
Sebelum Niana mengungkap isi berkas tersebut, Niana lebih dulu menceritakan tentang rencananya yang lain. Ia sudah mengumpulkan kedua belah pihak keluarga, dengan membawa sejumlah bukti perselingkuhan Endri dan Lesy. Dan tentu saja kedua orang tuanya, serta kedua mertuanya langsung terkejut, bahkan Indri sampai menangis meminta maaf padanya.
"Ibu dan Ayah Mertua, serta Indri, dan ibu serta ayah saya, kalian semua tidak bersalah. Saya memang memutuskan untuk menyembunyikan kenyataan ini selama dua bulan, karena kalian pasti akan menangis dan merasa bersalah. Tapi, tampaknya saya sudah sangat lelah, kehamilan wanita itu juga semakin membesar. Saya tidak mau terus-terusan berada di tengah-tengah para pengkhianat itu. Meski saat ini terdengar mengejutkan serta bikin sakit hati, saya yakin, Ayah dan Ibu Mertua, tentu sekaligus Indri bisa segera berbahagia ketika anak mereka lahir," ucap Niana pada semua pihak keluarganya di pertemuan yang ia gelar tadi malam.
"Saya yang akan menanggung rasa traumanya, dan Ayah serta Ibu saya, tidak boleh bersedih terlalu lama juga. Saya yakin ada banyak pria yang bersedia untuk meminang saya nantinya. Semua ini akan terlalui dengan baik, meskipun rasa sakitnya masih akan terasa." Niana menghela napas. Detik berikutnya, ia duduk bersimpuh di hadapan keluarga Endri. "Sebelumnya saya mohon maaf karena nyaris merusak pesta pernikahan Indri."
"Kak Niana, bangunlah." Indri mencoba membujuk Niana untuk duduk di kursi lagi. "Kakak, tidak apa-apa. Kami pasti paham kok."
"Nak Niana." Lastri—ibu mertua Niana—menyebut nama sang menantunya disertai deraian air mata.
Pun pada Rita dan Surya yang benar-benar hancur setelah mengetahui kenyataan buruk di pernikahan putri mereka satu-satunya. Rita sampai menangis menyalahkan dirinya sendiri yang sudah membujuk Niana untuk segera memberikan cucu.
"Anakku, anakku yang malang," ronta Rita sambil mengelus bagian jantungnya, sementara Surya terus memeluknya.
"Apa yang akan kamu lakukan, Nak? Apa kamu ingin bercerai darinya?" tambah ayah mertua Niana.
Niana menelan saliva dan terus duduk bersimpuh di hadapan mereka. "Saya ingin bercerai. Namun ... ada sesuatu yang harus saya lakukan. Sebenarnya, saya ingin menuntut Endri atas kasus perzinahan. Kehamilan istri sirinya pasti bisa menjadi bukti, apalagi mereka tidak memiliki dokumen pernikahan. Namun saya tak sampai hati, selain karena istri siri Endri sedang hamil, pasti Ayah dan Ibu Mertua serta Indri akan bersedih hati. Oleh sebab itu, Ayah, Ibu, izinkan saya ... izinkan saya untuk menghukum mereka. Setelah ini, saya akan benar-benar menghilang dari mereka. Untuk terakhir kalinya, agar saya dan kedua orang tua saya yang merasa paling tersakiti dalam keadaan kali ini bisa mendapatkan sedikit kelegaan. Barang kali, Endri pun bisa berubah nantinya, agar tak lagi berselingkuh dari istri yang dia pilih."
"Lakukanlah saja, lakukan apa pun yang kamu mau, Niana." Bahrudin—ayah mertua Niana—lantas bangkit dari duduknya. Ia berjongkok di hadapan Niana dan berangsur mengusap air mata di pipi menantunya itu. "Jika hal itu memang perlu kamu lakukan, lakukanlah, Nak. Kami akan berusaha untuk baik-baik saja. Maafkan kami, kami telah membesarkan anak yang begitu buruk, maafkan kami karena telah membuatmu tersakiti, juga kedua orang tuamu."
Niat hati tidak ingin menangis dan mencoba untuk kuat, nyatanya Niana justru sampai menangis sesenggukan. Ia sampai memukul-mukul dadanya. Sungguh sedih karena harus berpisah dengan kedua mertuanya yang super baik! Bahkan Bahrudin sampai meminta maaf dengan begitu bijak dan mengizinkannya untuk memberikan hukuman terhadap Endri yang sudah jahat, bahkan meski ayah mertuanya itu akan turut malu.
Demikianlah kejadian tadi malam yang berlangsung begitu mengharukan. Bahkan Niana masih sempat menitikkan air matanya ketika menceritakan hal itu pada Endri. Masih terdapat sejumlah perasaan heran di dalam hati Niana. Bagaimana bisa Endri menjadi pria yang laknat, padahal tumbuh di keluarga yang betul-betul bijak? Siapa yang mempengaruhi Endri? Apakah ketika berpacaran selama dua tahun pun, Endri juga sudah bermain mata dengan wanita lain?
"Ja-jadi ...." Endri buka suara ketika wajahnya masih begitu kebas. "Jadi, ini yang kamu rencanakan selama ini? Menghancurkan aku, di saat aku kembali tergila-gila padamu, hah?!"
Niana mengusap sisa air mata di pelupuk matanya dengan gerakan tangan yang amat kasar. Lalu ia berusaha untuk tersenyum lebar. "Iya, memang benar. Aku semakin cantik, setelah kamu berselingkuh, bukan? Haha! Tapi, Mas, tidak hanya itu saja lho! Ada hal lain lagi! Hehe!"
"Niana!" Endri membentak. Dan ketika hendak menghampiri Niana, ia dihadang oleh salah satu pengacara.
__ADS_1
Salah satu pengacara yang khusus ditugaskan oleh Dany untuk menjaga Niana dari serangan apa pun yang bisa saja Endri lakukan.
"Tahan diri Anda dan jangan menyentuh klien kami, Pak Endri!" tegas pengacara yang bernama Hasan tersebut. "Kami tidak hanya akan menuntut Anda, tetapi juga mengusir Anda dari tempat ini sekarang juga!"
"A-apa katamu?!" Endri menepis tangan Hasan yang begitu kuat mencengkeram lengannya. Namun sayang niatnya gagal, ketika tangan Hasan justru mencengkeram semakin kuat. "Lepaskan aku, Sialan! Memangnya kamu siapa sampai berani mengusirku dari perusahaanku sendiri, hah?!"
"Tolong tunjukkan," ucap Niana pada sang pengacara lain yang berada di belakang Hasan.
"Pak Endri, surat-surat ini sudah menjelaskan bahwa perusahaan dan rumah yang menjadi tempat tinggal Anda bersama Nyonya Niana selama dua tahun pernikahan, sudah sepenuhnya berada di tangan Nyonya Niana," ucap pengacara tersebut.
"A-apa?!" Endri mulai keringat dingin, matanya membelalak bagai mata ikan lohan. Detik berikutnya, ia lantas merampas map dari tangan sang pengacara kedua. Ia membaca seluruh isi kedua surat, dan menemukan tanda tangan serta cap sidik jarinya. "Jangan-jangan ... malam itu yang aku tandatangani adalah berkas-berkas ini?"
"Benar, Mas, kamu sudah menandatangani berkas-berkas itu dengan penuh keikhlasan. Sehingga tanda tanganmu begitu rapih!" ucap Niana.
Endri lantas menatap Niana dan mengumpat kasar sampai berkali-kali. Ia bahkan membuang berkas tersebut dan menginjak-injak benda itu dengan cara melompat-lompat di atasnya sampai berkali-kali.
"Kamu sudah gila ya? Kamu pikir itu dokumen yang asli?" Niana tertawa lagi. "Tentu saja bukan, Bodoh! Aku juga tidak segila itu! Kenapa? Kaget ya?"
"Lho, lho, tidak sah bagaimana? Memangnya kamu punya bukti? Kamu sendiri yang—"
"Kamu pasti memasukkan sesuatu ke dalam minumanku, aku yakin soal itu!"
"Buktikan dulu, Mas! Kalau perlu, silakan melakukan visum. Ah, visum? Kalau kamu merasa ada yang aneh, kenapa waktu itu kamu tidak segera memutuskan untuk visum? Itu artinya, aku tidak melakukan apa pun, bukan?" Baiklah, sekarang Niana sudah muak. Ia meminta berkas lain dari pengacara kedua. "Aku tidak sejahat itu kok, Mas. Tanda tangani surat perceraian kita dulu, dan aku akan mengembalikan perusahaanmu."
"Tidak mau! Memangnya aku gila?! Aku tidak akan tertipu berkali-kali oleh wanita ular sepertimu, Niana!"
Niana menarik berkas itu lagi dan berkata, "Ya sudah kalau tidak mau, sekarang kamu angkut saja semua barangmu. Karena secara hukum perusahaan ini sudah menjadi milikku."
"Aku akan menuntutmu, Niana! Tunggu saja!"
__ADS_1
"Oh, silakan saja. Memangnya kamu punya uang berapa untuk menyewa pengacara yang akan melawan kesepuluh pengacaraku? Kamu pikir hanya beliau-beliau ini saja yang akan membelaku, Mas? Tentu saja tidak. Aku punya backingan yang kuat, selain itu, uang yang aku kumpulkan selama dua tahun sangatlah banyak. Berbeda dengan kamu yang rumah pun sudah tidak punya, karena rumah itu juga sudah terjual." Mengenai rumah, Niana hanya berbohong. "Ayah dan ibumu pun sudah lepas tangan, karena mereka justru mendukungku untuk memberikan hukuman untukmu, Mas. Dan lagi, kamu memiliki tanggungan istri selingkuhan yang sedang hamil lho!"
Endri merasa tertekan sekaligus terdesak. Ia sudah terjebak. Karena terlalu bodoh, ia sampai jatuh di dalam perangkap Niana. Wanita itu sangat jahat rupanya, padahal saat ini Endri benar-benar mencintai wanita itu. Namun mengapa Niana begitu tega? Mengapa Niana membalas perselingkuhannya dengan sekeji ini?
Lemas tubuh Endri, yang lantas membuatnya terduduk lesu dan tak berdaya. Tanpa suara, ia menderaikan air matanya. Namun tak berselang lama, ia memohon-mohon agar Niana memaafkan segala kesalahannya.
"Aku benar-benar mencintaimu, Niana. Kumohon sudahi semua ini dan mari kita jalani dari awal. Aku berjanji akan menceraikan Lesy, kumohon, Niana." Begitulah kiranya Endri mengungkapkan permohonannya.
"Terlambat, aku sudah hancur. Perasaanku benar-benar hancur. Aku tidak percaya padamu lagi, Endri Satya Nugraha. Pria yang aku nikahi selama dua tahun, pria yang aku kenal selama hampir lima tahun. Yang aku pikir akan menjadi sosok suami yang bijak dan baik, sampai aku mengorbankan segala keinginanku hanya demi membantumu membangun perusahaanmu. Menabung untuk masa depan, ketika kita sudah punya anak nantinya. Tapi, konyolnya, kamu justru membuatku seperti ini. Saat ini yang membuatku lebih hancur adalah ketika kedua orang tua bijakmu justru membelaku, mereka sangat baik. Aku heran kenapa mereka justru memiliki anak seburuk dirimu," ucap Niana. "Tanda tangani saja surat perceraian kita, Endri. Cepatlah!"
Niana menjatuhkan surat gugatan perceraian itu beserta sebuah bolpoin di hadapan Endri yang masih bersimpuh. Dengan tangan bergetar, Endri terpaksa meraihnya. Ragu dan penuh penyesalan, Endri menorehkan tanda tangannya.
Perasaan Niana mulai lega setelah akhirnya ia bisa bercerai dengan Endri. Tinggal mengurus beberapa sidang saja nantinya, dan akan lebih cepat, jika ia tidak pernah datang sama sekali. Hasan pun segera mengamankan surat perceraian itu, sebelum Endri berbuat nekat dengan merobek benda tersebut.
"Sekarang setidaknya tepati ucapanmu untuk mengembalikan perusahaanku, Niana, aku ... akan mengikhlaskan rumah itu untukmu," ucap Endri yang sudah seperti tak bernyawa.
"Cih! Mengikhlaskan? Kenapa kamu bertindak seperti bukan penjahatnya, Endri?" Niana tertawa kecil. "Tapi sayang sekali, Endri. Aku tidak pernah mengatakan bahwa persyaratanku hanya satu, bukan? Sebab ada hal lain lagi yang harus kamu dan Lesy lakukan. Buatlah sebuah pengakuan, Endri. Buatlah klarifikasi bersama istri selingkuhanmu itu di sebuah rekaman video dan kirimkan ke akun gosip yang terkenal di sosial media. Maka aku bersumpah! Akan mengembalikan perusahaanmu lagi setelah kamu melakukannya! Sekarang ... pergilah, dan tenangkan dirimu terlebih dahulu. Bujuk Lesy untuk melakukan syarat terakhir dariku. Tenang saja, sampai kamu siap, aku akan menjaga perusahaan ini dengan sangat baik!"
"Kamu ... kamu wanita yang sangat jahat, Niana! Benar-benar jahat!" Endri menatap Niana dengan mata yang tajam, penuh dengan kebencian, tetapi juga rasa sayang dan penyesalan.
"Ya, bodoh sekali karena kamu tidak mengenali siapa aku terlebih dahulu, sebelum berbuat curang, Mantan Suamiku Tersayang!"
Niana mengangguk pada Hasan yang sudah menatapnya, meminta salah satu pengacaranya itu untuk segera menyeret Endri. Ia benar-benar akan berterima kasih pada Hasan nantinya, karena Hasan bersedia membantunya bukan hanya sebagai pengacara saja, melainkan juga seorang bodyguard. Dan termasuk pengacara-pengacara lain tentunya.
Ketika Endri terus berteriak dan meronta, Niana berangsur duduk di singgasana yang selalu Endri duduki.
Tak berselang lama, terdengar tepuk tangan dari seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu. Melainkan Dany yang sudah sejak awal menyaksikan apa yang terjadi di balik pintu ruangan yang memang tidak tertutup rapat. Kemunculan Dany membuat para pengacara lantas keluar dari ruangan tersebut.
"Kemarilah, Niana! Tenangkan dirimu di sini, di pelukanku," ucap Dany.
__ADS_1
Niana menelan saliva. Ia memastikan pintu ruangan itu sudah ditutup rapat. Dan hanya berkisar beberapa detik saja, ia memutuskan untuk bangkit. Ia menghambur ke arah Dany yang sudah merentangkan tangan untuk dirinya. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan pria bernetra cokelat tersebut.
***