Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
PAPERBAG KEDUA


__ADS_3

"Mau bilang sesuatu" Jawab Abhian singkat


**


"Sesuatu apa bhi?" Tanya Salwa memposisikan diri untuk duduk.


Lama suara di telepon itu tak bersuara. Salwa masih setia menunggu jawaban dari Abhian, dia juga di rundung rasa penasaran.


Pasalnya Bhian jarang sekali menelpon dirinya pagi pagi seperti ini kalau memang tidak ada kepentingan yang benar-benar mendesak.


Jadi tanpa berpikir panjang Salwa kembali bertanya


"Halo bhi? Kenapa diem lagi?" Tanya Salwa untuk yang kedua kalinya.


Bhian masih diam. Tapi sebentar kemudian dia kemudian bersuara, di seberang sana tampak deru nafasnya bisa di dengar oleh Salwa.


"Itu, nanti kalau keluar rumah. Kamu liat ada apa di depan pintu rumah kamu" Jawabnya menjelaskan.


Mendengar jawaban Abhian. Salwa kemudian diam sebentar, sedangkan Bhian masih tetap melanjutkan penjelasannya.


"Kamu gausah keburu takut dulu Sal, nanti aku kesana" Tegur Bhian ketika mengetahui Salwa hanya diam.


Salwa kemudian mengangguk samar.


Jantung yang tadinya berdetak kencang kini mulai berangsur membaik, pikiran-pikiran yang tadinya berfikir ke arah negatif juga sudah tidak terlalu membayangi dirinya, Salwa kembali berusaha menormalkan dirinya untuk tetap tenang.


"Habis ini aku otw ke rumah. Kamu siap-siap aja dulu" Ucap Bhian lagi.


Panggilan kemudian di akhiri oleh Salwa atas perintah Abhian.


Setelah itu dia menyimpan ponsel ke dalam laci, dan bersiap untuk pergi mandi. Salwa kemudian berdiri dan berjalan sempoyongan ke arah lemari, dia kemudian meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak sampai setengah jam, dia kemudian keluar dengan handuk yang bertengger di kepalanya.


Pagi ini entah mengapa dia memutuskan untuk keramas, kepalanya mendadak pusing memikirkan hal-hal aneh yang terus berputar.


Sepertinya kejadian semasa SMA akan terulang kembali. Entahlah, Salwa sebenarnya berharap untuk tidak lagi mengalami kejadian seperti dulu.


Namun sepertinya takdir berkat lain.


**


Seuasi berdandan Salwa lalu melangkah keluar kamar.


Dia duduk di kursi ruang tamu, sambil sesekali melirik ke arah pintu rumah.


"Emangnya ada apa sih kemarin" Gumamnya pelan dengan raut wajah amat penasaran.


Ketika suasana hening Salwa kemudian mengeluarkan laptop dan buku tebal dari dalam lacinya.


"Bhian kenapa lama banget ya" Gerutu Salwa lagi sambil melihat ponselnya berulang kali.

__ADS_1


Ketika asyik bermain ponsel Salwa kemudian di kejutkan dengan suara motor yang berhenti tepat di depan rumahnya.


Dia kemudian berdiri, kakinya melangkah menuju jendela rumah, rencananya dia akan mengintip keluar dulu dan tidak langsung membuka pintu, takut jikalau bukan Abhian yang datang.


Namun ketika menyibak gorden rumah. Salwa bisa bernafas lega karena melihat motor Abhian yang terparkir di pelataran rumahnya.


"Akhirnya.." Gumam Salwa seraya berangsur jalan untuk membuka pintu.


Salwa keluar rumah dengan banyak rasa penasaran. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan dengan Abhian, kejadian kemarin di pasar malam tentang segerombolan preman itu pun bahkan masih berputar di kepalanya.


Pintu rumah terbuka, menampilkan Abhian dengan helm yang masih terpasang di kepalanya.


Salwa tersenyum melihat Abhian, sedangkan Bhian berusaha untuk membuka kaca helmnya, dia kemudian membalas senyuman Salwa.


"Masuk bhi, helm nya di copot dulu lah" Ucap Salwa terkekeh.


Abhian kemudian berjalan masuk ke rumah Salwa sambil berusaha melepas helm yang masih terpasang di kepalanya.


"Tumben, kamu masih bisa ketawa Sal" Tegur Abhian dengan seulas senyum hangat yang menghiasi bibir tipisnya.


Salwa hanya mengedikkan bahunya acuh. Sebenarnya ingin tersenyum pun dia masih merasa canggung dengan suasana ini, masih banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya.


Dan ketika melihat Bhian hatinya kembali menghangat. Rasanya Abhian seperti malaikat penolongnya.


Belum sempat Abhian masuk, tiba-tiba dia berjongkok.


Salwa yang menyadari hal itu kemudian ikut melongok keluar rumah, ikut memperhatikan Bhian yang berjongkok dan sesuatu yang dia ambil.


Bhian kemudian memungut paperbag itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Apa sesuatu yang kamu maksud itu...?" Tebak Salwa menggantungkan ucapanya.


Bhian kemudian menganggukkan kepalanya. Dia lalu duduk di ruang tamu, kedua matanya menerawang jauh.


Kemudian dia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan menyodorkan kepada Salwa.


"Kemarin malam aku liat ini" Katanya pelan


Salwa diam tak bergeming, dia kemudian meraih ponsel itu. Dan melihat rekaman cctv yang ada di dalamnya, sepertinya Salwa masih belum selesai dengan pertanyaannya.


Masih dengan tatapan penuh tanya. Akhirnya dia fokus dengan video dari ponsel yang diberikan oleh Abhian.


Sebenarnya dia masih ingin menanyakan banyak hal lagi kepada Abhian, namun dia urungkan dulu niatnya.


Sesaat setelah melihat video itu, Salwa jadi paham dengan arah pembicaraan yang akan Abhian jelaskan.


Ini tentang 'sesuatu yang dia maksud' yaitu oaperbag misterius tadi.


Memang benar bahwa ada yang sengaja meletakkan benda itu di depan rumah Salwa. Namun di dalam video itu tidak terlihat jelas wajah sang pelaku, mereka hanya bisa melihat postur tubuh dari kedua pelaku itu.


Salwa sudah yakin kalau kedua pelaku itu adalah seorang wanita jika dilihat dari postur tubuhnya.

__ADS_1


Masih dengan video rekaman itu, Bhian kemudian mulai bertanya kepada Salwa.


"Kemarin malam gak terjadi hal-hal aneh kan Sal?" Tanya Bhian menilik wajah Salwa dengan seksama.


Salwa menggeleng, dia kemudian meletakkan ponsel Bhian di pangkuannya. Matanya menyipit, melihat Abhian.


Melihat Salwa yang mulai memperhatikan dirinya, Bhian jadi salah tingkah.


"Kenapa Sal?" Tanyanya dengan wajah gugup.


"Kamu kok gak ganti baju?" Ucap Salwa sambil mengerucutkan bibir.


Abhian memasang wajah cengo. Dia hampir lupa kalau pacarnya ini adalah manusia paling teliti sepanjang seseorang yang ada di hidupnya.


Mendengar ucapan itu, Bhian kemudian nyengir. Salwa kemudian menatapnya penuh sangsi, dahinya berkerut.


Dia memperhatikan Abhian lekat-lekat. Sepertinya ada yang aneh dengan Abhian pagi ini.


Matanya sembab. Bajunya tidak ganti dan rambutnya terlihat acak-acakan.


Salwa kemudian bertanya-tanya dalam hatinya. Kemudian satu pertanyaan lolos dari mulutnya


"Kamu kemarin begadang ya?" Tebaknya penuh selidik.


Abhian gelagapan tentu saja. Entah mengapa Abhian selalu saja dilanda rasa gugup ketika di tanya oleh seorang Salwa.


Pacarnya itu tidak pernah salah ketika menebak sesuatu tentang apa yang terjadi kepada dirinya.


Memang benar bukan? kemarin malam dia memang tidak bisa tidur. Bahkan dia tidak bisa melewatkan video cctv rumah Salwa walau hanya sedetik saja.


Itu sebabnya matanya terlihat sembab. Dan rambutnya terlihat acak-acakan.


Abhian diam.


Salwa semakin gemas dibuatnya.


"Bhi, kamu kemarin beneran gak tidur kah?" Tanya Salwa lagi dengan raut wajah terlihat sedih.


Dengan berat hati dia kemudian mengangguk, sambil memasang wajah yang terlihat menyesal.


"Sekarang jangan bahas ini dulu Sal" Kata Abhian mengalihkan pembicaraan.


Salwa kaku menggeleng "Enggak enggak. Kamu bilang dulu sama aku, kenapa kamu kemarin gak tidur" Cerocos Salwa tanpa jeda.


Abhian menghembuskan nafasnya. Dia lalu melirik ponselnya, dagunya menunjuk benda pipih itu dengan raut wajah sendu.


"Mantengin ponsel" Jawab Abhian.


Salwa semakin tak percaya.


"Kamu mainan ponsel sampai gak tidur?" Tebak Salwa dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2