
Endri tidak pernah memikirkan bahwa dirinya akan didatangi seorang aktris terkenal bernama Arsyita Dharmawangsa. Dan saat ini wanita cantik itu berada di hadapan Endri saat ini. Endri masih tidak tahu apa yang membuat Arsyita mendadak datang, bahkan tanpa membuat janji pertemuan terlebih dahulu dengannya. Meski menyandang status sebagai seorang aktris terkenal, tak sepantasnya Arsyita bertindak tidak sopan.
Endri menghela napas untuk menunjukkan rasa kesalnya terhadap Arsyita yang tidak bisa ia tunjukkan lewat kata-kata. Ia tahu mengenai hubungan Arsyita dengan Dany, yang ia ketahui mereka ada sepasang kakak beradik. Akan fatal jadinya, jika ia sampai salah bicara dan berakhir membuat Arsyita membuat laporan buruk atas dirinya pada Dany. Yang ada, Dany akan membuat perhitungan dengannya.
"Anda sudah mengenal siapa saya, bukan, Pak Endri?" ucap Arsyita lalu tersenyum cantik. "Kita juga pernah bertemu kok."
Pernah bertemu? Endri bertanya dalam hati, sementara benaknya tengah mengingat-ingat kapan dirinya bertemu dengan wanita itu. Ah! Sampai akhirnya Endri teringat akan kejadian di restoran, saat dirinya sedang berkencan bersama Lesy. Pada saat itu ia tidak terlalu memperhatikan keberadaan Arsyita karena langsung dikejutkan oleh kehadiran Dominic sekaligus Niana, tetapi jika dipikir-pikir, Arsyita juga ada di sana. Itu artinya, Arsyita juga tahu mengenai perselingkuhan yang telah Endri lakukan bersama Lesy.
"Maaf, Nona Arsyita. Tapi saya tidak ingat kapan kita bertemu," ucap Endri lalu berangsur menelan saliva. Ia tidak mau merasa tersudut karena kehidupan rumah tangganya diketahui oleh wanita cantik di hadapannya itu.
"Oh iya, ada apa gerangan sampai Anda datang ke kantor kecil kami?" lanjut Endri untuk mempertanyakan maksud kedatangan Arsyita. "Sepertinya pun kita tidak pernah membuat janji satu sama lain. Bahkan seingat saya, ini pertama kalinya kita bertemu. Saya sudah tahu tentang siapa Anda hanya melalui layar kaca, selebihnya media sosial."
Arsyita masih terdiam. Mencoba menelisik sesuatu yang Endri sembunyikan. Dari pandangan yang terus-terusan menghindar, Endri sudah pasti sedang gugup dan juga tengah berbohong. Lantas, berbohong mengenai apa? Sepertinya Endri tengah berpura-pura tidak ingat tentang kejadian di restoran di malam itu. Pria itu benar-benar terkutuk yang tidak mau dianggap buruk, meskipun sudah kelewat buruk. Dany jauh lebih baik daripada cecunguk yang mencoba melarikan diri dari kenyataan tersebut!
Arsyita menghela napas selanjutnya berkata, "Dany yang meminta saya untuk datang kemari, Pak Endri."
"Tuan Dany?" sahut Dany sembari mengernyitkan dahi. "Ke-kenapa memangnya? Ada apa, Nona?"
"Aaah ... rupanya Anda ini cukup tidak peka, ya? Pantas saja perusahaan Anda sempat pailit karena ketidakpekaan Anda pada munculnya sebuah risiko besar setelah memaksakan diri demi ambisi yang besar."
"Apa maksud Anda, Nona Arsyita?"
__ADS_1
"Waaah! Benar-benar tidak peka ya?!" Arsyita sampai mencondongkan tubuhnya ke depan. Pria sebodoh Endri dan tidak peka seperti itu, sungguh diherankan bisa membangun sebuah perusahaan, membuat Arsyita mulai menduga bahwa mungkin saja Niana berada di balik terbangunnya perusahaan milik pria itu. "Anda sudah melakukan kesalahan saat memaksakan diri untuk membangunkan proyek besar, tanpa mempertimbangkan risiko-risiko terburuknya, Pak Endri. Dan lagi, perusahaan Anda masih begitu kecil. Secara finansial pun pasti sulit, tapi kenapa nekat?"
Sama seperti yang pernah Dany katakan. Memang kesamaan jenis darah tidak pernah berbohong. Namun Dany terlihat lebih menyeramkan ketika sedang mendiskusikan sebuah bisnis, sementara Arsyita lebih banyak meremehkan. Endri tidak tahu mengapa Dany harus mengirim Arsyita. Dan mengapa harus wanita yang semenyebalkan Arsyita?
Padahal Dany memiliki banyak staf yang lebih kompeten, termasuk juga Niana. Seharusnya Dany mengirim Niana saja, toh, Niana adalah istri Endri sendiri. Lagi pula, meskipun bukan bagian dari tim perencanaan, Niana tetap wanita yang pintar dalam hal berbisnis. Dan Niana-lah yang selalu memberikan saran ketika Endri membutuhkan banyak masukan. Bisa dibilang, Niana turut andil di dalam pembangunan perusahaan suaminya tersebut.
"Tenang saja, Pak Endri, saya datang bukan untuk mengusik Bapak kok, melainkan untuk bekerja sama. Adik saya meminta saya untuk membantu proses pemasaran setiap unit rumah itu. Agar apa? Ya, agar proyeknya tidak mangkrak lagi dong!" ungkap Arsyita mengenai maksud kedatangannya. Kemudian ia tersenyum agak sinis. "Tapi, Anda pun harus mau bekerja sama dengan saya. Saya ini seorang aktris. Pengikut saya sudah mencapai dua puluh juta lebih lho. Mitra kerja saya juga cukup banyak. Jadi, posisi saya tidak bisa Anda anggap remeh, bukan?"
Endri mengakui bahwa keberadaan Arsyita bisa memberikan dampak yang besar untuk proyek yang ia jalankan saat ini. Dan Dany sendiri yang meminta Arsyita untuk datang. Rupanya memang tidak berkaitan dengan manajemen atau diskusi lainnya, melainkan untuk proses memasarkan. Rupanya Dany memang tidak sebodoh itu sampai mengirimkan sang kakak selebritinya.
"Jika hal ini memang berkaitan dengan bisnis, tentu saja saya akan menyambut kedatangan Anda dengan sangat baik, Nona Arsyita. Dan saya sangat berterima kasih jika Anda berkenan untuk membantu kamu," ucap Endri. Detik berikutnya, ia berangsur menunjukkan senyumannya.
"Oh! Tentu saja tidak!" Endri menyahut cepat agar tidak terjadi kesalahpahaman yang tidak penting. "Se-sepertinya saya sudah salah dalam memilih kata-kata."
"Ah, Anda ini pintar mengeles ya? Tapi baiklah, saya tidak peduli. Saya datang hanya untuk menyampaikan hal tersebut. Pastikan saja Anda sudah mempersiapkan bahan promosi dengan menarik. Dan saya akan mencoba mencari konsep untuk memasarkannya, Pak Endri."
Endri mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baik, Nona. Saya akan segera mempersiapkannya secepat mungkin."
Namun tentu saja, Arsyita hanya sebatas bersandiwara saja. Ia belum tentu benar-benar akan mempromosikannya. Sebab kasihan pada calon pembeli jika suatu saat merasa tertipu pada sosok Endri yang menjaga hati istri saja tidak mampu. Lalu di detik berikutnya, Arsyita mengambil foto Endri secara diam-diam dengan berpura-pura bermain ponselnya.
Arsyita mengunggah foto Endri dengan caption berbunyi, 'lagi meeting barang Tuan Tampan, tapi sayang sudah jadi suami teman. Hehe, canda guys. Aku Kenal istrinya kok dan sudah izin!'
__ADS_1
"Jadi, Nona Arsyita," ucap Endri. "Bagaimana dengan honor atas jasa Anda?"
"Tidak perlu! Toh, saya melakukannya demi adik saya. Dia yang bakal membayar saya. Lagi pula, selain seorang aktris, saya kan berasal dari keluarga konglomerat. Untuk beberapa keadaan, saya tidak membutuhkan honor sama sekali. Apalagi untuk sebuah proyek yang sempat mangkrak karena kekurangan dana," sahut Arsyita tanpa memedulikan perasaan Endri.
Dan tentu saja Endri merasa tersinggung. Padahal ia adalah seorang pengusaha, setidaknya ia tidak terlalu miskin. Namun Arsyita memandangnya bagai orang fakir. Artis yang memiliki sifat menyebalkan seperti itu, bagaimana bisa terkenal sampai sekarang? Setahu Endri, Arsyita pun lebih tua darinya, meski ia tidak terlalu tahu pasti mengenai umur wanita itu. Apakah ada politik uang di balik ketenaran Arsyita yang masih awet sampai sekarang?
Kakak dan adik sama saja. Sama-sama memiliki hobi untuk menjatuhkan orang. Seandainya aku tidak membutuhkan bantuan mereka, sudah pasti aku tidak akan menerima kehadiran mereka. Belum lagi Dany, yang kemungkinan besar ingin terus mendekati Niana. Menyebalkan! Tapi, beruntungnya, Niana lebih memilih setia padaku, batin Endri sembari terus menatap Arsyita dengan penuh kejengkelan.
"Oh iya, Pak Endri. Bukankah Anda adalah suami Niana?" ucap Arsyita yang secara tiba-tiba ingin membahas Niana. "Saya juga mengenal Niana lho!"
Endri menelan saliva. Jangan bilang kalau Arsyita juga teringat tentang kejadian di malam itu. "Oh, ya? Benarkah? Di mana Anda mengenal Niana, Nona Arsyita?" sahutnya dan tetap berpura-pura tidak ingat kejadian di restoran kala itu. "Saya tidak tahu jika istri saya mengenal seorang aktris terkenal."
"Lho, bagaimana to? Niana kan adalah sahabat adik saya, Pak Endri. Dia juga bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh adik saya. Tapi, Niana cantik sekali. Saya sempat ingin mengajaknya untuk ke manajemen keartisan milik saya sendiri, tapi tampaknya Niana cukup pemalu. Padahal wajahnya sangat cantik. Dia pantas menjadi seorang selebriti!"
"Itu tidak mungkin, Nona, karena memang benar bahwa Niana cukup pemalu. Dia memang cantik dan menyenangkan, tapi dia bukan orang yang suka tampil."
"Sayang sekali, bukan? Tapi tak masalah, toh, karier Niana di perusahaan adik saya juga begitu bagus. Dia telah menjadi seseorang yang mandiri dan sukses, sungguh seorang istri idaman. Kalau saya adalah seorang laki-laki, saya akan sangat menjaga wanita seperti Niana. Karena wanita mandiri seperti dirinya termasuk wanita spesial di dunia ini, tapi tentu saja di luar sana banyak wanita yang sama mandirinya. Yang bisa mengurus anak tanpa bantuan suami, yang biasa tetap bekerja meski harus momong juga, dan lain sebagainya. Tapi secara kebetulan yang saya temui adalah Niana. Bangga hatilah karena telah memiliki Niana, Pak Endri. Karena jika bukan Niana, mungkin Pak Endri menemukan wanita yang rewel, boros, maupun manja."
Ya, seperti halnya Lesy. Setelah hamil, sifat manjanya semakin parah, batin Endri. Kalau bukan karena tergiur penampilan, mungkin sampai saat ini Endri hanya memiliki istri satu orang saja. Namun apa mau dikata, Endri sudah terlanjur melakukan kesalahan. Niana yang sudah memahami situasinya saja sudah sangat untuk baginya.
***
__ADS_1