
Dominic saat ini masih berada di rumahnya, tetapi sudah mempersiapkan dirinya untuk menemui Arsyita pada jam tujuh malam ini. Sebenarnya ia memiliki pertemuan lain dengan seseorang, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan Arsyita begitu saja. Apalagi jika pembahasan yang hendak Arsyita katakan adalah mengenai Dany. Dominic menjadi lebih penasaran lagi. Dan lagi, ia juga belum tentu bertemu dengan Arsyita lagi dalam waktu yang dekat. Kesibukannya dan kesibukan Arsyita memang sudah begitu banyak.
Dering ponsel membuat Dominic yang juga ingin meraih ponsel itu menjadi terkejut. Sebuah panggilan masuk dan ia pikir adalah dari Arsyita. Namun ternyata bukan, melainkan dari Dany, sahabatnya sekaligus adik dari wanita itu sendiri. Dahi Dominic berkerut samar. Dan di detik berikutnya, ia lantas menggeser tombol untuk menerima panggilan.
"Halo, Dan. Ada apa?" tanya Dominic langsung pada intinya. "Kalau mengajak bertemu, sorry, aku sedang tidak bisa."
"Memang mau ke mana? Ada pertemuan penting?" sahut Dany dari kejauhan.
"Mm, bisa penting bisa tidak. Tergantung topik yang hendak orang itu katakan padaku."
"Halah. Padahal aku pikir kamu tak sibuk. Lagi ingin main game, dan tak ada partner." Dany terdengar menghela napas.
"Sedang suntuk? Atau sedang galau? Biasanya kamu melampiaskan kejengkelanmu pada sebuah game. Tapi sorry, Dany. Aku akan agenda malam ini. Mungkin besok atau justru luas, baru bisa."
"Memang suntuk dan mungkin agak galau. Tapi ya sudah. Apa boleh buat jika aku tidak bisa mengganggumu, Brother. Kabari aku jika kamu punya waktu."
"Ya, tentu saja. Dan sekali lagi maafkan aku, Dany."
"Tak masalah, aku paham, Dom!"
Dany mematikan panggilan itu tanpa kata pamit sama sekali selain hanya jawaban singkat untuk permintaan maaf Dominic. Yang tentu saja membuat Dominic sedikit tidak enak hati. Dany kemungkinan besar memang sedang tidak baik-baik saja. Jika bukan Arsyita yang mengajak bertemu, mungkin Dominic akan menyempatkan waktu ke apartemen sahabatnya itu.
"Sudahlah, sudah jam segini. Aku harus berangkat," gumam Dominic. Detik berikutnya, ia langsung meraih kunci mobilnya. Ia segera bergegas dan keluar dari rumah itu demi menepati janjinya pada Arsyita.
__ADS_1
***
Endri dan Lesy sudah di pusat perbelanjaan. Perbelanjaan elite tentunya. Di mana tempat itu memiliki beberapa toko tas, pakaian, maupun sepatu dengan merek ternama. Endri sebenarnya masih enggan untuk merogoh kocek dalam, apalagi perusahaan masih dalam proses untuk pulih. Dany memang sudah memberikan dana investasi untuk salah satu proyeknya yang mangkrak. Namun Endri yang sudah pernah berada di ujung tanduk, kini merasa lebih sayang pada uangnya. Ia malah menyetujui cara hidup Niana yang begitu berhemat, Niana pun hanya membeli barang-barang yang memang penting pada saat itu.
"Mas, aku beli tas ya! Aku kan sudah lama tidak berbelanja?" ucap Lesy sembari mencengkeram salah satu lengan Endri. Ia menunjukkan binar mata yang penuh dengan harapan teramat besar. "Boleh ya, Mas? Aku melihat di salah web toko branded, bahwa ada tas keluaran baru. Boleh ya?"
Endri menghela napas. "Iya, boleh. Kamu boleh beli dua juga kok," jawabnya.
"Hah? Dua? Yang benar, Mas?! Termasuk pakaian, boleh?"
Dengan terpaksa, Endri menganggukkan kepala. "Boleh saja. Tapi, ada syaratnya."
"Mm? Syarat? Apa itu?"
"Aku akan mengatakan syaratnya belakangan. Kamu boleh berbelanja dulu. Tapi, pastikan kamu berjanji untuk mengikuti syarat yang aku berikan."
Lesy cukup penasaran. Dalam beberapa saat ia terdiam dan sedang menebak-nebak. Namun ketika tidak segera menemukan jawaban, Lesy langsung melupakan semua itu. Ia memilih untuk segera menyeret Endri ke salah satu toko tas branded yang sudah memikat perhatiannya sejak tadi.
Tidak ada pilihan lain bagi Endri, selain mengikuti keinginan sang istri. Ini semua demi rencananya sendiri. Keputusan yang ia pikir sudah cukup tepat dan bagus, meski ia harus mengeluarkan banyak uangnya demi sang istri kedua.
***
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan padaku, Kakak?" tanya Dominic pada Arsyita yang sudah ia temui di salah satu restoran ternama.
__ADS_1
Arsyita hanya berangsur menatapnya. Dalam beberapa detik wanita itu masih diam saja, selain sesekali menghela napas dalam-dalam. Sebenarnya ia cukup ragu untuk mengatakan masalah Dany pada Dominic. Ia khawatir jika Dominic menceritakan pertemuan sekaligus pembahasan saat ini pada Dany sudah saat nanti. Pastinya, Dany akan kecewa padanya karena pantas untuk dianggap ikut campur.
"Kakak?" Dominic berkata lagi. "Ada apa? Kakak bertengkar dengan Dany?"
Arsyita lantas menggelengkan kepala. "Tidak sih. Dia memang menyebalkan dan masih mendendam padaku. Hubungan kami belum ada progres apa pun. Tapi, Dom, ... aku semakin mencemaskan dia." Ia pun memutuskan untuk berbicara saja. Sebab sudah terlanjur datang dan mengundang sang produser profesional. "Dia masih fobia soal urusan cinta. Dia masih enggan untuk menjalin hubungan dengan wanita mana pun."
Dominic menelan saliva. "Iya, Kak. Aku tahu soal itu. Dan meski aku juga belum menikah, setidaknya aku masih menyukai seorang wanita. Tidak dengan Dany. Luka batinnya sudah terlalu parah."
"Tapi, Dom. Apa ... kamu mengenal seorang wanita, mm, kalau tidak salah namanya adalah Niana. Apa kamu juga mengenalnya? Aku sempat melihatmu di restoran itu, saat kamu bertemu dengan Dany dan dua orang wanita lainnya. Setelah kamu dan si wanita satunya pulang, Dany masih di sana bersama wanita bernama Niana."
Hah? Apa ini? Kenapa tiba-tiba Niana? Batin Dominic. Dan sungguh, ia memang cukup tercengang dengan pertanyaan Arsyita. Mengapa Arsyita sampai mengetahui nama Niana? Bahkan meski sempat melihat sosok Niana di reuni kecil itu, tak mungkin Arsyita sampai mengetahui nama.
"Di-dia teman kami sejak kami masih berkuliah di universitas yang sama, Kak. Me-memangnya ada apa?" Dominic ingin memastikan.
"Aku hanya curiga kalau Dany sedang menyukai wanita itu. Aku tahu wanita itu sudah menikah. Tapi, melihat dia yang bersama Dany tanpa ditemani sang suami, justru membuat semakin curiga karena dia memiliki sedikit atau banyak dengan sang suami. Yah, aku hanya ingin tahu saja sih dan ternyata teman lama kalian ya?" sahut Arsyita.
"A-apa maksud Kakak, Dany menyukai wanita itu?" Dominic mulai panas dingin, tetapi ia tidak mengerti mengapa dirinya bisa bereaksi sedemikian rupa.
"Mm, entah. Hanya firasatku saja." Arsyita tersenyum lebar. "Apa kamu tahu di mana Niana tinggal dan bekerja? Mm, umurnya? Keluarganya?"
"Tahu, tapi kenapa Kakak juga seolah ingin tahu? Dia kan sudah menikah!"
"Sebenarnya, aku mengundangmu ke sini karena ingin bertanya soal Niana, alih-alih Dany. Jadi, jawab saja, Dom!"
__ADS_1
Dominic menelan saliva dengan susah-payah. Sukar baginya untuk memikirkan niat di balik sikap Arsyita yang sebegitu ingin tahu tentang sosok Niana. Kalau hanya karena dugaan sementara bahwa Dany terpikat oleh Niana, bukankah sikap Arsyita sudah terlalu berlebihan? Terlebih lagi, ketika Niana sudah menikah. Apa yang sebenarnya, Arsyita rencanakan?
***