First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 63-Menuju Klimaks


__ADS_3

Dengan segala konten dan postingan yang terus Arsyita unggah, setidaknya sosok Endri yang memang cukup tampan dilirik oleh sebagian pengikutnya. Namun karena Endri sudah menikah, tentu saja sosok Endri tak terlalu banyak diminati. Hanya saja, Arsyita dan juga Niana sudah merasa bersyukur ketika wajah Endri tentu tidak asing lagi bagi pengikut setia Arsyita. Kendati beberapa oknum netizen sempat menyangka bahwa Arsyita terlalu genit dan berlebihan ketika memposting suami orang lain.


Namun Arsyita tidak peduli. Menurutnya postingannya tidak terlalu berlebihan, dan wajar-wajar saja. Seperti saat dirinya mengunggah foto partner kerja lainnya dan ia tidak pernah menyentuh, atau bahkan sampai memeluk tubuh Endri, berfoto bersama saja jarang. Foto Endri yang ia unggah hanya sekadar foto biasa dan Endri yang tengah sendirian. Lagi pula, setelah rencananya untuk membantu Niana berhasil, barulah para oknum netizen julid itu akan mengetahui siapa sosok Endri yang sebenarnya. Dan Arsyita pun berkenan untuk membuat klarifikasi seandainya memang harus ia lakukan demi membersihkan namanya sendiri.


Hanya saja keadaan berbeda justru terjadi pada Endri dan Lesy. Lesy yang memang lebih menganggur setelah kehamilannya menjadi lebih aktif dalam bersosial media, sampai ia pun tahu bahwa Endri memiliki hubungan cukup dekat dengan seorang aktris yang begitu jelita. Lesy benar-benar tidak senang dengan kenyataan itu. Ia benci jika Endri dekat dengan wanita lain, dan bahkan yang jauh lebih cantik daripada dirinya. Lagi pula, bukankah Endri sudah punya istri dua? Jadi, kenapa seolah-olah masih ingin mencari yang ketiga? Yang pertama saja belum diceraikan! Bukankah itu sangat menyebalkan?!


"Mas! Pokoknya kalau aku sampai melihat artis tak tahu malu itu mengunggah fotomu lagi, aku benar-benar akan melabraknya!" ucap Lesy, meski suaminya masih sibuk menyantap sarapan pagi.


Endri menghela napas. Mendengar Lesy yang masih saja mengoceh, padahal sudah dijelaskan, bahwa apa yang dilakukan oleh Arsyita hanyalah bagian dari strategi markerting saja. Namun rupanya penjelasan Endri tampaknya sudah begitu sia-sia. Ia benar-benar akan malu jika Lesy sampai menggertak Arsyita, walaupun hanya melalui DM.


"Jangan berpikir macam-macam, Lesy. Apalagi sampai melakukan seperti apa yang kamu katakan barusan, aku benar-benar akan merasa malu. Perusahaanku pun akan kembali rugi! Kamu tidak ingin jika kita dan anak kita hidup miskin, bukan?" ucap Endri dengan suara yang datar, tetapi tatapan matanya begitu tegas dan macam. "Jadi, hentikan ocehan konyolmu dan rawat dirimu saja dengan baik! Kamu tidak lagi cantik dan menarik seperti dulu, jadi cukup tahu dirilah!"


Wajah Lesy langsung kebas. Memang benar jika belakangan ini Endri bersikap begitu dingin. Dan ia kerap mengalah, selama pria itu lebih sering menemaninya daripada mengunjungi Niana. Namun kali ini ucapan Endri sudah terlalu keterlaluan. Sayangnya, nyali Lesy menjadi ciut. Tubuhnya semakin lama memang sudah menunjukkan perubahan. Ada beberapa bagian tubuh yang memang terlibat lebih gendutan. Dan ia selalu ingat bahwa Niana sudah lebih cantik dan bersinar. Lebih sial lagi ketika ia dilarang diet oleh dokter kandungan.


Alhasil membuat Lesy harus menurut, sekaligus menuruti semua selera makannya yang semakin bertambah besar. Karena jika sampai tidak bisa mempertahankan bayi di dalam kandungannya, ia benar-benar akan ditinggalkan oleh Endri. Lesy tidak mau. Saat ini ia belum cukup cantik untuk merayu pria lain, dan ia tidak punya pekerjaan.


"Ma-maaf, Mas, aku hanya cemburu. Dan aku sedang sensitif. Baiklah jika hanya demi pekerjaan, aku akan berusaha untuk menahan perasaan ini," ucap Lesy.


Endri menghela napas. "Baguslah jika kamu sadar. Aku cuma tidak ingin kamu memikirkan hal yang tidak perlu, mengingat kondisi kehamilanmu yang sudah semakin membesar. Anak itu kan anak kita," sahutnya.


"Iya, Mas."

__ADS_1


Lesy menghela napas, sementara Endri langsung bangkit dari duduknya. Pria itu tetap tidak berkenan untuk melanjutkan sarapan kendati Lesy sudah mengalah. Dan ketika hendak menahan Endri pun, Lesy harus membatalkan niatnya tersebut. Ia takut disalahkan lagi. Biarkan saja terlebih dahulu. Ia bisa balas dendam setelah anak di dalam kandungannya telah lahir.


Ya, daripada terus-terusan merasa kesal di hadapan sang wanita hamil, Endri lebih baik segera berangkat bekerja. Gara-gara Lesy juga, Endri begitu sulit dalam menemui Niana. Kalau tidak mengeluh sakit, Lesy pasti merengek, dan beberapa kali memberikan ancaman memuakkan. Laki-laki mana yang akan terus bersabar jika menghadapi istri yang semakin hari semakin mengecewakan tersebut?


Pokoknya, malam ini, Endri harus bisa bersama Niana! Meski tidak harus melakukan apa pun, setidaknya ia bisa lebih tenang jika bersama sang istri pertama. Yah, pada akhirnya, yang pertama yang bisa memberikan banyak rezeki sekaligus ketenangan jiwa. Si istri kedua justru kerap merasa curiga dan lebih posesif, beruntung sampai saat ini Niana tidak memberikan gugatan perceraian.


***


"Sudah selesai, kekuatan hukumnya pun sangat kuat. Aku juga sudah mempersiapkan beberapa pengacara andal untukmu, Niana. Endri tidak akan bisa terkutik," ucap Dany sembari menaruh sebuah map yang berisi beberapa surat penting. "Kamu bisa memiliki rumah dan perusahaan Endri. Aku meminta rumah itu agar dijadikan sebagai harta gono-gini jadi Endri tidak berhak memintanya lagi, sementara perusahaan, mungkin kamu bisa mengembalikannya jika masih berkenan."


Niana menatap map tersebut sembari menelan saliva. Perasaannya campur-aduk. Ia tidak tahu perasaan apa yang lebih mendominasi hatinya saat ini. Namun yang ada di dalam benaknya saat ini adalah, sebuah ******* dari semua rencana yang sudah ia jalankan. Sejak ia meminta Endri untuk tidak menceraikannya, lalu dirinya yang bertemu Lesy dengan perasaan yang hancur lebur, sampai akhirnya ia langsung mengetahui apa yang salah pada dirinya.


Perjalanan dari misi Niana berlanjut ketika dirinyaa mulai mendominasi keadaan untuk membuat Lesy tak berkutik, pun juga Endri. Ia juga mulai mengubah seluruh penampilannya dengan menghabiskan waktu satu hari untuk mempelajari satu gaya bermake-up masa kini. Dan semakin hari dirinya menjadi lebih pandai lagi. Dengan kecantikan yang sudah ia miliki, termasuk juga pesona yang bisa ia tawarkan pada Endri, ia memikat Endri di dalam sebuah hotel, meskipun harus sampai mual dan muntah-muntah karena rasa jijiknya terhadap pria itu sudah begitu besar.


Niana tersenyum. "Kenapa? Kamu takut jika aku berubah pikiran?" godanya sedikit.


"Ya," jawab Dany dengan wajahnya yang begitu masam. "Tapi!" Tiba-tiba suaranya jauh lebih tegas. "Aku akan berusaha untuk menghentikanmu! Bagaimanapun caranya!"


"Jangan begitu, kalau kamu seantusias itu, kamu terlihat sekali jika kamu benar-benar menyukaiku, Dany."


"Hah?" Dany melongo, dan langsung salah tingkah sendiri. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ternyata Niana sudah peka. "Apa itu tidak boleh?"

__ADS_1


"Seharusnya tidak boleh, aku kan calon janda, kamu masih seorang perjaka. Tampan dan kaya." Niana menundukkan kepalanya. Ia menatap kedua telapak tangannya yang saling ia gosokkan satu sama lain. "Aku hanya akan menjadi beban bagimu, Dany, seperti saat ini."


"Jadi, aku sudah ditolak, bahkan sebelum aku menyatakan perasaanku dengan lebih gamblang ya?"


Niana menelan saliva. Ia menggeleng pelan kemudian berkata, "Aku takut menikah."


"Kamu tidak menjawab pertanyaanku barusan, jadi masih ada kemungkinan bagiku untuk berjuang, bukan? Aku pun juga takut menikah, Niana. Aku bisa menunggumu sampai kamu benar-benar sembuh, selama apa pun itu. Aku ini jomblo sejak lahir! Dan aku selalu sabar ketika tak memiliki pasangan, dari lahir sampai sekarang! Bahkan jika kamu sembuh di usia lima puluh tahun pun, aku akan tetap bersedia. Karena tidak ada wanita yang bisa membuatku merasakan hal ini, Niana. Tidak akan pernah ada, kecuali dirimu."


"Terima kasih, Dany." Niana lantas mengulas senyumannya. "Tapi, saat ini, selain masih takut untuk menikah, aku juga agak geli karena dicintai oleh teman sendiri. Kamu tahu, bukan? Kita sudah seperti kakak adik sejak lama, dan—"


"Dan kamu bisa mencintaiku ketika sudah waktunya, Niana!" sahut Dany. "Memangnya, kamu bakal tahan jika terus-terusan menatap wajah tampanku ini? Tidak, bukan? Aku tahu saat ini pun kamu sedang memuji ketampananmu secara diam-diam."


"Dasar! Narsis lagi! Tapi ya sudah, terserah kamu saja, Dany. Dan terima kasih karena sudah membuatkan berkas-berkas ini untukku. Malam ini, aku akan langsung melakukannya. Aku akan menjerat Endri, dan—"


Ketika Niana membahas soal Endri, Dany mendadak meletakkan sebuah botol obat di atas meja dan dekat dengan berkas tersebut. Mata Niana melebar ketika menatap botol tersebut, kemudian ia menatap Dany. Tanpa mengatakan perkataan apa pun, Dany pasti sudah mengerti apa yang Niana pikirkan saat ini.


"Selama satu minggu ini aku diam bukan karena aku sudah menyerah soal rencana lain," ucap Dany. Wajahnya mulai serius. "Melainkan karena aku terus berpikir dan mempertimbangkan setiap cara yang terlintas di dalam benakku. Obat itu hanyalah obat tidur, yang akan memberikan efek kantuk setengah jam setelah seseorang meminumnya. Rasa kantuk yang perlahan akan datang. Ketika Endri sudah mulai sangat lemas, pinta dia untuk menandatangani surat itu. Aku tidak mau menggunakan alkohol, karena akan terlihat lebih mencurigakan. Tugasmu hanya perlu memaksanya menandatangani saja."


"Tapi, bagaimana jika tanda tangannya tidak sesuai?" tanya Niana cemas.


"Sebelum rasa kantuknya tiba terlalu parah, paksa dia, Niana. Dan cegah dia ketika dia hendak membaca isi surat-surat itu. Obat itu tidak berbahaya kok, masukkan saja ke dalam minumannya."

__ADS_1


Napas Niana terasa tercekat. Ia menatap kembali kedua benda yang masih berada di atas meja. Dan bisakah ia melakukan ide Dany dengan keberhasilan yang mutlak? Dan bagaimana jika Endri justru tak terlalu terpengaruh dengan obat tersebut?


***


__ADS_2