
"So, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas, from coast to coast
To find a place I love the most
Where the fields are green
To see you once again
My love"
Lantunan musik masih terdengar nyaring di dalam kamar Salwa.
Namun Dirinya sama sekali tidak merasakan ketenangan sedikitpun. Tanganya malah semakin bergetar hebat ketika mencoba menghubungi Abhian berulang kali.
Keringatnya mengucur deras, takut saat melihat benda itu, kejadian semasa SMA berputar lagi di kepalanya.
Panggilan sudah tersambung namun tak kunjung ada jawaban dari sebrang sana. Salwa menarik nafas berusaha tenang, dia harus meyakinkan dirinya untuk tenang.
"Tenang Sal, kamu harus tenang" Kata Salwa menyemangati dirinya sendiri.
"Kan masih ada Abhian" Katanya lagi berusaha meyakinkan dirinya.
"Semua pasti akan baik-baik aja Sal" Katanya lagi berusaha tetap tenang.
Telepon sudah tersambung namun entah kenapa Abhian belum mengangkatnya juga.
Akhirnya Salwa matikan sambungan telepon itu dan menaruh ponselnya kembali. Paperbag itu sudah dia taruh di atas nakas lagi, Salwa lalu duduk di tepian ranjangnya.
Diam sambil sesekali menarik nafas lalu membuangnya, pelan-pelan Salwa lalu sedikit lebih tenang.
Pikirannya mengusik kejadian teror semasa SMA dulu, semuanya masih teringat jelas oleh ingatan Salwa.
Salwa lalu kembali merebahkan dirinya di ranjang, beberapa saat kemudian dia terlelap lagi.
**
Suara kicauan burung terdengar nyaring, kilauan cahaya masuk ke dalam celah jendela kamar Salwa.
Udara terasa sangat dingin, Salwa semakin menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.
Beberapa kali mata Salwa mengerjap, dengan susah payah ia raih jam yang terletak di samping tempat tidurnya.
Dia tetap berusaha melebarkan kedua matanya. Melihat jarum jam yang berjalan detik demi detik membuat Salwa enggan untuk bangun.
__ADS_1
Pukul 06.00.
Masih benar-benar pagi untuk dia bangun tapi tetap saja Salwa berusaha untuk melawan rasa malasnya.
Setelah meletakkan kembali jam itu Salwa meraih ponselnya dan melihat beberapa notif pesan.
Ada beberapa panggilan tidak terjawab. Nama Abhian adalah yang paling atas, ada 10 panggilan tidak terjawab dan itu hanya dari Abhian saja.
Salwa ingin sekali menelpon Abhian lagi namun niatnya di urungkan karena dia lebih memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Salwa kemudian berdiri, melipat selimut nya asal lalu meletakkanya di atas bantal.
Berjalan dengan sempoyongan kemudian mengambil handuk yang ada di gantungan almari kecil yang ada di pojok kamarnya.
Dengan malas malas dia kemudian memasuki kamar mandi, suhu yang begitu dingin membuat dirinya enggan untuk mandi tapi dia semakin merasa aneh kalo tidak mandi.
15 menit sudah berlalu, Salwa kemudian keluar dari kamar mandi dengan badan yang menggigil.
"Ini Jakarta lagi turun salju apa gimana sih" Titahnya sambil menggosokkan kedua tanganya berulang kali.
"Dingin banget" Ucap Salwa lagi.
Kemudian dia duduk di tepian ranjang, mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Abhian.
Panggilan sudah terhubung namun tak kunjung di angkat oleh Bhian. Salwa tetap menempelkan benda pipih itu di telinganya, sebentar kemudian panggilan tersambung.
"Halo?" Suara Bhian terdengar
"Kamu ada apa Sal?" Kata Bhian terdengar khawatir dengan suara Salwa yang terdengar gugup.
Lama Salwa tak kunjung menjawab, tapi Bhian terus bertanya dan semakin terdengar khawatir.
Abhian terus bertanya, Salwa kemudian menceritakan semua hal yang sudah dia alami. Bhian lalu berusaha menenangkan Salwa, alih-alih Salwa bisa tenang suaranya malah semakin gugup.
Bhian putuskan untuk mengakhiri panggilan. Dan pergi ke rumah Salwa untuk menjemputnya.
Salwa kemudian mengiyakan saja, dan panggilan telepon kemudian berakhir.
**
"So, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love
Overseas, from coast to coast
To find a place I love the most
__ADS_1
Where the fields are green
To see you once again
My love"
Lantunan lagu masih terdengar. Salwa kemudian mematikan musik itu dan bersiap untuk pergi ke kampus bersama Abhian.
Dia keluar kemudian mengunci rumahnya, duduk di kursi panjang sambil membolak-balikan telapak tangan.
Tanpa sadar Salwa sedang membayangkan betapa senangnya dia kalau ada cincin yang melingkar di jari manisnya. Namun sepertinya proses itu masih lama, Salwa bahkan belum berfikir kesana.
Suara motor Bhian membuatnya tersadar dari lamunannya, dia lalu mendongak melihat Bhian sudah ada di depan rumahnya.
Motor bhian berhenti tepat di depan rumah Salwa, dia kemudian melepas helm dan tersenyum.
Salwa lalu menghampiri Bhian dan tanpa sadar memeluk Bhian kemudian terisak. Lagi-lagi Salwa memang benar-benar ketakutan akan hal misterius yang kembali meneror dirinya.
Bhian hanya diam, tangannya mulai mengelus rambut Salwa berulang kali mencoba menenangkan Salwa agar pacarnya itu mau berhenti menangis.
"Tenang Sal, kita beresin lagi sama-sama" Ucap Bhian berusaha menenangkan Salwa yang masih terisak.
Setelah Salwa tenang, mereka kemudian berangkat ke kampus bersama-sama.
**
Motor Abhian melaju kencang membelah jalan raya. Tidak sampai 15 menit mereka sampai di kampus, Bhian lalu memarkirkan motornya.
Mereka berjalan beriringan, banyak sepasang mata melihat interaksi mereka berdua. Tak sedikit juga mahasiswa berbisik bisik seperti sedang melihat best couple junior.
Bagaimana tidak menjadi best couple, Bhian saja merupakan seseorang yang terbilang cukup tampan. Sedangkan Salwa juga tidak lagi menjadi gadis cupu seperti waktu berada di SMA dulu.
Kacamata yang biasanya di pake juga sudah ia lepas, hanya ketika melihat laptop saja Salwa memakainya.
Semakin dewasa penampilan Salwa juga sudah berubah, dia bahkan terlihat semakin cantik.
Mereka berdua berjalan menuju lorong utama.
Lorong masih terlihat sepi namun mereka tetap berjalan menyusuri lorong itu, sesekali Bhian melempar senyum kepada mahasiswa lain yang memandangnya dengan tatapan takjub karena ketampanannya.
Sedangkan Salwa hanya memasang tatapan datar seperti biasa, Bhian hanya terkekeh. Salwa hanya memutar bola mata dengan ekspresi cengo seperti biasa
**
Salwa sudah sampai di depan ruanganya, Salwa masuk dan Bhian segera pergi menuju fakultas nya.
Sepanjang perjalanan masih banyak tatapan-tatapan yang memuja wajah tampan Abhian, tapi dia sudah tak terlalu menghiraukan itu tatapan itu.
Dia tetap berjalan dengan santai. Namun ada salah satu mahasiswa menghampirinya dan menyodorkan satu kotak berwarna coklat.
Dia memberikan kotak itu dengan malu malu. Bhian yang melihat itu kemudian mengangkat kedua alisnya, seperti bertanya "apa ini?" kepada mahasiswa itu.
__ADS_1
Buru-buru mahasiswa itu berbicara "Kenalin nama aku Rina" Katanya memperkenalkan diri.