First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 10-Endri yang Tak Cemburu?


__ADS_3

Pada akhirnya penawaran dari Dany tetap Niana lakukan. Ia pun sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi respons yang akan Endri tunjukkan ketika Endri melihatnya bersama dengan Dany. Ia berharap suaminya menilai hubungannya dengan Dany sudah jauh lebih akrab melebihi sepasang sahabat. Niana tahu jika dibandingkan dengan dirinya mungkin Lesy sudah lebih berharga bagi Endri, dan hal tersebut tentu saja akan membuat misi untuk membuat Endri cemburu menjadi gagal total. Namun yang namanya sudah penasaran, Niana tidak bisa mengabaikan cara terakhir untuk membuat hatinya sedikit lebih lega.


"Kamu takut ya?" tanya Dany dan terus membersamai setiap langkah Niana. "Kamu bisa membalikkan fakta jika dia marah pada kebersamaan kita."


Niana mengangguk pelan lalu menghela napas dalam-dalam. Tanpa menatap Dany, ia berkata, "Aku juga tahu soal itu. Terima kasih karena kamu berkenan untuk membantuku, Dan."


"Kita sudah berteman sejak lama. Maksudku kita berlima. Jika kamu tak keberatan, aku juga berencana untuk berkumpul bersama lagi. Aku, kamu, Rubel, Dominic, dan Keisya. Mungkin bertemu untuk makan siang atau makan malam. Kehadiran mereka pasti akan membuat hatimu jauh lebih tenang, Niana."


Senyum tipis terulas manis di bibir Niana. Dan saat ini ia mulai bersedia untuk menatap wajah tampan Dany sementara pria itu ternyata juga tengah memandang wajahnya. "Tentu saja aku akan ikut, selama kamu tidak membuatku bekerja terlalu keras, Pak CEO!"


"Hahaha! Aku tidak pernah memberikan banyak tugas untukmu, Niana. Tapi pekerjaanmu memang luar biasa. Bahkan meski tanpa aku memberikan banyak perintah, kamu sudah sangat sibuk, bukan?"


"Kamu benar ... aah, mau bagaimana lagi. Tempat ini masih menjadi sumber penghasilanku. Aku justru sangat berterima kasih pada ayahmu karena beliau memercayakan jabatan penting untuk diriku."


"Jangan terlalu kaku, Niana. Kamu memang berbakat dan hebat!"


Niana akhirnya bisa tertawa kecil saat Dany memberikan sahutan sedemikian rupa. Tawa yang muncul tepat ketika langkah kakinya dan Dany menggapai area luar dari gerbang utama perusahaan. Rupanya, mobil pribadi milik Endri pun sudah menunggu tak jauh dari gerbang utama.

__ADS_1


Keberadaan mobil dan sang pemilik yang begitu semena-mena, membuat Dany segera mengambil tindakan. Ia sengaja menghentikan langkah dan menahan lengan Niana. Sikapnya membuat Niana terkejut dan sesaat penuh tanda tanya. Namun ketika menyadari niat Dany, Niana langsung mengikuti permainan sahabat sekaligus atasannya itu. Ia bahkan tak segan untuk mengulas sebuah senyuman yang jauh lebih manis. Biar saja. Toh, Endri belum tentu merasa tidak senang.


"Dia keluar dari mobil," ucap Dany sembari memperkuat cengkeraman tangannya di lengan Niana.


Niana menelan saliva dengan susah-payah. "Baiklah ... dan lepaskan aku. Sebelum dia mencurigaiku," jawabnya.


"Ah, baik. Dan ..." Dany melirik ke arah Endri lagi. "Dia berjalan ke arah kita."


Tubuh Niana mulai menegang. Bahkan rasa gemetar pun tak segan untuk menyerang. Padahal Dany sudah melepaskan lengannya. Dan Endri belum tentu cemburu apalagi marah-marah oleh sikap Dany terhadap dirinya. Namun mau bagaimanapun kenyataan yang terjadi saat ini, Niana tetap ketar-ketir sendiri.


"Niana?" Suara Endri pun mulai terdengar.


"Tidak kok," jawab Endri. Sebelum melanjutkan perkataannya, ia memutuskan untuk melirik Dany dalam beberapa detik saja. "Kamu sudah benar-benar bisa pulang, 'kan?" Ia kembali bertanya pada sang istri.


Niana mengangguk. "Tentu saja, Mas. Toh, aku juga sudah ada di sini."


Endri menghela napas. Meski ragu, ia tetap berkata, "Tapi, Tuan CEO ada di—"

__ADS_1


"Aaah! Sa-saya?" sahut Dany. Detik berikutnya, ia berjalan mendekati Niana dan tentunya untuk berhadapan dengan Endri. "Saya sedang menunggu sekretaris saya untuk mengambil mobil di basemen, Pak Endri. Saya sedang tidak membahas masalah pekerjaan dengan Niana, tapi, mungkin pembahasan yang cukup pribadi hehe. Pasalnya, sudah lama sekali kami berdua tidak mengobrol dengan nyaman. Belakangan ini kan saya juga lebih sibuk."


"Oh, begitu ya." Dengan sekuat tenaga, Endri berusaha untuk mengabaikan sekelumit perasaan aneh yang mendadak muncul di dalam dirinya. Dan ia tidak boleh terlihat terganggu atau menunjukkan ekspresi yang konyol di hadapan Dany, karena mungkin saja, ia bisa mendapatkan bantuan dari Dany melalui istrinya. "Oh ya, senang bertemu dengan Anda lagi, Tuan CEO. Sudah lama sekali sejak pertemuan terakhir kita."


Dany melirik Niana yang terpaku diam, tetapi ia tahu betul bahwa Niana kemungkinan sedang kecewa. Bagaimana tidak, jika saat ini Endri menunjukkan sikap yang biasa-biasa saja, meskipun sebelumnya sempat agak curiga.


"Ya, senang bisa berbincang dengan Niana lagi, dan tentunya bisa bertemu dengan Anda lagi, Pak Endri," ucap Dany yang masih menekankan kedekatannya dengan Niana.


Kelopak mata Endri tampak bergetar. Namun ia berusaha untuk terus mengulas senyuman. Dan demi menghindari ancaman kemunculan emosi yang buruk, ia pun sudah berencana untuk undur diri. "Kalau begitu saya dan Niana undur diri terlebih dahulu, Tuan CEO. Dan sampai jumpa di lain kesempatan," ucapnya setelah itu. Ia bahkan sampai meraih telapak tangan kiri milik Niana.


Niana cukup terkejut oleh sebab sikap Endri yang tak seperti biasanya. Ketika sedang berjalan bersama saja, Endri tak pernah memegang jemarinya. Namun saat ini Endri begitu rela menunjukkan suatu sikap agar dinilai sangat manis oleh Dany. Seorang pria sekaligus suami yang amat menjengkelkan!


Ketika Niana memberikan tatapan mata, lantas Dany mengangguk pelan. Sorot mata Dany seolah mengatakan, "Kamu harus bisa, Niana!" Yang tentu saja membuat Niana seperti mendapatkan dukungan sangat besar. Sepertinya, Dany memang bisa diandalkan. Sejak dulu memang sudah seperti itu, tetapi kali ini posisi Dany sudah jauh lebih kuat. Dengan bantuan dari Dany, kemungkinan besar Niana pun bisa membuat Endri dan perusahaan milik suaminya itu akan hancur bagaikan kaca yang terjatuh dari ketinggian 500 meter.


Lalu, ketika Niana dan Endri sudah masuk ke dalam mobil, Dany masih terdiam sembari menatap keberadaan mereka yang sudah tertutupi oleh kaca gelap mobil itu sendiri. Dany menghela napas dan berdo'a di dalam hatinya; semoga Niana selalu baik-baik saja. Di saat Endri sudah melajukan kendaraan tersebut, Dany memutuskan untuk memutar tubuhnya. Ia berjalan untuk mencari keberadaan mobilnya dan sebenarnya Brian tidak sedang mengurus kendaraan pribadinya itu.


"Sudah aku bilang, pernikahan itu sangat rumit dan bikin repot. Si gadis mungil yang selalu ceria itu sampai harus berubah menjadi wanita penuh derita. Ini bukti kesekian kali yang aku temukan tentang pahitnya sebuah pernikahan, yang membuatku benar-benar tidak ingin menikah dengan siapa pun!" ucap Dany sesaat setelah membuka pintu mobil yang sudah ia temukan. Ia duduk di ruang kemudi, tetapi tidak segera melajukan kendaraan pribadinya tersebut. Ia justru melamun sembari membayangkan kondisi Niana yang akan lebih hancur ketika tetap berada di sisi Endri dalam kurun waktu lebih lama. Apalagi di saat rencana Niana masih belum tersusun dengan sempurna. Sepertinya Dany memang harus campur tangan.

__ADS_1


***


__ADS_2