
Setelah mengarungi perjalanan dengan keheningan di antara kebersamaan, kini Niana kembali dibuat heran. Ternyata Endri tidak membawanya pulang, melainkan mampir ke sebuah restoran favoritnya. Ada apa gerangan? Mengapa sikap Endri mendadak berubah seperti ini? Biasanya jika Niana tidak mengajak jalan, Endri tidak akan pernah berinisiatif sendiri.
Dua porsi camilan berbahan tepung dan ikan yang berasal dari Kota Palembang sudah tersaji di atas meja bersama es teh dan milkshake dingin rasa cokelat. Jenis makanan yang selalu Niana pesan ketika sedang bertandang ke tempat tersebut. Dan Endri yang sebelumnya sudah berinisiatif untuk memesan hidangan itu.
Niana menghela napas. Tak ada rasa senang sama sekali di dalam dirinya setelah diperlakukan sedemikian rupa. Perhatian Endri tetap ia yakini jika akan mendatangkan malapetaka yang mungkin bisa membuatnya lebih sengsara. Namun untuk bertanya, Niana masih sangat enggan. Tenggorokannya seolah kering kendati ia sudah menyesap milkshake sampai beberapa kali.
"Kamu sangat dekat dengan atasanmu itu, ya?" ucap Endri setelah menyantap satu potong camilan itu. Detik berikutnya, ia lantas menatap Niana. "Aku pikir kamu sudah memiliki jarak dengannya setelah menikah denganku."
Niana ingin sekali meludah ke wajah Endri. Sayangnya, hal itu tak mungkin ia lakukan. Sebab, ia memang masih tidak berani. Apalagi pada lelaki yang masih menjadi suaminya secara resmi.
"Iya, Mas. Hubungan persahabatan kami ketika masih kuliah memang sangat dekat. Kami memang sempat terpisah saat dia melanjutkan pendidikan ke luar negeri, dan saat kembali ke sini, dia malah menjadi atasanku. Jabatannya yang tinggi sama sekali tak membuat hubungan kami semakin menjauh," ucap Niana agak berbohong. Karena nyatanya ia dan Dany tidak sedekat itu lagi setelah dirinya menikah dengan Endri.
"Bahkan setelah kita menikah?" selidik Endri.
Niana memicingkan matanya. Mencoba mencari jawaban dari ekspresi di wajah suaminya. Mengapa Endri ingin mengetahui tentang dirinya dan Dany? Apakah rencana sederhana untuk membuat Endri cemburu akhirnya berhasil? Sayangnya, saat ini Niana justru tidak ingin mencari tahu hal itu lebih dalam. Perlahan ia berpikir, untuk apa juga sisa perasaan Endri ketika Endri sudah memiliki calon buah hati dari rahim wanita lain. Yang perlu Niana lakukan adalah menghancurkan mereka, agar impian bahagia mereka tak pernah menjadi nyata!
"Ngomong-ngomong tak biasanya kamu mengajak aku makan di luar, Mas? Sebelum-sebelumnya, aku yang selalu mengajak kamu duluan, 'kan?" ucap Niana mengalihkan pembicaraan. "Apa yang ingin kamu katakan, Mas? Bukankah akan lebih baik jika kita bicara di rumah saja? Oooh ... atau kamu memang ingin segera ke tempat calon istri mudamu?"
__ADS_1
Ekspresi di wajah Endri langsung berubah. Niat untuk menelan satu potong camilan pun harus tertunda. Ia berangsur meletakkan sendoknya di atas piring, mengembalikan potongan camilan itu seperti sebelumnya. Rupanya Niana menyadari ada hal aneh dari sikapnya. Lagi pula, Niana memang benar bahwa dirinya tidak pernah mengajak jalan duluan. Ia saja sudah dibuat cukup malu ketika mendapati Niana yang tak bisa berpenampilan menawan.
Bahkan saat ini pun, penampilan Niana masih tidak berubah. Masih tanpa make-up dan tengah mengenakan setelan pakaian kantor. Rok yang Niana kenakan berjenis rok span sepanjang betis. Bahkan meski memiliki paras yang lumayan cantik, tetap saja, Niana terlalu mengabaikan penampilan, padahal memiliki suami yang berprofesi sebagai seorang pengusaha.
Endri menghela napas dalam-dalam. Ia berusaha mengabaikan hal yang membuatnya tidak nyaman dari istrinya itu. Dan ia mencoba menatap Niana dengan lebih tajam. "Dia sedang hamil dan tentu saja aku harus lebih memperhatikannya, Niana," jawabnya setelah itu.
"Oh ...." Meski jawabannya begitu singkat, perasaan Niana yang perih terasa begitu menyakitkan. Ternyata memang benar, rasa cemburu Endri terhadap Dany hanya akan berakhir sia-sia.
"Maafkan aku, Niana, tapi ... seperti yang aku katakan, aku tidak bisa mengabaikan Lesy terlalu lama."
Endri menelan saliva. Lidahnya kelu dan getir. Ada alasan mengapa ia membawa Niana untuk mampir ke tempat ini. Karena ia ingin mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan keinginan Lesy pada istri sahnya tersebut. Tempat yang ramai tak akan terlalu membuat Niana terkejut apalagi sampai marah-marah. Dan lagi, di tempat ini Niana pasti bisa meredam segala rasa pedih.
"Begini ... i-ini soal dia, ma-maksudku Lesy," ucap Endri gugup. "Dia ... di-dia ...."
"Katakan dengan jelas, Mas. Aku sudah siap mendengarnya. Mendengar pengakuanmu saja aku mampu, jadi, untuk pengakuanmu yang lain sepertinya aku sudah jauh lebih mampu," sahut Niana. Dan ia yakin malapetaka dari setiap sikap tak terduga yang dilakukan oleh Endri akan segera tiba. "Apa dia ingin kamu tetap bercerai dengan aku, Mas? Dan haruskah kita benar-benar bercerai?"
Endri segera menggeleng cepat. "Ti-tidak, Niana! Tidak seperti itu!" Bahkan meski tetap gelagapan, ucapan Endri tetap terdengar tegas. "Dia tidak meminta kita untuk bercerai."
__ADS_1
"Lalu?"
"Dia ... dia i-ingin tinggal bersama kita, Niana. Di rumah kita."
Benar saja! Malapetaka itu benar-benar tiba! Perhatian Endri sempat membuat Niana nyaris terkesima, dan kini akhirnya niat asli pria itu terbuka juga. Darah Niana mulai terasa mendidih. Hawa di dalam dirinya mulai memanas. Tampaknya bara api dan dendam juga kian membesar. Pada akhirnya Endri melakukan banyak hal demi wanita pengganggu itu dan hal itu sangat memuakkan!
Mata Niana lantas menatap gelas kaca ramping yang berisi setengah porsi milkshake, lalu beralih menatap sebuah pisau iris yang tergeletak di atas piring sajinya. Kalau kedua benda tersebut dihantamkan ke wajah Endri, pasti akan membuat Niana jauh lebih puas! Kalau saja tidak takut untuk masuk penjara, Niana sudah melakukan hal yang tertera di benaknya. Menghantam wajah Endri dengan kedua benda itu sampai remuk!
"Kamu tidak akan setuju, ya?" tanya Endri seperti tidak memiliki satu pun rasa malu.
Niana menghela napas dalam-dalam, matanya pun turut terpejam. Permintaan Endri dan wanita ular itu tentu bukan permintaan yang mudah untuk ia kabulkan. Namun di sisi lain, ia juga khawatir jika Endri akan lantas mengajukan gugatan cerai. Sebuah perceraian yang menyakitkan akan terjadi, di mana kebahagiaan yang Endri dan Lesy inginkan akan menjadi kenyataan, sementara Niana akan menderita bersama lukanya. Tidak boleh! Mereka sungguh tak boleh berbahagia!
"Kalau begitu ...." Mata Niana begitu tajam. Tubuhnya menegang. Hawa panas pun kian menguar, seolah mampu meningkatkan suhu udara kota yang sungguh luar biasa. Restoran bergaya klasik Nusantara dengan bahan bangunan 80% terbuat dari kayu itu pun mungkin bisa terbakar oleh emosi Niana yang hampir meledak. "Bawa wanita itu ke rumah, Mas. Aku tidak keberatan! Sungguh!"
Keputusan Niana terkesan begitu terburu-buru sehingga membuat Endri nyaris tidak percaya sama sekali. Namun keseriusan yang terpancar di wajah Niana juga tak bisa Endri anggap sebagai permainan semata. Sepertinya Niana memang benar-benar mencintai Endri sampai rela mengemban segala masalah yang akan membuat perceraian terjadi, itulah sebuah spekulasi yang tersusun di benak Endri saat ini.
***
__ADS_1