First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 58-Curahan Hati Dany


__ADS_3

"Apa katamu?!"


Arsyita langsung memberikan reaksi dengan suara lantang, sekaligus sampai berdiri dari duduknya. Hal yang membuatnya begitu terkejut saat ini adalah sebuah pengakuan yang dikatakan oleh adik kandung yang paling ia sayangi di dunia ini.


Dany telah mengakui sudah mengatakan sedikit perasaannya pada Niana tadi malam. Padahal permintaan yang Arsyita katakan baru terlontar kemarin. Bukankah terlalu tidak masuk akal jika Dany mengatakan bahwa sudah jatuh cinta pada Niana?


Wajah Dany tampak memerah. Ia bahkan sampai menenggelamkan paras tampannya itu di bantal sofa yang cukup empuk. Dan posisinya saat ini sedang tengkurap, sementara kakinya terus bergerak-gerak naik dan turun. Ia malu pada Arsyita, tetapi jika bukan pada Arsyita, ia tidak tahu harus berbicara pada siapa. Apalagi Dominic sudah membuat tantangan yang artinya sahabatnya itu mungkin telah menjadi rivalnya.


"Waaah!" Arsyita bangkit dan mulai mengambil langkah. Ia berjalan ke sana kemari di hadapan televisi dengan ekspresi yang masih tidak menyangka. Sesekali ia mengangkat kedua tangannya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghentikan gerak kakinya. "Aku senang saat kamu sudah mengetahui isi hati kamu, Dany. Tapi! Tapi nih ya! Bukankah itu terlalu cepat? Bukankah kamu bisa saja salah? Maksudku seharusnya kamu memikirkannya terlebih dahulu sebelum mengatakan betapa berharganya Niana pada Niana sendiri!"


"Ugh ...." Dany berangsur mengubah sikapnya. Dan saat ini ia tengah terlentang. "Aku tidak tahu. Sebenarnya, dari kemarin-kemarin pun aku sudah merasa ada yang berbeda dengan perasaanku terhadap Niana. Namun aku terlalu bodoh untuk memahami isi hatiku sendiri, Kakak. Kakak kan tahu aku ini si jomblo sejak lahir!"


"Iya! Tapi, kamu terlalu nekat, Dany! Bagaimana jika kamu salah dalam mengartikan perasaanmu terhadap Niana dan berangsur membuat Niana kecewa, seandainya ternyata wanita itu bersedia untuk menaruh harapan terakhir kisah asmaranya padamu, hah?!"


"Aku juga punya alasan tersendiri, Syita!" sahut Dany ketus. "Ada sesuatu yang tadi malam membuatnya terserang ketakutan. Mengenai sang suami. Aku merasa ikut hancur dan marah, seandainya aku bisa melakukannya, aku pasti akan segera pergi ke tempat Endri dan menghabisi pria itu detik itu juga. Niana gemetaran dan menangis sesenggukan di pelukanku. Dia—"


"Waaaah! Sudah pelukan dong!"


Dany mengeram, kesal. "Dengarkan dulu dan jangan berpikiran mesum, Arsyita!"

__ADS_1


"Enak saja, aku bukan orang mesum, Dik!" Detik berikutnya, Arsyita berangsur duduk di sofa yang paling dekat dengan posisi Dany. "Jadi, apa yang terjadi, Adikku sayang yang akhirnya mengalami puber juga!"


"Alah! Diamlah dan dengarkan saja, Syit!" sahut Dany agak ketus. "Aku hanya berusaha menenangkannya saja dengan cara memeluk. Tidak ada niat jorok apa pun, Syita! Percayalah!"


"Iya, iya, adikku kan cowok culun!"


"Ck." Dany mengumpat pelan. Ia menghela napas, lalu kembali berkata, "Niana melarangku untuk ikut campur, alhasil aku mengatakan aku akan tetap ikut campur karena dia sangat berharga untukku. Aku juga menyadari satu hal saat Niana menunjukkan betapa hancur dirinya. Gadis periang yang memang agak bodoh dalam masalah asmara itu, selalu aku yang menghiburnya. Dia orang pertama yang memberiku banyak pengalaman baru, termasuk kasih sayang orang tua. Kedua orang tuanya sangat menyayangiku, aku sudah seperti halnya anak mereka sendiri. Sebenarnya, tidak hanya padaku, melainkan juga ketiga teman kami yang lain. Hanya saja, aku yang lebih dekat dan lebih sering bersama Niana. Tanpa aku sadari, aku sudah menjaga Niana sejak saat kami saling mengenal."


"Aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa Niana disakiti oleh Endri. Dulu pun, ketika Niana mengatakan bahwa dirinya sudah punya pacar, aku lantas menyelidiki bagaimana sosok laki-laki yang dia pacari. Aku selalu mewanti-wanti Niana ketika laki-laki itu bukan orang yang baik, meski nasihatku selalu diabaikan olehnya yang memang gampang jatuh cinta pada saat itu. Dan akhirnya dia mencariku lagi ketika patah hati. Di beberapa kesempatan aku pernah melabrak atau sekadar memberikan sindiran pada laki-laki yang menipu Niana. Aku melakukannya tanpa sepengetahuan Niana dan aku beranggapan bahwa aku hanya sedang menjaga Niana, karena kedua orang tuanya saja," lanjut Dany.


Sesaat setelah menghela napas, Dany berkata, "Mungkin dulu aku hanya terus memikirkan ketakutanku pada sebuah hubungan ataupun pernikahan, sampai aku tidak pernah menyadari betapa berharga sosok Niana bagiku. Bahkan ketika aku merasa ragu terhadap Endri pun, aku hanya bisa diam, karena Niana sudah memilih Endri sebagai calon pendamping hidup. Ketika Niana agak menjaga jarak demi menjaga hati suaminya, sejujurnya aku merasa kesepian. Aku benar-benar tidak mau terlambat lagi, Kakak, terlebih saat ini aku sudah ditantang oleh seseorang. Seseorang yang tampaknya juga masih menyukai sosok Niana, membuatku tak ingin terus menunda-nunda."


Hati Arsyita terenyak. Setelah sekian tahun saling bersaudara dengan aliran darah yang berasal dari orang tua yang sama, baru kali ini ia mendengar Dany mencurahkan isi hati tentang seorang wanita. Padahal Dany pun mungkin masih merasa marah padanya yang sudah meninggalkan ketika Dany masih remaja, hingga membuat mental Dany trauma serta depresi.


"Kalau begitu, aku tidak akan merasa heran lagi jika kamu memiliki alasan sepenting itu, Dany. Dan kesempatan memang tidak akan datang untuk kedua kalinya. Genggamlah dia selagi bisa, kejar sampai kamu bisa mendapatkannya," ucap Arsyita. "Tapi kamu tampaknya harus lebih bersabar lagi nantinya. Niana tidak mungkin sembuh secepat keinginanmu. Bahkan mungkin dia membutuhkan waktu satu, dua, atau lima tahun untuk melupakan pengalaman terburuknya di dalam sebuah pernikahan. Dan itulah yang akan membuatmu kesulitan, Dany."


Dany mengangguk setuju. "Benar. Tapi, aku tidak masalah. Selama aku masih bisa berada di sisinya, bahkan meski masih harus menjadi teman biasa. Dan yang pasti, dia tidak boleh bersama pria semacam Endri lagi."


"Oke!" Arsyita menarik napas dalam-dalam dan berangsur membuang napasnya itu secara kasar. Ia tersenyum lebar, lalu berkata, "Ayo kita berkencan. Aku akan mengajarimu banyak hal, Dany. Mumpung kita libur!"

__ADS_1


"Tidak mau! Aku punya banyak pekerjaan, bahkan meski hari ini adalah hari Minggu!"


"Halah! Ayolah, Dany! Aku janji besok aku akan ke tempat Endri. Serius! Langsung besok!"


Dany memicingkan mata. "Memangnya pacar Kakak ke mana, sampai harus merayuku seperti itu?"


"Ah! Aku baru putus satu bulan yang lalu, tahu! Dia marah padaku."


"Karena apa? Karena Kakak tidak mau diajak menikah?"


Arsyita tidak langsung menjawab melainkan memutar bola matanya. "Ti-tidak, bukan karena itu kok!"


"Oh, rupanya memang karena itu ya? Berarti juga gara-gara aku, 'kan?"


"Tidak, Dany! Kenapa gara-gara kamu? Aku hanya belum siap saja kok! Memangnya kamu saja yang takut untuk menikah? Aku juga takut, tahu!"


"Halah!" Dany berangsur bangkit. Tak hanya sekadar duduk, ia pun memutuskan untuk berdiri. "Ayo! Ke mana?"


Mata Arsyita langsung berbinar. "Ke mal, nonton, makan, dan semua hal yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang berkencan. Oke?!"

__ADS_1


Dany tidak menjawab selain menghela napas. Dan baiklah, daripada Arsyita merengut. Apalagi sebelumnya Arsyita sempat terburu-buru datang ke apartemen Dany sebelum jam enam tiba, pasca Dany menelepon bahwa dirinya sedang tak baik-baik saja. Arsyita juga tak mungkin baik-baik saja setelah belum lama putus dengan sang kekasih.


***


__ADS_2