Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
TULIP DAN ABHIAN


__ADS_3

**


Rutinitas Salwa pagi hari ini adalah ngampus tentu saja. Dia masih duduk di kursi depan rumahnya membawa sebuah buku tebal di tangannya, tak lupa totebag yang menggantung di pundak kirinya juga earphone yang menyumpal kedua telinganya.


Pandanganya fokus ke depan, dia juga sesekali masih terlihat menguap karena kantuk di matanya belum juga hilang.


Kemarin setelah menutup panggilan dari Sherly dia masih melanjutkan untuk tetap merangkai bunga bunga TULIP kesayangannya sampai hampir dini hari. Alhasil sekarang dia masih sangat mengantuk karena ulahnya sendiri.


Masih dengan mata yang sayu. Salwa kemudian terlelap di kursi depan rumah, entahlah Abhian belum juga sampai padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah tuju pagi. Tidak seperti biasanya, apakah Abhian lupa.


Tapi tidak mungkin.


Dengan posisi duduk Salwa kemudian terlelap. Sepertinya dia akan tidur sebentar sambil menunggu Abhian datang.


**


Salwa terperanjat kaget ketika mendengar dering ponsel dari earphone yang masih menyumpal kedua telinganya.


Ketika dia sudah bangun segera saja dia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tanganya, waktu menunjukkan pukul 09.30, matanya langsung membulat lebar.


"Astaga" pekiknya dengan suara tertahan "Sudah jam segini kenapa Abhian belum juga datang ya" Katanya sambil meringis menahan kantuk di matanya yang masih setia


Tanpa Salwa sadari ponselnya tetap berdering nyaring membuat dirinya langsung meraih ponsel itu dan mencabut earphone yang ada di telinganya.


Sudah ada beberapa panggilan yang masuk juga panggilan dari Abhian tentu saja. Dering ponsel terakhir tertulis nama Abhian Salwa lalu segera mengangkat telpon itu.


"Halo? iya bhi" Katanya memulai pembicaraan


"Kamu kenapa ga dateng bhi" Tanya Salwa lagi


Abhian hanya diam, nafasnya terdengar memburu seperti orang yang lelah karena habis berlari. Salwa yang mendengar nafas itu semakin cemas, sebenarnya ada apa dengan Abhian sampai dia seperti itu.


"Bhi, kamu gapapa kan?" Tanya Salwa penuh ke khawatiran

__ADS_1


Abhian masih diam. Sebentar kemudian dia lalu bersuara "Aku habis kecelakaan Sal" Titahnya sambil terbata bata.


Salwa kaget tentu saja, dia kemudian berdiri dari duduknya sambil melebarkan matanya.


"Sekarang kamu dimana?" Tanyanya dengan suara cemas


"Kamu kok bisa kecelakaan gimana bhi, kamu ada dimana bhi aku mau kesana sekarang" Cicitnya masih dengan nada cemas


Abhian masih belum menjawab, kemudian terdengar nafas Abhian yang masih memburu. Salwa sudah berlinang air mata, dia sudah tidak lagi memikirkan kampus.


"Kamu sharelock sekarang ya bhi aku mau kesana, aku tutup teleponya kamu jangan aneh aneh" Kata Salwa sembari mengakhiri teleponnya secara sepihak.


**


Di angkutan umum Salwa tidak henti-hentinya memikirkan keadaan Abhian. Dia sangat cemas dan begitu khawatir takut terjadi hal yang tidak dia inginkan, takut Abhian kenapa napa. Takut juga kalau Abhian nanti meninggalkan dirinya, dia hanya takut semua hal hal itu terjadi.


Raut wajahnya terlihat sendu, Salwa sangat takut. Di dunia ini dia hanya mempunyai Abhian, khawatir dengan semuanya. Salwa lalu meraup wajahnya dengan kedua tangan yang mulai gemetar, akhirnya dia bergetar dengan isak tangis yang menenuhi angkutan umum, untungnya di dalam angkot hanya ada dirinya.


Angkutan umum berhenti dan Salwa menyodorkan selembar uang sepuluh ribu dan memberikanya kepada abang angkot. Dia kemudian turun sambil melihat maps yang ada di ponselnya, masih kurang 10 menit kira kira dia bisa sampai di tempat yang dia tuju.


*Rumah sakit Az-Zahra*


Akhirnya dia putuskan berjalan kaki saja seperti biasa. Toh juga hanya sepuluh menit dari tempat dia turun, sepertinya tidak terlalu jauh.


Setelah berjalan akhirnya Salwa sampai di rumah sakit itu. Dengan tergesa-gesa dia akhirnya memasuki loby utama dan menanyakan langsung dimana tempat pasien yang bernama Abhian dirawat.


"Permisi mbak" Kata Salwa menyapa receptionis yang ada di loby utama rumah sakit ini.


Receptionis itu tersenyum ramah "Iya, ada bisa dibantu kak" Tanyanya sambil tersenyum ramah.


"Mau tanya pasien yang bernama Abhian, dirawat di ruangan mana ya. Tadi dia baru saja kecelakaan mbak" Kata Salwa menjelaskan tujuannya


Receptionis itu lalu membuka buku tebak yang ada di depanya. Jarinya terlihat menunjuk beberapa nama dalam daftar pasien yang ada buku tebal itu, Salwa diam masih tetap menunggu hingga beberapa menit kemudian Receptionis itu lalu bersuara.

__ADS_1


"Untuk pasien bernama Abhian ada di ruangan TULIP di lantai 4 kak" Katanya menjelaskan "Kakak bisa naik lift saja untuk mempermudah akses kesananya" Lanjutnya dengan menunjuk lift yang ada di pojok loby.


Tanpa memikirkan apapun Salwa lalu mengucapkan terimakasih kepada receptionis itu dan bergegas menuju lift yang di maksud.


Tangannya masih bergetar sambil menekan tombol lift itu, ketika lift terbuka dia kemudian masuk dan menekan tombol 4. Lift naik dengan tenang, tidak seperti Salwa yang dilanda kecemasan.


Dia menunggu lift dengan perasaan cemas yang menghantuinya. Sepertinya kaki Salwa sudah lemas sekali tapi dia harus melihat Abhian dulu baru bisa lega.


Pintu lift terbuka, dia kemudian berjalan menuju lorong sebelah kiri. Sambil melihat nama nama ruangan itu, nihil. Tidak ada tulisan TULIP di lorong ini, akhirnya dia kembali menuju lorong sebelah kanan.


Salwa menyusuri lorong tersebut dengan pikiran kalut tentu saja. Akhirnya dia menemukan tulisan TULIP, ruangan paling pojok itu seperti emas yang sudah di temukan oleh Salwa.


Salwa segera masuk dan mendapati seseorang tergeletak lemah dengan selang infus yang menggantung di sampingnya.


Mendapati ada seseorang yang masuk Abhian lalu menoleh sambil meringis. Salwa kemudian langsung menghampiri Abhian dan langsung melihat lihat kondisinya.


"Astaga bhi, kamu kok bisa sampai kaya gini gimana ceritanya" Tanya Salwa bertubi-tubi membuat Abhian tersenyum saja


Salwa kemudian mencebik "Kamu ditanya malah senyum, ayo dong bhi jawab" Kata Salwa lagi masih dengan nada cemas


"Kamu tenang dulu dong Sal, duduk dulu. Aku gakpapa kok, suer" Katanya lagi masih dengan suara yang tenang namun terdengar serak


Salwa masih saja kebingungan. Dia tidak tau harus bagaimana lagi, melihat Abhian yang tergeletak tak berdaya seperti sekarang ini membuat dirinya ikut lemas. Akhirnya dia geser kursi yang ada di sebelahnya dan duduk sambil menggenggam tangan Abhian yang terasa hangat itu


Tanpa disadari Abhian melihat Salwa dengan tatapan sendu "Tadi aku udah mau bilang gausah buru buru tapi kamu malah tutup telponnya" Kata Abhian ikut khawatir dengan Salwa


Salwa menggeleng samar, di raihnya tangan Abhian dan di genggamnya lebih erat. Dia kemudian menangis begitu saja, Abhian kaget tentu saja


Salwa masih terisak "Aku takut banget kamu kenapa kenapa bhi" Kata Salwa masih dengan suara terisak


Abhian hanya tersenyum saja melihat tingkah pacarnya, sepertinya dia memang amat sangat khawatir dengan keadaannya.


Abhian merasa beruntung karena masih ada yang khawatir dengan dirinya. Meskipun orang tuanya jauh namun ada Salwa yang selalu menjadi pelengkap dalam kehidupanya.

__ADS_1


__ADS_2