Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
EBM


__ADS_3

Setelah ruangan sepi. Sherly kemudian merapikan beberapa dokumen yang ada di mejanya dan ikut keluar dari ruangan sambil membawa beberapa tumpukan map di tangannya


**


Sinar matahari terpancar begitu cerahnya. Banyak mahasiswa yang berjalan menyusuri koridor fakultas dengan mengibaskan tangannya berulang kali terlihat kepanasan dengan cuaca hari ini.


Sore ini lapangan basket terlihat di penuhi dengan banyaknya mahasiswa yang tengah asyik bercanda satu sama lain.


Di tengah-tengah lapangan terlihat juga segerombolan laki-laki sedang bersiap untuk bermain bola basket.


Meskipun sore ini cuaca sedang panas dan matahari bersinar begitu teriknya namun mereka terlihat tidak menghiraukan hal itu sama sekali.


Tanpa sengaja di samping lapangan basket terlihat Salwa sedang berjalan sambil meminum jus jeruk.


Di belakangnya ada Abhian tentu saja, mereka terlihat sudah seperti bos dan bodyguard nya yang sedang jalan-jalan mengelilingi kampus elite ini.


Ketika sedang asyik berjalan. Abhian kemudian berhenti "Tunggu Sal" Titahnya tiba-tiba


Salwa sontak menoleh ke belakang, memperhatikan Bhian dengan tatapan penuh tanya.


"Ada apa bhi?" Tanya Salwa kemudian.


Abhian sedikit mencari sesuatu di kantong jaketnya, dia mencoba merogohnya tapi sepertinya tidak menemukan barang yang sedang dia cari


Sebentar kemudian dia beralih mencari barang itu di kantong celananya. Namun nihil, dia tidak menemukan apapun.


Salwa diam sambil sesekali memperhatikan lapangan basket yang ada di sampingnya.


Sedangkan Abhian masih sibuk mencari barang yang entah apa itu Salwa juga tidak tau.


"ADUH IYA LUPA!!" Pekik Bhian menepuk jidatnya sendiri dengan tatapan cengo


Salwa yang tengah asyik menonton pertandingan basket kemudian menoleh ke sumber suara.


"Kenapa bhi?" Tanya Salwa penasaran.


"Ponselku kayaknya ketinggalan Sal" Keluh Abhian dengan tangan yang menepuk jidatnya sendiri.


Salwa kemudian menghembuskan nafasnya sambil tersenyum, Bhian kemudian nyengir.


"Yaudah ambil gih" Perintah Salwa


Abhian kemudian berbalik arah dan melangkah menuju gedung yang ada di belakang.


Salwa melihat punggung Abhian semakin menjauh, dia kemudian duduk di kursi panjang dekat lapangan basket sambil meminum jus jeruknya.


Ketika Bhian sudah hilang dari pandangan, dia kembali memerhatikan para pemain basket yang tengah asyik bermain di tengah lapangan itu.

__ADS_1


Jus jeruk itu sudah hampir habis namun Bhian tak kunjung kembali.


"Lama sekali Bhian" Gumamnya sibuk mengeluarkan ponsel dari totebag nya.


Salwa kemudian meletakkan beberapa tumpukan buku tebal di atas pangkuanya. Tangan mungilnya bergerak dengan lincah mengetikkan sebuah pesan di aplikasi WhatsApp nya.


Tentu saja dia akan mengirimkan pesan kepada Bhian yang tak kunjung kembali padahal sudah lama sekali Salwa menunggunya.


Pesan terkirim namun belum dibaca oleh Abhian.


"Tunggu bentar lagi aja kali ya" Gumamnya lagi.


Ketika Salwa memutuskan untuk menunggu saja tiba-tiba Abhian sudah muncul sambil melambaikan tangannya ke arah Salwa.


Salwa lalu berdiri membalas lambaian tangan itu dan kemudian tersenyum.


Abhian terlihat sedikit berlari. Setelah sampai di depan Salwa dia kemudian menunjukkan ponselnya "Lama ya Sal?" Tanya Bhian dengan raut wajah menyesal


Salwa hanya mengangguk sambil memanyunkan bibirnya membentuk kerucut. Abhian kemudian terkekeh


"Maaf deh" Katanya meminta maaf.


Salwa kemudian menggeleng dengan ekspresi menggemaskan. Abhian semakin terkekeh dan pada akhirnya menggandeng tangan Salwa.


"Eh..ehh.ehhh" Kata Salwa gugup ketika tangannya ditarik oleh Bhian.


Sebentar kemudian mereka sudah berjalan bergandengan tangan seperti best couple yang menjadi sorotan kampus elite ini.


Entah kenapa di tatap oleh banyak pasang mata seperti sekarang ini membuat Salwa tidak nyaman, dia sempat menarik tangannya namun Abhian tidak mau dan balik memelototi dirinya.


Akhirnya Salwa pasrah saja. Sambil menundukkan kepalanya dia berjalan di sebelah Abhian.


Bhian tersenyum kecil "Kenapa pake malu sih Sal" Keluh Abhian disertai tawa renyah menggoda Salwa.


Salwa mendengus kesal "Buruan Bhiiiiii...." Ucap Salwa berjalan sambil tergesa-gesa.


Abhian semakin terkekeh melihat tingkah lucu Salwa .


Entah kenapa tingkah Salwa masih saja sama dengan Salwa sewaktu SMA.


Abhian sempat geleng-geleng kepala dengan tingkah pacarnya itu, Salwa memanglah Salwa.


**


"JANGAN MIMPI" Teriak Bianca. Suaranya menggema memenuhi ruangan yang terisi dua orang itu.


Gadis malang itu masih menangis, dia tidak tau bagaimana caranya bisa membuat Bianca mau memaafkan dirinya.

__ADS_1


"Lo yang gabisa penuhi syaratnya, kenapa harus gue yang tanggung jawab hah?" Kata Bianca lagi berteriak dengan senyum sinisnya.


Gadis malang itu mulai bergetar, dia menangis memohon ampun kepada Bianca.


Namun Bianca tidak merespons permohonan itu. Dia malah berdiri sambil mengais balok kayu yang ada di sampingnya.


Gadis malang itu melirik Bianca. Matanya mengerjap beberapa kali melihat Bianca memainkan balok kayu yang ada di tangannya.


"Kayaknya lo emang pantes diberi pelajaran" Gumam Bianca tersenyum sinis.


Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, raut wajahnya ketakutan. Tangisnya mulai tersedu-sedu,


"Ampun bhii... Ampunn!!" Teriaknya, air matanya mulai mengucur deras


Keringat di pelipisnya mulai bercucuran, sepertinya dia benar-benar ketakutan oleh tingkah Bianca yang lagi-lagi tidak mempunyai belas kasihan kepada manusia.


Melihat itu Bianca hanya memunculkan tersenyum sinis, dia lalu mengayunkan balok kayu. Gadis malang itu memejamkan mata.


Sedangkan Bianca malah tersenyum dengan girang seolah sedang memainkan permainan saja.


Dia sengaja tidak melemparkan balok itu tepat kepada gadis malang, melainkan ke sampingnya.


"Wo ga kenaaaa kan?" Tanya Bianca dengan senyum sinis yang terukir di bibirnya.


Gadis malang itu mulai membuka matanya, dia bernafas lega. Kepalanya menoleh ke arah balok kayu di sampingnya, sedangkan Bianca mulai bertepuk tangan dengan keras.


Gadis malang itu mulai tersentak kaget mendengar tepukan tangan itu, dia kemudian melihat Bianca berjalan ke arah balok kayu itu.


Bianca mengambil lagi balok kayu itu dan memutuskan untuk membuangnya begitu saja.


"Sekali lo bikin kesalahan lagi, mampus lo" Finalnya, sambil pergi meninggalkan gedung itu.


**


Setelah pulang dari kampus, Salwa dan Abhian sengaja mampir ke warung bakso langganan nya.


Mereka membeli bakso kesukaan Salwa. Sebenarnya Abhian tidak terlalu menyukai bakso, namun kalau sudah menjadi kesukaan Salwa pasti Abhian akan mengikuti.


Warung bakso itu berada tak jauh dari kampusnya. Ada di seberang jalan di perempatan jalan menuju rumah Salwa, dekat dengan pedagang kaki lima lainya.


Tidak ada yang menjadi daya tarik bakso ini. Salwa memanglah penyuka bakso, ditambah dengan tempat yang strategis membuat siapa saja yang memakan bakso di warung ini semakin di buat nyaman.


"Berhenti bhiiii" Kata Salwa menepuk pundak Abhian


Abhian kemudian berhenti, dia menengok ke kanan dan ke kiri. Memastikan jalanan sekitar, dan menyebrangi jalan raya itu dengan penuh kehati-hatian.


Setelah sampai di depan warung bakso itu. Salwa kemudian turun dia kemudian meletakkan helm di jok belakang motor Abhian.

__ADS_1


Dengan buru-buru dia segera masuk ke dalam tenda warung bakso itu dan menemui pedagang bakso.


"Gercep amat pacar gue" Gumam Bhian sambil menggelengkan kepalanya.


__ADS_2