Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
ABHIAN BERULAH


__ADS_3

**


Hari menjelang malam, Abhian sudah kembali. Ternyata dia habis keluar sebentar untuk mencari angin dan udara segar, sangat suntuk karena berada di dalam ruangan rumah sakit membuat dirinya tidak bisa menghirup udara segar.


Salwa sudah membersihkan diri. Dia juga sudah berganti baju, namun sepertinya Salwa lupa belum mematikan saluran air yang ada di dalam bath up kamar mandi.


Dia lalu berjalan menuju kamar mandi dan segera mematikanya. Abhian masih terbaring di atas kasur rumah sakit, dia melihat Salwa yang kebingungan membuat dirinya tersenyum karena mengira tingkahnya sangat lucu.


"Kamu kenapa sih Sal" Tanya Abhian "Aku liatnya kamu mondar mandir daritadi, ga cape apa?" Lanjutnya lagi


Salwa hanya nyengir, kemudian dia duduk di sofa lagi. "Besok kamu pulangnya naik apa ya bhi?" Tanya Salwa kemudian


Abhian memutar bola matanya terlihat jengah "Udah aku bilang gausah dipikir dulu Salwa" Kata Abhian kemudian dia beringsut duduk.


Salwa dengan sigap membantu dirinya, kemudian Abhian menatap Salwa, membuat sang empu jadi salah tingkah.


"Kenapa bhi?" Tanya Salwa "Ada yang salah kah sama pakaian aku, atau make up aku?" Tanya Salwa bertubi-tubi


Abhian hanya diam saja. Salwa agak kesal dengan perilaku Abhian, namun sebisa mungkin dia tahan. Pasalnya Salwa tidak bisa jika harus di tatap seperti itu, selain membuat dirinya menjadi salah tingkah Salwa juga tidak suka dengan adanya mata yang menatap dirinya seperti itu.


Sepertinya Abhian semakin menggoda Salwa. Dia lalu tertawa saja melihat tingkah lucu Salwa yang selalu saja mengerucutkan bibirnya ketika tau Abhian hanya menggodanya.


**


Malam sudah larut, kini saatnya beristirahat. Mereka lalu bersiap untuk tidur karena besok Abhian sudah boleh pulang. Jadi mereka putuskan untuk tidur lebih cepat supaya besok bisa bangun lebih pagi untuk bisa pulang dengan tenang dan nyaman.


Salwa tidur di sofa seperti biasa dengan sprei yang tebal. Sedangkan Abhian berada di tempat tidur dengan selang impus masih tergantung di sampingnya.


Di sela sela mereka memejamkan mata Abhian kemudian bertanya.


"Kamu ngga cape Sal?" Tanya Abhian "Ngurusin aku kaya gini" Tambahnya dengan raut wajah penuh tanya


Salwa lalu membuka matanya sambil menggeleng pelan "Enggak bhi" Jawabnya singkat.


Abhian lalu memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Salwa


"Nanti kalo kita nikah pasti aku bakalan seneng banget Sal bisa dapet istri kaya kamu" Timpalnya lagi lagi dengan suara lirih.


Sukses membuat Salwa mengulas senyum di bibir kecilnya. "Tidur bhi" Jawab Salwa enggan melanjutkan obrolan itu

__ADS_1


Abhian menjawab dengan ber hem saja sambil menghembuskan nafas kasar.


Salwa tetaplah Salwa, dia tidak akan bisa di pancing dengan masalah apapun kalau memang tidak dirinya yang memulai obrolan terlebih dahulu.


Mendengar ucapan itu Abhian lalu ikut memejamkan mata, mereka kemudian sama sama terlelap di tempat tidur yang berbeda.


**


Pagi sudah menyapa kedua sejoli yang belum bangun, sinar matahari tak henti-hentinya masuk ke celah-celah jendela ruangan ini.


Salwa lalu terbangun dengan malas, dia lalu berangsur meringkuk karena suhu dingin ruangan masih bisa menembus kulit yang terbalut selimut tebal miliknya.


Abhian masih terlelap, dengan malas Salwa lalu berusaha duduk. masih dengan mata yang terpejam dan rambut yang sangat acak acakan dia sibak selimut tebal itu, buru buru Salwa meraih blazer miliknya.


"Kenapa dingin sekali" Titahnya lirih.


Salwa kemudian berdiri dengan sempoyongan berjalan menuju kamar mandi. Tak lupa Salwa sempat melirik Abhian, ternyata sang empu masih tertidur dengan mata yang masih terlelap, wajahnya terlihat begitu damai.


"Nyenyak banget tidurnya, heran" Gerutu Salwa tanpa di dengar Abhian.


Salwa bergegas membersihkan diri di kamar mandi dan keluar dengan tangan yang bergetar karena kedinginan.


Salwa lalu tertawa geli melihat tingkah Abhian yang menurutnya sangat lucu. Mendengar Salwa tertawa Abhian lalu membuka matanya dengan malas.


"Sayangku udah bangun aja" Kata Abhian menggoda Salwa.


Salwa hanya memutar bola matanya jengah, risih dengan panggilan "sayangku" yang baru Abhian katakan beberapa detik yang lalu.


Melihat reaksi Salwa seperti itu sukses membuat Abhian ikut tertawa geli, padahal sudah pacaran lama tapi Abhian begitu heran dengan tingkah pacarnya itu.


Entah apa yang membuat Salwa seperti itu, pacarnya yang sangat ambis itu selalu saja tidak menyukai hal hal yang berbau bucin.


**


Semua sudah beres. Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan, membawa beberapa lembar resep obat dan surat untuk Abhian bisa dinyatakan bebas untuk pulang.


"Permisi ya mas" Kata suster itu sambil melepaskan bebespa selang impus yang masih menempel di telapak tangan Abhian.


Salwa masih sibuk bercakap-cakap dengan sang dokter karena masih ada resep obat dan beberapa hal yang harus Salwa tanyakan.

__ADS_1


Abhian hanya diam saja. Menatap Salwa dari kejauhan dengan mengulas senyum hangat.


Dari dalam hatinya dia sangat bersyukur karena di pertemukan dengan Salwa yang begitu menyayangi dirinya.


"Liat deh sus" Kata Abhian memulai obrolan dengan suster yang merawatnya, suster itu menoleh dan mengikuti arah telunjuk dari Abhian.


"Itu pacarku sus, cantik kan sus?" Tanya Abhian yang sukses membuat suster itu tersenyum


"Iya cantik banget mas" Jawab suster itu "Udah cantik, lemah lembut, ramah lagi" Kata suster itu lagi.


Abhian lalu tersenyum bangga. Merasa sangat senang dengan jawaban suster itu.


"Udah, selesai mas" Kata suster itu lagi sambil mengakhiri tugasnya melepaskan selang impus dari tangan Abhian.


Suster itu kemudian membereskan beberapa peralatan dan membawanya keluar ruangan. Diikuti dengan dokter yang ikut keluar meninggalkan ruangan itu, menyisakan Salwa dan Abhian saja.


"Bhi nanti sebelum pulang kita tebus obat dulu ya?" Kata Salwa


"Oke siap bu bos" Jawab Abhian singkat sambil mengayunkan telapak tangan ke arah pelipisnya.


Salwa hanya geleng-geleng kepala dan tertawa geli melihat tingkah sang pacar.


Mereka akhirnya meninggalkan ruangan itu, kemudian menaiki lift menuju lantai bawah.


Menebus obat yang sudah di resepkan oleh dokter, setelah semua selesai mereka lalu berjalan menuju lobby utama.


"Ini obatnya aku bawa, kamu jangan lupa buat makan yang teratur bhi" Kata Salwa diikuti anggukan Abhian dengan mantap.


Mereka berjalan menuju pintu keluar dan memasuki mobil yang sudah di pesan oleh Salwa melalui aplikasi grab car yang ada di ponselnya.


Setelah itu mobil melesat meninggalkan pekarangan rumah sakit menuju apartemen Abhian.


**


Sedangan dari kejauhan terlihat seorang gadis yang memperhatikan Salwa dan Abhian, dia tak henti-hentinya memandang ke arah mereka berdua, masih dengan tatapan datar.


Setelah mobil melesat jauh Gadis itu kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.


"Sial, kenapa gue masih jadi pecundang kaya gini" Katanya tersenyum getir merutuki dirinya sendiri

__ADS_1


__ADS_2