Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
MENCARI TAU


__ADS_3

Salwa menelan ludah nya kasar memandangi kedua seragam yang terlipat asal diatas kasur kamarnya.


Dilihatnya lamat lamat kedua barang itu bergantian, dia sangat yakin dengan ingatanya bahwa seragam sekolahnya hanya tinggal satu pasang saja, seragam yang dulu sempat dia gunakan sudah dia masukan kembali di dalam kotak diatas lemarinya, lantas mengapa sekarang di dalam tas ranselnya sekarang ada dua seragam?


Aneh! ini benar benar aneh!


Masih ingin memastikan kalau ingatannya benar benar masih normal, Salwa lalu berdiri mengambil kotak besar tempat dimana dia meletakkan seragamnya yang lama, susah payah dia menggapai kotak itu dan setelah mendapatkanya dia lalu meletakkan kotak itu kasar dan membukanya dengan tak sabar, dia hanya ingin memastikan lagi kalau memang itu bukanlah barang yang sama, dan benar dugaanya kotak itu masih berisi seragam yang terlipat rapi sama seperti waktu pertama kali dia meletakkanya di dalamnya. Dengan perasaan gundah dia tutup kembali kotak itu, menurunkanya di bawah dan kembali menatap kedua kain yang terlipat asal di atas kasur.


Salwa kembali berpikir dan menebak dari apa yang dia lihat sekarang ini, yang benar saja. Ada dua seragam yang berasal dari dalam tas ranselnya.


Salwa memang tahu betul kalau satu dari kedua seragam itu adalah miliknya yang dipakai sekolah setiap hari, dia juga yakin kalau tadi dia hanya memakai satu seragam saja dan tidak double!


Dan lantas seragam satu nya ini milik siapa?


Lama dia berpikir dan membolak-balikan benda itu, pandangan Salwa lalu tidak sengaja melihat tulisan pada name tag yang terpasang diatas saku seragam itu, dia lalu mengeja huruf demi huruf di dalamnya.


"S A L W A A N I N D I T A".


Salwa Anindita!


Bukankah itu namanya sendiri? jadi seragam ini adalah miliknya, dia kembali lagi pada seragam satunya, diatas saku seragam satunya juga ada name tag yang juga bertuliskan nama yang sama pula. Dia semakin bingung dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Jadi kedua barang ini adalah miliknya, dia menghela nafas sebentar memandangi kedua seragam itu, tiba tiba pikiranya berputar pada insiden pencopetan malam itu, bukankah ini adalah seragam yang berada di dalam tas yang di copet waktu itu?


Salwa mengerjap dan menarik nafas dalam, berusaha bersikap setenang mungkin, dia lalu kembali menilik benda itu, dan beberapa saat kemudian Salwa mengingat sesuatu. Salwa ingat kalau dia pernah menjahit saku seragamnya yang dulu.


Ya! Saku seragam itu pernah robek karena ditarik oleh Vina saat bercanda di depan perpustakaan dulu dan dia pernah menjahit saku seragam itu sendiri.


Buru buru Salwa membentangkan seragam itu dan melihat saku bagian atas. Ketika melihatnya, dia membeku, nafasnya tercekat dan jantungnya serasa berhenti berdetak kala melihat benar ada bekas jahitan yang sama persis dengan seragamnya yang dulu di copet.


Salwa diam membisu, bulu kuduknya meremang melihat jahitan itu, kalau benar ini adalah seragamnya yang hilang.. siapa yang meletakkannya di dalam tas yang berada di loker tempatnya bekerja yang terkunci rapat? siapa yang berani diam diam datang dan menaruh seragam ini di dalam tas nya, bukankah ini sudah kelewat batas, orang misterius itu bahkan bisa membuka lokernya yang terkunci.


Lama Salwa berpikir, dia lalu berusaha menebak siapa pelaku dari semua hal ini. Mungkinkah salah satu pegawai coffe shop, ya itu ada benarnya juga.


Menurut Salwa, tidak ada orang yang paham tentang seluk beluk loker di coffe shop selain orang dalam bukan? kalau memang benar, tidak menutup kemungkinan kalau orang yang selama ini menerornya itu adalah seseorang yang selama ini berada di dekatnya.


Tapi ketika berpikir kembali dia menjadi tidak yakin sepenuhnya dengan dugaanya, kalau memang pelakunya adalah orang dalam, lalu siapa? Salwa bahkan hanya mengenal beberapa orang saja di tempat kerja itu. Mana mungkin ada orang yang membencinya sampai melakukan hal bodoh seperti ini.


Hampir 10 menit dia tertegun, otaknya berputar putar tak karuan memikirkan kejadian ini. Dia takut tetapi semakin penasaran, perasaanya bergejolak ingin cepat menemukan siapa sebenarnya dalang di balik semua ini. Tapi pikiranya kembali buntu, dia tidak bisa menebak siapa pun itu. Mengapa tampaknya orang misterius ini begitu membencinya sampai rela melakukan hal gila semacam ini.


Benar benar di luar nalarnya!


Bagi Salwa orang orang seperti dia adalah orang yang pengecut karena hanya berani menerornya dan tidak mau menampakkan wajah asli nya.

__ADS_1


🌈🌈


Salwa duduk melamun di dalam kelas, dia masih memikirkan kejadian kemarin tentu saja. Sampai pagi pun Salwa masih berpikir keras berusaha menebak siapa orang yang berani melakukan hal semacam itu.


"Woi Sal?" Teriak Vina menggelegar


Salwa terlonjak dan mengelus dadanya, menatap Vina jengah dan kembali melamun.


"Lo mikirin apa dah, wajah lo serius amat" Hardik Vina sembari meletakkan tasnya diatas meja.


Salwa menatap Vina sebentar dan kemudian memutar tubuhnya. Dia lalu membuka resleting tas ransel nya dan mengeluarkan seragam yang dari semalam sangat menganggu pikiranya.


"Apaan nih" Ucap Vina dengan raut wajah terlihat kebingungan "Kenapa lo bawa seragam ganti, lo mau mainan aer?" Kata Vina lagi sambil memutar bola matanya terlihat malas.


Salwa dengan cepet menggeleng. Vina yang melihat gelengan itu kemudian mengernyit, merasa heran dengan tingkah sahabat satu bangkunya ini.


"Lah terus? Ngapain lo bawa bawa seragam ganti" Tanya nya lagi dengan wajah gemas menatap Salwa dan seragam itu bergantian.


"Aku bukanya bawa seragam ganti atau pun pengen mainan air Vin, aku bawa seragam ini karena pengen jelasin sesuatu sama kamu" Ungkap Salwa berusaha menjelaskan. Vina semakin merasa bingung dengan arah pembicaraan Salwa, tetapi dia tetap diam mendengarkan Salwa yang nampaknya ingin bercerita padanya.


Salwa lalu menarik nafas dalam dan meneruskan kata katanya.


"Apa kamu tau ini seragam siapa?" Tanya Salwa. Vina yang di tanyai reflek menggeleng, sebenarnya dia ingin mengangguk dan menjawab dengan kalimat"iya tau lah ini kan seragam lo" Tapi Vina urungkan niatnya karena dia ingin mendengarkan kelanjutan cerita Salwa.


Vina yang mendengar itu segera saja terkejut dan melongo, dia lalu memasang wajah serius dan berbisik pada Salwa.


"Lo bercanda ya? Kok bisa seragam nya ada di elo?" Tanyanya dengan nada berbisik terlihat meremehkan ucapan Salwa.


"Itu sebabnya Vin aku bingung, kemarin ada yang sengaja masukin seragam ini di tas yang ada di dalam loker tempat aku bekerja. Lebih parahnya lagi orang itu bisa buka kunci lokerku dan masukin seragam ini ke dalam tas aku. Dia bahkan tau dimana tempat aku bekerja dan juga tau betul berapa nomor loker ku" Kata Salwa panjang lebar menumpahkan semua unek unek nya yang dia pendam sedari tadi.


Vina yang sudah mendengar penjelasan Salwa mulai buka suara lagi.


"Lo udah cari tau siapa pelakunya?" Tanyanya dengan pandangan menerawang jauh. Vina lalu menatap Salwa dan Salwa menggeleng tampak frustasi.


"Yaelah si anjing, kenapa gak lo cari dodol" Jawab Vina gemas sendiri lalu menjitak kepala Salwa, pelan. Salwa meringis memegangi bekas jitakan itu dia lalu memanyunkan bibirnya.


"Aku bingung harus nyari dimana, mulainya darimana juga aku bingung. Pengen ngilang aja rasanya" Jawab Salwa dengan raut wajah tampak lesu tak bertenaga.


Vina yang melihat Salwa menjadi merasa kasihan, dia berpikir sejenak dan ikut menghela nafas panjang merasa tak habis fikir dengan hidup sahabatnya ini. Kenapa hidup gadis lugu ini begitu sulit, jika dia bisa bertemu dengan tuhan mungkin Vina sudah mengajaknya untuk bernegosiasi supaya merubah takdir hidup Salwa.


Entahlah.. Hidup memang kadang serasa tak adil untuk sebagian orang.


Vina lalu memperhatikan lipatan seragam di depan Salwa, dia menyentuh seragam itu. Otaknya mulai memikirkan cara bagaimana mencari tahu tentang pelaku sialan yang berani macam macam dengan sahabatnya ini.

__ADS_1


"Seragam ini ada di tas lo sewaktu lo kerja kan Sal?" Tanya Vina kemudian tanpa mengalihkan pandangannya dari seragam itu. Salwa hanya mengangguk saja menanggapi pertanyaan itu. Lalu Vina manggut-manggut.


"Kalo gitu gue bisa bantu lo cari tau siapa pelakunya" Ucap Vina lagi dengan nada sinis lalu meremas kain seragam itu kuat kuat.


Salwa yang mendengar itu buru buru mendongak dan menatap Vina penuh tanya. Matanya yang sayu nampak begitu terbuka lebar dan wajahnya begitu bersemangat kala mendengar Vina yang baru saja mengatakan mau menbantu dirinya.


"Beneran kamu mau Vin?" Tanyanya dengan nafas tertahan. Vina hanya mengangguk mantap menanggapi pertanyaan itu. Salwa kembali berbinar melihat anggukan itu dia lalu tersenyum lebar menatap Vina "Terus gimana caranya?" Tanyanya lagi merasa penasaran dengan rencana Vina


Vina kemudian menatap Salwa intens, terlihat berpikir serius. Sebentar kemudian dia tersenyum bangga. Salwa bingung tentu saja, tetapi dia tak lagi berkomentar karena penasaran dengan rencana Vina dan ingin mendengarkan penjelasan Vina yang siap untuk membantunya.


"Kejadian ini berlangsung di coffe shop tempat lo kerja kan?" Katanya bertanya kepada Salwa untuk mengawali acara investigasinya. Salwa hanya diam lalu mengangguk saja, sementara Vina kembali menatap Salwa


"Menurut lo? tempat rame kayak gitu gak punya cctv? gak mungkin banget kalo gak ada!" Lanjutnya dengan nada berseru terlihat bangga.


Salwa yang dari tadi hanya diam kini mulai mengerti arah pembicaraan Vina. Dia lalu ikut tersenyum melihat Vina dan mengangguk "Iya ada Vin" Jawabnya bersemangat.


Vina lalu menjentikkan jarinya samar. "Nah itu maksud gue Sal, lo cari tau tentang rekaman cctv yang ada di tempat kerja lo dan lo bisa tau siapa orang yang udah berani buka loker pribadi lo dan masukin barang sialan ini ke tas lo" Kata Vina sambil mengeratkan kedua giginya nampak gusar.


"Tenang aja, lo gausah bergantung sama rekaman cctv aja, nanti kalo semisal di rekaman itu lo gak nemuin apa apa.-," Vina menghentikan ucapannya, dia nampak berpikir "Ruangan loker lo ada yang jaga nggak? ada satpam kan di pintu masuk nya, atau nggak di tempat parkir ada yang ngawasi pintu yang menuju loker lo kan? Tanya Vina bertubi tubi pada Salwa.


Salwa lalu berpikir sebentar."Ada! Iya ada!" Jawabanya kemudian.


Vina semakin yakin, dia lalu berdiri dan menggebrak mejanya sendiri merasa rencananya kali ini sepertinya akan berhasil. "Nah itu maksud gue Sal" Katanya lagi


"Lo tanya semua orang disitu, ada nggak orang yang mencurigakan yang masuk ke ruangan loker, tanya apa aja yang berhubungan dengan loker tepat pada hari itu sama mereka dan jangan lewatkan satu pun penjelasan dari mereka. Ok?" Lanjutnya memegang kedua pundak Salwa memberikan semangat. "Udah deh lo gausah bingung mulu, tenang ada gue yang selalu siap buat bantuin lo" Tambahnya dengan nada lembut dan mengusap pundak Salwa.


Mendapat perlakuan itu Salwa lalu mengangguk yakin di hadapan Vina dan tersenyum merasa terharu dengan kebaikan sahabat di depanya ini.


Setelah mengatakan itu dan melihat Salwa mengangguk yakin, Dia lalu duduk lagi dan menghela nafas lega, tepat setelah Vina duduk, bel berbunyi nyaring menandakan pelajaran akan segera di mulai.


Vina lalu tersenyum masam memandangi seragam sekolah yang berada di atas meja Salwa. Dan lalu menghela nafas nya pelan


"Semoga aja masalah lo cepet kelar Sal, hidup lo kenapa bener bener sulit dah, masih muda harus nanggung masalah rumit kayak gini"


Gumam Vina dengan suara pelan, tanpa di dengar oleh Salwa.


...**HAPPY READING ❤️...


...SEE YOU NEXT CHAPTER YES❤️**...


Senin, 22 Februari 2021


MY BADROOM📍

__ADS_1


__ADS_2