
Pada akhirnya Dany memutuskan untuk menyanggupi permintaan kakaknya. Ucapan Arsyita yang merujuk pada sebuah pengakuan memang sukses membuat benak Dany terus kepikiran. Juga hatinya yang semakin merasa tidak nyaman. Ia memang tidak pernah meminta Arsyita untuk mengambil keputusan tidak menikah sebelum dirinya mendapatkan pasangan, dan seharusnya ia tak perlu merasa bersalah. Namun, tetap saja, rasa bersalah yang cukup besar sudah bernaung di hati Dany sejak Arsyita mulai membuat pengakuan.
Seandainya Dany tidak menyimpan dendam terlalu dalam pada Arsyita yang di saat masih belia justru memilih untuk mencari kesenangan sendiri, mungkin Arsyita tidak perlu merasa bersalah padanya dan apalagi sampai membuat keputusan untuk tidak menikah di usia 35 tahun. Bagi seorang wanita, bukankah usia tersebut sudah terbilang sangat matang atau bahkan bisa disebut sebagai perawan tua?
Apalagi profesi Arsyita selama ini adalah seorang aktris terkenal. Kehidupan pribadi Arsyita pun akan tetap disorot. Ketika masih belum menikah di usia 35 tahun, pastinya Arsyita akan menjadi bulan-bulanan. Terlebih lagi, netizen di era digital saat ini memiliki otak, hati, serta jari yang begitu jahat. Meskipun di antara mereka tetap ada yang bijak, tak menampik bahwa pihak netizen kontra akan menyebabkan kondisi mental Arsyita menjadi tidak baik-baik saja.
Dany menghela napas lalu mengumpat pelan. Perasaannya sungguh campur aduk. Seandainya kedua orang tuanya menjadi orang tua yang baik seperti Surya dan Rita—kedua orang tua Niana—mungkin ia dan Arsyita tidak akan berakhir seperti saat ini. Ketidakharmonis kedua orang tua mereka sungguh menyisakan trauma mendalam bagi keduanya, terutama Dany yang pada saat itu lebih sering menyaksikan suatu pertengkaran dan dirinya berakhir takut akan sebuah pernikahan.
“Haaa ... sudahlah, sebaiknya aku beranjak dan mencari makan. Aku lapar. Untuk memikirkan hal runyam, aku masih membutuhkan asupan, agar diriku tetap tegar,” ucap Dany sudah mengambil keputusan.
Pria tampan bernetra cokelat tersebut memutuskan untuk segera bangkit. Ia meninggalkan segala berkas tanpa membereskannya terlebih dahulu. Ia hanya mengambil dompet, ponsel, serta kunci mobilnya sendiri. Blazer abu-abu yang seharusnya ia kenakan pun ia biarkan begitu saja di gantungan baju. Biarlah hanya sekadar kemeja putih dengan bagian lengan tergulung yang membalut tubuhnya yang kekar.
Dany keluar dari ruangannya dan ia sudah tidak menemukan Brian di meja kerja sekretaris. Jam makan siang memang telah lewat sejak lima menit yang lalu. Sepertinya Brian sudah sangat lapar, sampai enggan untuk bersabar terlebih dahulu. Jika memang seperti itu, rasanya bukan sesuatu yang tidak wajar. Brian sudah bekerja keras setelah Dany memutuskan untuk berangkat lebih siang.
__ADS_1
Setelah menumpang pada sebuah elevator akhirnya Dany sampai di bagian basemen. Ia berencana untuk menuju suatu restoran, alih-alih ke arah kantin perusahaan dan bergabung dengan para karyawannya.
Mata Dany menangkap keberadaan seseorang. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Niana. Sebenarnya, Dany masih enggan untuk berbicara karena Niana memilih kabur saat ia sengaja mengundang Dominic yang super sibuk pada kala itu. Namun saat ini dirinya bukanlah anak TK yang mudah ngambek lama-lama.
“Niana!” seru Dany sebelum Niana memasuki mobil Toyota Raize berwarna biru.
Meski sempat menatap, nyatanya Niana justru langsung memasuki mobil tanpa memberikan balasan apa pun untuk menjawab seruan dari Dany. Sementara Niana yang langsung tancap gas dengan cepat, Dany terdiam melongo. Ia tidak habis pikir karena diabaikan begitu saja oleh wanita itu, bahkan rasanya ingin sekali mengumpat detik itu juga.
“Tapi ....” Dany bergumam. Ia menatap ke arah lantai basemen sembari berpikir keras. “Kenapa dia terburu-buru begitu? Bahkan menyetir mobil dengan cepat sekali. Ada apa? Apa ada masalah? Dia bukan tipikal orang yang kalau lagi ngambek justru memilih diam, tapi entah jika dengan suaminya.”
“Aku harus membuntutinya!” Dany membuat keputusan lalu segera melajukan mobilnya agar ia tidak kehilangan jejak Niana.
***
__ADS_1
Ini bukan sesuatu yang bagus dan Niana benar-benar dibuat kesal. Rupanya rencananya untuk memikat hati Endri lagi-lagi harus gagal. Mungkin memang masih ada kesempatan untuk memperbaiki kegagalan itu, tetapi jika Lesy melakukan playing victim lagi, kepercayaan Endri terhadap Niana akan benar-benar habis.
Entah apa yang dikatakan Lesy pada Endri sampai membuat Endri yang tadi malam sudah begitu manis malah melontarkan suatu kekecewakan. Bahkan pria itu memaksa Niana untuk datang ke salah satu restoran yang paling dekat dengan perusahaan milik Dany hanya untuk membicarakan tentang pertengkarannya dengan Lesy saja. Jika nantinya Niana gagal membuat Endri berada di pihaknya, berarti pengorbanannya tadi malam sudah berakhir sia-sia. Padahal sepanjang hari ini, ia merasa dirinya kotor sekali. Meskipun ia dan Endri masih belum bercerai, berhubungan dengan pria itu tetap sangat menggelikan.
“Uuuggghhh!” Niana memukul setir mobilnya dengan keras disertai kemarahan yang sudah berapi-api. “Lihat saja jika si Ular itu berani mengadu macam-macam, aku tidak akan tinggal diam! Aku benar-benar akan membuka aibnya di hadapan semua orang.” Niana yang jarang mengumpat kemudian melontarkan perkataan kotor dan kasar.
“Tidak. Aku harus tenang.” Niana mengambil napas dalam-dalam. “Aku tidak boleh gegabah dalam menghadapi masalah ini. Jika aku teledor, wanita ular itu yang akan mengambil kuasa atas diri Endri bahkan rumah kami. Aku sudah sejauh ini dan aku tidak akan membiarkan dia mengambil segalanya sebelum rencanaku berhasil. Tinggal sedikit lagi, sungguh tinggal beberapa langkah lagi! Endri harus mencintaiku lagi agar aku bisa merampas semuanya, terutama kebahagiaan mereka.”
Niana mempercepat deru mobilnya setelah sempat berhenti karena lampu merah yang menyala. Ia ingin cepat-cepat sampai di restoran di mana Endri sudah menunggu penjelasan darinya. Namun di sepanjang perjalanan yang mungkin tinggal lima menit lagi itu, Niana terus berusaha untuk mengendalikan emosinya sekaligus terus menyusun kata-kata untuk menjawab apa pun yang akan Endri tanyakan padanya.
Dan tanpa Niana sadari jika seseorang sedang membuntutinya saat ini. Dany. Pria itu berhasil membuntuti Niana setelah mobil Niana terjebak kemacetan di salah satu ruas jalan belum lama ini. Dan ketika keadaan jalan sudah lengang sekaligus tak lagi terjebak lampu merah yang menyala, Dany harus kembali dibuat cemas. Pasalnya mobil yang dikemudikan oleh Niana begitu cepat dalam melesat.
“Ada apa sih, Niana? Kenapa mengebut seperti itu?” gumam Dany bertanya-tanya dan masih terus berusaha untuk tidak kehilangan jejak Niana.
__ADS_1
Dany tahu urusan Niana tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, kecuali jika menyangkut Surya dan Rita. Lalu, seandainya sikap terburu-buru Niana tidak disebabkan oleh kedua orang tua, mungkin keberadaan Dany saat ini bisa membantu Niana seandainya Niana berada dalam masalah. Untuk masalah apa pun itu!
***