Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
SI LISA


__ADS_3

Rasa takut itu lenyap ketika Salwa membuka pintu dan mendapati Lisa berdiri dengan senyum manis sambil melambaikan satu tangannya.


"Ll-lisa?" Ucap Salwa terkejut.


"Hai Salwa" Kata Lisa dengan ekspresi yang sama


"K-kamu-


Belum sempat Salwa bertanya rupanya Lisa tau apa yang membuat Salwa sedikit terkejut dengan kehadiranya malam malam begini.


"Aahh~ Itu mobilku mogok di persimpangan gang dan masih di perbaiki sama montir" Ucapnya menjelaskan.


"Aku baru inget kalo persimpangan tadi deket sama rumahmu, makanya aku mampir kesini" Lanjutnya terlihat serius.


Salwa hanya diam mendengarkan kata demi kata yang Lisa ucapkan, masih sedikit sulit mencerna kata kata itu, lalu sebentar kemudian dia menghela nafas lega.


Lisa yang melihat itu langsung saja tersenyum sungkan, dia merasa tidak enak hati sudah membuat Salwa harus membuka pintu malam malam begini.


"Apa aku ganggu kamu?" Tanya Lisa kemudian.


Salwa yang menyadari pertanyaan Lisa langsung saja menggeleng dan tersenyum


"Eh e-enggak kok Lis, aku juga masih belum tidur tadi" Jawab Salwa meyakinkan


"Yaudah masuk yuk!" Lanjutnya membuka pintu lebih lebar supaya Lisa bisa masuk ke dalam rumahnya.


Sampai di dalam rumah, mereka lalu duduk. Salwa diam memperhatikan Lisa, Salwa pikir, mungkin Lisa masih tampak asing dengan isi tempat tinggalnya. Lihatlah sepertinya dia tampak sulit menyesuaikan diri di dalam kontrakan sempit ini.


"Lisa?" Ucap Salwa memanggil namanya


Panggilan itu sontak membuat pandangan Lisa mengarah kepadanya. Salwa lalu tersenyum sebentar dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ingin bertanya tapi bingung harus memulai darimana, haruskah dia mengajak Lisa untuk keluar saja dari kontrakanya ini dan berbicara di teras rumahnya, karena bagi Salwa Lisa adalah anak orang berada dan sepertinya dia benar-benar masih belum bisa menyesuaikan diri dengan tempat seperti ini.


Lama mereka diam, Lisa masih setia menunggu ucaoan Salwa selanjutnya setalah dia baru saja memanggilnya tadi. Tapi Salwa masih diam dan tersenyum canggung.


"Ada apa Sal?" Tanya Lisa lagi.


"Aa itu, kalo kamu kurang nyaman kita bicara di luar aja?" Ucap Salwa menawarkan pada Lisa dengan nada yang terdengar hati hati.


Lisa diam sebentar, mencerna kata kata Salwa dan setelah paham apa yang Salwa maksudkan dia buru buru menggeleng, jadi tak enak hati pada Salwa karena sudah terlihat mengamati lamat lamat setiap inci ruangan ini.


Niatnya bukan karena ingin menilai tempat ini ataupun meremehkah, bahkan Lisa juga tidak masalah dengan isi dan penampilanya, lagian memang dia sendiri kan yang ingin mampir dan bertamu ke kontrakan ini, jadi dia buru buru menggeleng sambil mengibaskan kedua tanganya mengisyaratkan agar tetap di dalam saja.


"Ah~tidak tidak! Kamu tidak perlu sungkan" Jawabnya berusaha meyakinkan.

__ADS_1


Salwa lalu manggut-manggut, dia menghela nafas terlihat lega dengan jawaban Lisa lalu tersenyum saja.


"Ngomong ngomong! Malam malam begini kamu habis dari mana Lis?" Tanya Salwa berbasa basi


Mendengar pertanyaan itu Lisa lalu menoleh ke arah Salwa, ekspresinya terlihat sedikit terkejut tapi sebentar kemudian kembali normal lagi.


"Aku habis dari rumah temenku Sal" Jawabnya singkat


Salwa hanya mengangguk tidak lagi bertanya lebih jauh, dia lalu berdiri dari duduknya membuat Lisa mendongak lalu mengangkat kedua alisnya.


"Kamu mau kemana Sal?" Tanyanya


"Ke belakang ambil minum buat kamu, oh iya kamu mau minum apa?" Jawab Salwa laku bertanya juga pada Lisa.


"Kirain mau kemana!" Kata Lisa sembari terkikik


"Em Gausah repot deh Sal, bentar lagi aku juga pulang" Kata Lisa lagi "Udah disini aja, aku beneran cuma sebentar kok" Sambungnya lalu mengeluarkan ponsel dari tas selempang yang dia kenakan.


Salwa lalu duduk saja menurut dengan apa yang di katakan Lisa. Setelah itu mereka berbicara dan bertanya satu sama lain, hampir sepuluh menit mereka saling bercanda, tiba tiba ponsel Lisa berdering, mereka berhenti dan lalu Lisa mengambil ponselnya mengangkat panggilan telepon itu. Sepertinya dari montir yang sedang memperbaiki mobilnya karena sebelum Lisa mengangkat panggilan itu dia sempat menunjuk ponselnya beberapa kali.


"Iya pak?"


"Oh udah selesai ya?"


"Iya, terimakasih juga"


Setelah menutup panggilan itu, Lisa memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu berdiri.


"Kalo gitu.. Aku balik dulu Sal" Ucapnya berpamitan


"Makasih banget udah mau bukain pintunya dan maaf udah ganggu kamu malem-malem gini" Lanjutnya sambil berjalan menuju pintu


"Iya gak papa, hehe santai aja lis" Jawab Salwa sekenanya.


๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ


Lisa sudah pulang, Salwa kembali masuk kedalam rumahnya. Tak lupa pintu rumahnya juga sudah dia kunci dan sekarang Salwa sedang berada di dalam kamarnya.


Salwa merebahkan tubuhnya di atas ranjang kecil yang berderit setiap kali dia bergerak, malam semakin larut tapi sepertinya mata Salwa sulit sekali untuk terpejam, padahal sudah jelas besok dia harus bangun pagi untuk berangkat sekolah, satu bulan terakhir ini dia memang mengalami insomnia berat yang membuat dirinya sulit sekali hanya sekedar memejamkan matanya untuk tidur. Menyebalkan bukan?


Dia kembali memikirkan Lisa, gadis itu ternyata memang sulit di tebak. Pikir Salwa Lisa adalah anak yang tidak suka keluyuran, bahkan saat dia tersenyum manis sudah pasti semua orang akan menganggap kalau dia adalah gadis rumahan yang benci pulang malam, tapi apa yang baru saja dilihat Salwa berbeda dari apa yang di pikirkan Salwa tentang Lisa sebelumnya.


Lisa bahkan tampak seperti cewek lain, dia bahkan terlihat santai kala mengatakan kalau mobilnya mogok, kalau saja Salwa ada di posisi Lisa sudah pasti dia kebingungan dan tidak tau mau berbuat apa, tapi lihatlah? Lisa terlihat santai dan lalu tersenyum saja mengatakan hal itu seolah itu bukanlah masalah besar.


Seharusnya bagii Salwa itu tidak menjadi urusannya, bukankah terlihat wajar untuk orang lain yang hanya sekedar main sampai larut malam serta menikmati hidupnya untuk bermain itu tentu beda dengan Salwa yang hari hari nya hanya disibukan dengan bekerja dan belajar saja.

__ADS_1


Salwa juga tidak tau ada urusan apa Lisa dengan temanya sampai harus pulang larut malam seperti ini mau bertanya pun Salwa tidak bisa mengatakan apa apa saat berhadapan dengan Lisa tadi, dia memang sudah berteman dengan Lisa dari satu bulan yang lalu, tapi hanya untuk sekedar bertanya ini itu Salwa masih terlalu sungkan untuk mengatakanya alhasil dia hanya bercanda dan bercerita tentang kejadian lucu di sekolahnya agar tidak terlalu canggung.


Salwa membalikkan tubuhnya ke samping kanan dan kiri, lama dia terusik dan berusaha memejamkan matanya sampai pada akhirnya dia tertidur juga.


๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ


Salwa dan Vina berjalan menyusuri koridor kelasnya, pagi ini koridor masih terlihat sepi karena baru beberapa murid yang baru datang. Seperti biasa Vina dan Salwa berjalan beriringan menyusuri koridor itu.


Dari kejauhan Salwa memperhatikan deretan kelas, lalu tanpa sengaja pandanganya berhenti pada tulisan yang menggantung di depan pintu kelas.


"XII IPA 2", saat tidak sengaja membacanya, pikiranya kembali tertuju pada Lisa, ingin rasanya Salwa bercerita pada Vina tentang kejadian kemarin malam tapi buru buru dia urungkan, lagian itu hal yang wajar kalau Lisa mampir ke rumahnya meskipun sudah larut malam.


Biarlah! menurutnya dia tak perlu mengatakan apapun pada Vina, toh itu juga bukanlah urusan yang terlalu penting untuk di ceritakan.


Mereka sudah sampai di depan kelas, Vina kemudian berdiri lalu memutar tas ranselnya.


"Titip bentar Sal, aku mau ke toilet hehe" Katanya sembari menyodorkan tas nya pada Salwa.


Salwa laku menerimanya, setelah Vina berbalik dan berjalan menuju toilet, Salwa lalu masuk ke dalam kelasnya.


Di dalam kelas sudah ada dua murid yang duduk di bangkunya masing masing, Salwa lalu berjalan menuju bangku nya juga dia meletakkan tas Vina dan juga memutar tas ranselnya lalu mengambil buku tebal dengan pensil di dalam tasnya, Salwa bersiap untuk berkutat lagi dengan soal soal UTBK nya.


Memang sudah menjadi rutinitas Salwa saat setiap dirinya berangkat pagi dia selalu menggunakan waktunya untuk belajar sebelum bel berbunyi.


Tak berselang lama Vina masuk dan duduk dengan cermin di tanganya. Dia lalu melongok melihat buku di depan Salwa, Setelah melihat buku itu, matanya memicing.


"Lo pacaran mulu sama buku" Keluhnya dengan nada histeris tanpa melihat Salwa.


Salwa hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Vina, dia tidak tersinggung atau pun marah karena memang sahabat nya ini selalu saja berniat menganggu nya.


Jadi Salwa hanya diam dan mengacuhkan Vina begitu saja, menurutnya soal soal ini lebih penting daripada harus menanggapi ocehan Vina yang tidak penting.


Vina yang melihat Salwa acuh hanya menghela nafas nya lalu mengeluarkan ponsel dan menyumpal telinganya dengan earphone.


20 menit sudah berlalu bel masuk akhirnya berbunyi nyaring, suara bel itu sontak membuat Salwa menutup buku tebalnya, lalu dia melirik Vina sebentar. Sahabatnya itu tertidur pulas masih dengan earphone yang menyumpal di telinganya.


"Bisa bisa nya ini anak tidur" Gumam Salwa sambil geleng geleng kepala merasa heran dengan tingkah sahabatnya ini.


Dia lalu memasukan buku tebal itu dan berganti mengeluarkan buku serta alat tulisnya, setelah itu berusaha membangunkan Vina sebelum guru yang mengajar masuk ke dalam kelasnya.


...HAPPY READING! SEE YOU NEXT CHAPTER YESโค๏ธ...


Selasa, 16 Februari 2021๐Ÿ”•


My home๐Ÿ“

__ADS_1


__ADS_2