Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
HATI DAN PERASAAN


__ADS_3

"Dulu aku sering banget ketemu Salwa di perpustakaan, tapi kayaknya Salwa tuh pendiem banget. Jadi waktu aku pengen bilang mau temenan sama dia aku gak berani" Katanya tersenyum masam


"Pak Budi juga sering bilang ke aku, kalau Salwa tuh selalu dapet nilai sempurna di mapel fisika, aku selalu meyakinkan itu ke Pak Budi dan bilang ke beliau kalo emang Salwa tuh bener bener berusaha buat dapetin nilai itu, tapi pak Budi selalu bilang kalau murid kayak dia tuh banyak di sekolah ini, dan yang pengen lanjut kuliah tuh bukan cuma Salwa aja, tapi ratusan murid di sekolah ini pasti punya mimpi gak beda jauh dari Salwa" Lanjutnya dengan raut wajah yang kembali serius.


Vina hanya diam mendengarkan penjelasan Lisa.


"Sampai kemarin aku ga sengaja denger percakapan Salwa dan Pak Budi, Salwa mau minta brosur tentang SBMPTN, aku yakin kalau pak Budi cuma nge iya in permintaan Salwa tanpa mikir buat ngasih brosur itu, tapi sekali lagi aku yakinin beliau kalau Salwa setiap hari ke perpus dan berusaha buat dapet nilai sempurna di mapel fisika tuh gara gara pengen bisa lanjutin kuliah, iya kan?" Katanya lagi, lalu bertanya kepada Vina.


Vina hanya mengangguk dan membenarkan.


"Makanya aku kemarin bantu dia buat yakinin pak Budi kalau Salwa gak main main sama kemauan dia buat lanjutin kuliah, aku ngerasa aku udah liat pengorbananya dari dulu, tapi masak aku diem aja kalau sampai pak Budi bener bener gak ngasih brosur itu. Dan kemarin aku sendiri yang ngotot ke pak Budi buat minta brosur itu dan ngasih ke Salwa langsung, maaf kalau kemarin aku harus pura pura gak kenal sama kalian dan pura pura gatau soal kalian" Katanya dengan raut wajah penuh penyesalan.


Vina lalu mengangguk dan mencoba mengerti. Lisa lalu tersenyum dan melanjutkan ceritanya


"Dan sekarang aku udah bisa temenan sama dia, rasanya tuh aku mau bantu dia buat bisa wujudin impian dia Vin, makanya aku berusaha buat jadi temen baik dia. Aku tau pengorbanan Salwa dari kelas sepuluh sampai sekarang, aku sering perhatiin dia dari jauh dan ternyata dia emang se kuat itu" Lanjutnya dan tersenyum matanya beralih menatap punggung Salwa dari kejauhan


Vina sudah berakaca kaca, dia lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Gue bodoh banget deh, kenapa gue selalu sinis sama lo. Padahal ternyata lo baik banget Lis. Arggghhh" Keluh Vina dengan nada frustasi


"Udah gak papa, lagian aku mikirnya ya emang aneh aja gitu kan tiba tiba aku ngajakin kalian temenan. Kemarin Salwa juga tanya apa alasan aku ngajakin kalian temenan, dan aku jawab aja sekenanya dan untung aja dia percaya" Kata Lisa meyakinkan.


Salwa dan Bhian datang membawa pesanan mereka, dan lalu duduk ke tempat semula


"Ini Lis, ini Vin" Katanya menyodorkan nampan berisi pesanan mereka tadi


Salwa sempat terkejut melihat raut wajah Vina sedikit muram, dia lalu memperhatikan Vina yang mulai menyendok baksonya, Vina masih belum menyadarinya.


"Vin kamu kenapa?" Tanya Salwa sedikit berbisik, tak ingin mengganggu Lisa dan Abhian yang sedang makan


"Hah? Emang aku kenapa?" Jawab Vina memasang wajah pura pura bingung.


"Enggak, maksud aku kamu habis nangis ya?" Tanya Salwa lagi lagi menilik wajah Vina


"Ih, apaan sih lo. Nangis kenapa juga, gada angin gada ujan kenapa gue harus nangis" Jawabnya terlihat serius.


Salwa lalu berusaha mengerti meski masih penasaran dengan raut wajah Vina, dia menggeser duduknya dan mulai menikmati makananya.


Abhian selesai makan, Lisa juga dan Vina juga sudah menghabiskan bakso dan es jeruk nya tanpa ada yang tersisa. Sedangkan Salwa masih terlihat dengan suapan terakhirnya..


"Sal habis ini ikut gue" Ucap Vina

__ADS_1


"Kemana Vin" Tanya Salwa setelah selesai dengan kunyahan di mulutnya


"Ke perpustakaan, pinjem buku" Jawab Vina sambil memainkan ponsel.


Abhian lalu berdehem dan ikut nimbrung


"Gue juga mau ke perpus, bareng aja" Katanya melirik Salwa yang sibuk dengan es jeruknya


"Iya aku juga mau ke perpus kok" Sahut Lisa ikut bicara


"Yaudah kita sekalian aja bareng bareng ke perpus nya" Jawab Salwa lalu mengambil tisuue dan melap mulutnya


"Oke, yuk!" Kata Vina sambil berdiri


Mereka bertiga juga berdiri dan berjalan keluar dari kantin


🌈🌈


Ketika sampai di perpustakaan, Salwa segera saja menuju bilik buku favoritnya, Abhian lalu menyusulnya sedangkan Lisa dan Vina terlihat sibuk dengan buku yang ingin ia pinjam.


Salwa lalu berjinjit mengambil buku incaranya yang berada di rak paling atas.


"Siapa juga yang naroh bukunya diatas, tega banget" Gerutunya sambil mengangkat tanganya lebih tinggi


Terlihat Abhian dengan senyum manis sedang menatapnya. Tentu saja Salwa diam dan tak bisa berbicara apa apa, situasi ini benar benar pertama baginya.


Lagi lagi dia menjadi Salwa yang bungkam


"Lo mau ambil ini kan?" Tanyanya menyodorkan buku itu


"I iya bhi" Jawab Salwa berusaha terlihat biasa


"Yaudah nih" Kata bhian lagi lagi menggerakan buku di genggamanya yang masih belum diambil oleh Salwa


"Huh, oh i iya" Jawab Salwa kebingungan, dan lalu mengambil buku itu "Yaudah aku kesana dulu bhi" Lanjutnya buru buru ingin menjauh dari Abhian, sayangnya kedua tangan Abhian sekarang sedang mengurungnya dan membuatnya tak bisa bergerak


"Lo kenapa mesti gugup gini sih Sal" Kata Abhian dengan nada serius menatap manik mata Salwa


Salwa hanya diam, kegugupanya bertambah saat Abhian mendekatkan wajahnya dan melontarkan pertanyaan itu, sukses membuat dirinya tak bisa berkata kata lagi.


"Ah itu, anu bhi" Jawabnya terbata, semakin terlihat gugup.

__ADS_1


"Tuh kan lo masih gugup" Geram Abhian lalu menyingkirkan tanganya sendiri


"Maafin aku bhi" Ucap Salwa lalu menunduk


Abhian semakin bingung, bukan itu sebenarnya yang ingin dia dengar. Bukan permintaan maaf Salwa ataupun Salwa yang menunduk. Dia hanya ingin melihat Salwa yang percaya diri dan berani, bukan Salwa yang lagi lagi menunduk dan mengucapkan maaf kepadanya seperti sekarang ini.


Dia meraup wajahnya kasar, bingung sendiri dengan perasaanya, sebenarnya dia kenapa?


"Lo gak salah Sal, gue yang salah!" Katanya lirih


Salwa lalu mendongak menatapnya penuh tanya seolah menuntut penjelasan dari Abhian.


"Gue yang salah karena gue harus suka sama lo" Lanjutnya yang lagi lagi membuat Salwa bungkam.


"Gue suka sama lo, gue juga gatau kenapa gue bisa suka sama lo. Aarrghhh!!" Lagi lagi dia meraup wajahnya sendiri merasa frustasi


Salwa hanya diam bingung juga harus bersikap bagaimana. Detik berikutnya suara Abhian lagi lagi terdengar


"Gue tau ini gak masuk akal, tapi gue bener bener suka sama lo" Katanya masih dengan nada serius


Salwa lalu mendongak menatap Abhian, nafasnya terasa sesak.


"Jadi pacar gue ya sal"


Pertanyaan itu sukes membuat Salwa kehilangan fokusnya, Dia bingung dengan perasaannya, inginya menolak tapi tak tega, bhian adalah cowok yang baik apalagi setelah menolongnya beberapa hari yang lalu Salwa merasa punya hutang budi kepadanya.


Jujur saja sebenarnya Salwa juga tertarik dengan Abhian, munafik kalau dia bilang tidak menyukai Abhian yang selalu membuatnya tersipu.


Lalu? kalau menerima ajakan Bhian apakah keputusan itu sudah benar, memangnya apa gunanya berpacaran saat masih sekolah? itu sama sekali tidak ada dalam daftar kegiatannya selama masih bersekolah bukan?


Bukankah fokusnya sekarang adalah mengejar beasiswa untuk masa depanya.


Apa untungnya menjalin hubungan dengan seseorang, saat masa depan sendiri saja dia belum bisa menentukan.


Abhian pasti belum tau tentang kehidupannya yang amat sangat menyedihkan ini, apakah Abhian mau menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya. Dia takut, seandainya Abhian akan menjauhinya kelak. Entahlah..


Salwa benar benar bingung dengan perasaannya!


Sebenarnya Lisa tuh baik apa jahat sih thor? rahasiaaa😂!!!!


...HAPPY READING GUYS🌈...

__ADS_1


Rabu, 27 Januari 2021


My house📍


__ADS_2