
"Gue maafin, tapi ada satu syarat" Ucapnya seraya menghembuskan asap rokok ke arah gadis malang itu..
**
"Syarat?" Tanya nya gadis malang itu
Bianca lalu tersenyum miring, dia membuat sebuah syarat entah syarat apa itu yang jelas Bianca akan memaafkan gadis malang yang ada di depannya ini dengan satu syarat yang akan dia buat.
Bianca mengangguk mantap, kedua bola matanya menilik gadis malang itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Bianca manggut-manggut "Ada satu syarat" Ucapnya dengan enteng "Lo tinggal pilih iya atau enggak" Lanjutnya lagi
Gadis itu dengan cepat mengangguk. Bianca lalu tertawa merasa puas melihat anggukan gadis malang itu.
"Buru-buru amat lo udik" Ucap Bianca lagi "Lo belum tau apa syarat nya tapi udah ngangguk aja" Tambahnya lagi.
Gadis malang itu beringsut mundur ketika melihat Bianca berdiri menghampirinya. Dia amat ketakutan dengan sosok Bianca, gadis malang itu mulai memasang raut wajah yang sangat gugup, sedangkan Bianca hanya tertawa saja.
"Yakin lo setuju?" Tanya Bianca lagi
Gadis itu mendongak, menatap Bianca lekat-lekat. Dia ingin bertanya sebenarnya syarat apa yang harus dia lakukan, namun mulutnya seakan-akan tertutup.
Malam semakin larut suasana mencekam di antara Bianca dan gadis malang itu semakin kental. Tidak ada yang mau menyelamatkan gadis malang itu juga tidak ada yang berani mengusik seorang Bianca.
Suasana pasar malam semakin ramai. Dengan ramainya pengunjung disini tidak membuat gadis malang itu bisa bernafas lega, dia bahkan tidak bisa lepas dari jeratan Bianca yang seolah olah mengikatnya seperti hewan peliharaan.
**
Abhian dan Salwa sudah masuk di wahana bombomcar yang ada di sebelah wahana rollercoaster, malam sudah semakin larut namun suasana pasar malam malah semakin ramai saja.
Mereka berdua lalu naik sebuah mobil mini berukuran sedang, cukup untuk mereka berdua. Setelah lampu menyala mobil bisa dinyalakan dan bergerak kesana kemari, banyak dari mobil lain menabrak sana sini.
Salwa tertawa dengan sangat senang, dia bahkan begitu bahagia. Bhian menatap Salwa dengan tatapan teduh, melihat Salwa bisa se bahagia ini mebuat hatinya semakin menghangat.
15 menit berada di wahana itu, mereka kemudian keluar. Bhian melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.
Akhirnya dia mengajak Salwa untuk segera pulang.
"Balik yuk Sal" Kata Bhian bertanya kepada
__ADS_1
Salwa menoleh "Yuk!!" Jawabnya singkat
"Besok kita ada kelas pagi kan" Ucapnya di sela sela mereka berjalan.
Bhian hanya mengangguk saja, mereka kemudian berjalan beriringan menuju pintu keluar. Tidak ada lagi obrolan diantara mereka, masing-masing hanya saling diam dan berjalan dengan santai.
Di sela-sela mereka berjalan, tiba-tiba mereka di hadang oleh satu orang preman. Salwa terkejut tentu saja, sedangkan Bhian berusaha tenang.
Bhian kemudian menyuruh Salwa untuk berada di belakangnya.
"Mundur Sal" Perintah Bhian
Salwa mengangguk. Dia kemudian bersembunyi di belakang Bhian, sedangkan preman itu hanya melihat mereka dengan senyum miring yang sangat menakutkan.
Tidak berselang lama datang lagi gerombolan preman yang lain, mereka semua terlihat sangar dengan kalung rantai yang melingkar di lehernya.
Abhian masih tenang, dia bahkan memasang raut wajah yang sama sekali tidak gugup dengan kehadiran banyaknya preman disitu.
"Kalian ada perlu apa?" Tanya Bhian dengan santai
Salah seorang preman hanya manggut-manggut saja menanggapi pertanyaan Abhian.
"Cuma butuh cewekmu aja" Celetuk preman lain dari arah belakang yang diikuti gelak tawa preman yang lainya.
Abhian sudah mengepalkan tangannya dengan emosi yang meluap-luap, sedangkan Salwa sudah berulang kali membisikkan kata kata penenang untuk Abhian.
Masih dengan emosi yang meluap-luap. Bhian kemudian menahannya sekuat tenaga, dia tidaj mungkin bisa mengalahkan banyaknya preman yang ada disini.
Maka dari itu dia meredam emosinya sendiri. Tidak gegabah dalam mengambil keputusan dan tetap waspada dengan banyaknya preman preman yang ada disini.
Salah satu preman terlihat menyimpan senjatanya ke dalam saku jaket miliknya.
Dia kemudian berjalan maju mendekati mereka, Salwa sudah ketakutan. Dia lalu mencengkeram baju Abhian dengan sekuat tenaga, nafas Salwa terlihat gusar.
Dia semakin ketakutan kala preman itu menatap dirinya. Abhian kemudian berteriak kepada preman yang semakin mendekat itu
"LO GAUSAH LIAT CEWEK GUA KAYA GITU BANGSAATTT!!! Teriaknya murka
Preman itu hanya tersenyum lagi "Tenang, gue juga gak doyan sama cewek lo" Ucapnya dengan nada meremehkan.
__ADS_1
Abhian tidak lagi terbawa emosi. Dia lebih memilih untuk selalu sabar dengan apa yang preman itu lakukan..
Belum terjadi hal hal yang tidak di inginkan, terlihat salah seorang preman dari arah belakang mengambil ponselnya.
Rupanya ada yang sedang menghubunginya. Kemudian preman itu berjalan maju ke arah preman yang ada di bagian paling depan, dia sedikit berbisik.
Entah apa yang sedang dia katakan, sebentar kemudian ketua preman itu mundur dan mengisyaratkan kepada para teman-teman nya yang lain untuk bubar dan meninggalkan tempat itu.
Akhirnya mereka semua bubar dan meninggalkan Salwa dengan Abhian.
"Aneh banget" Cerocos Salwa sambil mengelus dadanya dan bernafas lega.
Abhian dengan cepat menggandeng tangan Salwa dan buru-buru pergi meninggalkan lokasi pasar malam itu dengan kondisi perasaan yang mulai tidak tenang.
**
Di perjalanan pulang Bhian tak henti-hentinya melirik kaca spion.
Hanya untuk memastikan Salwa masih ada di belakangnya atau tidak, sedangkan Salwa hanya tersenyum ketika matanya tak sengaja bertatapan dengan Bhian di kaca spion itu.
Tidak sampai setengah jam, mereka telah sampai di depan rumah Salwa.
Mereka kemudian turun. Bhian masih memperhatikan sekeliling rumah, takut jika ada seseorang yang jahat kepada Salwa.
Sedangkan Salwa juga masih agak was-was dengan insiden preman preman tadi. Bahkan di perjalanan pulang tadi, tanganya masih sempat bergetar dan dadanya bergemuruh mengingat kejadian tidak mengenakan yang terjadi di pasar malam tadi.
Menurutnya, bagaimana mungkin tempat umum seperti pasar malam tadi bisa di datangi dengan segerombolan preman yang sangat membahayakan orang lain.
Sedangkan untuk keamanan saja juga sudah di atur bukan, namun mengapa orang-orang seperti preman tadi malah bisa masuk ke dalam arena.
Aneh!
Gumam Salwa dalam hati.
Abhian lalu tidak langsung pulang ke apartemen nya. Dia menyuruh Salwa untuk segera masuk ke dalam rumah, sedangkan dirinya berpamitan untuk tetap berjaga di depan rumah sampai kondisi benar-benar dipastikan aman.
"Kamu masuk duluan gih" Ucap Bhian sibuk dengan pandangan nya ke sudut-sudut rumah.
Salwa masih diam, dia ragu bahkan dia tak bergeming sedikitpun. Bhian kemudian menoleh, mengangkat alisnya sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Aku tunggu disini dulu" Ucap Bhian lagi ketika menyadari keraguan Salwa.