sesuai dan alat tulisnya.
Untuk sejenak! lupakan tentang masalah hidupnya. Hari ini Salwa siap mendapatkan materi dan pelajaran di kelasnya
⭐⭐
Kantin📍
Disinilah Salwa sekarang, berdiri didepan pintu masuk kantin, diam tak bersuara dengan muka tertekuk.
Sedangkan disamping Salwa ada Vina yang tak henti henti nya tersenyum penuh kemenangan merasa bangga berhasil menyeret sahabat kutu bukunya itu pergi ke kantin bersamanya.
"Ngapain muka lo tekuk gitu, makin kusut tau nggak" Celetuknya menyenggol lengan Salwa, menahan tawanya supaya tidak pecah
"Emang" Jawab Salwa sebal, lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Vina.
Vina terhenyak menatap kepergian sahabatnya dengan tatapan Cengo. Cuma Salwa satu satu nya manusia teraneh.
"Yaelah sal, bener bener ya lo. Sehari aja gak ke perpus muka keliatan galau banget kayak baru putus sama lee min ho" umpatnya sambil berlari menyusul Salwa yang sudah berjalan mendahuluinya.
Salwa malah lebih mempercepat langkahnya, menghiraukan teriakan itu seolah tak mendengar apapun.
Vina semakin mencak mencak!
"Sal woy, tungguin ih"
__ADS_1
______
Suasana kantin belum ramai seperti biasanya, hari ini kelas Salwa memang diistirahatkan 15 menit lebih awal dari kelas lain, karena memang kelasnya selalu mendapatkan waktu tambahan istirahat jika mendapat pelajaran dari Pak Mamad selaku guru biologi di kelas IPA 3.
Kantin terlihat begitu lenggang, kira kira baru ada beberapa murid saja yang duduk dan asyik mengobrol.
Beberapa murid itu pun masih mengenakan seragam olahraganya, sepertinya mereka juga mendapatkan jackpot istirahat tambahan dari guru mereka.
Setelah memesan makanan Salwa dan Vina berjalan beriringan
"Mau duduk dimana nih sal?" tanya Vina, dengan mata mengekor ke setiap meja kantin
"Emmm.. disitu aja kali vin" Salwa menjawab lalu mengarahkan jari telunjuknya ke meja kecil dengan dua kursi di samping pintu masuk kantin
Vina mengikuti arah telunjuk Salwa lalu mengangguk anggukan kepalanya
"Ogheyy, lets go" serunya bersemangat, berjalan menuju tempat pilihan Salwa dengan nampan di tanganya.
Setelah sampai, mereka duduk dan meletakkan nampan di tanganya, baru saja mereka duduk dan ingin menyantap makanan, bel istirahat berbunyi nyaring seantero SMA Garuda.
Vina dan Salwa saling pandang, lalu manggut manggut dan menghela nafas seolah tau apa yang akan terjadi setelah bel berbunyi.
Sudah dipastikan sebentar lagi kantin akan ramai dengan ratusan murid yang kelaparan!
⭐⭐
Keputusan Salwa mengikuti vina ke kantin sepertinya adalah kesalahan terbesarnya, bagaimana tidak? Setelah menyelesaikan acara mengisi perut nya kini mereka hanya bisa menatap jengah pintu masuk kantin yang benar benar penuh dengan para siswa yang berdesakan.
Sudah hampir 10 menit menunggu supaya pintu itu sepi, tapi apa? selalu ada saja gerombolan murid yang datang lagi dan lagi hingga pintu kantin yang sempit itu terhalang.
"Vin kalo gini terus kapan kita bisa ke kelas?" Gumam Salwa memandangi pintu itu dengan raut wajah penuh penyesalan
Vina nyengir
"Itu ga bakalan bisa sepi vin, sampai bel masuk juga gak bakalan sepi" Jawabnya pasrah
"Udah lah gak papa kita balik ke kelas aja" sahutnya malas, berdiri bersiap melangkah menuju pintu kantin yan penuh gerombolan para murid itu
"Lo yakin? entar kalo ga ada jalan terus malah ke dorong sama mereka gimana?" Tanyanya berturut-turut, mengikuti Salwa yang tiba tiba mempercepat langkah kakinya.
"Itu lebih baik daripada cuma nunggu tanpa usaha apapun" Jawab Salwa mengakhiri, mengayunkan kakinya sedikit berlari.
"Salwa kebiasaan! Tungguin ih"
Salwa berjalan kearah pintu tanpa menghiraukan Vina yang mengekor di belakangnya, sampai di tempat itu, beberapa kali Salwa mengucapkan kata permisi ke arah gerombolan itu. Tapi sepertinya ucapan Salwa tak membuahkan hasil.
Akhirnya Ia nekat juga menerobos, dengan menundukan kepalanya dan tangan yang berusaha membuka jalan bersusah payah berusaha untuk keluar dari gerombolan yang berdesak desakan itu.
Tapi tiba tiba kerumunan semakin ramai Salwa terdorong hingga terbentur dada salah seorang murid. Ia meringis memegangi dahi nya
Salwa mendongak ingin mengucapkan kata maaf, tapi?
"Maaf aku gak-" Ucapanya menggantung.
"Kamu?" lanjutnya sambil mengerjapkan matanya.
Tanpa mempedulikan ekspresi gugup Salwa, Abhian malah memasang wajah terlihat khawatir dengan dahi yang terbentur dadanya barusan.
"Lo gak papa?" Tanya Abhian menilik wajah Salwa
Salwa tersenyum dengan canggung, mengibaskan tanganya tanda kalau dirinya baik baik saja. [tapi jantungnya yang sedang tidak baik baik saja😆]
__ADS_1
Ia berusaha menerobos lagi dengan memegangi dahinya yang masih sedikit ngilu, tapi sialnya Salwa terdorong hingga kehilangan keseimbangan, tubuhnya lalu terhuyung ke depan.
Untung saja Abhian sigap dan langsung mendekap Salwa supaya tidak jatuh.
Salwa gugup, ia bahkan sudah melupakan Vina yang tak tau ada dimana.
Kemana dia pergi? kenapa Salwa merasa hanya dirinya sendiri yang berjuang dari gerombolan murid yang kelaparan ini.
"E eh hati hati dong"
"Iya nih jangan main dorong aja"
"Gimana sih kok gamau sabar"
"Kalau mau cepet gausah dorong dorong, pergi aja sono"
"Babi Lo!!"
"Setan!!!"
Makian para siswa yang juga ikut terdorong terdengar saling bersahutan. Salwa segera sadar lalu melepaskan dirinya dari dekapan bhian ia gugup lalu menunduk, pipinya sudah memanas karena menahan malu.
"Maaf, aku minta maaf" Cicitnya berusaha melepaskan dekapan bhian yang begitu kuat
Abhian hanya mengernyit bingung dengan permintaan maaf Salwa.
"Kenapa minta maaf, lo gak salah" jawabnya enteng tetap tidak melepaskan Salwa.
Abhian lalu menarik Salwa untuk keluar dari kerumunan, ia sengaja mendekap Salwa dengan kuat supaya Salwa tak lepas
Setelah sampai di depan pintu kantin Abhian baru melepaskan Salwa dan melihat Salaa hanya diam mematung tak berkata apapun.
"Lain kali hati hati, nerobos kerumunan itu gak segampang kabur dari koridor" Ucapnya pelan sambil meniup wajah Salwa yang terlihat kebingungan.
Bhian lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan tatapan Salwa yang speechless , akibat ulahnya.
Salwa mengerjap, badanya terasa kaku, nafasnya ingin berhenti. Aliran darahnya menjadi beku kala Bhian meniup wajahnya, desiran aneh di tubuhnya menciptakan degupan jantung yang berdetak begitu cepat.
Perasaan apa ini sebenernya?
Lama ia berdiri mematung, sebelum akhirnya sadar dengan apa yang di maksud dari perkataan Bhian tadi
"Lain kali hati hati, nerobos kerumunan itu gak segampang kabur dari koridor"
Kalimat itu terngiang ngiang di otak Salwa, ia baru sadar maksud dari kalimat itu.
Jadi sebenarnya Abhian menyindir dirinya? Abhian tau semuanya!
Salwa segera mengutuk dirinya sendiri! Ia merasa menyesal
Bagaimana bisa ia begitu bodoh sampai tidak tahu kalau Abhian mengetahui semua hal yang di lakukan untuk menghindari dirinya.
Sungguh!! siapa sebenarnya Abhian ini. Dia terlihat seperti manusia? Tapi kenapa bisa tau semuanya seperti cenayang!!
Salwa merinding...
...Ketemu lagi nih sama Salwabhian🤩...
...Ayo dong yang udah mampir dan udah baca tinggalkan likenya. Jangan diem diem ba'e, aku kan jadi gumushh🔥...
^^^Happy Reading❤️^^^
__ADS_1
^^^*Selasa, 19 Januari 2021^^^
^^^My house📍*^^^