First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 35-Apakah Aku Sudah Benar-benar Jijik Pada Suamiku?


__ADS_3

Setelah makan malam dan segala pembahasan tentang pernikahan Indri Sintia—adik kandung Endri—selesai, Niana dan Endri memutuskan untuk pamit pulang. Sebenarnya Niana ingin lebih lama, karena mungkin sebentar lagi ia tidak akan bisa melewati kebersamaan yang hangat bersama kedua mertuanya. Jika rencananya berjalan dengan cepat, mungkin perceraiannya dengan Endri pun akan segera terlaksana. Meskipun Endri adalah pria yang jahat, kedua orang pria itu masih begitu Niana sayangi, sebab bagi Niana, kedua orang tua Endri merupakan salah satu mertua terbaik di dunia ini.


Ide untuk segera pulang pun bukan Niana yang mencetuskan, melainkan Endri sendiri. Niana menduga, mungkin Endri sudah tidak dapat menahan hawa nafsu, setelah Niana akhirnya memberikan persetujuan mengenai keinginan Endri untuk mampir ke salah satu hotel. Entah. Niana pun bingung. Apakah ia harus tetap senang karena akhirnya Endri masuk ke dalam perangkapnya, ataukah ia harus kesal karena Endri membuatnya tidak bisa berbincang lebih lama dengan ibu mertuanya.


"Semoga perusahaan kalian cepat pulih lalu kalian bisa punya anak deh!" ucap Lastri—ibu kandung Endri—sembari menggenggam tangan Niana, di saat menantunya itu hendak memasuki mobil.


Niana tersenyum secara terpaksa. "Iya, Ibu." Ia memutuskan memberikan jawaban singkat, sebab ia tidak mau memberikan harapan palsu. Lalu ia menatap Endri yang hanya terdiam dan mungkin hanya mampu menelan saliva.


"Mas Endri pasti akan segera memberikan seorang cucu untuk Ayah dan Ibu," lanjut Niana sembari memikirkan anak di dalam kandungan Lesy. Namun ia tidak berharap kedua mertuanya lantas mengerti. Mungkin mereka akan membuktikan ucapan yang baru saja ia katakan suatu saat nanti.


"Pokoknya kalian harus mengambil cuti ya! Kak Niana harus menjadi bridesmaid di pernikahanku," celetuk Indri. Dan setelah berkata pada Niana, ia lantas menatap Endri. "Mas juga harus datang pokoknya! Masih tiga bulan lagi lho, Mas kan lebih bisa mengatur waktu! Jangan buat alasan dengan kesibukan lagi ya!"


Niana tersenyum. "Ya ampun, kamu khawatir sekali sih, Dik? Aku pasti akan datang, baik sebagai bridermaid atau bahkan sekadar tamu biasa. Tapi, kamu jangan kaget jika aku datang nantinya ya!" sahutnya sembari menekan rasa pedih yang sudah menyerang hatinya sejak tadi. Mungkinkah ia bisa datang sebagai bridesmaid di pernikahan Indri dan sang calon suami?


"Kenapa aku harus kaget?" ucap Indri. "Oh, mungkin saja nanti Kakak mau datang dengan perut yang sudah buncit ya?!"


"Aamiin!" Ayah mertua Niana yang bernama Bahrudin Nugraha turut menyahut. "Sudah ngomongnya. Keburu malam, kasihan kedua kakakmu, Indri. Perjalanan mereka cukup jauh lho!"


"Halah, cuma setengah jam doang! Lagian kenapa sih kok pada tidak mau menginap?"


"Ya, kan biar perut Niana segera membuncit," celetuk Lastri diiringi tawa kecilnya.


Endri menghela napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan gejolak di dalam dirinya. Ia tidak boleh menunjukkan bahwa ada sesuatu dengan pernikahannya. Dan lagi, ia sudah berubah pikiran dan ia harus tetap mempertahankan Niana apa pun yang terjadi.


"Tentu kami akan datang nanti. Dengan keadaan yang seperti kalian inginkan," ucap Endri di detik berikutnya.

__ADS_1


Wajah Niana yang sempat cerah tercampur masygul kini berubah lebih murung. Ia tidak menyangka Endri akan memberikan jawaban sedemikian rupa. Seolah Endri tidak akan pernah melepaskan dirinya. Ah, memang benar, mungkin Endri memang tidak akan melepaskan dirinya lagi. Karena Niana-lah yang akan mengambil keputusan tersebut suatu saat ini.


"Kalau begitu kami pulang dulu, Ibu, Ayah, dan Dik!" ucap Niana dengan secepat mungkin, agar Endri tidak memberikan banyak harapan palsu lagi pada pihak keluarga. Detik berikutnya, Niana menjabat tangan Lastri, kemudian Bahrudin. Untuk Indri, gadis itu yang menjabat tangannya terlebih dahulu. Setelah Niana selesai, barulah Endri melakukan hal yang sama.


Sepasang suami istri tersebut lantas memasuki mobil yang mereka memang harus tumpangi. Bahkan sebelumnya, Endri sempat memberikan perhatian super manis dengan membukakan pintu mobil untuk Niana. Dan tentu saja Niana tetap tidak senang setelah mendapatkan perhatian sedemikian rupa, ia hanya perlu tersenyum palsu demi menutupi ketidaksukaannya.


"Mas nanti mampir ke salah satu apotik terlebih dahulu ya," ucap Niana beberapa detik setelah Endri melajukan mobil itu.


Endri menatap Niana secara sekilas, lalu berkata, "Kamu sakit?"


"Tidak kok. Aku bukan mau membeli obat."


"Lalu?"


Niana tersenyum. "Lihat saja nanti, Mas."


"Sudah aku katakan aku tidak sakit. Aku bukan mau membeli obat," potong Niana. "Lalu soal ke hotel ... kamu saja yang memutuskan. Aku kan orang yang bebas, berbeda dengan kamu yang masih harus memikirkan hati istri keduamu, Mas."


Endri menghela napas. "Aku ingin kita mampir, Niana, sudah lama kita tidak bersama. Soal Lesy, aku sudah mengatasinya."


"Oke, itu jauh lebih baik, Mas."


Niana tersenyum ketika Endri lagi-lagi menatapnya meski hanya sekilas, karena harus tetap menatap jalan yang dilalui. Endri yang sudah mengambil langkah cepat telah membuktikan bahwa Endri memang sedang kepincut atau sekadar merindukan hidangan malam dari Niana. Mungkin saat ini Lesy sedang panas dingin di rumah.


Kasihan Nur, Nur pasti tetap kerepotan karena dititipi tanggung jawab untuk menjaga wanita itu, batin Niana.

__ADS_1


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit dari rumah kedua orang tuanya, akhirnya Endri mendapatkan hotel yang dirasa cukup bagus untuk berduaan bersama istri pertamanya. Sebuah hotel yang cukup megah. Endri pun rela mengeluarkan banyak uang demi menginap dengan Niana selama satu malam. Anggap saja ini demi menebus kesalahannya pada Niana.


Kini mereka pun sudah berada di sebuah kamar. Keduanya duduk bersama di tepian ranjang. Dan Endri masih diselimuti kecanggungan. Ia ingat sebelum membuat pengakuan tentang perselingkuhannya, ia memang sudah lama tidak menjamah Niana. Mungkin dua bulanan sejak ia kerap kebingungan untuk mengakui apa yang terjadi pada istri pertamanya itu.


Niana menghela napas. Mulai jengah karena Endri yang begitu pasif. Sepertinya ia harus mengambil inisiatif. Bukankah wanita liar biasanya jauh lebih menarik? Mungkin saja Lesy juga menggoda Endri dengan sangat liar, sampai Endri kebablasan.


"Mas?" ucap Niana sembari meraih telapak tangan Endri. Ia tersenyum begitu manis sampai matanya menyipit bak bulan sabit. Ia membelai lengan Endri dengan lembut, sembari menaruh harapan agar usahanya mampu membuat suaminya segera menginginkan dirinya sepenuhnya.


Detik berikutnya, Niana mendekati wajah Endri. Sementara salah satu tangannya sudah menggenggam tiga benda yang sama. "Pakai ini dulu, ya. Aku tidak mau kamu momong dua balita sekaligus hehehe," bisiknya setelah itu sembari memberikan ketiga benda tersebut pada sang suami.


Jakun Endri mulai naik turun. Bulu kuduknya seketika berdiri. Oh sejak kapan Niana seaktif ini? Mungkinkah karena Niana sudah lama tidak ia sentuh sama sekali?


"Y-ya," ucap Endri pelan dan gelagapan. Ia merampas ketiga benda itu dari tangan Niana. Lalu, ia menyingkirkan ketiga benda tersebut terlebih dahulu di atas ranjang itu. "Niana, aku merindukanmu, Niana ...."


Adegan selanjutnya dimulai. Endri bergerak. Namun ....


"Ugh ... uh." Niana merasa mual, ketika bayangan kebersamaan Endri dan Lesy muncul di pikirannya. Ia merasa agak geli pada tubuh Endri yang sudah dikelilingi sidik jari milik Lesy. "Ma-maaf, Mas, sebentar."


Dengan cepat, Niana melepaskan diri dari Endri yang nyaris membuka tali pinggang dari gaunnya. Ia berlari menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa.


Sementara Endri yang terkejut hanya bisa terdiam sembari terpana. Ada apa dengan Niana? Pertanyaan itu lantas terlintas di benaknya.


Di dalam kamar mandi, Niana mungkin hampir mengeluarkan semua isi perutnya. Namun sebisa mungkin ia meredam suaranya, agar Endri tidak mendengar apalagi sampai jijik pada dirinya. Di cermin yang berpasangan dengan sebuah wastafel, Niana menatap wajahnya. Matanya berair dan agak memerah. Wajahnya tampak lelah, mungkin karena habis muntah. Napasnya pun sampai terengah-engah.

__ADS_1


"Apa aku ... apa aku sudah sebegitu jijiknya pada suamiku?" gumam Niana bertanya-tanya. Dahinya berkerut dan wajahnya belum baik-baik saja. "Aku tidak boleh selemah ini. A-aku ... harus kuat. Jika aku gagal memberikan dia malam yang hangat, semua rencanaku pun akan gagal. Aku ... tidak boleh gagal! Aku sudah sampai sejauh ini."


***


__ADS_2