First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 17-Ingat Batasanmu, Mas!


__ADS_3

Sejak meninggalkan rumah, Endri terus dihinggapi rasa heran karena penampilan Niana terlihat begitu berbeda dan tentu saja jauh lebih cantik daripada sebelum-sebelumnya. Niana yang sudah duduk di sampingnya di dalam mobil itu sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang kerap membuatnya merasa malu ketika sedang berjalan bersama di luar rumah. Mungkinkah Niana mengubah sikap dan penampilan karena kehadiran Lesy? Mungkinkah Niana sedang berusaha untuk membuat cinta Endri pulih kembali? Dua pertanyaan itu yang lantas muncul di benak Endri.


"Kenapa, Mas?" tanya Niana secara tiba-tiba ketika suaminya terus menatap dirinya saat lampu merah masih belum berubah. Detik berikutnya, ia menoleh ke arah suaminya lalu tersenyum manis. "Ah, ... aku tampak lebih berbeda, ya?"


Endri langsung memalingkan wajahnya. Beruntung lampu lalu lintas sudah menyala di warna hijau dan pada saat itu juga, ia kembali melajukan mobilnya.


"Iya, kamu tampak berbeda, Niana," jawab Endri beberapa detik setelahnya.


Senyuman Niana semakin melebar. Rupanya ia berhasil memikat perhatian mata Endri. Dan ia yakin Endri sedang bertanya-tanya saat ini. Mungkin juga, Endri sedang menganggapnya tak ingin kalah dari Lesy yang nyaris sekujur tubuh wanita selingkuhan itu diliputi barang-barang bermerek terkenal.


"Bagaimana, Mas? Apa aku cantik?" serang Niana.


"Ka-kamu kan memang selalu cantik, ja-jadi, kenapa harus bertanya lagi?" sahut Endri yang entah mengapa ia sampai gelagapan.


Niana tertawa kecil. "Kamu benar, aku ini kan memang sudah cantik sejak dulu. Iya, 'kan? Hanya saja, belakangan ini aku kerap mengabaikan penampilanku hehe. Dan ya, aku harus mengakui sesuatu padamu, Mas."


"Sesuatu?" Dahi Endri mengernyit dan rasa herannya kian melebar. Ia menatap Niana secara sekilas, lalu kembali berkonsentrasi pada kegiatannya melajukan mobil itu. "Katakan, Niana, memangnya apa yang hendak kamu akui?"


"Bukan sesuatu yang serius kok. Hanya ... kesadaranku yang belum lama ini datang, Mas." Niana menghela napas dalam-dalam. "Melihat istri baru kamu yang begitu menawan, aku jadi berpikir bahwa selama ini aku sudah melakukan kesalahan, Mas. Aku terlalu mengabaikan penampilanku dan nyaris seperti bocah yang tidak mengenal fashion sama sekali. Pasti kamu malu sekali kalau sedang jalan berduaan denganku, ya?"

__ADS_1


Endri menelan saliva dengan susah-payah. Ucapan Niana memang hanya sebatas kalimat pertanyaan saja. Dan mungkin Niana baru menduga-duga. Namun Endri tetap merasa tersindir. Seolah Niana sedang menyudutkan dirinya. Dan haruskah Endri mengakui perasaannya ketika sedang bersama Niana di luar rumah? Haruskah ia mengatakan bahwa yang membuatnya tak terlalu cinta lagi pada Niana salah satunya disebabkan oleh penampilan Niana yang begitu kampungan?


Tidak! Aku tidak mau mengakui hal itu, setidaknya sampai Dany berjanji untuk memberikan bantuan pada perusahaanku, batin Endri disusul helaan napasnya yang cukup panjang.


Melihat Endri yang tidak segera memberikan jawaban atau bahkan tak ingin menjawab pertanyaannya, Niana pun mulai sadar. Bahwa penampilannya memang kerap membuat Endri merasa malu hingga pria itubtak pernah mau bergandengan tangan dengannya. Sejak sekian lama, mengapa Niana baru sadar hal itu saat ini? Saat di mana suaminya sudah berpaling pada wanita yang lebih cantik dan menarik? Mengapa Niana begitu bodoh dengan menganggap sikap acuh tak acuh suaminya disebabkan oleh karakter sang suami yang memang cenderung tidak peka?


Rupanya Niana memang melakukan suatu kesalahan yang fatal. Ia terlalu bersikeras untuk hidup berhemat. Apalagi sejak perusahaan Endri mulai goyang. Ia terlalu menyiksa dirinya, dan itu kesalahannya. Namun ia tetap membenci Endri yang tak pernah mengingatkannya sama sekali. Bahkan meski hidup hemat yang Niana lakukan demi menjamin masa depan apalagi setelah punya anak nantinya, Endri tak pernah berterima kasih dan malah mencari wanita idaman lain.


Niana mengakui bahwa dirinya sudah berbuat kesalahan, tetapi kesalahan itu tidak mengubah rasa benci serta rasa muak yang sudah begitu pekat. Ia tetap membenci Endri, bahkan meski sisa rasa cintanya juga masih sama besarnya.


"Mm, apa perubahanku sangat mengganggumu, Mas? Aku yang selalu tampil norak ini, sepertinya tidak pantas menjadi cantik layaknya Nona Lesy ya? Ah, ... sejujurnya, aku tidak percaya diri memakai pakaian yang mewah dan mahal seperti ini, padahal aku sudah membeli banyak gaun baru sore ini. Sepertinya aku terlalu berambisi ya?" ucap Niana.


Niana terdiam setelah mendengar ucapan Endri. Sungguh tak terduga. Awalnya ia ingin membuat Endri meringis pasrah. Ternyata, yang ada di pikiran Endri hanyalah bantuan yang sudah Niana tawarkan sebagai kesepakatan agar perceraian tidak terjadi. Niana harus kembali menahan perihnya luka setelah menyadari bahwa Endri hanya ingin memanfaatkan penawaran yang ia berikan.


"Aaah ... soal itu," kata Niana. Sebisa mungkin Niana tetap tersenyum. "Aku baru saja mendapatkan bonus bulanan, Mas. Uang lemburku juga lumayan banyak untuk bulan ini. Lagi pula, aku kan memiliki tabungan sendiri. Tabungan yang akan aku gunakan untuk calon anak kita nanti, tapi, kita kan sudah tidak membutuhkan uang tabungan itu."


"Eh? A-apa maksudmu, Niana? Kenapa kita tidak membutuhkan tabungan itu lagi?"


Endri memutuskan untuk menghentikan mobilnya terlebih dahulu. Karena ucapan Niana cukup membuat perasaannya tersinggung. Setelah mobilnya sudah berhenti di pinggir jalan, Endri lantas menatap Niana dengan tajam.

__ADS_1


"Katakan padaku, Niana!" ucap Endri.


"Mm." Niana berlagak bingung. "Pft ... hahaha!"


Wajah Endri kebas. "Ke-kenapa kamu malah tertawa?"


"Karena kamu serius sekali, Mas. Aku sampai kaget. Hehe. Kamu sepertinya lupa kalau kita masih belum bercerai bukan karena kamu masih mencintaiku. Dan aku yang membuat penawaran itu agar tidak diceraikan olehmu. Karena aku tidak mau menyakiti keluarga kita sekaligus tidak ingin menyandang status sebagai janda. Asalkan aku mau membantumu, termasuk meminta bantuan Dany untuk menyelamatkan perusahaanmu, kamu pasti tidak akan menceraikan aku, bukan? Itu artinya pernikahan kita yang sekarang hanyalah pernikahan atas dasar kesepakatan saja. Kita tidak akan pernah memiliki anak lagi, karena hubungan kita sudah berantakan, bukan? Mana mungkin kita bisa punya anak jika rasa cinta di antara kita nyaris menghilang?"


"Ta-tapi, Niana—"


"Mas jangan pernah mengatakan bahwa Lesy sedang mengandung anakmu, sehingga aku juga harus membantunya dengan uang tabunganku. Karena uang yang aku kumpulkan demi calon anakku tidak akan aku gunakan untuk hal itu. Tapi, Mas, bantuan yang aku berikan untuk keuangan rumah dan caraku membujuk Dany sudah sangat membantumu dan wanita itu, bukan? Kamu sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusanku, jadi, mau sebanyak apa pun aku berbelanja menggunakan uangku sendiri, kamu pun tidak boleh menentang. Selama kamu masih bergantung pada bantuan dariku, Mas. Ingat ya, Mas, Dany pun tidak akan bersedia membantumu jika bukan karena aku yang merupakan sahabat dan bahkan sudah dianggapnya sebagai seorang adik kecil."


Terdiam. Mulut Endri terkunci rapat. Penjelasan Niana membuatnya teringat akan kesepakatan yang sudah terjadi antara dirinya dan istri pertamanya itu. Rupanya, memang sudah seperti ini. Pernikahannya dengan Niana telah rusak karena kesalahannya. Endri menelan saliva lalu memejamkan matanya. Ia pun sempat menaruh kepalanya di atas setir. Ia pikir Niana masih mencintai dirinya, tetapi ternyata Niana hanya tidak ingin menyandang status sebagai janda sekaligus tidak ingin melukai hati banyak orang akibat perceraian.


Niana menghela napas. Jujur saja kelegaan itu muncul kembali. Ia senang saat Endri tampak resah seperti saat ini. Itu artinya Endri memang masih membutuhkan dirinya. Atau bisa saja Endri mulai menyadari bahwa dirinya memang jauh lebih baik daripada Si Manja Lesy. Apalagi setelah mengubah penampilan dari yang sebelumnya kerap membuat Endri malu kini sudah jauh lebih baik.


"Mas, kita tidak boleh terlambat. Dany bisa kecewa jika kita terlambat," ucap Niana. "Lagi pula, kamu tidak mau 'kan jika kita sampai kemalaman dan nantinya disuruh menginap oleh ayah dan ibuku? Kan kamu harus menjaga istri barumu dan calon anak kalian. Oh tenang saja, sesuai kesepakatan kita, Mas. Aku pun tidak akan mengganggu urusanmu dan istri barumu kok."


Mata Endri lantas terbuka. Dan tanpa mengatakan apa pun ia kembali menegakkan badannya. Dengan cepat ia melajukan mobilnya kembali. Apa pun yang terjadi saat ini, yang terpenting adalah sosok Dany. Bantuan dari Dany adalah harapan terakhir baginya untuk menyelamatkan perusahaannya. Lagi pula, Niana masih tidak meminta hal-hal aneh padanya. Endri hanya masih belum terbiasa untuk hidup tak mencampuri urusan istrinya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2