
"Nur!" ucap Niana memanggil Nur yang masih sibuk memasak di dapur. Ketika gadis itu sudah menatapnya, ia berjalan ke area dalam tempat tersebut.
Nur segera mematikan kompor setelah mengangkat pisang goreng yang memang sudah matang. Detik berikutnya, ia berjalan untuk menghampiri Niana. Nur melihat wajah Niana yang tengah memasang ekspresi datar, tetapi cenderung sendu. Ia rasa nyonyanya itu masih saja tertekan oleh tingkah laku sangat suami. Apalagi belakangan ini, Endri hanya datang paling lama tiga jam, kemudian bergegas untuk kembali ke apartemen demi sang istri kedua.
"Nyonya Niana, kok sudah pulang? Ada masalah lagi? Apa Tuan Endri membuat Nyonya tertekan lagi?" tanya Nur dengan cemas.
"Mm?" Dahi Niana lantas berkerut samar. "Apa wajahku terlihat semasam itu, sampai kamu begitu mencemaskan aku, Nur?"
Nur langsung mengangguk mantap. "Benar, Nyonya. Saya sangat cemas pada Nyonya yang semakin kurus saja. Belakangan ini, Nyonya juga tidak makan dengan baik. Selain sayang pada badan Nyonya sendiri, Nyonya Niana harus sayang pada makanan yang terbuang dong! Kan sekarang kita hanya tinggal berdua saja, Nyonya!"
"Aih!" Niana menyentil dahi Nur. "Gadis ini sudah pintar mengomel ya?"
"Mau bagaimana lagi, Nyonya benar-benar kelihatan kurusan kok! Saya tidak berbohong!"
"Tak masalah, biar terlihat seperti artis Korea, Nur. Mereka juga langsing-langsing dan bertubuh indah."
"Jangan dong, Nyonya! Bagusan juga montok! Hehehe."
Niana hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat Nur yang memiliki banyak sekali ungkapan unik. Detik berikutnya, ia berangsur untuk duduk di salah satu kursi yang tersaji di dapur tersebut. Ia menghela napas. Dan mulai memikirkan dirinya belakangan ini, tampaknya, pola makannya memang sudah berantakan. Namun Niana tidak tahu pasti apa yang menyebabkan selera makannya menurun. Padahal ia sudah menggenggam senjata paling mematikan untuk membuat Endri hancur lebur!
Dengan cepat, Nur mengambil sebuah piring dari rak. Setelah itu ia meletakkan lima buah pisang goreng yang sudah ia tiriskan. Setelah hidangan itu siap, Nur bergerak untuk mengambil cangkir. Ia meletakkan teh kantong dan gula ke dalam cangkir tersebut, dan tak lupa air panas.
"Nyonya, teh dan camilannya dulu," ucap Nur sembari meletakkan kedua hidangan itu di meja yang berada di hadapan Niana.
Niana mengangguk. "Terima kasih, Nur. Dan duduklah, ada yang ingin aku bicarakan padamu," jawabnya.
"Baik, Nyonya." Nur mengambil sikap duduk di kursi tanpa sandaran. Ia sudah mempersiapkan dirinya untuk mendengarkan setiap ucapan Niana.
__ADS_1
"Nanti malam, tolong pergilah terlebih dahulu. Aku sudah memesan satu kamar hotel untukmu. Sebenarnya aku ingin memintamu untuk ke rumah ayah ibuku, tapi aku tidak ingin mereka memberikan banyak pertanyaan untukmu. Ada yang ingin aku lakukan di sini," ungkap Niana lalu ia menghela napas cukup panjang. "Seseorang akan menjemputmu di jam empat sore nanti. Itu artinya setengah jam lagi. Bersiap-siaplah, Nur. Tak perlu membawa banyak barang, bawa saja yang menurutmu penting, Nur."
Rasa penasaran lantas menyelimuti hati Nur. Ia betul-betul ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh Niana, dan kalau bisa, ia ingin turut membantu Niana. Namun saat ini keadaan sedang serius, ia tidak bisa merusak mood Niana yang sudah tampak suram. Pada akhirnya, Nur hanya bisa mengangguk setuju. Yah, apa pun yang akan dilakukan oleh Niana, ia berharap agar sang nyonya bisa berhasil dan tetap aman.
***
Nur sudah dibawa oleh Brian yang sudah ditugaskan oleh Dany untuk membawa asisten rumah tangga yang manis itu. Dan sekarang, Niana sedang mempersiapkan dirinya. Gaun tidur pendek tengah membalut dirinya. Namun ia tidak berniat untuk memoles wajahnya dengan make-up apa pun, selain krim pencerah wajah saja. Ia pun sudah meminta Endri, agar Endri datang di jam delapan malam saja, serta meminta Endri untuk menenangkan Lesy terlebih dahulu, sekalipun harus menggunakan sebuah kebohongan.
Saat ini, Niana sedang menyisir rambutnya dengan gerakan yang sangat pelan. Matanya terus menatap pantulan wajahnya di cermin rias. Tak ada senyuman, tidak ada keraguan. Segala kegugupan sudah ia tepis sejak sebelum malam menjelang. Saat ini waktunya memupuk yang namanya keyakinan sekaligus keberanian. Ia harus yakin, karena ia tidak mau mengecewakan Dany serta Arsyita yang sudah sangat membantu dirinya.
Bel pintu pun berbunyi. Dan pasti Endri sudah datang. Padahal masih jam delapan malam. Entah karena sudah tidak sabar, atau mumpung Lesy bisa dikelabui. Namun apa pun itu, Niana tidak langsung berdiri dari duduknya. Pria itu sudah tidak menepati janji, malah mendahului sebuah janji. Bukan tidak senang sebuah kedisiplinan, tetapi ia tidak senang ketika perkataan yang sudah ia tekankan justru diingkari.
Namun lima menit setelah membuat Endri menunggu di luar, Niana akhirnya memutuskan untuk segera bangkit saja. Ia tidak mau membuat Endri kesal saat dirinya membutuhkan hal terpenting dari pria itu. Sebelum Niana mengambil langkah, ponsel Niana berdering keras. Ia pikir adalah Endri, tetapi justru bukan, melainkan malah Dany.
"Kenapa dia menghubungiku?" gumam Niana.
Dan karena khawatir ada sesuatu yang penting, Niana langsung meraih ponselnya dari atas meja cermin. Detik berikutnya, ia menerima panggilan dari sahabat sekaligus pria yang belakangan ini ia ketahui sudah mulai menyukainya.
"Aku tahu, Niana. Aku hanya ingin bilang, jangan menyerahkan dirimu lagi padanya. Aku berada tak jauh dari rumahmu, aku pun sudah melihat Endri memasuki pekarangan rumah kalian. Tolong, keluarlah jika kamu berhasil nantinya. Ah ... baiklah, aku hanya ingin berbicara demikian, jangan cemas, aku di sini, menjagamu, Niana," jelas Dany.
Panggilan itu akhirnya terputus begitu saja. Niana benar-benar tidak menyangka jika Dany pun harus sampai mengintai di sekitar rumahnya. Membuat Niana ingin menitikkan air mata haru detik itu juga, sebab ia tidak pernah diperlakukan dan dijaga dengan sedemikian rupa oleh suaminya sendiri.
Setelah berusaha untuk tidak sampai menangis dan akhirnya berhasil, Niana segera mengambil sikapnya. Ia berjalan dengan agak cepat agar tidak membuat Endri kesal. Niana sendiri tidak tahu mengapa Endri tidak langsung masuk, padahal pria itu sepertinya masih memegang salah satu kunci rumah.
"Mas?" Niana berucap memanggil suaminya yang tampak sibuk bermain ponsel. Namun menurutnya, Endri hendak menghubunginya saat ini.
Endri yang sudah menatap Niana refleks menelan saliva. Matanya melebar, bahkan juga rahangnya. Penampilan istrinya cukup simpel, tetapi tampak lebih menggoda.
__ADS_1
"Niana, kamu ke mana saja?" tanya Endri.
"Maaf, Mas, aku tadi sibuk mendengarkan musik karena aku pikir kamu akan datang jam delapan malam. Dan ketika menyadari kamu sudah tiba, aku langsung datang ke mari. Maafkan aku, Mas," jelas Niana lalu tersenyum manis. "Ayo masuk, Mas. Makan malam dariku sudah siap."
"Tampaknya kita tidak perlu makan malam, Niana."
Niana menelan saliva. "Ya, setidaknya kita harus minum teh terlebih dahulu, Mas."
"Hmm ... boleh saja. Agar lebih rileks, lagi pula hari ini aku juga cukup lelah."
"Satu lagi, Mas."
"Apa, Sayang?"
"Aku memiliki sebuah peraturan. Jangan pernah menyentuhku sebelum aku memulainya, karena malam ini aku ingin menyentuhmu lebih dulu, Mas."
Endri menyeringai. "Menarik!"
"Masuklah, Mas, kita mulai permainan kita sekarang juga. Dimulai dari minum teh, dan menahan diri."
"Baiklah, Nyonya, dengan senang hati. Aku tidak akan kalah!"
"Dan tidak boleh mengantuk! Karena permainan ini akan seru!"
"Siapa takut, Nyonya!"
Waaah! Endri merasa tertantang. Ia tidak pernah melihat Niana senakal ini, apalagi sampai membuat sebuah permainan. Jika Niana pun ingin memulai menyentuhnya terlebih dahulu, pastinya akan menyenangkan. Nantinya ia pun juga akan mengalahkan Niana dengan pertahanan dirinya dari desakan hasrat ataupun kantuk yang luar biasa, setelah menang, tentu saja ia akan menghukum Niana dengan sesuatu yang sangat menyenangkan!
__ADS_1
Mata Niana berubah tajam, wajahnya berekspresi penuh kebencian, sementara ia terus menatap sosok Endri yang sedang berjalan di hadapannya saat ini. Pria itu akan segera ia habisi!
***