
Bianca kemudian mengedikkan bahunya acuh, diiringi dengan senyum miring yang selalu menghiasi wajah cantiknya itu.
"Gampang" Ujarnya sambil membuang putung rokok ke jalanan
**
Sesampainya di base camp Bianca kemudian membawa tawanan itu ke ruangan yang sangat luas. Sudah ada beberapa tawanan lainnya, sepertinya mereka berasal dari berbagai geng yang sempat melawan geng Bianca namun kalah dengan sendirinya..
Tawanan itu jatuh tersungkur. Kakinya masih terbalut oleh tali yang melingkar juga kedua tangannya masih terikat dengan rapi..
Tawanan itu kemudian melihat Bianca dengan tatapan penuh dendam. Bianca balik menatapnya dan memperlihatkan senyum smirk nya
"Kenapa!! Gak terima" Ujar Bianca penuh sangsi.
Semua hanya diam tanpa berani menjawab pertanyaan Bianca, kemudian salah satu dari tawanan itu berdiri.
Bianca mengikuti pergerakan tawanan itu, sambil memasang wajah sinis seperti biasa.
Tawanan itu hanya diam, kemudian dia duduk kembali. Entah apa yang membuat dia berani melakukan hal tersebut, namun perlakuan itu sukses membuat Bianca murka.
Dia kemudian mendesis, wajahnya di penuhi amarah yang meluap-luap.
Bianca tidak pernah di permainkan seperti tadi. Alhasil dia kembali dengan balok kayu di tangannya, menepuk nepuk balok kayu itu pada telapak tangannya.
Itu selalu membuat semua yang ada di dalam ruangan ini dilanda ketakutan dan kecemasan. Bianca memang tidak henti-hentinya kalau masalah menakut-nakuti para tawanan, dia bahkan tidak selalu membuat para tawanan itu menyerah akan perlakuan dengan balok kayu itu.
Sudah setengah jam Bianca melakukan aksinya. Sekarang giliran tawanan baru yang menjadi mangsanya, dia seret tawanan itu dengan kasar kemudian menamparnya dengan amat keras.
Tawanan itu meringis merasakan tamparan dadi tangan Bianca. Dia kemudian mendesis karena merasakan panas di kedua pipinya.
Bianca tertawa. Dia menyukai hal-hal seperti itu, sangat menyenangkan menurutnya melihat mainan barunya tersiksa.
"Gimana?" Tanya Bianca melayangkan satu tamparan lagi.
Tawanan itu hanya menggeleng, dia memasang raut wajah kesakitan. Seperti tidak ingin lagi bertemu dengan Bianca, wajahnya menandakan amarah yang tertahan.
Bianca lagi-lagi tertawa. Dia kemudian menyuruh tawanan itu untuk kembali dengan mendorongnya kasar
Setelah itu Bianca kemudian keluar gedung. Masih dengan balok kayu di tangan kanannya dan sebuah ponsel di tangan kirinya..
Ponsel itu kemudian berdering, satu panggilan masuk. Bianca kemudian buru-buru mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo" Sapa Bianca dengan raut wajah penuh ketegangan.
__ADS_1
Dia terlihat menganggukkan kepalanya berulang kali. Sebentar kemudian menutup panggilan telepon itu dan mengantongi ponsel itu ke dalam kantong jaketnya.
Langkah Bianca semakin cepat setelah mendapatkan panggilan telepon tadi. Dia kemudian pergi ke arah dimana mobilnya terparkir.
"Sial" Desisnya sembari membuka pintu mobil
Dia sukses masuk ke dalam mobil dan mobil melesat meninggalkan pekarangan basecamp.
**
Terlihat di jalan raya mobil Bianca berjalan dengan sangat kebut-kebutan, Bahkan ketika ada lampu lalu lintas yang mengisyaratkan untuk berhenti mobil Bianca tetap melaju kencang tanpa menghiraukan aturan itu.
Setelah berjalan kebut-kebutan, mobil itu berhenti di depan sebuah cafe yang ada di pinggiran kota.
Bianca kemudian keluar dengan tergesa. Dia kemudian masuk ke dalam cafe itu dan duduk di tempat duduk dekat jendela, masih sendiri.
Bianca seperti menunggu kedatangan seseorang, entah siapa itu.
Beberapa menit berlalu, datang seseorang dengan pakaian casual dan potongan rambut undercut. Lelaki itu kemudian duduk di depan Bianca sambil meletakkan ponsel di depannya.
Mereka terlihat berbincang-bincang dengan serius, entah apa yang sedang dibicarakan oleh mereka. Tapi belum sempat memesan makanan mereka terlihat terburu-buru keluar dari cafe itu, menuju mobil Bianca yang terparkir di depan cafe.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan mobil melesat pergi meninggalkan pekarangan cafe.
Mobil itu ternyata terparkir di depan basecamp Bianca. Mereka keluar mobil beriringan, Bianca berjalan lebih dulu sedangan lelaki itu mengikuti langkah kaki Bianca masuk ke dalam gedung megah itu.
Satu tawanan di keluarkan, ternyata lelaki itu adalah salah seseorang partner kerja Bianca yang ingin membeli tawanan Bianca.
"Oke deal?" Kata Bianca membuat perjanjian
Lelaki itu terlihat menganggukkan kepalanya mantap.
"Deal!" Gumamnya diiringi tangan yang menelusup ke saku jaket sebelah kirinya.
Bianca memamerkan senyum miringnya. "Jangan lupa" Katanya sedikit berbisik.
Lelaki itu mengangguk saja dan mengeluarkan dompetnya. Dia berikan beberapa lembar uang kepada Bianca.
Bianca menerima uang itu dengan raut wajah senang. Dia kemudian mengedikkan sebelah matanya dengan centil ke arah lelaki itu
Lelaki itu kemudian tersenyum. Tawanan itu kemudian di paksa untuk mengikuti lelaki tadi, dia sempat menolak tapi Bianca memelototi nya dengan tatapan gusar, akhirnya tawanan itu menurut dengan Bianca.
"Sekarang anda milik saya" Ucap lelaki itu dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
Sedangkan tawanan itu hanya tersenyum getir menanggapi ocehan itu.
**
Sinar matahari masuk ke dalam celah celah jendela kamar Salwa, Sebentar kemudian Salwa keluar dari balik pintu dengan tampilan yang acak-acakan.
Dia terlihat mengucek kedua matanya dengan malas, dengan sempoyongan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
Setelah itu masuk ke dalam kamar mandi dan keluar kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar.
Matanya melirik jam dinding.
Pukul 6 pagi.
"Masih pagi banget" Gumamnya lirih.
Salwa kemudian duduk di ruang tamu dengan tatapan datar, dia bingung ingin melakukan apa.
Tetapi sebentar kemudian dia mengambil laptopnya dan membuka laptop itu. Membuka bukunya dan memasang kacamata, dia kemudian tersenyum senang.
"Tugas emang balikin mood banget" Gumam Salwa dengan wajah yang berbinar.
Pagi ini adalah weekend, rencananya dia akan pergi ke perpustakaan seperti biasa. Karena ada buku yang sedang dia cari.
Salwa ingin ke perpustakaan dengan Abhian tentunya. Namun sepertinya Abhian tidak amat tertarik dengan perpustakaan, mau tidak mau Salwa harus berangkat sendiri seperti biasa
Sembari mengerjakan tugasnya, dia kemudian menutup laptopnya. Seperti ada yang sedang dipikirkan oleh Salwa.
"Nanti ke perpustakaan jam berapa ya enaknya" Gumam Salwa bertanya-tanya dengan dirinya sendiri
Dia kemudian mengedikkan bahunya, kembali fokus dengan laptopnya.
Sudah hampir 2 jam Salwa berkutat dengan tugas-tugas nya. Dia kemudian meregangkan kedua tangannya dengan malas, masih ingin melanjutkan namun hari semakin panas.
Salwa kemudian berdiri dadi tempat duduknya. Dia masuk ke dalam kamarnya, mengais totebag dan beberapa buku di laci kamarnya.
Keluar kamar, Salwa kemudian melihat dirinya sendiri di cermin.
"Perfect" Gumamnya pada diri sendiri
Tak berlalu lama dia kemudian keluar rumah. Sepertinya cuaca sangat mendukung, tidak terlalu panas seperti cuaca Jakarta sebelumnya.
"Asyik nih" Gerutu Salwa sambil mengayunkan kakinya menuju trotoar jalan raya
__ADS_1