
Salwa memijit pelipisnya berulang kali, kepalanya mendadak pusing setelah memikirkan nama Lisa berulang kali dalam otak kecilnya.
Melihat bagaimana sifat gadis itu yang selalu ramah dan periang, bahkan senyum manisnya yang selalu terbit kala dia bertemu dengan Lisa membuat Salwa jadi enggan untuk bertanya lebih tentang apa yang selama ini membuatnya penasaran.
Memang sudah jelas jika Lisa adalah gadis yang terekam di cctv loker coffe shop ini, tetapi dalam hati kecilnya Salwa selalu mengatakan bahwa Lisa bukanlah seseorang yang dengan senang hati melakukan hal hal seperti itu.
Sudah lama Salwa merahasiakan hal ini pada Vina dan juga Abhian, karena memang ujian akan diadakan sebentar lagi jadi dia putuskan untuk fokus saja, lagi pula menurut Salwa ini memang keputusan yang terbaik karena teror yang selama ini dia alami sudah tidak pernah lagi terjadi.
Sudah hampir berbulan bulan teror teror itu tidak muncul, entah Lisa yang menyadari sesuatu atau memang ini hanya jeda sementara.
Sebenarnya Salwa sudah tidak takut dengan datangnya teror semacam itu, dia hanya berasumsi untuk segera menemukan siapa dalang di balik semuanya dan tidak sabar ingin bertanya secara langsung kepada orang itu tentang masalah apa yang membuat nya begitu benci dan merasa dendam terhadap dirinya hingga harus meneror nya dan mencelakai dirinya.
Salwa masih duduk di cafetaria para pegawai yang berada di lantai dasar bangunan tinggi ini. Beberapa detik kemudian, ada seseorang yang membuka pintu cafetaria dan lalu menghampiri meja yang tak jauh dari tempat Salwa duduk.
Salwa lalu menoleh sebentar, dan mendapati gadis dengan rambut sepunggung sedang meletakkan ponsel di meja cafetaria, Regina, salah satu staff marketing yang ada di coffe shop ini. Usianya kira kira 2 tahun lebih tua dari Salwa, entahlah Salwa tidak terlalu yakin karena memang hanya kenal dan tidak akrab dengan gadis itu.
Lama Salwa hanya memperhatikan Regina yang sibuk dengan layar ponsel yang sempat dia taruh tadi. Sadar ada seseorang yang menatap dirinya, Regina lalu menoleh ke arah Salwa dan Sang empu hanya tersenyum canggung seperti biasa.
"Sendirian aja Sal?" Tanyanya berbasa basi
Salwa kembali memaksakan senyum di bibirnya "Hehe Iya nih mbak, lagi istirahat bentar capek banget soalnya", Jawab Salwa sambil mengaduk aduk minuman yang ada di depanya.
Regina terlihat manggut-manggut, dia kemudian berdiri. Berjalan menuju kasir cafetaria dan mengambil pesanannya. Setelah itu kembali duduk, bukan di mejanya yang tadi melainkan duduk di kursi yang berhadapan dengan Salwa. Arah pandangan Salwa hanya mengekor saja melihat pergerakan Regina yang begitu cepat berada di depanya, Salwa sempat terkejut dengan kedatanganya tetapi memilih untuk diam saja.
Sebenarnya Salwa tidak terlalu dekat dengan Regina, hanya kebetulan kenal saja karena memang setiap berada di loker ataupun ruang ganti Salwa sering bertegur sapa dengan Regina. Ya! Hanya bertegur sapa saja tidak lebih ataupun tidak kurang
Itu memang karena pekerjaan Salwa yang berada di coffe shop membuatnya hanya akrab dengan beberapa orang saja, sedangkan Regina yang selaku staff marketing hanya menghabiskan waktunya bekerja di dalam ruangan, dan sisanya di luar lapangan.
Regina hanya terlihat sesekali berada di cafetaria ini hanya untuk makan ataupun istirahat karena memang tempat ini disediakan untuk seluruh para pegawai sebagai tempat rehat atau pun makan bahkan tempat untuk mengobrol dari satu pegawai dengan pegawai yang lain.
"Tadi ada yang cari kamu, udah ketemu sama orangnya Sal?" Tanya Regina tiba tiba.
Salwa yang mendengar itu sontak melepaskan tangannya dari gelas yang masih berisi setengah jus yang sudah dia tenggak itu, dia kemudian menaikkan kedua alisnya merasa tak paham dengan arah pertanyaan Regina.
"Itu Sal, cewek yang rambutnya pirang make seragam sekolah sama kayak lo" Katanya lagi terlihat menjelaskan "Tadi dia ada di lobby bawah" Lanjutnya masih dengan pandangan mengarah ke ponsel yang dia pegang.
Salwa semakin ragu untuk bertanya pada Regina, dia kemudian memutar otaknya. Berpikir kerasa siapa orang yang di maksud Regina barusan, lama dia diam membuat Regina beralih menatap Salwa, dia kemudian meletakkan ponselnya dan memasang raut wajah sama bingungnya.
"Lo kok diem aja sih Sal?" Lagi lagi Regina bertanya "Udah ketemu kan lo sama orangnya?" Tambahnya masih dengan nada kepo
__ADS_1
Salwa yang terlihat linglung semakin kebingungan kala mendengar pertanyaan Regina lagi. Dia kemudian menggeleng lemah dengan raut wajah cengo.
"Belum mbak" Jawab Salwa menggelengkan kepalanya samar "Emang kata dia, ada urusan apa mbak kok sampe nyariin aku?" Tambahnya berpura-pura bertanya.
"Gue gak terlalu denger sih soalnya posisi gue emang gak terlalu deket sama meja receptionis" Kata Regina Menjelaskan "Tapi gue yakin kok kalo tuh cewek lagi nyariin lo Sal, gye denger sendiri dia nyebut nyebut nama lo berulang kali" Lanjutnya dengan serius.
Salwa lalu tersenyum "Oh mungkin temenya Vina kali mbak" Jawabnya berkilah. "Itu Vina temen aku yang pernah ngelamar kerja disini jadi staff marketing kayak mbak" Jelas Salwa buru buru karena melihat Regina yang sedikit kebingungan dengan nama Vina yang barusan dia sebut
Regina lalu hanya manggut-manggut saja "Bisa jadi sih, tau ah yang penting gue udah kasih tau lo kalau tadi ada cewek yang cariin lo" Kata Regina lagi "Yaudah kalo gitu gue balik kerja lagi" Pamitnya kemudian diiringi dengan diirnya berdiri lalu mengantongi ponselnya di saku kemeja licin yang dia kenakan.
Salwa hanya mengangguk sopan dan lalu tersenyum saja menanggapi Regina yang sudah melesat ke arah pintu, menyisakan gelas dengan sisa sisa jus yang sudah tinggal setengah itu.
Salwa menyebut gadis itu temanya Vina bukan karena hanya mengira ngira dan asal menebak, dia memang sengaja berkata seperti itu kepada Regina agar gadis marketing itu tidak lagi bertanya soal gadis yang mencarinya itu. Salwa sengaja mengakhiri percakapan dengan cepat karena memang malas saja menanggapi pertanyaan Regina yang bahkan dirinya sendiri tidak tau apa apa tentang apa yang sedang dibicarakan ini.
Setelah Regina pergi, Salwa kemudian segera bangkit dari duduknya. Meletakkan selembar uang dan meninggalkan cafetaria menuju lantai dua dimana dia akan bekerja lagi.
Di dalam lift, Salwa tak henti henti nya memikirkan seseorang yang Regina ceritakan tadi. Sebenarnya Salwa sangat penasaran dan ingin pergi ke lobby untuk menanyakanya pada receptionis langsung, tetapi sepertinya sekarang belum waktu yang tepat karena sekrang masih waktunya jam kerja.
Jadi lebih baik, nanti saja setelah pekerjaanya selesai dia pergi menemui receptionis di lantai dasar untuk menanyakan hal itu.
**
"Lisa!!!!" Kata nya dengan suara tertahan sambil membulatkan kedua pupil mata nya lebar lebar.
Vina segera berlari menghampiri Lisa. Sedangkan Lisa yang berjalan menunduk masih belum menyadari kedatangan Vina di depanya.
"Lisa?" Teriak Vina lagi memanggil nama Lisa karena suasana bising jalan raya.
Lisa kemudian mendongak, dia begitu terkejut kala mendapati Vina dengan dua kantong plastik yang bertengger di kedua tanganya sedang memergoki dirinya berjalan di pinggiran jalan raya ini.
"V-vvina!!!!?" Sapanya dengan raut wajah terkejut
Buru buru Vina menggandeng tangan Lisa, tanpa persetujuan dari Lisa, Vina membawa Lisa di depan toserba tempat dia belanja tadi. Kemudian Vina duduk dan Lisa ikut duduk masih dengan raut wajah yang Vina sendiri bingung dan tidak bisa di tebak.
"Lo, kenapa pulang jalan kaki?" Tanya Vina to the point seperti bias
Lisa terlihat gugup, bahkan Vina lihat keringat di dahinya terlihat mengucur deras. Entah karena memang cuaca sore ini sangat panas, ataukah Lisa yang menjadi ketakutan karena pertanyaan normal nya itu Vina tidak tau.
"Lis, lo gak mau jawab pertanyaan gue?" Lagi lagi Vina bertanya kepada Lisa "Gue tanya kek gini ke lo, karena tadi sebelum gue pulang gue liat mobil lo di parkiran makanya gue kaget pas tau kalo lo jalan kaki" Jelasnya panjang lebar dengan suara lebih tenang
__ADS_1
Lisa kemudian menggenggam kedua tangannya bergantian, dia kemudian mendongak.
"Iya Vin, tadi aku ke sekolah emang bawa mobil kok" Jawab Lisa lirih.
Vina kemudian menyipitkan matanya menatap Lisa intens "Dan tadi gue lihat juga ada yang masuk ke mobil lo, cewek rambutnya pirang gitu" Kata Vina lagi sedikit kesal memikirkan gadis tadi yang main masuk mobil temanya gitu aja.
Lisa kemudian terlihat memaksakan senyuman "Oh itu, dia temen aku Vin. Tadi emang aku suruh nunggu di dalem mobil, soalnya aku masih ada urusan di ruang BK" Jawab Lisa menjelaskan
"Bener gitu? Yakin lo?!!" Jawab Vina sedikit memastikan.
Lisa hanya mengangguk mantap menanggapi pertanyaan Vina.
"Tapi kenapa lo sekarang pulang jalan kaki?" Tanya Vina penuh sangsi, dia semakin memojokkan Lisa yang ketahuan telah berbohong padanya.
Tetapi dugaanya meleset, Vina yang melihat raut wajah Lisa yang berubah tenang malah semakin menyipitkan kedua matanya penasaran.
"Aku udah pulang kok Vin tadi, ini jalan kaki karena emang ada yang mau aku beli" Jelasnya dengan raut wajah ceria seperti sebelumnya.
Vina tetap memasang wajah penuh sangsi, dia tidak langsung percaya begitu saja. Karena memang menurut Vina itu adalah jawaban yang tidak masuk akal, dia bisa berpikir begitu karena memang dilihat dari wajah Lisa yang sempat pucat dan terkejut saat tadi Vina menghampiri dirinya.
Lisa yang gugup tiba tiba kembali memasang wajah normal, raut terkejut dan ketakutan tadi sudah lenyap entah kemana.
Sedangkan Vina diam beberapa saat, dia kembali memikirkan pertanyaan lagi berharap Lisa mau berkata jujur kepadanya, dia sangat yakin kali sebenarnya Lisa tidak jujur padanya, Vina sangat yakin karena memang feeling nya tidak pernah meleset sedikit pun untuk menebak raut wajah seseorang, apalagi Lisa adalah sahabatnya.
...SEE YOU NEXT CHAPTER❤️...
...&...
...HAPPY READING GUYS❤️❤️❤️...
...T H A N K Y O U😚...
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, silahkan like dan coment di chapter sebelumnya juga untuk lanjut ke chapter selanjutnya🤩...
...FOLLOW TWITTER: @JULISUNMAULANY📎...
Kamis, 1 April 2021✍️
My Home📍
__ADS_1