Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
PAPERBAG MISTERIUS


__ADS_3

**


Salwa terbangun dari tidurnya sambil sesekali mengucek matanya, sesekali dia masih menguap karena kantuk yang menyerangnya.


Rupanya dia tertidur cukup lama di dalam taksi ini.


"Sudah sampai mana pak" Tanya Salwa, menegakkan badan dan memperbaiki posisi duduknya.


"Loh sudah bangun mbak?" Tanya Supir taksi itu "Sebentar lagi sampai mbak" Tambahnya lagi


Salwa lalu membuka kaca mobil, kepalanya melongok keluar jendela.


Sepertinya dia benar-benar capek setelah merawat Abhian dari lusa kemarin, buktinya hari ini dia tertidur di dalam taksi ini dengan nyenyak


Mobil berbelok ke arah kanan, melaju lirih menuju ke persimpangan jalan. Salwa kemudian bersiap-siap untuk turun karena sebentar lagi taksi pasti berhenti setelah sampai di depan rumahnya.


Ketika di persimpangan jalan Salwa masih fokus dengan kegiatan memandangi jalanan di luar jendela.


Meskipun hari sudah menjelang sore, kota metropolitan ini masih padat dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, di seberang jalan juga terlihat pedagang asongan yang sibuk menawarkan dagangannya.


Melihat pemandangan itu Salwa kemudian tersenyum, ternyata masih banyak orang-orang di luar sana yang kesulitan bukan hanya dirinya saja. Meskipun hidup sebatang kara tapi dirinya sudah serba berkecukupan.


Dalam hatinya Salwa selalu bersyukur dengan apa yang ada di hidupnya.


Jendela mobil masih terbuka lebar, namun tiba-tiba mata Salwa tak sengaja menangkap seorang gadis, lagi-lagi Salwa seperti mengenal gadis itu.


Dahinya mengernyit dan kedua matanya juga ikut menyipit "Kok kayak kenal ya?" Gumamnya lirih.


Bapak supir kemudian melirik Salwa melalui kaca kecil yang ada di depan.


"Kenal siapa mbak?" Sahut pak supir. Membuat Salwa kemudian menggeleng


"Enggak pak, mungkin saya salah orang" Jawab Salwa sekenanya.


Bapak supir mengangguk saja. Mobil lalu berbelok lagi melaju dengan santai lalu berbelok ke arah kiri menuju ke pelataran rumah minimalis dengan banyak hiasan bunga tulip yang berada di depan rumah itu.


"Benar ini ya mbak rumahnya" Tanya bapak supir.


Salwa mengangguk "Iya pak benar" Jawabnya singkat.

__ADS_1


Dia kemudian segera turun, sopir itu membuka kaca mobil dan mengangguk ramah kepada Salwa. Tak lupa Salwa mengucapkan terimakasih dan membalas anggukan Bapak sopir tak kalah ramah.


Salwa kemudian berjalan menuju rumahnya sambil menggenggam ponsel ditanganya.


Juga totebag yang masih setia menggantung di pundak kirinya, juga ada beberapa buku tebal yang seperti biasa masih ada di genggaman tangan Salwa.


Setelah sampai di depan pintu, kemudian dia taruh buku tebal dan ponsel di kursi panjang dan merogoh totebagnya untuk mencari kunci rumah.


Ketika masih sibuk dengan kunci rumah, mata Salwa tak sengaja melihat paperbag kecil berwarna ungu yang tergeletak di samping kursi.


Salwa kemudian berhenti mencari kunci rumah, kakinya melangkah mendekati paperbag itu sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


Tidak ada siapapun di sekitar rumahnya.


"Ini punya siapa?" Gumam Salwa seraya berjongkok mengambil paperbag itu.


Seperti memang sudah ditinggalkan disitu. Salwa tidak berpikir panjang, dia kemudian membuka paperbag itu dan melihat isinya.


Ada beberapa replika bunga tulip dan juga kotak persegi berwarna coklat yang entah apa itu isinya Salwa juga tidak tau.


Namun belum sempat Salwa mengambil kotak itu ada lagi secarik kertas putih di dalamnya bertuliskan permintaan maaf untuknya.


Hal itu membuat Salwa semakin yakin kalau memang paperbag itu di tujukan untuk dirinya.


Tapi siapa yang mengirim ini. Sama sekali tidak ada tulisan pengirim di dalam paperbag ini, juga tidak ada tanda tanda kehadiran seseorang di sekitar rumahnya.


"Sepertinya memang tadi ada yang kesini" Gumam Salwa meraih paperbag itu.


Dia kemudian kembali mencari kunci rumah di dalam totebag nya setelah ketemu.


Salwa masuk ke dalam rumah, tak lupa dia juga membawa buku-buku tebal dan ponselnya masuk, sambil menenteng paperbag misterius tadi.


**


Di tempat lain terlihat seorang gadis sedang duduk di depan toserba di seberang jalan raya.


Dia asyik dengan ponselnya, sorot matanya begitu tajam. Rambut lurusnya hanya terkuncir asal, tubuhnya yang ramping begitu indah dibalut dengan jaket kulit berwarna hitam senada dengan celana ketat yang dia kenakan, aura gadis itu begitu sangar.


Dia hanya terlihat sendirian, dilihat dari matanya yang sesekali melihat ke arah jalanan sepertinya dia sedang menunggu seseorang, sesekali kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri lalu kembali fokus dengan ponsel di tangannya.

__ADS_1


Masih di depan toserba, gadis itu kemudian masuk ke dalamnya lalu keluar bersama minuman kaleng yang ada di tangan kirinya.


Dia kembali duduk dan menenggak minuman itu "Sial" Ucap gadis itu penuh penekanan


Matanya melotot melihat ponsel yang dia genggam, gadis itu kemudian menaruh ponsel itu asal dan kembali menenggak minuman itu dengan asal asalan.


Pandangan gadis itu menerawang jauh seperti sedang merencanakan sesuatu, nafasnya memburu dan tangannya terkepal seperti menaruh dendam yang begitu besar.


Hingga tak berselang lama datang seorang laki-laki dengan pakaian casual yang dibalut dengan jaket levis kumal juga beberapa rantai yang melingkar di leher dan tangannya.


Laki-laki itu kemudian duduk di depan gadis tadi. Mereka berbincang cukup lama, setelah itu pergi meninggalkan toserba itu dengan berjalan kaki menuju pangkalan ojek yang ada di seberang jalan.


Mereka lalu melesat pergi dengan mengendarai mobil yang terparkir di samping pangkalan ojek itu.


**


Ketika sudah sampai di rumah. Salwa kemudian tertidur dan baru terbangun setelah hari menjelang malam.


Ketika dia terbangun rupanya matahari sudah terbenam, Salwa membuka matanya malas dan beringsut duduk.


Jam menunjukkan pukul 20.30, Dia kemudian mengecek ponselnya, hanya ada beberapa notifikasi pesan disana, salah satunya dari Abhian.


Dia hanya membalas pesan dari Abhian selebihnya hanya dilihat saja oleh Salwa.


Setelah itu Salwa beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan diri, ketika keluar dari kamar mandi dia tak sengaja melihat paperbag misterius yang tergeletak di nakas yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.


Salwa lalu mengambilnya, membolak-balik paperbag kecil itu kemudian mengeluarkan isinya.


Kotak kecil berwarna coklat dan secarik kertas bertuliskan permintaan maaf membuat otak kecil Salwa bertanya-tanya.


Sebenarnya siapa yang sengaja mengirim benda ini di depan rumahnya dan lagi permintaan maaf seperti apa yang tertulis disini.


Salwa semakin pusing, pikiranya berputar. Mungkinkah kejadian waktu SMA akan terulang kembali.


Entahlah.


Dia buka kotak kecil itu, ketika melihat isinya. Ternyata dugaan Salwa memang benar di dalam kotak itu terdapat name tag dirinya dan badge SMA GARUDA.


Seketika Salwa membeku, mungkinkah orang yang mengirim ini benar-benar seseorang yang ada di masa lalunya, lantas untuk apa tulisan permintaan maaf yang dimaksud.

__ADS_1


Buru-buru Salwa menutup kotak itu dan memasukan kembali ke dalam paperbag, dia segera mengambil ponselnya bergegas menghubungi Abhian.


__ADS_2