
Niana menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kemudi mobilnya. Perasaannya tidak menentu, dan ia cukup lelah. Sebenarnya pertemuannya dengan Arsyita bukan sesuatu yang buruk. Aktris cantik itu bahkan bersedia membantunya. Arsyita mengaku akan mempercepat rencana Niana untuk membuat Endri menjadi orang terkenal. Pengikut Arsyita di media sosial bisa menjadi acuan atas kemungkinan rencana itu bisa berhasil. Namun entah mengapa, perasaan Niana tak kunjung lega.
Bukan karena Niana tidak tahu terima kasih. Bahkan ia betul-betul berterima kasih. Mungkinkah karena lelah, sehingga moodnya tetap tak beraturan? Atau mungkin karena malu karena dirinya tak bisa mempertahankan pernikahan bahkan sampai kalah dengan sang wanita selingkuhan? Oh, astaga, Niana tidak tahu? Ia betul-betul pusing. Belum lagi tentang permintaan Arsyita yang memintanya untuk membantu menyembuhkan trauma dan fobia yang diderita oleh Dany.
Well, Niana sangat setuju dan dengan senang hati jika ia bisa melakukannya, apalagi untuk Dany, selalu sahabat yang selalu mendukungnya sampai saat ini. Masalahnya, ia sendiri tidak tahu harus memulainya dengan cara apa, di saat dirinya pun sedang trauma pada sebuah pernikahan. Lukanya dengan luka yang diderita Dany mungkin nyaris sama, yang menjadi pembeda adalah level keparahannya. Dany mungkin sudah sangat parah menderita trauma tersebut, tetapi Niana tetap tidak yakin apakah dirinya bisa membantu.
"Dany ... aku pun masih bingung pada apa yang kamu katakan tadi malam. Memangnya aku se-berharga apa sampai kamu begitu membelaku, dan karena apa?" gumam Niana disusul helaan napasnya. "Tak mungkin kamu menyukaiku, 'kan? Mungkin aku sama berharganya dengan kakakmu, bukan?"
"Ah! Kalau kamu sampai menyukaiku, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, Dany!" Niana mulai mengomel. "Aku ... tidak tahu. Aku menyukaimu dan menghormati dirimu sebagai teman yang sudah seperti saudaraku. Tapi soal cinta? Dan di keadaanku yang seperti ini ...? Aku pasti hanya akan menyakitimu, Dany. Aku tidak mau hubungan kita menjadi hancur, dan gara-gara aku."
Niana kembali menghela napasnya dan berangsur mengembuskannya kembali. Ia mencoba untuk menenangkan diri, sebelum memutuskan untuk melajukan mobilnya untuk meninggalkan kedai kopi tersebut. Memang rumit, keadaan sudah terlalu runyam. Meski klimaksnya sudah nyaris di depan mata, Niana justru beberapa kali sempat merasa tak percaya diri. Belum lagi ketika dirinya dilanda kelelahan.
"Sudahlah!" Setelah berkata demikian, Niana segera melajukan mobil kesayangannya itu. Cakrawala di ufuk barat membuatnya enggan untuk berada di sebuah halaman dari kedai kopi terlalu lama.
***
Sesaat setelah turun dari mobilnya ketika sampai di tempat tinggalnya, Niana justru dikejutkan oleh keberadaan seseorang. Si biang keladi dari berbagai masalah, tidak lain dan tidak bukan adalah Endri. Niana yang sudah lelah semakin terpuruk dan ingin sekali berteriak untuk mengusir sang suami. Namun keinginannya untuk membalas dendam masih belum redam, apalagi setelah sejauh ini dan ******* sudah hampir dekat, oleh sebab itu ia harus bertahan.
"Mas? Di sini?" ucap Niana basa-basi, meski hal itu tidak ia perlukan sama sekali. "Kenapa tidak bilang terlebih dahulu tadi. Kalau Mas mau datang aku tidak akan keluar."
__ADS_1
"Belum lama kok," sahut Endri sembari berjalan ke arah Niana. "Habis dari mana memangnya?"
"Hanya minum kopi saja."
"Dengan siapa?"
Kedua alis Niana saking bertaut. Rupanya Endri sudah mulai ingin tahu dan tampaknya ingin menentangnya jika ia ketahuan menemui Dany ataupun Dominic. "Dengan temanku."
"Dany?" Endri menghentikan langkah kakinya. "Kamu minum kopi bersamanya?"
"Tentu saja tidak. Aku masih ingat nasihatmu kemarin kok. Aku bertemu dengan temanku, seorang wanita. Tak perlu khawatir." Niana menghela napas. "Sekarang aku yang bertanya, ya? Bagaimana dengan istri mudamu? Apakah dia masih ngambek? Kenapa kamu sudah bisa datang kemari? Nanti kalau dia tahu, dia pasti bakal mengamuk. Kan kasihan anak kandung kamu."
Niana menelan saliva ketika ada sebuah desakan besar dari dalam dirinya yang memintanya untuk menghempas tangan kotor suaminya dari pipinya. Namun Niana justru menggenggam tangan Endri dan mempertahankan tangan Endri menyentuhnya. Itu semua demi menarik hati.
"Itu kenyataannya, Mas. Kamu sudah mendua, tapi kamu tampak cemburu ketika aku bersama pria lain. Bukankah itu sama sekali tidak adil?" ucap Niana menyindir.
Wajah Endri langsung berubah masam. "Maafkan aku. Aku sudah menyesali perbuatanku, Niana. Pada akhirnya aku kembali padamu, bukan?"
"Iya deh. Tapi tetap saja, aku juga merasa kesal karena kamu lebih banyak bersamanya, Mas. Aku kan juga istri kamu!" Niana berlagak mengomel.
__ADS_1
"Maaf." Endri berkata lalu memeluk tubuh istri pertamanya itu. "Maafkan aku karena tidak bisa menjadi suami yang sempurna untuk dirimu, dan bahkan aku tidak bisa bersikap adil. Maafkan aku, Niana."
Tanpa sepengetahuan Endri, mata Niana memiliki binar yang jauh lebih tajam. Untuk beberapa kali pun, rahang Niana mengeras, membuktikan bahwa dirinya sedang menahan kesal begitu keras. Endri yang begitu berani memeluknya di halaman depan rumah dan yang pasti akan membuat Nur dapat mengetahui, sungguh menguji kesabaran Niana. Dan jangan sampai Niana sampai lepas kendali.
Dan memang benar, saat ini Nur sedang melihat dari balik jendela. Ia pikir akan terjadi suatu pertengkaran, sehingga ia berjaga-jaga di sana. Namun yang ia lihat saat ini adalah sebuah pemandangan yang jauh berbeda dengan ekspektasinya. Nyonya kesayangannya tengah berpelukan dengan sang suami.
"Nyonya ...? Nyonya melakukannya dengan terpaksa, bukan? Jangan sampai Nyonya jatuh cinta lagi pada Tuan Endri. Nyonya ...." Nur bergumam dengan pelan, tetapi air matanya justru mengucur begitu cepat.
Nur tahu urusan Endri dan Niana bukanlah masalah yang perlu ia ikut campuri. Bahkan ia tidak ada kaitannya sama sekali, selain hanya sebagai seorang pembantu di rumah itu. Namun sungguh tak rela, hati Nur tidak bisa ikhlas jika Niana justru kembali pada tuannya. Menurutnya Niana terlalu baik bagi pria yang sudah berselingkuh. Niana pintar, mandiri, dermawan, tidak pernah membeda-bedakan orang, sekaligus baik itu. Daripada Endri, lebih baik, Niana bersama Dany saja!
"Aku harus menghentikan mereka!" ucap Nur dan di detik berikutnya, Nur langsung berlari untuk keluar.
"Nyonya Niana! Pesanan Nyonya sudah saya buatkan! Kue lapis legit! Enak banget!" seru Nur tanpa merasa bersalah. Ia bahkan menganggap keputusannya sudah benar.
Niana melongo, sementara Endri menghela napas. Dengan terpaksa Endri melepaskan pelukannya dari tubuh Niana, hatinya kesal karena kehadiran pembantu cerewet yang sangat mengganggu. Dan sebuah senyum manis lantas terulas di bibir Niana, ketika ia mendapatkan keringanan mata dari Nur. Rupanya Nur sedang membantunya.
Gadis pintar. Berkatnya, aku bisa melepaskan diri dari dekapan pria menggelikan ini, batin Niana sembari melangkahkan kakinya untuk menghampiri Nur. Akan lebih bagus jika Nur benar-benar membuat kue lapis legit untuknya.
***
__ADS_1