
Beberapa bulan kemudian setelah ujian..
Ujian telah usai, Salwa benar benar bersyukur dengan hasil yang dia dapat, dari semua siswa di sekolah nya dia bisa mendapatkan peringkat ke 9.
Meskipun tidak menjadi yang pertama, Salwa merasa bersyukur karena bisa masuk di 10 besar jajaran siswa terpintar se SMA nya. Tangis haru menyertai dirinya ketika melihat namanya terpampang jelas di urutan nomor 9 pada kertas putih yang tertempel di dinding pengumuman sekolah.
Mengingat kejadian teror yang terus menerus menganggunya dia bisa bernafas lega karena bisa membuat prestasi yang tidak bisa dia sangka.
Alhasil dengan hasil jerih payahnya itu Salwa berharap bisa masuk di perguruan tinggi impianya. Dan sekarang disinilah Salwa berada.
Universitas Indonesia program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Awalnya Salwa tidak menyangka dengan semua ini, dengan hasil yang semengejutkan ini, pesimis bercampur dengan ketakutan selalu menyelimuti dirinya ketika mendekati waktu ujian. Tapi dengan sekarang ini dia sangat sangat bersyukur bisa berada di lingkup Universitas impianya.
"Sal" Teriak Abhian dengan senyum terurai di wajah tampanya.
Singkat cerita Abhian yang dulu juga tidak terlalu pandai akhirnya bisa masuk di Universitas yang sama dengan Salwa.
__ADS_1
Itulah mengapa Salwa sangat sangat bersyukur dengan takdir tuhan yang membawanya masuk disini bersama Abhian
Seseorang yang amat sangat berarti untuk dirinya dan hidupnya. Seseorang yang baginya sudah menjadi bagian dari perjalanan dirinya bisa ada di kampus ini
Mendengar teriakan itu Salwa lalu mencari sumber suara, setelah mendapati Abhian dia lalu tersenyum simpul dan melambaikan tanganya. Abhian yang melihat itu hanya tertawa renyah lalu tergesa-gesa menghampiri Salwa.
"Kamu udah makan?" Tanya Abhian setelah sampai di depan Salwa
"Belom bhi, ini mau ke kantin" Jawabnya sambil melepaskan totebag putih dari pundak nya
Abhian hanya manggut-manggut saja, dia lalu memutar ranselnya sembari merogoh sesuatu di dalam tasnya. Sebatang coklat keluar dari ransel dan berada di genggaman Abhian.
Salwa hanya diam lalu tersenyum saja, karena tau kalau pemberian itu bukanlah tidak sengaja. Salwa sudah tau kalau Bhian sengaja memberinya coklat karena hari ini memang hari ulang tahunya. Dengan senyum yang mengarah ke Abhian dia lalu meraih coklat itu
"Makasih bhi, tau aja kalo aku hari ini pengen makan coklat" tukasnya dengan nada mengejek
Abhian yang mendengar itu hanya geleng geleng kepala, pasalnya dia juga sudah mengetahui kalau Salwa juga tau hari ini adalah ulang tahunya, tetapi Salwa tetaplah Salwa. Senang bercanda dan selalu mengikuti godaan Abhian yang terdengar random dan tidak jelas itu
__ADS_1
"Yaudah ayo bhi kita ke kantin, capek tau berdiri disini terus" Sahut Salwa sambil memasukan sebatang coklat itu ke dalam totebag nya
"Oh iya, makasih buat coklat nya dimakanya nanti ya abis makan nasi" Tambahnya dengan mengayunkan kakinya
Abhian yang mendengar ucapan Salwa hanya berdehem saja dan bergegas mengikuti Salwa seperti anak kucing bersama induknya.
****
Beberapa Bulan ini memang begitu berat bagi Salwa, selain dari kasus teror yang selalu menghantuinya dia juga takut kalau semua masalah yang ada di sekolah dulu akan terulang lagi di kampus ini.
Salwa begitu cemas ketika tau kalau dirinya bisa masuk di Universitas ternama ini, karena pasti sainganya akan jauh lebih berat. Tapi ketika berada di posisi itu senyum Salwa terbit melihat nama Abhian juga terpampang jelas di bawahnya.
Bukan tidak mungkin setidaknya masih ada orang yang bisa membuat nya tersenyum ketika berada di posisi sekarang ini.
Lisa, Vina, bahkan yang lain entahlah, sepertinya mereka tidak lolos dalam ujian tulis, jadi sudah hampir 2 bulan mereka tidak bertemu.
Salwa terlalu sibuk dengan urusan kampus sedangkan mereka pasti juga sudah sibuk dengan urusan masa depan masing-masing.
__ADS_1
Maka dari itu kenapa Salwa bisa merasa sangat sangat bersyukur dengan adanya Abhian di kampus besar ini, karena memang Salwa sangat tidak pintar dalam mencari teman baru.