First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 31-Seperti Sedang Berpacaran Diam-diam


__ADS_3

Setelah sekian lama, akhirnya Niana bisa memarkir mobilnya sendiri di basemen perusahaan tempatnya bekerja. Rupanya memang lebih mudah, dan ia tidak perlu melihat wajah masam Endri seperti saat suaminya itu terpaksa mengantarkan dirinya. Hidup terlalu hemat ternyata tetap ada dampak negatifnya. Sepertinya Niana tidak akan pernah mempersulit dirinya lagi. Ia akan bersenang-senang dengan uangnya, dan menyisihkan sewajarnya saja.


Ketika sudah turun dari mobilnya tersebut, Niana menangkap keberadaan seorang pria yang tak lagi asing baginya.


Dany juga ada di sana. Pria itu tampak bersandar di mobilnya sendiri. Dan keberadaannya cukup membuat Niana akhirnya reflek mengernyitkan dahi. Niana lantas menoleh ke sana kemari, memastikan apakah ada orang lain yang sudah datang. Suasana masih cukup sepi, karena dimulainya jam operasional memang masih satu setengah jam lagi.


"Hai, Tuan CEO. Selamat pagi," ucap Niana pada Dany yang sudah semakin ia dekati. Hingga akhirnya ia tiba tepat di hadapan pria itu. "Apa Anda sedang menunggu saya?" Niana tersenyum setelah bertanya dengan maksud bercanda.


"Cih!" Dany memberikan reaksinya. "GR sekali Anda! Haha."


"Saya hanya sedang memupuk rasa percaya diri saya saja, Tuan CEO."


Dany tertawa kecil, kemudian kembali berkata, "Sepertinya ada hal baik yang telah terjadi padamu, Niana. Wajahnya tampak lebih cerah daripada tadi malam. Kamu berhasil mengeksekusi mereka?"


"Benarkah wajahku memang secerah itu?" Niana langsung menangkup wajahnya. "Dan juga cantik maksudmu?"


"Hmm ... soal itu ...."


"Baik, baik, aku memang tidak cantik, Dany. Jadi, tak perlu berpikir keras untuk menjawab tidak."


"Oh, astaga! Pikiranmu terlalu mudah curiga, Nona! Percayalah bahwa aku hendak mengatakan jika dirimu cukup cantik, Niana."


Dany lantas mengusap kepala Niana dan membuat wanita itu melebarkan mata. Niana agak terkejut bukan karena sikap Dany, melainkan ucapan Dany yang mengakui bahwa ia memang cukup cantik. Namun Niana yakin jika Dany hanya sekadar basa-basi atau mencari aman saja. Lagi pula, mustahil pria setampan Dany yang juga memiliki seorang kakak super cantik menganggap cantik wajah biasa-biasa saja milik Niana.


Detik berikutnya, Dany mengajak Niana untuk segera berjalan ke arah elevator untuk ke lantai di mana mereka akan bekerja dan tentunya di lantai yang berbeda. Perbincangan ringan masih sesekali terjadi kendati Dany belum melupakan ucapan Niana yang membuatnya merinding tadi malam.


Lalu setelah memasuki elevator bersama, Dany menghadapkan diri pada Niana. "Ada satu hal yang sampai saat ini membuatku penasaran, Niana. Ini soal wanita selingkuhan suamimu itu. Bagaimana kondisi keluarganya? Masa iya kedua orang tuanya mengizinkannya menikah dengan pria yang sudah beristri?"

__ADS_1


Niana menatap Dany dengan bingung. Setelah itu ia menunduk sembari berpikir. Namun rupanya ia memang tidak mengetahui latar belakang seorang Lesy karena selama ini ia terlalu sibuk mengendalikan perasaannya sendiri, termasuk juga menyusun rencana-rencananya.


"Aku tidak tahu, Endri juga tidak pernah menceritakan hal itu padaku. Bahkan ketika mereka menikah pun, aku tidak tahu. Mereka datang kurang lebih satu minggu sejak Endri mengatakan bahwa dirinya akan membawa Lesy untuk tinggal bersama. Dan ketika datang, Endri mengaku sudah menikah siri dengan wanita simpanannya itu," jawab Niana.


Dany berangsur memicingkan mata. "Aku curiga kalau mereka justru belum menikah, bahkan secara siri sekalipun, Niana."


"Itu tidak mungkin, Dany." Niana menghela napas. "Maksudku sepertinya tidak mungkin. Mereka kan sebentar lagi akan punya anak, mereka membutuhkan ikatan. Nanti setelah anak itu lahir, Endri tinggal mendaftarkan pernikahan dengan membawa bukti-bukti pernikahan sirinya dengan Lesy."


"Siapa yang tahu, Niana. Bisa jadi ucapanku memang benar."


"Sekalipun ucapanmu benar, tak akan ada yang berubah, Dany. Mereka tetap telah menyakitiku dan aku tetap tidak bisa membiarkan mereka bahagia. Karena sampai saat ini pun Endri begitu memedulikan Lesy."


Dany berdeham. Dan meski agak ragu ia tetap ingin tahu. "Dan kamu cemburu karena suamimu lebih memedulikan wanita itu?"


"Cemburu?" Niana menatap mata Dany lagi. Detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu dengan kondisi hatiku saat ini. Aku masih sering teringat momen manisku bersama Endri, dan tentu saja rasa getir masih kerap datang setiap kali aku mengingatnya. Tapi setiap kali bertemu dengan Endri, aku ingin sekali membuatnya menyesal. Dan aku senang setiap kali dia tampak tak berdaya."


Niana terdiam. Dan sejujurnya ia memang tidak mampu dalam memberikan jawaban. Bisa jadi Dany memang sengaja ingin menggoyahkan hatinya agar membatalkan rencana besarnya dengan menggunakan sisa cintanya pada Endri.


"Niana?" ucap Dany ketika pintu elevator terbuka di lantai tempat Niana bekerja.


"Ya?" sahut Niana. "Aku mau ke tempat kerjaku—"


"Ayo."


"Hah? Ke mana?"


"Ke tempat kerjamu. Jangan khawatir, belum ada orang yang datang kok. Kita bisa berbincang lebih lama."

__ADS_1


Dany hendak keluar dari elevator, tetapi Niana langsung meraih lengannya.


"Sebaiknya di kantormu saja, itu pun jika kamu mengizinkan aku masuk ke sana, Dan."


Dany tersenyum. "Aku rasa ide yang bagus. Tapi, apa kamu tidak keberatan dengan keberadaan Brian?"


"Lebih baik satu orang yang tahu, daripada banyak orang."


"Oh! Hahaha. Rasanya aku seperti sedang berpacaran diam-diam denganmu, Niana. Ini seru sekali."


"Cih! Bukannya seperti berpacaran, tapi selingkuh diam-diam!"


"Wow! Itu sebutan yang jauh lebih bagus!"


"Rupanya kamu pun juga sama gilanya denganku, Dany. Ya, tak masalah. Asal jangan mencintaiku saja."


"Tidak, Niana. Tidak akan pernah! Hahaha. Aku hanya akan sayang padamu hehe."


"Tentu, aku pun sayang padamu, Tuan!"


"Akan lebih sempurna jika kamu menemaniku ngopi nanti sore, anggap saja seperti kencan diam-diam. Kita ini kan bagian dari kaum kesepian."


Niana hanya tersenyum, selebihnya menganggukkan kepala. Dan tentu saja ia akan menemani Dany karena siapa tahu Dany memberikan saran untuk rencananya. Atau mungkin Dany malah mencoba untuk menghentikannya lagi. Namun lebih baik menghadapi Dany, daripada Lesy. Niana akan pulang ketika jadwal untuk ke rumah kedua mertuanya semakin dekat. Lagi pula, ia tidak mau jika Endri menagih ucapannya mengenai ia yang sudah terlanjur mengundang Endri untuk ke kamarnya kapan saja.


Sepertinya, Niana memang sudah harus menggoda Endri dengan langkah yang lebih berani, meski sejujurnya ia tetap jijik jika harus bersentuhan dengan suaminya itu lagi. Ia masih berharap Lesy terus menjerat tubuh Endri.


Niana dan Dany akhirnya sampai di lantai lebih atas, mereka menuju ruang kerja pribadi milik Dany. Brian sudah tiba di sana, di bagian depan dari pintu ruangan sang atasan. Sekretaris pribadi Dany tersebut segera bangkit dari duduk dan memberikan salam. Namun keberadaan Niana tidak membuat Brian bertanya-tanya. Karena Brian pun sudah sedikit tahu tentang hubungan pertemanan mereka sejak masih menjadi mahasiswa.

__ADS_1


***


__ADS_2