
"Gercep amat pacar gue" Gumam Bhian sambil menggelengkan kepalanya.
**
Di sela sela Salwa yang sedang memesan bakso dengan abang penjual bakso.
Bhian ikut menyusul, dia kemudian berjalan ke arah tenda warung bakso itu. Tak lama kemudian Salwa menoleh ke arahnya sambil tersenyum
"Jumbo atau biasa Bhi?" Tanya Salwa mendadak.
Abhian hanya memasang raut wajah bingung, Salwa terkekeh kecil. Menyadari raut kebingungan Abhian dengan pertanyaan yang tiba-tiba dia lontarkan kepada pacarnya itu.
"Itu bhii... Baksonya.. Yang porsi jumbo atau biasa?" Tanya Salwa lagi kembali mengulangi pertanyaannya
Abhian kemudian manggut-manggut baru menyadari pertanyaan yang Salwa maksudkan tadi.
"Biasa aja Sal" Jawabnya singkat diikuti dengan anggukan Salwa.
Bhian laku berjalan dan duduk di kursi panjang paling pojok. Suasana disitu begitu lenggang, tidak terlalu ramai juga tidak terlalu sepi.
Banyak dari beberapa pelanggan yang sedang menikmati baksonya dengan santai. Abhian kemudian duduk, dia menyampirkan jaketnya ke kursi panjang itu.
Abhian kemudian menyenderkan bahunya lalu menghembuskan nafasnya kasar. Hari ini Jakarta benar-benar panas, Bhian kemudian menoleh ke arah Salwa.
Pacarnya itu masih terlihat berbincang-bincang kepada abang tukang bakso. Entah apa yang sedang dia bicarakan, sepertinya arah pembicaraan mereka terlihat begitu asyik.
Sebentar kemudian Salwa lalu menyudahi obrolannya dan berjalan ke arah diaman Bhian duduk.
Setelah sampai Salwa ikut duduk, dia meletakkan tasnya diatas meja dan ikut menyenderkan bahunya sambil mengibaskan tangannya.
Salwa merasa begitu kegerahan, tidak berselang lama abang tukang bakso datang. Dia sempat melirik ke arah pelanggan lain, seperti memastikan meja mana yang sudah kosong tanpa pelanggan.
Abang tukang bakso itu kemudian meletakkan minuman dingin yang sudah di pesan.
"Permisi neng" Kata penjual bakso, Salwa tersenyum.
Abhian ikut tersenyum sungkan. Penjual bakso itu kemudian melirik Bhian bergantian melirik Salwa.
Kemudian bersedekap sambil menyimpan nampannya di depan dada. Sepertinya dia ingin bertanya kepada pasangan yang terlihat manis ini.
"Mas, ini pacarnya?" Tanya penjual bakso itu dengan hati-hati kepada Bhian.
__ADS_1
Abhian mengerjap. Salwa kemudian menoleh dan tersenyum kepada Bhian, raut wajahnya seperti mengisyaratkan untuk segera menjawab pertanyaan dari penjual bakso itu.
Abhian kemudian mengangguk mantap, sedangkan penjual bakso itu manggut-manggut.
"Pasangan yang serasi" Gumam penjual bakso itu memancarkan senyum kepada mereka berdua. Salwa kemudian tersenyum lebar diikuti dengan Bhian yang terkekeh
"Makasih bang" Kata Bhian menanggapi
Penjual bakso itu lalu mengangguk mantap dan pamit kembali ke gerobaknya lagi.
Dua mangkok bakso dan dua gelas es jeruk sudah terhidang di depan mereka berdua. Salwa kemudian segera menenggak minumanya, dia sangat kehausan dengan cuaca Jakarta yang begitu panas seperti sekarang ini.
Tanpa berpikir panjang mereka kemudian langsung menyantap bakso itu.
Setelah semua habis dilahap tanpa sisa, mereka lalu segera beranjak untuk membayar.
Salwa ikut menyusul Bhian yang berjalan lebih dulu. Tanpa basa-basi Bhian laku menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan kepada abang penjual bakso
Dengan raut wajah memerah karena menahan pedas apalagi dengan cuaca Jakarta yang sangat panas membuat keringat Abhian semakin mengucur deras.
Abang penjual bakso itu mengambilkan uang kembalian, setelah memberikan kepada Bhian penjual bakso itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Salwa.
Setelah itu mereka bergegas pergi menuju rumah Salwa.
**
Bianca berlari secepat yang ia bisa, bahkan dia sudah tidak memperdulikan keadaan sekitar. Matanya sudah berfokus pada seseorang yang dia kejar di depannya.
Orang itu sudah jauh berlari di depannya. Namun Bianca tidak kehabisan akal, dia lalu berlari menyelinap masuk ke dalam gang kecil dan membuat seseorang itu sendiri kelabakan oleh ulahnua sendiri.
Akhirnya Bianca sudah sampai di ujunh gang yang sangat sepi, dia berhenti sejenak sambil mengatur nafas yang sedikit ngos ngos an.
Bibirnya tersenyum miring, membayangkan betapa menyenangkannya target yang sudah ada di depan mata nantinya.
Benar saja, tak berselang lama. Seseorang datang dengan raut wajah ketakutan ketika melihat Bianca sudah duduk di krat kayu yang ada di pojok gang.
Seseorang itu memasang raut wajah amat sangat kaget dengan adanya sosok Bianca di hadapannya.
"Mau kemana lagi lo?" Kata Bianca sedikit berteriak
Seseorang itu mundur beberapa langkah. Ingin berbalik pun rasanya tidak bisa karena gang buntu sempit ini sudah di kepung oleh beberapa anak buah Bianca yang sedari tadi sudah menyiapkan rencana untuk mengepung tempat sempit ini.
__ADS_1
Orang itu ketakutan, tapi masih bisa menyembunyikan wajah ketakutan itu. Dia kemudian memutar arah dan ingin melompati tembok yang menjulang tinggi itu, namun gagal.
Bianca hanya tersenyum meremehkan, dia bahkan hanya melihat aksi orang itu tanpa mencegah orang itu sedikitpun.
"Sudahlah.. Menyerah saja" Pekik Bianca lagi
Orang itu diam sambil mengatur nafasnya, berulang kali dia tetap bersikeras untuk melompati tembok tinggi ini.
Namun hasilnya tetap nihil. Meskipun gagal berulang kali, namun dia tetap mencobanya hingga pada akhirnya dia menyerah dan bertekuk lutut di hadapan Bianca.
Bianca memasang senyum kemenangan, seluruh anak buahnya berkumpul dan bersorak seakan merayakan kemenangan mereka.
Bahkan salah satu dari anak buah Bianca sempat meneriakkan ungkapan kemenangan atas kekalahan musuhnya itu.
Akhirnya orang itu di bawa oleh salah satu anak buah Bianca. Mereka memasuki mobil vans yang sudah terparkir di depan gang sempit tadi.
"Jalan!!" Perintah salah satu anak buah Bianca kepada tawanan yang baru saja tertangkap.
Orang itu kemudian berjalan sempoyongan, sambil sesekali menundukkan kepalanya.
Beberapa gerombolan Bianca akhirnya masuk ke dalam mobil vans itu. Diikuti oleh Bianca yang sedari tadi masih menghembuskan asap rokoknya.
"Kita kemana boss habis ini" Tanya salah satu anak buah dari kursi belakang.
"Bascamp" Sahut Bianca singkat
Perjalanan di penuhi dengan keheningan dengan suasana yang sangat menyeramkan. Mereka semua bahkan tidak ada yang terlihat ingin mengobrol satu sama lain.
Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing, ada yang bermain ponsel. Ada yang menyalakan rokok dan ada yang minum minuman beralkohol.
Semua itu sudah menjadi rutinitas harian para geng Bianca.
Perjalanan masih panjang, namun sepertinya tawanan yang sudah berhasil di tangkap oleh Bianca sudah tidak sadarkan diri.
Dia bahkan terlelap karena obat bius sudah masuk ke dalam tubuhnya.
"Bos selanjutnya kita apakan dia" Tanya gondrong kepada Bianca
Bianca kemudian mengedikkan bahunya acuh, diiringi dengan senyum miring yang selalu menghiasi wajah cantiknya itu.
"Gampang" Ujarnya sambil membuang putung rokok ke jalanan
__ADS_1