
Setelah kedua tangan Salwa melingkar dengan sempurna, Bhian kemudian tersenyum.
Sedangkan Salwa hanya diam sembari meletakkan kepalanya di atas pundak Bhian.
**
15 menit perjalanan berlalu. Abhian dan Salwa sudah tiba di depan rumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Bhian kemudian langsung berpamitan kepada Salwa
Setelah Bhian beranjak pulang. Salwa kemudian masuk ke dalam rumah dengan sedikit menguap karena kantuknya.
Dia kemudian merogoh kunci di dalam totebagnya. Setelah menemukan kunci rumah Salwa buru-buru membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Keadaan rumah Salwa memang selalu bersih. Karena sebelum pergi keluar rumah Salwa tidak pernah lupa membersihkan rumahnya, dia kemudian masuk ke dalam rumah.
Berjalan menuju dapur, tak lupa dia menuangkan air ke dalam gelas dan menenggak air putih itu dengan cepat.
Salwa kemudian duduk di meja tempatnya makan. Dia sedikit melamun melihat tangan yang semakin terasa dingin itu membuat Salwa semakin menggenggam erat jari-jarinya.
Semakin kesini teror yang dia alami semakin berkurang, bahkan dengan hilangnya teror itu Salwa menjadi semakin lega.
"Syukurlah" Ucapan itu lolos dari mulutnya yang tidak lagi bisa berkata-kata.
__ADS_1
Dia kemudian berdiri, berjalan menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang kecil miliknya.
Sebentar kemudian dia tersenyum.
"HuhbAkhirnya sampai di rumah juga" Gumamnya dengan mata terpejam.
Setelah itu Salwa kemudian terlelap dengan tidurnya.
**
Di lain tempat terlihat seorang perempuan membawa nampan berisi minuman hangat. Dia kemudian meletakkan dua minuman itu kepada dua orang yang sedang duduk dan terlihat berbincang-bincang serius.
Gadis itu kemudian meninggalkan mereka setelah menyajikan minuman itu.
Sebentar kemudian dia kembali dengan membawa gadis itu kepada salah satu pria yang ada disitu.
Pria itu kemudian tersenyum, sedangkan gadis itu kemudian menundukkan kepalanya.
Dengan raut waja yang sedikit ketakutan gadis itu tidak ingin menatap wajah pria itu. Sedangkan pria itu malah tertawa ketika melihat gadis itu.
"HAHAHAH.. Tidak apa-apa manis, kau sebentar lagi akan menjadi milikku" Ucap pria paruh baya itu dengan suaranya yang lantang.
Gadis itu semakin ketakutan, tangannya bergetar menandakan bahwa dia semakin takut dengan suara pria itu.
__ADS_1
Dia kemudian di seret menuju mobil, ketika hendak masuk ke mobil. Gadis itu sedikit terkejut karena di dalam mobil itu sudah ada satu gadis.
Dia kemudian bertanya-tanya, sebenarnya siapa gadis di dalam mobil ini. Kenapa raut wajahnya sama bingungnya.
"Masuk!" Perintah pria tadi dengan mata melotot tajam.
Gadis itu menurut saja, dia kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di samping gadis yang sudah ada di dalam mobil ini.
"Hai!" Dia mencoba menyapa.
Gadis itu tersenyum saja dan melambaikan tangannya juga.
"Hai.." Katanya dengan suara bergetar
Gadis yang baru masuk ke dalam mobil itu terkejut, ada apa sebenarnya dengan gadis ini. Kenapa dia malah menangis, apa yang membuatnya menangis
"Ehh.hehh.. Kamu kenapa?" Tanya gadis itu dengan raut wajah khawatir
Gadis itu hanya menggeleng pelan, hal itu semakin membuat bingung.
Gadis yang baru masuk itu kemudian mengusap punggung gadis tadi dengan lembut berusaha menenangkan.
Setelah beberapa menit dia tenang, dia kemudian mencoba untuk bertanya dengan pelan-pelan.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa?" Tanyanya "Kenapa kamu menangis?" Lanjutnya dengan suara lirih