
Sementara itu, Niana hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Nur memang mengikuti perintah darinya, tetapi Nur mulai hilang kendali dan senekat itu. Gadis yang sungguh pemberani, tetapi juga ceroboh. Entah ia harus bersyukur atau harus tidak habis pikir. Namun yang pasti, Niana merasa haru karena Nur begitu memihak dirinya sampai senekat itu.
"Pecat saja dia, Mas! Dia sudah menghinaku! Aku tidak mau melihat mukanya di rumah ini lagi!" tuntut Lesy pada Endri.
Mata Endri terus menatap Nur yang justru sudah menitikkan air mata. "Mulai detik ini kamu saya pecat. Segera kemas semua barang-barangmu dan lekas pergi dari rumah in—"
"Kalau Nur sudah kamu pecat, maka aku yang akan merekrutnya sebagai asisten pribadiku di rumah ini, Mas. Kamu sudah tidak perlu membayar gaji Nur, dan tidak boleh memerintah Nur. Nona Lesy juga tidak boleh memerintah Nur sama sekali," sahut Niana. Ia berjalan dengan elegan menuju keberadaan ketiga orang itu. Dan ia mulai tersenyum. "Urusan kita kan sudah urusan masing-masing. Dan kesepakatan kita tetap berjalan, bukan? Aku bisa membujuk Dany menarik bantuan jika kamu tidak menepati janji, apalagi jika kamu sampai mengusir aku dari rumah ini."
Endri menggertakkan gigi. "Niana, apa ini yang kamu mau? Membuatku tunduk padamu? Lalu meminta Nur untuk tidak patuh padaku?"
"Tidak, Tuan!" Nur menyela. "Apa yang saya katakan adalah murni dari hati saya sendiri, karena saya sangat menyayangi Nyonya Niana. Nyonya Niana bahkan sudah menganggap saya sebagai adik beliau sendiri, jadi, sebagai seorang adik saya pun tidak terima jika Nyonya Niana harus Anda dan Mbak Lesy sakiti!"
"Tuh, kamu dengar sendiri pengakuan Nur, Mas. Itu artinya sikap kamu dan sikap Nona Lesy padaku memang sudah keterlaluan. Tapi, aku tidak terlalu mempermasalahkannya, bukan? Yang aku inginkan tetap sama, aku tidak ingin menyandang status sebagai janda dan aku tidak mau menyakiti keluarga besar kita. Saat ini aku sudah menepati janjiku dengan membujuk Dany dan Dany pun sudah berkenan. Tinggal kamu yang harus menepati janjimu, Mas. Jangan macam-macam padaku. Dan karena kamu sudah memecat Nur, mulai saat ini Nur sudah resmi menjadi pelayan pribadiku yang tidak boleh melayani kalian berdua tanpa seizinku. Kamu tidak boleh menentang ucapanku, Mas, karena aku masih memegang kelemahanmu. Dany bisa menghancurkan perusahaanmu jika kamu sampai menyulitkan diriku."
Endri maju, melangkah ke arah Niana meskipun Lesy bersikeras menarik tangannya. Ia menatap mata hampa milik Niana. Ia menggertakkan gigi sementara kedua telapak tangannya mengepal. Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan diri.
"Jujurlah padaku, Niana, sebenarnya hubungan kamu dengan Dany itu sebagai apa? Apa benar kalian hanya sebatas bersahabat saja? Mengapa dia begitu rela melakukan banyak hal untuk dirimu? Jangan-jangan kamu dan dia sudah berselingkuh sebelum aku berselingkuh dengan Lesy?" tanya Endri.
"Apa?" Niana melongo. "Pft ... hahaha!" Dan akhirnya tawanya muncul juga. "Jangan sembarang bicara, Suamiku! Mana mungkin aku menolak dicerai olehmu jika aku berselingkuh dengan Dany? Bukankah perceraian kita akan membuatku lebih leluasa untuk berhubungan dengan Dany jika memang aku dan dia benar-benar menjalin kisah asmara? Orang tuaku pun pasti akan senang memiliki menantu seperti dia. Dan tentu saja, aku pasti akan lebih memilih Dany yang jauh lebih baik daripada dirimu, jika kami memang saling mencintai. Namun nyatanya tidak begitu, bukan? Aku tidak mau diceraikan oleh kamu, Mas. Itu artinya aku lebih mencintaimu kamu, Mas Endri Sayang! Namun, pernikahan kita sudah tidak sama seperti dulu, jadi aku hanya mencoba melindungi diriku sendiri asalkan aku tetap menjadi istri sahmu dan bukan perebut laki orang."
__ADS_1
Jantung Lesy seperti dihantam batu besar setelah mendengar ucapan Niana.
"Benarkah ... kamu masih mencintai aku, Niana?" Endri memberikan respons yang tidak Niana sangka.
"Mas!" Lesy mulai cemas. "Kamu ini apa-apaan sih?! Dia itu jahat, Mas! Dia sudah berani melawan kamu lho! Masa' kamu bertanya soal rasa cintanya lagi? Kan sudah ada aku yang jauh lebih mencintai kamu, Mas!"
"Niana?" Endri masih memilih mengabaikan Lesy. Entah mengapa ia ingin memastikan hal perasaan Niana setelah ia salah menyangka. Mungkinkah ia bersikap demikian hanya karena kehadiran Dany?
Niana menghela napas. "Iyalah. Mana mungkin aku sudah tidak mencintai kamu dalam waktu yang singkat setelah kita berpacaran selama dua tahun dan menikah pun sudah dua tahun. Tapi, kan sebagian besar rasa cinta kamu sudah kamu berikan pada Nona Lesy, jadi, aku juga harus mengurangi rasa cintaku, dong!"
"Niana, aku—"
Ucapan Endri tidak selesai ketika Lesy mendadak mual dan nyaris muntah. Endri terpaksa mengabaikan Niana lagi demi membantu sang istri siri untuk menuju kamar mandi. Dan di dalam keadaan itu, Endri masih bingung dengan dirinya sendiri. Ia merasa tidak rela jika Niana disukai oleh Dany, tetapi di sisi lain, ia tidak bisa berbuat apa pun. Sekali lagi hal itu disebabkan oleh kesepakatan yang sudah ada, lalu keberadaan Lesy yang mengandung buah hatinya. Lagi pula, saat ini rasa cintanya pada Lesy jauh lebih besar daripada perasaannya pada Niana, bukan?
"Nyonya?" ucap Nur penuh kehati-hatian. "Apakah itu benar?"
Niana berangsur menatap Nur. Dahinya mengernyit karena merasa heran. "Mengenai apa, Nur?" Ia berjalan ke tempat di mana semangkok sop buntutnya berada.
"Mengenai hubungan Nyonya dengan Tuan Dany. Waktu di mal, beliau juga tak ragu untuk membayar semua gaun yang Nyonya beli, bahkan pakaian yang saya beli pun dibayarkan oleh Tuan Tampan itu."
__ADS_1
"Tuan Tampan? Haha, kamu naksir dia, Nur?"
"Ah, kalaupun saya naksir, saya tetap tidak bisa menggapai beliau, Nyonya," jawab Nur. "Lagi pula bisa jadi beliau suka pada Nyonya."
"Tidak, Nur," tandas Niana. "Dany memang orang yang sebaik itu kok. Tidak hanya padaku, tapi semua orang. Dan yang bersahabat dengannya bukan aku saja, ada tiga teman kami juga. Tidak ada yang spesial di dalam hubungan kami selain sebuah pertemanan."
"Hmm, begitu ya? Padahal, ... saya berharap kalian bersama hehehe."
"Halah! Kamu ini suka ngaco lho orangnya, Nur! Jangan terlalu nekat, pelan-pelan saja asalkan rapi. Nanti aku sampaikan salam kamu pada Dany, tenang saja, Nur."
Nur lantas tergelak. "Sungguh suatu kehormatan bagi saya, Nyonya. Meskipun salam dari saya bakalan mental! Beliau tampan sekali, apakah beliau seorang blasteran, Nyonya? Bola mata beliau berwarna cokelat seperti bola kelereng."
"Setahuku ada darah Chinese-nya dari pihak ayah, tapi meski begitu bola matanya memang spesial."
"Ooo ... tapi, mata beliau tidak sipit kok!"
"Berarti darah Indonesianya terlalu kental, Nur. Sudahlah jangan banyak bicara lagi. Lanjutkan memasaknya dan mari kita makan. Setelah ini kamu hanya perlu mendengar perintahku. Bersihkan rumah ini seperti biasanya. Bantu Lesy yang ringan-ringan saja. Aku memang membencinya, tapi aku tidak membenci anak di dalam kandungannya."
"Siap, Nyonya Niana!"
__ADS_1
Ya, memang seperti itu. Niana tidak membenci anak di dalam kandungan Lesy, dan hal tersebut membuatnya tidak leluasa dalam menghadapi Lesy. Oleh sebab itu, ia lebih ingin menyerang Endri. Dan ia masih bingung hal apa yang hendak ia lakukan pada Lesy tanpa membuat kandungan Lesy berada di dalam bahaya besar.
***