
Pagi hari ketika matahari mulai menampakkan diri dengan malu-malu, Abhian terlihat turun dari tangga kamarnya dengan pakaian rapi, celana jeans yang sobek dibagian dengkul dipadukan dengan atasan kaos putih tipis yang dibalut dengan jaket denim kesayangannya.
Abhian menuruni anak tangga dengan gaya cool seperti biasa lengkap dengan tas ransel yang terlihat tak berbobot. Karena memang tas ransel miliknya tidak berisi sama sekali.
Dia lalu berjalan ke arah dapur appartemenya, berjalan menuju meja makan dan menyambar selembar roti gandum yang tertata diatas meja, melahapnya dengan rakus lalu berlari menuju pintu appartemenya.
Berjalan menyusuri lorong yang masih sepi, singkat cerita Abhian tinggal di Appartemen Joeson di lantai 16 dia sengaja menyewa apartemen yang dekat dengan kontrakan Salwa karena memang tugas dia menjada si Salwa harus terus berjalan. Dengan santai Abhian menyusuri lorong sepi itu sambil bersiul, sesekali dia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
Setelah sampai di depan pintu lift dia lalu menekan tombol panah bawah, beberapa menit kemudian pintu lift terbuka, tak ada siapapun di dalam lift itu, ya sudah jelas karena ini memang masih sangat pagi.
Abhian masuk ke dalam lift dengan santai, setelah pintu lift tertutup buru buru dia menekan tombol B1 untuk mengambil motor di basement appartemenya.
**
Hari ini dia kembali dengan rutinitas seperti biasa yakni berangkat ke kampus bersama si Salwa. Sebelumnya dia sudah pasti menghampiri Salwa dahulu.
__ADS_1
Setelah sampai di basement bawah, Abhian buru buru mencari motor sport kesayanganya. Tak sampai beberapa menit ekor matanya sudah menemukan motor kesayangannya itu.
Buru buru Abhian menghampiri motornya dan merogoh kunci dari dalam saku jaketnya. Ia hidupkan mesin motor itu dan pergi melesat meninggalkan lingkungan appartemenya menunu kontrakan Salwa.
Tidak sampai 20 menit Abhian sudah sampai di depan kontrakan Salwa. Rumah minimalis dengan nuansa flower yang menghiasi pekarangan itu terlihat begitu damai dan masih sepi tentunya.
Sedikit penjelasan, dulu setelah Salwa benar benar lolos dan diterima di Universitas kebanggaanya itu dia lalu bergegas mencari kontrakan baru yang dekat dengan kampus, mengingat Salwa sangat sangat perhitungan dengan apapun yang berkaitan dengan uang dia benar benar tidak ingin merogoh kocek lebih untuk menghabiskan uang hanya untuk membayar ongkos untuk angkutan umum. Lebih baik berjalan kaki, pikirnya. Tapi ternyata Abhian lah yang setiap hari menjemput dirinya.
Pagi itu benar benar terlihat sepi. Abhian turun dari motornya lalu berjalan menuju pintu rumah Salwa. Sedikit melongok dan menyipitkan mata ke arah jendela yang masih tertutup korden putih di dalamnya. Dia lalu berusaha mengetuk pintu itu.
Tidak ada jawaban, Abhian masih tenang dengan terus mengulangi ketukan pintu yang saling bersahutan.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, sang pemilik rumah tersenyum saja sambil tangan kananya mendekap buku buku tebal seperti biasa.
"Tumben bhi pagi banget datengnya" Tanya Salwa sambil menutup pintu
__ADS_1
"Iya, biar santai naik motornya" Jawab Abhian sekenanya.
Salwa hanya manggut-manggut saja.
"Oh iya bhi, kemarin kamu dapet tugas apa enggak?" Tanya Salwa dengan tangan mengantongi kunci rumahnya.
Mendengar itu Abhian menaikkan sedikit alisnya "Tugas?" Jawabnya terlihat berpikir "Tugas apaan Sal?" Tambahnga balik bertanya.
Salwa lalu melirik tas ransel Abhian, sebentar kemudian dia memelototi Abhian dengan gaya chubby seperti biasa.
Sambil menghembuskan nafas kesal Salwa lalu meninggalkan Abhian yang berdiri di depanya.
Abhian bingung, tapi ikut saja dengan Salwa. Dia berjalan di belakangnya sembari memutar tas ransel itu kedepan.
Salwa lalu menoleh sebentar masih dengan raut wajah kesal. Dia lalu melirik tas ransel miliknya lagi dengan kekesalan yang bertambah.
__ADS_1
"Jangan bilang tas ransel kamu kosong!" Tanya Salwa penuh intimidasi