
**
Salwa mulai berkutat dengan bahan-bahan yang sudah dia siapkan.
Di kulkas hanya ada beberapa butir telur dan beberapa ikat sayur mayur yang masih terlihat segar.
Entah bahan bahan itu sudah berapa lama berada di dalam kulkas ini yang jelas semua bahan sudah ada di depan mata Salwa dan dia siap untuk meng eksekusinya.
Ada daging dan juga beberapa potong sosis. Rencananya dia akan memasak omelette saja, ada daun bawang juga dan beberapa buah paprika. Sangat pas jika omelette adalah menu utamanya saat ini.
"Bhi" Panggil Salwa dengan sedikit berteriak
Abhian menoleh ke sumber suara.
"Kenapa Sal?" Jawab Bhian
"Aku masak omelette aja ya" Kata Salwa sambil mengangkat beberapa butur telur di genggaman tanganya.
Abhian lalu mengangguk saja setelah itu kembali asyik dengan layar ponsel.
Tanpa berpikir panjang Salwa lalu segera berkutat dengan bahan bahan yang sudah dia siapkan tadi.
Pertama-tama Salwa mengupas bawang merah dan bawang putih kemudian dia mencincang daging, tak lupa Salwa juga menyiapkan mangkuk berukuran sedang untuk dia gunakan mencampur semua bahan.
Setelah semua bahan siap, Salwa lalu memasukan bawang putih yang sudah dia cincang dan juga bawang merah beserta daging. Tak lupa paprika yang sudah di cincang halus juga dia masukkan bersamaan dengan semua bahan.
Kemudian Salwa mencampurnya, tak lupa juga dia tambahkan satu sendok teh garam dan lada bubuk serta msg secukupnya.
Setelah tercampur dia kemudian menambahkan beberapa butir telur dan kembali mencampurnya hingga rata.
Kompor sudah siap dan alat penggorengan juga sudah panas.
Salwa segera berkutat dengan kompor dan adonan omelette yang sudah dia siapkan. Meskipun baru pertama kalinya dia memasak omelette namun Salwa tidak pernah pesimis, dia yakin omelette buatannya nanti pasti sesuai yang dia harapkan.
Beberapa menit kemudian beberapa potong omelette sudah matang. Semua pelengkap makanan juga sudah terhidang di meja makan, ada nasi beserta orang jus dan satu mangkuk bubur yang sudah Salwa panaskan di microwave.
Setelah semua siap, kemudian Salwa memanggil Abhian yang masih terlihat masih asyik dengan ponselnya.
"Ayo waktunya makan bhi" Ucap Salwa kepada Abhian.
Mendengar panggilan itu Abhian kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja makan.
__ADS_1
"Kita ini udah kaya suami istri, iya kan Sal?" Ucap Bhian terkekeh geli.
Salwa juga ikut tertawa
"Amin" Sahutnya sambil ikut duduk di samping Bhian.
Bhian lalu terkekeh "Tolong ambilkan nasinya calon istriku" Kata Bhian menodongkan piring kosong ke arah Salwa.
Salwa tambah terkekeh mendengar permintaan dan godaan Bhian.
"Dasar Bhian" Ucap Salwa sambil tersenyum geli
**
Makan siang sudah selesai, Bhian terlihat sedang fokus di depan laptop begitu juga dengan Salwa.
Mereka berdua fokus dengan tugas masing-masing, apalagi Bhian, tugasnya menumpuk karena absen beberapa hari ini.
Sampai sore hari pun mereka masih berkutat dengan laptop nya masing-masing, dan ketika adzan ashar terdengar barulah Salwa melepas kacamata bulat dan menutup laptopnya dan memasukan benda persegi itu ke dalam tasnya
"Udah sore, aku mau pulang dulu bhi" Ucap Salwa kepada Bhian yang masih fokus dengan tugasnya.
Abhian kemudian mendongak "Aku anter ya Sal?" Tawarnya yang langsung di sambut gelengan samar oleh Salwa.
Abhian hanya mengangguk saja. Dia lalu berdiri dari duduknya, meletakkan laptop di meja dan melepas kacamatanya, menaruhnya asal dan berjalan mendahului Salwa.
"Aku anter kamu sampai lobby bawah" Ucap Bhian "Stop gak ada penolakan" Lanjut bhian ketika Salwa ingin menolak
Akhirnya Salwa hanya menurut saja. Bhian kemudian keluar dari apartemen diikuti Salwa yang berjalan di belakangnya. Mereka sudah seperti pasangan suami istri.
Sepanjang perjalanan ke lift Salwa dan Bhian masih bisa melihat beberapa penghuni lain.
Ada yang terlihat habis pulang dari kerja dan ada juga yang baru berangkat kerja. Beberapa penghuni itu juga menyapa Bhian, sedangkan Salwa hanya diam dan sesekali hanya tersenyum sedikit.
Setelah sampai di lobby bawah, Bhian kemudian memesankan taksi online untuk Salwa. Mereka laku menunggu taksi datang dengan duduk di kursi panjang di samping pintu keluar.
"Kamu nanti jangan lupa makan ya bhi, nasi sama lauknya di angetin aja pake microwave. Terus jangan lupa minum air putih yang banyak, oh iya obatnya juga jangan lupa di minum" Ucap Salwa panjang lebar
Bhian hanya mengangguk anggukan kepalanya, belum sempat dia menjawab ucapan yang baru saja terdengar, lagi lagi Salwa mengomel
"Kamu habis ini gausah mainan hp lagi, kerjain tugasnya udahan ya. Oh iya kalau mandi pake air hangat terus jangan lupa juga nanti kalau tidur pake selimut yang tebal. Udah aku siapin tadi di kamar kamu, inget kamu gausah bega...."
__ADS_1
Celotehan Salwa akhirnya berhenti ketika taksi yang di pesan Bhian sudah sampai di depan mereka. Sopir taksi lalu melongok keluar kemudian tersenyum
"Dengan Mas Abhian?" Tanya supir taksi
Bhian mengangguk dan Salwa berhenti mengomel ikut melihat ke arah supir taksi itu.
"Pak anterin pacar saya sampai di depan rumah nya ya pak, jangan ada lecet pokoknya" Ucap Bhian sambil menutup pintu mobil
Supir taksi itu terkekeh saja membuat Salwa jadi tersipu malu, wajahnya memerah seperti saus tomat, sedangkan Bhian hanya bisa tertawa melihat ekspresi Salwa, candaan sepele seperti itu selalu saja sukses membuat Salwa tersipu.
"Yaudah mas bapak anterin pacar mas dulu" Pamit pak supir
Bhian lalu mengangkat tangan dan mobil melesat jauh meninggalkan pelataran apartemen elite ini.
Di dalam mobil Salwa hanya memandang ke luar jendela, Bapak supir juga sedang fokus menyetir.
Hanya ada keheningan di dalam taksi itu. Salwa melihat arloji di pergelangan tanganya, sepertinya masih lama perjalanan yang di tempuh, sepertinya belum ada setengah perjalanan.
"Kuliah dimana mbak?" Tanya pak supir memecah keheningan di dalam mobil itu
"Itu di UI pak" Jawab Salwa dengan sopan
Supir itu manggut-manggut saja menanggapinya
"Biasanya biaya per semester berapa tuh mbak, UI kan kampus ternama ya di Jakarta sini" Tanya pak supir lagi
"Di UI saya masuk kategori mahasiswa berprestasi pak jadi untuk masalah biaya saya kurang tau soalnya untuk saat ini saya masih bebas biaya kuliah, jadi belum paham betul tentang biaya per semester untuk mahasiswa biasa" Jawab Salwa dengan penjelasan yang panjang lebar
Supir itu hanya manggut-manggut saja. Setelah percakapan itu suasana kembali hening, dan Salwa kembali membuka jendela mobil.
Memperhatikan ramainya pejalan kaki dan melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.
Ketika matanya sibuk memperhatikan jalan raya dari kejauhan Salwa tidak sengaja melihat Lisa yang duduk di depan toko kelontong yang berada tak jauh dari jalan raya ini
Sebenarnya ingin sekali Salwa berteriak memanggilnya, tapi itu tidak mungkin, jadi dia urungkan saja niatnya.
Mungkin nanti dia akan menghubungi Lisa lewat telpon saja setelah sampai di rumah.
Perjalanan masih jauh, sepertinya bapak supir juga terlihat tidak akan memulai percakapan lagi jadi Salwa memutuskan untuk menutup jendela dan menyenderkan tubuhnya.
"Nanti kalau sudah sampai bangunkan saja pak" Kata Salwa memberi instruksi kepada supir di depannya.
__ADS_1
Bapak supir itu mengangguk.
"Siap mbak" Jawabnya