
**
Salwa sampai di depan toserba, dengan cepat dia lalu masuk ke dalamnya dan berjalan menuju rak paling ujung.
Tersusun banyak aneka macam snack yang membuat mata Salwa berbinar senang tentu saja.
Dia kemudian mengambil beberapa bungkus snack tak lupa juga dia berjalan menuju rak yang tersusun beberapa merk saos pedas.
Salwa mengambil salah satunya, memasukkanya ke keranjang yang sudah dia pegang kemudian pergi ke arah lemari pendingin untuk mengambil beberapa minuman dingin.
Setelah di rasa cukup Salwa kemudian berjalan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran disana. Setelah semua sudah selesai, dia menyerahkan beberapa lembar uang.
Satu lembar uang lima puluh ribuan dan satu lembar uang dua puluh ribu an, kemudian Salwa serahkan ke mbak mbak kasir yang sedang bertugas.
Dia kemudian keluar dari toserba dengan menenteng satu kantong plastik di tangan kanan dan juga dompet di tangan kirinya.
Salwa berjalan menyebrangi jalan raya, setelah sampai di depan gerobak bang Imron Salwa kemudian berdiri, kepalanya celingak-celinguk ke arah penggorengan.
"Udah selesai bang?" Tanya Salwa kepada bang Imron.
Bang Imron lalu menoleh ke sumber suara "Eh neng Salwa" Jawabnya berbalik badan "Udah neng, ini" Lanjutnya sembari menyerah satu kantong plastik.
Salwa kemudian menerima dan memberi selembar uang sepuluh ribuan kepada Bang Imron.
"Ini bang uangnya" Kata Salwa menyodorkan uang itu.
Bang Imron kemudian menerimanya "Makasih neng" Jawabnya singkat sibuk dengan penggorengan di depannya.
Salwa kemudian berbalik arah. Berjalan menyusuri trotoar dan masuk ke dalam gang rumahnya sambil menenteng beberapa kantong plastik.
Dia berjalan santai, menyusuri gang rumah nya yang selalu terlihat sepi. Memang keadaan tetangga Salwa kurang lebih seperti ini, senyap dan sepi.
Tidak seperti di apartemen elite Abhian yang meskipun sepi masih ada beberapa orang yang terlihat.
Di lingkungan Salwa, pagi siang sore bahkan malam sekalipun semuanya terlihat sama saja. Sepi, senyap seperti tidak ada kehidupan disana.
Sebenarnya Salwa ingin pindah saja namun dia selalu berpikir dua kali lipat jika ingin pindah tempat tinggal.
Selain jarak kampus dan tempatnya bekerja tidak terlalu jauh, rumah ini juga dekat dengan apartemen Abhian. Jadi tidak mungkin Salwa harus pindah tempat lagi, kemungkinan jika berpindah lagi Salwa pasti akan di omeli oleh Abhian.
Jadi dipastikan rencana untuk berpindah tempat selalu saja Salwa urungkan.
__ADS_1
**
Setelah sampai di depan rumah Salwa kemudian berhenti tepat di depan pintu.
Dia sedikit berpikir ulang mengenai dua orang misterius tadi, sebenarnya Salwa sudah tidak ingin di repotkan dengan hal-hal seperti yang terjadi di masa lalu, namun sepertinya hal itu tidak bisa dia cegah.
Lihatlah, kabur saja untuk Salwa tidaklah menjadi sebuah solusi. Jadi dia pastikan untuk tetap saja tinggal di rumah itu meskipun dia masih sedikit ragu dengan keputusanya. Sebenarnya yang membuat Salwa ragu adalah dirinya sendiri.
Tetapi setidaknya keraguan itu bisa teratasi ketika dia sudah berbicara dengan Abhian, hatinya bisa sedikit jauh lebih tenang dan bisa meminimalisir rasa cemasnya.
Ketika sudah masuk di dalam rumah, Salwa kemudian berjalan ke arah dapur mengambil sebuah piring dan dan satu gelas kemudian meletakkanya di atas meja ruang tamu.
Jadwalnya malam ini dia pasti akan makan sendirian lagi tentunya.
"Akhirnya sampai juga" Tukasnya sambil duduk di kursi tamu
Dia kemudian membuka bungkusan nasi goreng dan mengambil beberapa camilan dari kantong plastik yang Salwa letakkan di atas kursi.
Dia kemudian memulai makan malam nya, setelah selesai makan entah kenapa Salwa enggan untuk berdiri, menyenderkan tubuhnya di kursi tua ini, perutnya sudah kenyang kini waktunya dia bersantai sambil menikmati memakan snack yang sudah dia beli tadi.
Semakin malam suhu semakin terasa dingin, meski sudah memakai blazer yang lumayan tebal tetap saja tangan Salwa masih terasa membeku.
Buru-buru dia menutup pintu rumah dan masuk ke dalam kamar.
Dia kemudian bersiap tidur dan mulai memejamkan mata, sebentar kemudian Salwa terlelap.
**
Matahari masih malu malu untuk menampakan dirinya begitu juga dengan Salwa yang masih terlelap dengan tidurnya.
Selimut tebal masih membalut dirinya, entahlah. Cuaca kota Jakarta semakin hari semakin dingin, Salwa bahkan sempat menggigil karena terlalu kedinginan.
Dengan malas dia kemudian menyibak selimut tebalnya dan beringsut duduk.
Masih dengan mata yang terpejam Salwa tetap melebarkan kedua bolo matanya, melawan rasa kantuk yang ada pada dirinya.
5 menit kemudian dia sudah mengayunkan kakinya berjalan menuju kamar mandi bersiap untuk membersihkan diri.
Tanpa berlama-lama Salwa sudah keluar dari kamar mandi, dia lalu berdiri di depan kaca lemari make up nya.
Salwa kemudian memoles sedikit make up di wajahnya supaya terlihat lebih fresh. Setelah selesai make up, Salwa kemudian keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Membawa laptop dan beberapa buku serta ponsel dan juga tas selempang warna biru.
Hari masih terlalu pagi ketika Salwa sudah keluar rumah. Embun pagi bahkan masih terasa sama dinginya dengan suhu kemarin malam, Salwa kemudian berusaha menghubungi Abhian.
Beberapa menit kemudian panggilan terhubung.
"Halo bhi" Kata Salwa memulai obrolan.
"Iya?" Jawab Bhian "Ada apa sal?" Lanjut Abhian.
"Hari ini aku berangkat pagi, ada bimbel. Kamu gausah jemput kesini" Kata Salwa lagi memberi perintah kepada sang pacar.
"Oh gitu, yaudah kalau gitu kamu hati-hati" Sahut Bhian kemudian.
Setalah berpamitan, panggilan diakhiri dan Salwa melanjutkan langkahnya menuju ke jalan raya.
Dia menunggu angkutan umum yang biasa dia tumpangi, Selang beberapa menit angkutan umum sampai dan Salwa naik.
Di dalam angkutan umum sudah ada 3 orang penumpang. Dari ketiga itu sepertinya salah satu dari mereka juga mahasiswa UI karena
"Di depan UI ya pak" Kata Salwa kepada Bapak sopir angkot.
Bapak sopir itu kemudian mengangguk saja, dan angkutan umum itu melaju menembus jalanan yang masih berselimut embun yang sangat tebal.
**
Setelah sampai di depan kampus, Salwa hendak turun.
"Kiri-kiri bang" Ucap Salwa sambil bersiap turun
Angkot itu kemudian berhenti tepat di samping gerbang kampus UI. Salwa lalu turun sambil memberikan satu lembar uang kepada bapak sopir, dia turun.
Di pelataran kampus sudah terlihat beberapa mahasiswa yang sepertinya juga akan melaksanakan bimbel dadakan oleh dosen mereka.
Banyak mahasiswa memasang wajah malas dan tidak suka, tetapi berbeda dengan Salwa.
Diantara semua mahasiswa yang malas hanya Salwa sendiri yang berjalan santai memasuki kampus dengan wajah cerah seperti biasa, kakinya dengan entengnya mengayun menuju gerbang kampus.
Setelah sampai di depan gerbang, Salwa kemudian berbelok arah. Mengambil jalan yang tidak terlalu ramai di lewati orang, selain suhu yang masih dingin ketenangan merupakan nomor satu untuk seorang Salwa Anindita.
Beberapa menit dia berjalan menyusuri lorong yang sepi itu, akhirnya Salwa sampai di depan ruangan tempat dia akan melaksanakan bimbel.
__ADS_1
Kepalanya melongok ke dalam ruangan. Masih sangat sepi dan tidak ada satu orang pun di dalamnya, tanpa berpikir panjang Salwa kemudian memasuki ruangan dan menempati kursi di deretan depan paling ujung.
"Pas banget nih" Gumamnya lirih mengeluarkan earphone dari dalam tas nya