
Malam ini, Niana tengah menyesap kopi yang dihidangkan oleh salah satu sahabatnya. Keisya, sahabat yang kerap melancong ke luar negeri tersebut saat ini sedang berada di hadapannya. Keisya langsung memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah sempat berada di Prancis ketika pengakuan Endri menjadi viral di sosial media. Keisya juga telah dihubungi oleh Rubel pada saat itu.
"Apa Dom masih terus ingin bertemu denganmu, Niana? Juga, Dany?" ucap Keisya.
Niana menganggukkan kepala. "Iya, mereka terus mengirimiku pesan, Kei. Terutama Dany, kamu juga sudah tahu jika dia menyukaiku, bukan? Oleh sebab itu aku lebih sering mematikan ponselku, dan aku lebih sering menggunakan ponsel baruku agar tetap bisa menghubungi kedua orang tuaku. Aku merasa bersalah, tapi aku juga belum siap. Terima kasih karena kamu bersedia untuk meminjamkan apartemenmu di Pulau Bali ini selama hampir satu bulan ini, setelah aku bingung mau ke mana lagi sejak memutuskan kembali dari Jepang. Dan kamu bahkan bersedia untuk menyembunyikan keberadaanku dari semua orang."
Keisya tersenyum. "Sama-sama, Niana. Kita kan berteman sejak lama. Lagi pula, setelah kamu tinggal di sini, aku seperti memiliki seorang asisten. Kamu begitu tanggap ketika aku meminta bantuan. Tapi, Niana, Dany bisa saja melacak keberadaanmu secepatnya. Apalagi kau berada di tempat sedekat ini dari Jakarta. maksudku memang jauh, tapi juga dekat untuk seorang Dany yang kerap ke pulai ini, baik untuk liburan maupun demi pekerjaan. Dia itu kan orang berkuasa, mudah baginya untuk meminta bantuan orang berkemampuan."
"Aku tahu kok. Dan tak masalah, jika dia sampai tahu aku ada di sini, berarti memang sudah waktunya kami bertemu."
"Kamu juga sudah menyukainya, bukan? Kamu merindukannya, bukan? Daripada Dom, kamu pasti kan memilih Dany. Sejak dulu pun, kamu lebih dekat dengan Dany daripada Dom."
Niana menelan saliva dengan susah-payah. "Aku merindukannya, itu sudah pasti. Dia melakukan banyak hal untukku, Kei. Tapi menyukainya? Entahlah. Aku masih takut. Oleh sebab itu, aku memilih menghilang daripada malah memberikan harapan palsu untuknya. Pada saat itu otakku belum sepenuhnya jernih, dan aku pikir, kabur adalah yang terbaik."
"Ya sudahlah, aku akan menghargai keputusanmu, Niana. Lagi pula, tidak ada yang tahu jika aku yang menyembunyikan dirimu. Besok aku akan ke Jakarta, ada acara keluarga, dan akan kembali ke Bali satu Minggu lagi untuk mengurus pameran. Yah, Bali sudah menjadi tempat tinggal terbaik baikku. Di sini banyak seniman dan indah, ah tentu saja tempat lain juga indah. Tapi aku menemukan sebuah kenyamanan di sini, meskipun aku tetap kerap pergi ke luar negeri. By the way, kamu mau menitip apa? Kerak telur misalnya, hehe."
"Hihi, boleh saja kalau ada, Kei. Nur pasti juga akan senang."
"Gadis manis yang lucu itu? Astaga dia sudah seperti anak kamu, Niana! Hahaha!"
Tawa mereka terhenti ketika Nur mendadak muncul. Di tangan Nur sudah ada nampan berisikan camilan buatannya sendiri. Tinggal di Bali memang jauh dari kampung halamannya, tetapi karena harus menjaga Niana, tentu Nur tak keberatan. Lagi pula, berada di Jakarta pun, dirinya tetap sedang merantau meninggalkan kedua orang tuanya dan seorang adik kecil yang masih ia biayai sekolahnya di salah satu desa di daerah Yogyakarta.
Mereka lantas melanjutkan perbincangan bersama, dengan Nur yang memilih untuk duduk di lantai saja. Karena melihat Keisya yang sangat cantik, termasuk juga Niana, lama-lama Nur mulai minder dan sadar diri. Dan demi menghargai keduanya, Nur tetap bersikap layaknya asisten rumah tangga.
Sampai tak lama berselang, Keisya mendapatkan panggilan dari seseorang, yang tidak lain adalah Rita—ibunda Niana—yang sudah mengetahui bahwa saat ini Niana sedang bersamanya. Karena permintaan Rita pula, Keisya menyingkir dari hadapan Niana terlebih dahulu.
***
Niana membuka matanya secara perlahan. Udara pagi yang bercampur dengan suhu dingin AC membuatnya tak bisa menahan diri untuk menarik selimut. Beginilah enaknya jadi seorang pengangguran yang punya banyak uang, tetapi hidup menumpang di apartemen sang teman.
"Sampai kapan aku harus melarikan diri seperti ini ...?" gumam Niana bertanya-tanya. Dan di detik berikutnya, ia memutuskan untuk lekas bangkit saja. Sekarang Keisya ada di apartemen ini, dan pukul sembilan nanti, Keisya akan berangkat ke Jakarta. Setidaknya Niana harus membuatkan sarapan untuk sahabatnya itu, kendati Nur pasti sudah sibuk di dapur.
Niana bergegas untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Sebelum beraktivitas ia harus mandi, meskipun nantinya akan berkeringat lagi. Namun adab memasakkan makanan untuk orang lain, harus ia jaga, agar santapan yang siap tidak berbau ketiaknya.
Sesaat setelah memasuki kamar mandi, tentu saja Niana melakukan ritual yang seharusnya.
Kurang lebih dua puluh menit sampai Niana menyelesaikan ritual mandi pagi tersebut. Pakaiannya juga sudah lengkap, meskipun rambutnya masih basah dan tertutup handuk. Namun setidaknya ia sudah mengenakan kaos dan celana sepanjang lutut.
Namun ... ada yang aneh! Niana baru sadar. Apartemen itu terlalu sepi. Biasanya Nur sudah bersenandung sembari memasak di dapur. Hanya saja, saat ini suara Nur sungguh tidak ada. Keisya juga! Apakah Keisya belum bangun?
"Apa aku bangunkan saja ya? Baru jam enam sih, hmm ... sebaiknya tidak deh, nanti saja di jam tujuh," gumam Niana. "Aku harus membantu Nur dulu."
Niana berjalan menjauhi kamar mandi dan berencana untuk ke dapur yang memang tidak jauh dari ruang tamu. Bahkan tak ada sekat di antara dua tempat itu, selain hanya meja makan panjang yang membatasi.
__ADS_1
"Hei! Apakah kamu benar-benar tidak melihat keberadaanku, Janda Cantik?"
Suara seseorang lantas terdengar, dan membuat langkah Niana terhenti detik itu juga. Ia mencari keberadaan sumber suara. Ruang tamu menjadi fokus akhir dari tatapannya. Matanya semakin melebar, dirinya sangat terkejut.
"Dany ...?" gumam Niana. Masih belum percaya dengan apa yang ia lihat, ia lantas memejamkan matanya. "Apa aku sedang bermimpi? Apakah aku memang serindu itu padanya, sampai bayangan dirinya begitu jelas di depan mataku? Atau saat ini aku masih belum terjaga dari tidurku?"
Dany yang memang sejak tadi ada di salah satu sofa yang membelakangi posisi kamar Niana, lantas mengulas senyuman. Ia mengetahui kemunculan wanita itu yang baru keluar dari kamar. Namun tampaknya Niana tidak menyadari keberadaannya karena masih tampak mengantuk. Mungkin juga karena Dany sempat tiduran, sebab baru sampai di Bali dini hari tadi. Belum lagi untuk menuju apartemen Keisya kurang lebih membutuhkan waktu satu jam dari bandara. Dan berkat Keisya, ia bisa memasuki apartemen itu.
Dan memang benar, tadi malam, selepas mendapatkan informasi tentang keberadaan Niana, Dany langsung mencari tiket penerbangan paling akhir di jam sepuluh malam.
"Niana, ini aku Dany. Kamu tidak bermimpi, tahu! Aku baru sampai di sini jam dua dini hari tadi. Dan Keisya yang langsung menjemputku ke bandara. Aku tahu di mana kamu berada dari ibumu. Dan saat ini Keisya serta Nur sudah berangkat ke bandara. Mereka akan ke Jakarta lebih awal. Aku benar-benar merindukanmu, Niana, sampai rasanya kepalaku mau pecah. Dan aku senang saat kamu bilang bahwa kamu memang sebegitu merindukanku juga," jelas Dany.
Niana perlahan membuka matanya. Namun ia tidak segera menatap Dany, melainkan menatap lantai marmer yang bermotif garis emas yang indah. Ia ingat, tadi malam Keisya memang berbincang dengan seseorang melalui ponsel. Saat Niana hendak tidur di jam sebelas malam, Keisya sempat pamit untuk keluar, katanya ingin bertemu seseorang. Kehidupan malam yang kerap Keisya jalani memang bukan hal asing lagi, sehingga Niana langsung mengiyakan dan meminta Keisya untuk berhati-hati. Lalu, entah jam berapa, Niana mendengar pintu utama dibuka dan ia mendengar suara Keisya. Hanya saja ... ia tidak menyangka jika Dany juga ada.
Merasa yakin atas setiap kejadian yang terhubung satu sama lain, membuat Niana berangsur meluruskan arah pandangnya. Ia menatap Dany dan masih merasa tidak percaya. Sebuah bulir air mata pun turun menodai pipinya. Pria yang mencintainya itu ada di sini! Mencarinya!
"Apa kamu juga merindukanku, Niana?" Dany lantas merentangkan kedua tangannya. "Pelukanku masih ada untukmu. Kemarilah jika kamu memang merindukanku dan ... juga mulai mencintaiku."
"Ke-kenapa ...?" Niana bergumam dan mulai menangis sesenggukan. Detik berikutnya, ia mengambil langkah cepat. Bergerak dan memasukkan dirinya ke dalam pelukan hangat Dany yang begitu ia rindukan. Pria ini, ia sudah mencintai pria ini. Namun selama ini ia justru terus menghindar karena statusnya yang baru saja menjadi janda cerai. Ia menganggap dirinya hanya akan menodai nama baik Dany, tetapi ketika pria itu datang, ia pun tidak mampu menepis perasaannya lagi.
"Kenapa baru sekarang kamu menemukan aku, Dany? Kenapa? Aku takut ... aku takut mendatangimu terlebih dahulu. Aku malu, aku malu karena aku seorang janda, Dany! Tapi, aku ... aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu. Aku sudah kabur sampai ke Jepang, tapi rupanya, aku tidak bisa menghindari perasaan ini. Padahal aku baru bercerai, padahal aku juga takut menikah lagi. Tapi, aku ... aku merasa ada yang salah, aku merasa tidak bisa melupakanmu," ceracau Niana dengan tergagap-gagap di pelukan Dany.
Dany sampai meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka bahwa selama ini, Niana pun sedang menunggu kedatangannya. Niana terlalu mencemaskan status baru sebagai seorang janda, tetapi di sisi lain, hati Niana juga mulai tergerak untuk mencintainya.
Niana mendongak menatap wajah Dany yang begitu sendu tetapi juga diselimuti gurat haru. "A-aku ... seorang janda," jawabnya.
"Aku tidak peduli."
"Aku bisa mencemarkan nama baik kamu."
"Aku tidak peduli, kamu tidak berbuat salah apa pun dan itu tidak akan terjadi."
"Aku bekas Endri."
"Aku tidak peduli. Memangnya kenapa? Toh kalian sudah bercerai sejak lama!"
"A-aku—"
"Apa lagi?!"
"A-aku juga ...."
Dany lantas menangkup kedua pipi Niana. "Juga apa?" Ia menaruh harapan terbesarnya. "Katakan padaku."
__ADS_1
"Apa kamu tidak akan geli padaku? Mau bagaimanapun aku ini tetap seorang janda dan aku teman lamamu!"
"Tidak akan, Niana! Ayolah!"
Air mata Niana berlinang lagi. Ia benar-benar bahagia, tetapi tetap merasa bersalah karena Dany bisa mendapatkan banyak masalah karena status barunya.
"Hei! Jangan menangis dong ...." Dany mengusap air mata di pipi dan mata wanita itu. "Aku juga akan menangis jika kamu menangis. Sekarang katakan padaku, apa kamu mencintaiku, Niana? Aku tidak akan memaksamu untuk segera menikah, tapi aku ingin segera mendapatkan kepastian. Aku tidak menyalah-artikan air mata kamu ini."
"Iya, Dany," jawab Niana.
"Iya apa?"
"Seperti yang kamu katakan."
"Katakan dengan jelas ...."
"Men-cin-taimu, aku mencintaimu!" Suara Niana menjadi keras saat ia tidak sanggup menahan rasa malunya. "Tapi aku takut ... aku ini seorang janda ...."
Kini Dany yang menitikkan air matanya. "Tidak, jangan takut. Aku tidak peduli, seperti saat kita tidak pernah memedulikan gunjingan karyawan di perusahaanku. Karena aku mencintaimu, Niana, dan bagiku yang terpenting adalah bersamamu. Menemukanmu kembali, dan mendapatkan hatimu. Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik serta akan berusaha untuk terus membahagiakanmu."
Niana mengulurkan tangannya, menyapu setiap tetesan air mata di wajah Dany, meski saat ini ia sendiri tengah menangis. Hingga pada akhirnya, Dany mengecup Niana dengan perasaan dramatis. Niana hanya memejamkan mata, menerima sikap Dany yang tak mampu ia tolak sama sekali. Sekarang sudah tidak ada kesempatan untuk lari. Niana harus bisa menepis segala ketakutan yang masih terpatri di dalam hati. Ia akan mencoba untuk tidak memedulikan pengalaman buruk yang Endri berikan. Karena Dany adalah pria yang sangat ia kenal dan ia yakin Dany bisa menyembuhkan lukanya. Ia pun akan menyembuhkan ketakutan Dany yang didera Dany sejak lama.
Ketika Dany menyudahi kecupan itu, matanya lantas menatap mata jernih Niana yang menjadi awal mula ia menyadari betapa berharganya wanita itu.
"Terima kasih, Niana. Terima kasih karena sudah membalas perasaanku. Dan sekarang ... maukah kamu pulang bersamaku?" tanya Dany sembari terus merengkuh tubuh wanita itu.
Niana mengangguk. "Ya, aku mau."
...TAMAT...
...***...
Halo, meski novel ini terbilang sepi, saya sangat menghargai dan tentu saja sangat berterima kasih untuk semuanya yang berkenan mengikuti kisah Niana sampai Akhir. Sekali lagi terima kasih banyak!
Dan kalau masih berkenan untuk mampir ke novel saya yang lain, silakan ketik nama pena saya dengan lengkap, yah! Hehe.^^
Barang kali ada yang berkenan untuk membaca novel baru saya, dengan judul :
...Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya...
Terima kasih banyak!^^
Salam,
__ADS_1
Vhy'dHeavy Putri