
"Nah, berarti sudah deal, 'kan? Nak Dany juga sudah percaya sama Ayah, 'kan? Nak Endri juga sudah bisa mulai tenang juga, 'kan?" Surya—ayah Niana—berkata demikian untuk memastikan bahwa sudah tidak ada lagi kekhawatiran di hati kedua pria yang dekat dengan putrinya itu, tentu setelah perbincangan mengenai rencana kerja sama sudah nyaris berakhir. Salah satunya pria itu adalah Dany yang memang sudah ia kenal sejak bertahun-tahun yang lalu, lebih tepatnya sejak Dany masih menjadi teman akrab Niana semasa masih berkuliah di universitas yang sama.
Dany yang selalu enggan memanggil 'ayah' pada Surya, kendati Surya kerap mencontohkan demikian, lantas tersenyum. Dan sejak kedatangannya ke rumah orang tua Niana tersebut, ia sudah memakai sebutan 'ayah' pada Surya, dan 'ibu' pada Rita—ibunda Niana. "Benar, Ayah. Kalau begini mungkin saya bisa merasa yakin untuk memberikan bantuan. Sebelumnya, bukannya tidak mau membantu, tapi karena kondisi perusahaan Pak Endri sedang gonjang-ganjing, tentu saja saya selaku CEO yang menjabat tidak bisa langsung membuat keputusan. Apalagi perusahaan kami bergerak di bidang yang berbeda, tapi untungnya saya masih memiliki keuangan sendiri, sehingga saya akan membantu dengan dana pribadi. Dan Ayah sudah bersedia menjadi jaminan," jelasnya setelah itu.
Endri masih terdiam. Ia merasa senang karena perusahaannya bisa diselamatkan. Namun sejak datang ke rumah mertuanya tersebut, hatinya sudah dilanda kecemasan sekaligus ketidaknyamanan. Pertama, mungkin karena perbincangannya dengan Niana yang terjadi di perjalanan beberapa saat lalu. Kedua disebabkan oleh sikap Dany yang begitu akrab bahkan terlihat lebih dekat dengan kedua mertuanya daripada dirinya yang masih menyandang status sebagai suami sah Niana.
Endri tahu jika Niana sudah menjalin persahabatan dengan Dany sejak lama, tetapi ia tidak pernah tahu apabila Dany sudah seakrab itu pada Surya dan Rita padahal mereka jarang sekali bertatap muka. Namun saat ini Endri tidak bisa berbuat banyak untuk sekadar menunjukkan statusnya yang lebih kuat pada Dany. Sebab ia menyadari bahwa saat ini pernikahannya dengan Niana hanyalah sebatas pernikahan kesepakatan saja, Niana sendiri akan memprotes jika ia sampai melakukan sesuatu yang kelewat batas. Saat ini, Endri benar-benar merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa bagi mereka, bahkan meski ia belum menceraikan Niana sama sekali. Dan ia harus bertahan serta tetap mengendalikan diri.
"Aku tidak tahu kalau kamu bakal memakai keuangan pribadi kamu untuk membantu Mas Endri, Dany. Aku merasa berhutang padamu. Terima kasih, ... Dany. Kamu adalah orang yang sangat baik." Niana tersenyum lalu menghela napas panjang sementara matanya mengerjap-ngerjap. Dengan perasaan tulus, ia mengucapkan kalimat terima kasih itu.
Niana pikir Dany akan memanfaatkan kedudukan sebagai CEO untuk membantunya mengelabui Endri, tetapi ternyata, Dany menggunakan dana pribadi yang pasti terpaksa Dany keluarkan demi masalah Niana. Mungkin Dany sudah memiliki pertimbangan sendiri. Lagi pula, memberikan bantuan pada perusahaan yang sudah di ujung tanduk pastinya tidak akan memberikan keuntungan, yang ada justru menjadi polemik di antara para petinggi perusahaan yang Dany pimpin sekarang. Dan mungkin hal tersebut sudah pria itu pikirkan. Namun Niana tetap merasa bersalah, ia hanya bisa berjanji bahwa setelah apa yang inginkan tercapai, ia akan membayar semua bantuan dari Dany, termasuk semua uang yang Dany keluarkan demi membantu misinya misinya.
"Hahaha! Bagaimana kamu bisa bersikap secanggung dan tampak tidak enak hati seperti itu, Niana?" sahut Dany begitu ceria. "Kita kan sudah sangat dekat sejak dulu. Ayah dan Ibu pun tahu jika kita sudah terlampau dekat, bukan? Jadi, apa yang aku keluarkan untuk membantu dirimu, maksudku membantu suamimu tentu untuk dirimu yang cukup berharga juga bagiku, Niana."
Surya tertawa kecil, pun Rita—istrinya—yang benar-benar tidak peka. Padahal ucapan Dany dimaksudkan untuk menyindir Endri, agar Endri lebih tahu diri dan sadar bahwa dirinya memang tidak berharga. Orang yang tak berharga sampai berani melakukan perselingkuhan bahkan menghamili sang selingkuhan, seharusnya Endri tahu betul bahwa dirinya sudah teramat kurang ajar. Permainan yang Dany lakukan tersebut seharusnya bisa memperburuk kondisi mental Endri, jika Endri memang masih memiliki rasa malu.
__ADS_1
Niana menyadari mengapa Dany menunjukkan sikap super akrab terhadap dirinya. Dan ia bukan wanita bodoh dalam masalah mengartikan ucapan dan sikap seseorang, terlepas dari kebodohannya dalam masalah cinta yang sampai dibohongi oleh suaminya. Setelah itu, ia menatap Endri yang sejak awal jarang sekali menunjukkan sebuah senyuman. Entah karena ucapannya di perjalanan beberapa saat lalu, atau karena ucapan Dany yang memang agak menusuk untuk orang yang mudah terbawa perasaan sampai Endri begitu murung. Meski Endri bukan orang yang peka, Niana tetap menyakini bahwa suaminya itu bisa saja tersinggung oleh ucapan sahabatnya.
"Sekali lagi terima kasih, Dany, aku dan suamiku sangat bersyukur atas bantuan yang kamu berikan. Kamu benar-benar sahabat yang keren!" ucap Niana tanpa beban.
Endri menghela napas, selebihnya menggertakkan giginya. Namun sampai saat ini ia masih memilih untuk diam. Mungkin sesekali ia berusaha untuk menunjukkan senyuman. Senyuman yang sangat kecut serta muncul karena suatu keterpaksaan. Ia masih tidak bisa bergerak secara leluasa karena masih harus menunduk hormat pada Dany yang berkenan membantu dirinya.
"Ibu do'akan supaya kamu cepat dapat istri, Nak Dany! Kamu sudah mulai menua lho. Masa' lelaki tampan, mapan, serta baik hati sepertimu tidak punya penggemar sama sekali sih? Sudah lama lho kita tidak bertemu, terakhir bertemu ketika Niana menikah dengan Nak Endri. Eh, datang-datang kok kamu masih tidak membawa istri? Kamu ini bagaimana sih? Kamu pasti pilih-pilih ya?" ucap Rita, yang bagi beberapa orang perkataannya memang terlampau pedas. Namun karena ia sudah mengetahui sifat Dany yang santai dan jarang tersinggung, ia tidak segan untuk memberikan desakan pada pria itu.
Dany tersenyum sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Meski tidak tersinggung, ia tetap merasa bingung. Karena tidak mungkin ia memberikan jawaban sesuai prinsip hidup yang sudah ia genggam. Prinsip mengenai hidup sendiri dan tidak akan pernah menikah. Pernyataan seperti itu pasti akan membuat kedua orang tua Niana merasa cemas, bukan?
"Eh?!" Meski Dany bercanda atau mungkin sengaja, Niana tetap terkejut. Jawaban dari Dany tak pernah ia sangka akan keluar dari mulut sahabatnya itu begitu saja. "Jangan sembarangan bicara kamu, Dan! Kamu kan selalu menganggap aku sebagai bocah kecil, bahkan meski usia kita hanya terpaut satu tahun!"
"Ada-ada saja kamu, Dan, Dan," sahut Surya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nak Endri bisa kalang kabut nanti."
Endri langsung menatap Surya. "Ti-tidak, Ayah." Ia tersenyum kecut, perasaannya semakin getir. Menurutnya, ucapan Dany bisa saja sebuah kenyataan meskipun bagi beberapa orang ucapan Dany terdengar seperti sebuah candaan, Lagi pula, mana ada persahabatan antara wanita dan pria? Pasti salah satunya dari mereka memiliki perasaan yang lebih dari sekadar kasih sayang pada teman, bukan?
__ADS_1
"Saya kan pemenangnya." Endri melanjutkan. "Saya yang akhirnya menikahi Niana." Matanya menatap tajam ke arah Surya.
Perkataan dan ekspresi Endri membuat semua orang terdiam. Mereka tertegun oleh keseriusan yang terpancar di mata pria itu. Sepertinya Endri menganggap ucapan Dany dengan begitu serius.
"Alah, Dany hanya bercanda saja, Nak Endri." Rita menimpali. "Anak itu memang tengil sejak dulu!"
"Ibu ini!" sahut Dany lalu tertawa. "Memangnya aku benar-benar setengil itu, ya?"
"Iya, semakin tengil kalau ada Nak Dominic. Hanya kalian berdua cowoknya yang sering main, tapi tengilnya minta ampun!" Surya tak ketinggalan.
Niana tersenyum. Perbincangan kembali menghangat, dan mereka melupakan keseriusan yang sempat terpancar di sorot mata Endri. Seolah ucapan Endri tidak penting untuk dibahas lebih dalam lagi. Dan hal itu membuat Endri cukup tersinggung. Ia benar-benar merasa tak berguna serta tidak dianggap oleh semua orang yang ada di ruang tamu tersebut. Apalagi ketika mereka justru sibuk membahas masa kuliah Niana dan Dany yang seharusnya tidak perlu diperbincangkan lagi.
Sesungguhnya, baik Surya maupun Rita sama sekali tidak bermaksud mengabaikan menantu mereka. Kehadiran Dany setelah sekian lama tak berkunjung sukses mengalihkan perhatian mereka. Seandainya Endri tak sungkan untuk nimbrung, tentu saja Endri tidak akan merasa diabaikan. Mereka sendiri tidak tahu mengapa Endri lebih banyak diam. Kalau merasa cemburu pada Dany, apakah hal itu tidak berlebihan? Lagi pula, Dany tidak melakukan suatu perbuatan yang merugikan dan tidak bersikap di luar batas kewajaran pada Niana. Surya dan Rita hanya tahu bahwa Endri merupakan orang yang kaku dan kerap canggung ketika sedang bertandang. Meskipun usia pernikahan Endri dan Niana sudah menginjak usia dua tahun sekalipun, Endri tetap tak bisa membaur.
Seandainya sifat Endri sehangat tingkah polah Dany, mungkin hubungan antara mertua dan menantu tak akan pernah canggung. Namun Surya dan Rita pun sadar betul bahwa setiap orang memiliki karakter masing-masing yang tidak boleh dibandingkan satu sama lain.
__ADS_1
***