Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
BUNGKAM


__ADS_3

Pagi yang cerah dengan suara kicauan burung dan matahari yang bersinar tampak masih malu malu untuk menampakkan diri, Salwa sudah terlihat rapi seperti biasa dengan seragam sekolahnya, dia sedang duduk di depan kontrakannya menunggu Abhian yang seperti biasa akan datang menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama.


Tak berselang lama Abhian sudah datang, Salwa segera berdiri menghampiri Abhian sambil menyambar helm yang Abhian berikan padanya, setelah itu mereka berdua melesat pergi meninggalkan pekarangan kontrakan Salwa.


Sesampainya di sekolah, mereka berdua lalu berjalan beriringan melewati lapangan utama masih tanpa obrolan apapun dan sesampainya di koridor kelas mereka barulah Abhian memulai bertanya pada Salwa.


"Lo nanti jadi cerita ke gue kan?" Tanya Abhian pada Salwa.


Salwa yang mendengar hal itu segera saja menoleh dan tersenyum sambil mengangguk saja menanggapinya, Abhian yang melihat itu hanya menghela nafasnya jengah.


"Oke kalo gitu, ntar istirahat gue jemput" Kata Abhian terlihat serius menatap Salwa yang hanya berjalan dengan tatapan lurus ke depan.


Salwa tetap bungkam tak merespon apapun dia hanya mengangguk saja dan semakin mempercepat langkahnya setelah sampai di depan kelas Abhian, Salwa kemudian berhenti.


Abhian juga ikut berhenti, dia lalu melihat Salwa berbalik lalu menatapnya. Abhian balas menatapnya juga, beberapa detik mereka berdua saling diam tak ada yang mau memulai percakapan. Sebetulnya Abhian ingin sekali bertanya banyak hal, tetapi melihat ekspresi Salwa yang seperti ingin mengatakan sesuatu hal dia jadi mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih dahulu. Tetapi apa yang bhian harapkan bukanlah sesuai ekspektasinya, karena Salwa seperti ragu untuk mengatakannya.


"Aku duluan bhi" Pamitnya pada Abhian setelah lama hanya diam dengan raut wajah gelisah.


Abhian hanya cengo menanggapinya, dia kemudian melebarkan kedua matanya. Dalam hatinya Abhian sungguh merasa penasaran dengan raut wajah Salwa beberapa detik yang lalu, tapi apa Salwa hanya mengatakan kalimat basa basi seperti barusan. Yang benar saja.


"Aa uhm oke Sal, oke!" Jawab Abhian sambil menelan salivanya kasar.


Ingin rasanya dia mau bertanya lebih lanjut, tetapi belum sampai Abhian bertanya, Salwa sudah berbalik dan pergi meninggalkanya lebih dulu, alhasil Abhian hanya berdiri mematung di depan kelasnya sambil mengamati Salwa yang sudah menjauh darinya.


"Hssttt itu bocah kenapa ya, heran gue" Gumam Abhian sambil geleng-geleng kepala melihat punggung Salwa yang masih terlihat dari kejauhan.


🌟🌟


Salwa sudah berada di dalam kelasnya dan duduk di kursi bangkunya seperti biasanya. Kelas masih sepi, baru dirinya yang datang pagi ini, penasaran dia lalu menilik arloji di pergelangan tanganya.


Jam menunjukan masih pukul 06.20, itu artinya tadi Abhian menjemputnya terlalu pagi, Salwa diam beberapa saat lalu meraup wajahnya terlihat kesal. Dia kesal dengan dirinya sendiri yang masih belum bisa menceritakan masalahnya pada Abhian, tidak tahu kenapa tadi saat ingin mengatakan sesuatu pada Abhian lidahnya terasa begitu kaku hingga dia tak bisa mengucapkan apa yang ingin dia utarakan, akhirnya dia hanya mengucapkan sebuah kalimat bodoh yang tentu saja terdengar memalukan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Salwa kemudian menatap kuris kosong di sampingnya, dia lalu teringat pada Vina. Bagaimana nanti kalo Salwa menceritakan semuanya pada Vina, apakah pertemana mereka dengan Lisa yang begitu terlihat manis akhir akhir ini akan bubar begitu saja, bagaimana kalau Vina akan membenci Lisa dan tidak mau lagi berteman dengan Lisa, Salwa takut dengan semuanya.


Sebenarnya bukan hanya karena pertemanan mereka, Salwa hanya belum siap untuk memiliki musuh seperti Lisa, dia juga benar benar tidak tahu apa kesalahan yang dia perbuat pada Lisa sampai Lisa begitu membenci dirinya. Dalam hatinya, Salwa ingin merahasiakan semuanya pada Abhian dan Vina, tetapi di sisi lain dia juga tidak tahu harus berbuat apa jika tidak bercerita kepada mereka berdua, mungkinkah dia diam saja melihat Lisa semena mena menerornya dan berusaha mencelakainya tanpa alasan seperti ini.


Lama Salwa diam di dalam kelas yang hening ini, ruangan kelas yang terasa sepi dan hening ini seperti mengejeknya dan menertawai dirinya yang merasa bodoh ini, Salwa tau dia memang begitu payah untuk menghadapi masalahnya sendiri, dia bahkan tidak tahu harus melakukan apa meski sudah mengetahui siapa pelaku sebenarnya.


Berkali kali dia berpikir tentang cara yang tepat untuk menghentikan semuanya, tetapi lagi lagi dia menyerah dengan pikirannya sendiri. Salwa sedih tentu saja, mengapa masalah rumit seperti ini datang menghampiri hidupnya, sebenarnya apa dosa yang dia perbuat sampai harus merasakan hidup yang menyedihkan begini.


Saat Salwa hanyut dengan pikiranya, dia kemudian sadar ketika ada tangan yang menoel pipinya dengan sedikit kasar.


"Heh maemunah! Lo ngelamun lagi?" Kata orang itu sambil duduk di sampingnya, siapa lagi kalo bukan Vina.


"Kebiasaan deh lo Sal, masih pagi ini elah lo ngelamun mulu kayak gak punya kerjaan lain aja" Keluhnya sambil memutar ranselnya lalu meletakkanya di atas meja.


Salwa hanya tersenyum canggung menanggapi ocehan Vina seperti biasa. Dia kemudian juga melepas tas dari punggungnya dan ikut meletakkan tas itu di atas meja.


Melihat tingkah sahabatnya itu Vina spontan saja menghela nafas kasar dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.


"Ckckckck, sibuk ngelamun sampe lupa kalo tas nya masih nyangkut di punggungnya sendiri. Waahhhhhh!" Histeris Vina sambil menautkan kedua telapak tanganya. Kepalanya kemudian bertumpu pada tautan jemarinya dan menatap Salwa intens.


Salwa yang mendengar itu tentu saja gugup, dia lalu hanya menggeleng pasrah, Salwa tau ini bukanlah jawaban yang Vina harapkan tapi tetap saja Salwa masih ragu untuk menceritakanya pada Vina. Jadi dia tetap menggeleng walau sudah terlihat jelas bahwa dirinya sedang memikirkan sesuatu.


Vina yang melihat gelengan lemah sahabatnya itu semakin penasaran dibuatnya, dia kemudian sedikit mendekat ke arah Salwa dan berbisik tepat di telinganya.


"Lo gausah bohong, maemunah!" Desisnya menekankan semua kata dari kalimatnya itu kemudian Vina kembali pada posisi semula.


"Sal lo gausah bohongin gue deh, jelas jelas lo tuh ada masalah. Udah ngaku aja lo" Keluhnya sambil memasang wajah penuh histeris meratapi tingkah laku Salwa yang membuatnya darah tinggi.


Berbeda dengan Vina, Salwa justru hanya diam tak merespon apapun perkataan keluhan Vina. Vina yang tau akan hal itu semakin gemas di buatnya "Ngaku nggak lo?" Katanya yang lagi lagi tak mendapat respon dari sang lawan bicara. Vina yang semakin sebal dengan ekspresi Salwa semakin sebal ketika ada suara yang memanggilnya dari arah luar kelasnya.


"Vina! Salwa"Teriak suara itu, keduanya kompak menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


Setelah mengetahui siapa yang memanggil mereka berdua, Vina kemudian tersenyum nampak senang seperti biasanya, dia kemudian melambaikan tangannya ke arah Lisa sambil berkata "HAI" dengan suara cemprengnya.


"Hai Lisaaaaa!!!" Teriakan Vina menggema di dalam ruang kelas mereka yang masih terlihat sepi.


Berbeda dengan Vina yang sangat senang akan kehadiran Lisa, Salwa justru diam seribu bahasa, nampak memasang ekspresi canggung ketika mendapati Lisa berdiri di depan pintu kelas mereka dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya itu.


Vina yang melihat ekspresi Salwa sedikit heran tetapi dia mengedikan bahunya acuh merasa sudah terbiasa dengan tingkah Salwa yang begitu random yang membuat dirinya tidak berpikiran terlalu jauh.


Lisa yanh melihat Vina dan Salwa secara bergantian dari arah pintu kemudian tersenyum semakin lebar nampak ceria dengan senyum manisnya itu, dia kemudian berjalan menghampiri Vina dan Salwa.


Tanpa memperhatikan ekspresi Salwa yang terlihat berbeda dan tidak seperti biasanya, Lisa lalu duduk di samping Vina dan meletakkan dua kotak susu coklat diatas meja.


"Nih, buat kalian berdua!" Kata Lisa sedikir bersorak sambil menyodorkan dua kotak susu.


Vina yang melihatnya nampak begitu senang, dia lalu segera mwnyambar sekotak susu itu dengan semangat.


"Ah elu Lis, tau aja kalo gue belum sarapan" Kata Vina sambil menggenggam sekotak susu dengan raut wajah berbinar.


Salwa lalu hanya tersenyum dan menerima kotak susu itu tanpa berniat untuk meminumnya.


"Makasih Lisa" Ucap Salwa mengangkat kotak susu itu sambil tersenyum ramah ke arah Lisa.


...HAPPY READING❤️❤️❤️❤️...


...AND...


...SEE YOU NEXT CHAPTER❤️...


Senin, 15 Maret 2021


My home📍

__ADS_1


Btw karya FAKE FRIEND IN SILENCE sama pihak noveltoon udah di buatin cover baru loh. Aaaaa seneng banget rasanya dapet cover baru, oh iya? buat para pembaca yang setia nunggu updateku thank you banget yaaaa. Aku sayang kalian semuaaaaa 😚😚😚😚


Ayo dukung karya FAKE FRIEND IN SILENCE dengan cara like dan share, jangan lupa juga komen dan masukin cerita ini ke cerita favorit kalian❤️ THANK YOUUUU❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2