
Sudah hampir satu bulan Salwa menjalani hidupnya dengan normal, tidak ada teror seperti sebelumnya. Bagi Salwa itu adalah kebahagiaan tersendiri dalam hidupnya karena terbebas dari teror yang selama ini membuatnya selalu merasa was was dalam keadaan apapun dan membuat kehidupanya menjadi tidak tenang.
Tapi satu bulan terakhir ini hidupnya terlihat normal seperti biasanya, semenjak insiden dua orang misterius itu. Sudah tidak ada kejadian aneh atau pun kejadian misterius yang menimpanya lagi.
Terkadang Salwa merasa bingung dengan arah kehidupanya, ada apa sebenarnya dengan orang orang misterius itu, kenapa sudah tidak mengganggunya nya lagi? mungkinkah mereka takut karena ada Abhian yang selalu menjaganya setiap saat? atau saat ini di balik orang yang menerornya itu, akan ada rencana selanjutnya yang jauh lebih mengerikan untuk mencelakainya lagi? Entahlah.. Seharusnya Salwa tidak
perlu repot-repot memikirkan hal itu bukan, dia seharusnya merasa senang karena sudah bisa menjalani hidup normal seperti biasanya bukan malah memikirkan hal lain yang akan menghambat kehidupanya.
Di satu sisi Salwa memang merasa lega dengan keadaanya yang sekarang, tidak perlu khawatir dengan apapaun karena ada Abhian yang selalu menjaganya, juga Vina dan Lisa yang selalu mendukungnya, bahkan ada mbak Erin juga yang selalu setia dan siap mendengarkan segala keluh kesahnya setiap saat.
Tapi di sisi lain Salwa juga masih merasa cemas dengan kejadian mengerikan yang pernah menimpa dirinya. Bagaimanapun juga dia belum menemukan orang di balik semua kejadian itu, jadi Salwa masih belum merasa lega dengan sepenuhnya. Alih alih merasa lega, Salwa justru semakin gelisah setiap harinya karena memikirkan keselamatan Abhian dan teman temanya, juga mbak Erin bahkan keselamatan akan dirinya sendiri.
ππ
Malam ini seperti biasa Salwa sedang bekerja di coffe shop, dia terlihat melamun dengan dua tangan yang menyangga kepala, pandanganya kosong dan lurus menatap ke arah pelanggan pelanggan di dalam ruangan bernuansa cokelat ini.
Mbak Erin yang menyadari Salwa sedang melamun segera saja berjalan mendekat kearahnya. Setelah sampai di dekat Salwa dia lalu manggilnya.
"Sal?" Panggilnya pelan, tidak ada respon dari Salwa. Gadis itu masih setia dengan posisi nya dan pandanganya masih tetap sama.
Erin segera mendekat lagi, sedikit mencondongkan badannya dan semakin mendekat.
"Heh Sal!?" Ulangnya memanggil nama Salwa dengan menyenggol lengan nya, hal itu sukses membuat Salwa mengerjap dan baru sadar akan kehadiranya.
"Eh mbak Erin" Sahut Salwa cengengesan lalu berdiri tegap.
"Kamu dari kemarin ngelamun mulu deh Sal?" Ucapnya berbalik badan tepat di samping Salwa, lalu menyenderkan tubuhnya di etalase yang berada di sampingnya.
Salwa lalu nyengir seperti biasa. "Ngelamun gimana sih mbak?" Katanya terlihat santai
"Kamu gausah boong deh Sal" Jawab Erin memutar bola matanya malas dengan jawaban Salwa yang selalu saja sama.
Salwa hanya diam, dia lalu menunduk sambil memainkan jari jari nya, Erin meliriknya sebentar lalu menghela nafas.
"Kamu kalo ada masalah cerita dong Sal" Kata Erin dengan nada lembut "Aku kan udah bilang jangan di pendem sendiri itu masalah. Kamu masih ada aku, aku juga udah nganggep kamu seperti adek aku sendiri" Lanjutnya dengan nada parau terlihat sedih.
Salwa tetap enggan untuk membuka mulutnya, dia bahkan semakin bungkam kala melihat Erin terlihat putus asa dengan sikapnya akhir akhir ini, Salwa sedikit merasa menyesal sudah merahasiakan semua masalahnya dari wanita baik ini.
"Apa kamu udah beneran gak mau cerita masalah kamu sama mbak?" Ucapnya masih dengan nada terlihat sedih
"Mbak gakpapa kok Sal kalau emang kamu gak mau cerita, tapi tolong jangan buat mbak khawatir dengan kamu yang sering ngelamun dan gak fokus sama kerjaan akhir akhir ini" Lanjutnya lagi "Itu bener bener buat mbak khawatir Sal" Tukasnya kemudian.
__ADS_1
Salwa benar benar merasa buruk pada dirinya sendiri. bukankah dia terlalu jahat, padahal di coffe shop ini hanya Erin yang selalu peduli padanya.
Bukanya Salwa harus menceritakan masalah serius ini pada Erin? Akhir akhir ini Salwa akui, dia memang tidak fokus saat bekerja bahkan saat sedang beristirahat ataupun bersantai Salwa sering kali melamun dan Erin selalu memergokinya.
Salwa memang tidak pernah dimarahi oleh Erin, bahkan boss nya ini malah selalu bersikap sabar, menanyakan keadaanya setiap kali memergokinya sedang melamun, Erin bahkan juga selalu berkata kalau dia siap mendengarkanya untuk sekedar bercerita dan membagi masalahnya denganya.
Tapi apa yang Salwa lakukan? Alih alih mau bercerita, selama satu bulan terakhir ini Salwa selalu mengabaikan kepedulian Erin dan hanya merespon ke khawatiran Erin dengan gelengan kepala sambil tersenyum manis seolah tidak ada masalah apa apa, padahal sudah jelas kalau sikapnya yang sering melamun pasti akan membuat siapa saja tau kalau di sedang banyak pikiran, apalagi Erin yang notabenenya adalah orang yang sudah lama kenal denganya.
Lama Salwa diam memikirkan kata kata yang baru saja di ucapkan wanita di sampingnya ini, sesekali dia melirik Erin yang masih sibuk dengan gelas di tangannya, kembali rasa bersalah itu membuat Salwa semakin menyesal.
Dia lalu menatap Erin dengan wajah terlihat serius, Erin yang sadar dengan tatapan itu langsung meletakkan gelas dan lap nya, dia lalu hanya diam. Seperti sudah tau dengan suasana ini, Erin tatap diam dan menunggu apa yang ingin Salwa sampaikan kepadanya.
Salwa lalu menarik nafasnya dan menghembuskanya kasar. Dia lalu meraih kedua tangan Erin, dengan raut wajah penuh penyesalan dia berkata dengan mantap.
"Aku bakal cerita mbak" Katanya dengan nada serius.
Erin yang mendengar itu merasa lega dan bahagia, gadis kecil di depannya ini memang tidak berubah meski sudah hampir dua tahun dia mengenalnya.
Dia masih Salwa yang pendiam seperti dulu, Erin memang sudah hafal dengan sikap Salwa, gadis kalem di depanya ini memang tidak akan bercerita kalau tidak di paksa seperti tadi bahkan sudah beberapa kali Erin mengalami hal seperti ini, tapi dia tetap sabar menghadapi sikap Salwa.
Baginya dia sudah menganggap Salwa seperti adik kandungan nya sendiri.
Salwa hanya mengangguk saja menyetujui, sebentar kemudian Erin lalu berbalik dan meletakkan lap di tempatnya
"Jangan lupa nanti aku anterin kamu pulang, Ok?" Katanya lagi pada Salwa dan berjalan menuju ruanganya.
Salwa yang mendengar ucapan itu lagi lagi hanya mengangguk saja, setelah Erin benar benar pergi dan lenyap di balik pintu kaca itu, dia lalu merogoh ponselnya dan berniat mengirim pesan pada Abhian untuk tidak usah menjemputnya karena nanti dia akan pulang bersama Erin.
Setelah mengirim pesan itu Salwa lalu memasukkan kembali ponselnya dan bergegas membereskan pekerjaan yang sempat tertunda
ππ
...Terkadang memang ada beberapa masalah yang seperti tidak mempunyai jalan keluar dan itu pasti membuat dirimu putus asa dan frustasi. Ketika kau merasa seperti itu cobalah untuk berbagi masalahmu pada orang lain! Mungkin *memang tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu, tetapi setidaknya dengan bercerita dan berbagi pada orang lain bebanmu bisa merasa sedikit berkurang dan kau akan merasa sedikit leg**a. Percayalah*!...
Salwa sudah sampai di kontrakanya, dia juga sudah menceritakan semuanya pada Erin dari satu masalah hingga semua kejadian yang menimpanya akhir akhir ini. Dan memang benar!setelah bercerita pada Erin Salwa merasa sedikit lega dan tidak terlalu tertekan dengan keadaannya sekarang.
Tadi sebenarnya, Erin memaksa Salwa untuk pindah ke apartemenya, terlalu berbahaya katanya jika dia harus berada di kontrakan kecil ini seorang diri.
Tapi Salwa langsung menolaknya secara halus, dia bahkan juga membawa nama Abhian agar Erin tidak memaksanya untuk pindah, dia meyakinkan Erin bahwa temanya Abhian itu selalu menjaganya setiap saat, dan juga mengatakan pada Erin kalau satu bulan terakhir ini, kejadian kejadian itu sudah tidak pernah dia alami lagi. Dan untung saja Erin tidak jadi kekeuh untuk membawanya pindah ke apartemenya.
Salwa sudah membersihkan dirinya, kini dia sedang berbaring di tempat tidurnya, sebentar kemudian dia lalu bangun dan duduk menyenderkan punggungnya di tembok kamarnya, suasana malam ini terasa sepi hanya ada suara jangkrik yang sesekali terdengar nyaring di pendengaranya.
__ADS_1
Masih dengan posisi duduk dia lalu merangkak menghampiri nakas di samping tempat tidurnya, meraih buku tebal dan membukanya perlahan, karena akhir akhir ini Salwa selalu susah untuk tidur, dia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan soal soal dari bukunya.
Baru saja Salwa membuka buku yang ada di tangannya, terdengar dering dari ponsel yang berada diatas nakas di samping tempat tidurnya, dia lalu merangkak lagi dan mengambil benda pipih itu.
Setelah mendapatkan ponselnya, matanya langsung melirik layar dan melihat nama "ABHIAN" yang muncul, tanpa berpikir panjang Salwa langsung menggeser tombol hijau keatas dan mengarahkan ponsel itu di telinganya.
"Halo.. Iya.. Waalaikumsalam"
"Udah bhi.. Ini masih baca buku"
"Iya.. Bentar lagi aku tidur"
"Hm aku tadi pulang sama mbak Erin kok"
"Hm oke, kamu tidur aja"
"Iya gakpapa, makasih ya"
"Waalaikumsalam"
Salwa memutus panggilanya, dia lalu menurunkan ponselnya dan menggenggam benda pipih itu seraya mengulum senyum.
Abhian benar benar membuatnya merasa di pedulikan, sekarang Salwa pasti salah tingkah dengan perhatian kecil Abhian ini, padahal bukan kali pertama dia mendapatkan telepon dari Abhian seperti ini, bahkan Salwa sudah tidak tau ini telepon yang ke berapa kali Setelah kejadian misterius yang dia alami satu bulan yang lalu. Setiap malam Abhian memang sengaja menelepon, hanya untuk memastikan keadaanya baik baik saja
Salwa lalu melepaskan ponsel itu dan kembali membaca bait demi bait soal soal itu, hampir setengah jam dia berkutat dengan banyak pertanyaan, tidak terasa matanya sudah berat dan mulai mengantuk, Salwa juga sudah menguap beberapa kali.
Samar samar dia lalu menutup bukunya, merubah posisinya dan berbaring lalu melepaskan kacamatanya. Salwa menarik selimut untuk menutupi separuh tubuhnya supaya tidak terasa dingin, lalu bersiap untuk tidur.
Dia berusaha memejamkan matanya yang sudah terasa sangat berat. Tapi sebentar kemudian matanya yang hampir terpejam itu sontak terbuka lebar kala mendengar ketuk an pintu yang sama seperti waktu itu.
Dia tidak jadi tidur dan kembali terjaga lalu berdebar hebat..
...Aku baru up lagi wkwkπ maapkeun karena terlambat update nya yeee!...
...Oke! HAPPY READING and SEE YOU NEXT CHAPTER π»...
...T H A N K Y O U π...
JUM'AT, 12 Februari 2021
My homeπ
__ADS_1