Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
GARA GARA KURSI RODA


__ADS_3

Abhian mengendarai motornya tak tenang, sesekali ia melirik kaca spion memastikan Salwa tetap baik baik saja, bagaimana bisa Salwa setenang itu padahal tubuhnya di penuhi banyak luka, Bagaimana bisa gadis itu tetap tersenyum seolah dirinya baik baik saja.


Bibirnya tersenyum getir, membayangkan gadis itu terseret motor tanpa ada yang menolongnya, Abhian bisa merasakan bagaiman takutnya wajah itu meski sekarang Salwa sedang tersenyum manis seolah tak terjadi apa apa


Untuk kali ini bhian bersyukur, karena pengumuman mendadak itu bhian tidak jadi menginap di rumah Verel


Bagaimana kalau tadi ketua kelasnya tak memberi pengumuman itu, sudah pasti Abhian tak akan pulang ke rumah, bagaimana kalau tadi bhian tetap keras kepala menginap di rumah Verel, sudah pasti sekarang Abhian sedang tidur nyenyak tanpa memikirkan hal buruk terjadi pada Salwa.


Bbian menambah kecepatan motornya melaju menembus jalanan sepi itu, 10 menit mereka sudah sampai di depan rumah sakit.


Abhian segera turun, lalu menyuruh Salwa untuk tetap diatas motor


"Lo tunggu disini, gue kesana bentar" Titahnya sembari buru buru melepas helm nya "Jangan kemana mana, gue bakal kembali secepatnya" Katanya kemudian setelah helm terlepas.


Salwa mengangguk samar, Abhian melesat pergi menuju lobby rumah sakit.


Beberapa menit kemudian Abhian datang membawa kursi roda dan berhenti tepat di depanya. Berjongkok mengecek semua roda yang melekat pada benda itu dan berdiri diam menatap Salwa.


"Ini.. untuk apaan bhi?" Tanya Salwa terlihat ragu menatapi benda itu lamat lamat


"Lah, kok malah tanya" Jawabnya gemas "Ya buat lo" Katanya, sembari mendekat ke arah Salwa. Salwa melongo, dia merasa tidak perlu harus pakai kursi roda hanya untuk menuju lobby yang jaraknya hanya beberapa meter saja, ini berlebihan.


"Udah yuk naik" Katanya lembut sambil melingkarkan tanganya ke pinggang Salwa


"Ng.." Salwa terlihat, ragu


"Kenapa?" Tanya bhian mendongak menatap wajah Salwa


"Gak mau naik kursi roda?" Tebaknya dengan alis berkerut "Apa gue gendong aja, hm?" Lanjutnya, mengangkat tubuh kecil, terlihat begitu mudah abhian mengangkat tubuh kecil itu.


Ucapan Abhian lagi lagi membuat Salwa bungkam. Sebenarnya Salwa tak perlu kursi roda juga tak perlu di gendong, Abhian memapahnya saja sudah cukup, luka luka nya tidak terlalu parah. Hanya beberapa luka saja yang masih terasa nyeri dan perih.


"Gue bisa kali gendong lo" katanya santai mendorong kursi roda itu.


"Tapi kayaknya, lo kesakitan banget waktu mau gue gendong tadi" Ucap Abhian tenang


Salwa mendongak menatap Abhian. Abhian lalu menunduk balik menatapnya


"Kenapa?" Tanya Abhian heran, Salwa hanya diam. "Beneran mau di gendong aja?" Tanyanya terlihat serius


Salwa lalu menggeleng pelan. tetap mendongak, Abhian yang fokus melihat depan tidak nenyadari Salwa yang masih menatapnya.


"Mmm Bhii.." Panggil Salwa hati hati, Abhian menunduk "Ya?" sahutnya.


"Makasih ya" Ucapnya dengan nada parau


Abhian tersenyum hangat, doronganya terhenti menyadari Salwa mendongak menatap nya. Tangan kananya lalu terulur mengelus rambut Salwa dengan lembut.


"Sama sama" Jawabnya tersenyum manis.


**


Ketika berada di lobby rumah sakit, Salwa hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya karena banyak mata menatap nya heran.


Kakinya baik baik saja, tidak ada yang terkilir ataupun patah. Tapi dia harus duduk di kursi roda dan di dorong Abhian seperti orang yang benar benar tidak bisa jalan.


Niat Abhian memang baik tapi kalau sudah begini mau di taruh di mana muka Salwa😂


"Lo tunggu disini" Katanya manatap Salwa

__ADS_1


"Gue mau ke situ, bentar" Tambahnya, memutar langkah nya menuju temapt yang ia maksud


Salwa mendongak menatapnya sebentar lalu mengangguk.


Segera Abhian mengayunkan kakinya menuju tempat yang ia maksud dan menyapa resepsionis rumah sakit itu dengan sopan. Entah apa yang ingin ia tanyakan, Abhian terlihat sangat serius.


Setelah urusanya selesai, ia langsung menghampiri Salwa dan membawanya ke sebuah ruangan kecil yang berada di ujung koridor rumah sakit.


Ketika sudah masuk ruangan itu, Lagi lagi Salwa harus menunduk malu. Dokter yang berada di dalam terlihat terkejut mengira pasienya mengalami luka yang serius sampai harus menggunakan kursi roda ini.


"Apa yang terjadi" Tanya dokter itu terlihat khawatir


Salwa hanya tersenyum sungkan, dia hampir menjawab tapi Abhian sudah lebih dulu bersuara


"Jatuh dok" Jawab Abhian seraya duduk di kursi kecil.


Salwa meringis menanggapinya, gemas juga mendengar Abhian hanya mengucapkan dua kata itu, telrihat seperti teka teki bukan?


"Jatuh dimana? Apa ada yang patah atau bagaimana?" Lanjut dokter itu tanpa mengalihkan pandanganya menatap i luka luka Salwa, masih dengan raut wajah nampak begitu khawatir


"Ini dok" Jawab Abhian menunjuk kedua lutut Salwa beralih ke siku "Tapi buk-"


Belum selesai Abhian bicara, dokter itu nampak gusar dan segera meraih gagang kursi roda berusaha mendorongnya untuk keluar ruangan


Abhian memasang raut bingung, apakah ia salah ruangan atau apa pikirnya, kenapa dokter ini ingin membawa Salwa keluar?


"Kalau gitu kenapa kamu bawa ke ruang perban" Ucapnya, hendak memutar arah kursi roda Salwa


Salwa yang tau kalau ada kesalah pahaman segera saja buka suara, masih terlihat sungkan. Salwa menatap Abhian seolah mengirimkan telepati padanya, tapi Abhian tidak nyaut sama sekali, ia hanya menatap Salwa dengan wajah bingung. Akhirnya Salwa mencegahnya untuk berhenti


"Dok.. dok tunggu sebentar" Katanya.


"Gak ada yang terkilir ataupun patah dok" Lanjutnya, dengan nada serius. Dokter itu masih terlihat bingung dan tidak mengerti arah pembicaraan Salwa


"Saya cuma ke seret motor, ini cuma luka biasa" Katanya lagi menjelaskan.


"Yang ini juga, ini juga" Lagi lagi Salwa bersuara sambil menunjuk semua luka yang tadi di tunjuk Abhian.


"Iya dok, bener" Jawab Abhian setelah menangkap maksud penjelasan Salwa kepada dokter itu


Akhirnya dokter itu baru menyadarinya setelah beberapa saat mencerna kata kata Salwa, ia lalu menghembuskan nafas nya, berbalik menuju kursinya, menghempaskan tubuhnya ke kursi itu, terlihat sedikit lebih tenang


"Terus tadi pas saya tanya ada yang patah kenapa kamu tunjuk semua" Kata dokter itu kemudian menatap Abhian menuntut penjelasan


"Lah, kok saya yang disalahin" Jawab Abhian terlihat cemberut


"Tadi kan saya belum selesai bicara dok, dokter sih udah keburu panik gitu aja" Tambahnya tertawa geli.


"Berani kamu nyalahin saya" Jawab dokter itu dengan nada bercanda. Seolah mengerti apa yang di tertawakan Abhian.


Salwa hanya nyengir, Abhian ikut nyengir.


Dokter itu bangkit, mengambil perban dan kotak obat lalu memulai tugasnya


Di sela sela membersihkan luka, tiba tiba saja dokter itu mendongak. Sedikit memicing menatap Abhian yang terlihat begitu khawatir menatap Salwa yang sedang diobati olehnya.


"Kamu cinta banget ya sama pacarmu?" Tanyanya pada Abhian.. Salwa kaget tentu saja, tapi diam saja pura pura tidak mendengarnya


Abhian yang sedari tadi hanya memandangi luka luka Salwa yang di obati oleh dokter itu sedikit tidak fokus pada pertanyaan barusan. Jadi ia hanya menjawab dengan hm saja

__ADS_1


Merasa tak puas dengan jawaban Bhian, Dokter itu beralih menatap Salwa seolah meminta penjelasan darinya. Salwa hanya menanggapinya dengan salah tingkah, bingung harus mengatakan apa. Kenapa juga Abhian mengatakan kalau dirinya ini pacarnya, yang benar saja!


"Ehh.. Gimana dok?" Sahut Abhian setelag kembali tersadar dengan pertanyaan dokter itu lalu mengalihkan pandanganya.


"Ini.. Pacar kamu kan?" Tebak dokter itu penuh percaya diri, tersenyum menatap Salwa yang terlihat terkejut.


Abhian yang sudah fokus dengan pendengaranya juga ikut terkejut. Dokter itu sama terkejutnya ketika sadar kalo tebakanya sepertinya keliru


"Hah? Bukan pacarmu?" Tanyanya lagi dengan nada terlihat kaget


"Bukan dok" Jawab Salwa sopan, lalu tersenyum canggung. Dokter itu manggut manggut


"Untuk sekarang bukan dok, gak tau kalau besok" Kata Abhian buru buru. Dokter itu tersenyum geli "Itu kata katanya dilan kenapa kamu pake" Omelnya, memasang wajah sinis, menggunting perban Salwa, menyelesaikan pekerjaanya.


Abhian tertawa saja menanggapi dokteri itu, matanya melirik Salwa sebentar penasaran dengan bagaimana ekspresi Salwa menanggapi candaanya, Sedikit kecewa karena mendapati gadis itu hanya tersenyum kaku seperti biasanya.


"Udah selesai" Kata dokter itu menutup kotak obat, lalu berjalan menuju mejanya.


"Oh iya untuk kamu, lain kali kalo ditanya dokter itu jawabnya gausah setengah setengah" Katanya menatap Abhian "Semua dokter juga panik kalo ngeliat pasien banyak luka kayak tadi dianter pake kursi roda" Ucapnya, lagi lagi memberi wejangan pada Abhian.


"Eh, iya dok. Saya minta maaf" Jawab Abhian sopan, tapi masih ada cengiran di sudut bibirnya.


Dokter itu lalu mengangguk sambil tersenyum saja.


"Ini resep obatnya" Kata dokter itu menyodorkan selembar kertas, Abhian lalu menerimanya


"Kamu bisa tebus di apotek terdekat" Katanya kemudian


Abhian mengangguk sopan, Salwa hanya tersenyum simpul lalu ikut mengangguk.


Begitu ingin keluar dari ruangan, Salwa berusaha berdiri, Abhian yang tau hal itu buru buru menahanya untuk tetap duduk.


"Naik ini aja" Katanya seraya mendorong Salwa pelan agar kembali duduk.


Salwa berdiri lagi, merengek pada Abhian. Dia tidak mau duduk lagi di kursi roda itu, takut banyak yang salah paham lagi, toh luka luka nya sudah diobati dan sudah baik baik saja juga bisa berjalan tanpa bantuan kursi ini


"Iya gak papa dek, duduk disitu aja" Ucap dokter itu tertawa ringan seolah menyadari raut kegelisahan Salwa.


Salwa sempat beradu pandang dengan Abhian, wajahnya terlihat memelas menatap bhian, tapi Abhian tetap saja tak memghiraukan rengekan Salwa.


"Gausah malu, lagian itu fasilitas rumah sakit. Udah gak papa" Suara dokter itu terdengar lagi, matanya berkedip menatap Salwa seolah menyuruhnya untuk tidak membantah sang calon pacar.. Salwa akhirnya duduk lagi.


"Tuh, dokter aja bilang gakpapa Sal, udah duduk aja" Katanya terlihat serius tak mau dibantah "Apa minta di gendong aja kalo gitu" Lanjutnya menaik turunkan kedua alisnya. Salwa menghela nafas pasrah, benar benar tidak bisa menolak lagi


Abhian lalu membungkuk kearah dokter itu. Salwa juga mengangguk sopan lalu mengucapkan terimakasih. Dokter itu tersenyum saja menanggapi keduanya


"Mari dok" Ucap mereka berdua bersamaan sebelum benar benar keluar dari ruangan


Dokter itu tertawa geli melihat keduanya. Bagaimana bisa mereka mengucapkannya bersamaan padahal baru saja terlihat uring uringan.


"Dasar ABG" Cibirnya, menatap hilangnya sua sejoli itu dari balik pintu ruanganya.


......H A P P Y R E A D I N G🤩......


...*Jangan lupa vote, dan tinggalkan like kalian. Coment juga silahkan, langsung aja cus👆...


Sabtu, 23 Januari 2021*


*My house**📍*

__ADS_1


__ADS_2