Fake Friend In Silence

Fake Friend In Silence
SEBUAH PILIHAN


__ADS_3

Salwa memang belum pernah membelah jalanan jakarta dengan menaiki motor seperti sekarang ini, ia mengakui rasanya dibonceng seperti ini memang menyenangkan


Bisa dikatakan ini pertama kalinya Salwa menyusuri jalanan kota jakarta menggunakan kendaraan roda dua ini, itu karena saat orang tuanya masih hidup, Salwa selalu berangkat sekolah menggunakan mobil sedan milik ayahnya, selalu di antar jemput dengan Ayahnya. Jadi ia tak pernah naik bus kota apalagi sebuah motor.


Tapi setelah kedua orang tuanya meinggal Salwa sangat berhemat, ia enggan menggunakan angkutan umum ataupun bus kota, apalagi harus memesan ojek online yang harganya jauh lebih mahal hanya untuk berangkat ke sekolahnya, baginya sekarang, berjalan dengan kakinya lebih menguntungkan dirinya dan kesehatan kantongnya.


Di sepanjang perjalanan, ia tak henti henti nya mengulas senyum, jadi begini rasanya membelah jalanan menaiki motor, pantas saja Vina selalu bercerita dengan wajah berseri hanya karena bisa dibonceng Verel menggunakan motornya


Salwa baru paham sekarang!


Ternyata bukan karena gratis tapi memang rasanya se menyenangkan ini.


**


10 menit berlalu, mereka sudah sampai di depan coffe shop tempat Salwa bekerja.


Motor berhenti tepat di sebelah basement, Abhian melepas helm nya. Salwa lalu turun!


"Makasih ya" Ucapnya canggung


"Buat?" Sahutnya, menatap Salwa yang terlihat bingung dengan pertanyaa nya


Sebenarnya Abhian sudah mengerti maksud Ucaoan makasih Salwa, tapi ia sengaja bertanya, senang saja jika melihat wajah gugup itu semakin gugup di buatnya. (Jahat banget ya Abhian guys wkwk)


"Iya iya, sama sama" Finalnya, lalu ikut turun.


Kasihan juga rasanya melihat wajah itu berubah pucat hanya karena keisengannya.


Mereka lalu berjalan beriringan dengan keheningan satu sama lain, menuju samping basement.


"Btw, lo langsung kerja apa gimana?" Tanya Abhian menoleh ke arah Salwa.


"Iya, aku langsung kerja" jawabnya dengan tatapan lurus

__ADS_1


Abhian manggut manggut


"Oh iya" Katanya kembali menatap Salwa "Ya?" sahut Salwa ragu


"Lo panggil gue Abhian aja, gausah sungkan" Jawabnya tenang. "Dan kalau lo butuh bantuan apapun lo bisa cari gue langsung, gue siap bantu lo kapan pun" Jelasnya terlihat serius


Salwa menggangguk samar, ia menatap Abhian. Abhian berhenti, Salwa juga ikut berhenti


"Yaudah, aku masuk ke loker dulu. Ng.. Bhi" Pamitnya menggumamkan kata 'bhi' dengan ragu di akhir kalimat nya


"Hah apa?" Abhian menatapnya, berpura pura tidak mendengar ucapan Salwa. Lalu tertawa pelan


"Haha iya deh, aku denger kok, yaudah gih masuk, hati hati" Lanjutnya, tersenyum hangat. lalu mengusap puncak kepala Salwa.


Abhian melepaskan tanganya, Salwa segera berbalik badan, setengah berlari menuju basement dengan berdebar.


Ia sudah tidak sanggup lagi berlama lama di dekat abhian. Jantungnya kembali berulah!


Dengan degupan jantung yang sudah kembali normal, Salwa masuk ke ruang ganti, ia sandarkan tubuhnya di balik pintu berpikir sejenak.


Salwa senyum senyum sendiri, beralih menuju wastafel di samping toilet, memandangi bayangan dirinya dibalik cermin yang menggantung di atas tempat itu


Ia kembali mengulum senyum, memikirkan sifat Abhian!


Bagaimana bisa ia berteman dengan Abhian hanya karena insiden 'penemuan dompet' sebulan yang lalu.


Dunia ini memang aneh!


🌈🌈


Waktu menunjukkan pukul 22.00, Salwa sudah berganti pakaian dan menuju pintu keluar, belum sampai ia menyentuh gagang pintu, Ia menarik tanganya saat mendengar ad yang memanggilnya dari tangga


"Sal?" sapanya terlihat akrab! "mau balik?" Lanjutnya seraya membuka pintu loker

__ADS_1


"Eh, iya nih mbak" jawabnya berbalik menatap mbak Ike, salah satu staf di bagian office.


Pekerjaan mbak Ike ini hampir sama dengan mbak Erin. Bedanya mbak Ike hanya fokus di office dan kerjanya cukup di depan laptop khusus melayani orderan online yang masuk.


"Kamu pulang naik apa, mau bareng?" Tawarnya menuju pintu toilet


"E eh ng.. gausah mbak" Jawabnya terlihat sungkan


Mbak Ike tidak jadi membuka pintu toilet, ia menatap Salwa dengan mata melebar seolah bertanya 'kenapa gausah?'


"Beneran mbak gausah, lagian rumah aku deket kok dari sini" Jawabnya meyakinkan, terlihat serius.


"Ooo" Jawabnya manggut manggut.


"Yaudah kalau gitu, pokoknya hati hati. Usahain jangan jalan kaki ini udah malem, pesan ojek atau nggak suruh jemput pacar kamu" Finalnya dengan dengan nada candaan di akhir saranya itu, sedikit menggodanya.


Salwa hanya tersenyum canggung! Menunggu mbak Ike lenyap dari pandanganya lalu beranjak menuju ke arah pintu, ia tak sabar ingin segera pulang dan berkutat dengan soal soal fisika nya malam ini


"Ada ada aja deh mbak Ike" gumamnya memasang ekspresi geli, lalu segera meraih gagang pintu, membukanya dan melangkah keluar ruangan


Salwa sudah berada di depan coffe shop, ia menilik arloji nya, sedikit menyipitkan mata melihat jarum tipis di dalamnya. Kira kira menunjuk angka berapa


"Ini beneran baru jam sepuluh kan?" Tanyanya, menengok kanan kiri "Kenapa sepi gini, tumben Jakarta sepi!" komentarnya pada diri sendiri


Ia lalu berhenti sebentar menatap jalan raya, hanya ada satu atau dua saja kendaraan yang lewat.


Sedikit ragu ia berbalik arah, pelan tapi pasti. Mengayunkan kaki pendeknya menapaki jalan bukan ke arah trotoar di jalan raya melainkan ke arah jalan yang lain!


...Btw.. Salwa mau kemana tuh? Hati hati Sal entar di culik om om loh😆...


^^^Yok pencet like yokk!👇 koment juga silahkan. Semua koment yang baik baik dari kalian bisa jadi motivasi aku buat terus up Salwabhian☀️ Jadi tunggu apa lagi. Buruan! like like like😂^^^


Kamis, 21 Januari 2021

__ADS_1


*Rumahku Surgaku***📍😂**


__ADS_2