First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 51-Dany Cemburu?


__ADS_3

Ketika sedang merapikan mejanya sebelum jam makan siang tiba dalam waktu lima menit lagi, Niana justru dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Dany, pria itulah yang saat ini mendatangi ruangan Niana yang juga berada di sebuah ruang kerja dengan banyak bilik , di mana di dalam ruangan lebih luas itu berisikan para staf.


Dan tentu saja, kehadiran Dany membuat para staf yang masih bertugas langsung melongo dan bertanya-tanya, bahkan meski ketika Dany merupakan atasan mereka dan berhak untuk memasuki ruangan mana pun. Hanya saja, jika dikaitkan dengan gosip yang beredar, tentu saja kehadiran Dany di ruangan itu, terutama ruang kerja Niana membuat seluruh staf di tempat tersebut langsung menaruh curiga.


Namun Dany tidak pernah memedulikan omongan buruk dari orang lain, apalagi jika tidak membangun dirinya. Saat ini ia hanya ingin bertemu Niana yang tidak membalas pesan berisikan ajakan makan siang yang sempat ia kirimkan. Ia khawatir mengenai kondisi Niana, apalagi kemarin Niana tampak terguncang, bahkan meski Niana sudah mengatakan jika hanya berakting sedih di hadapan sang suami.


"Dany? Ah, Pak Dany? Mm, Tuan CEO. Apa pun itu, kenapa kamu datang kemari? Nanti gosipnya semakin membesar lho!" ucap Niana sesaat setelah menghampiri Dany. "Apa-apaan?!"


Dany menghela napas dan merengut. "Salah sendiri kenapa kamu tidak membalas pesan dariku," ucapnya.


"Hah? Apa?" Niana benar-benar tidak tahu. Ia langsung kembali ke mejanya dan memeriksa ponselnya. "Ah! Benar! Maaf." Sepertinya Niana terlalu memikirkan penawaran Dominic dan cara untuk membuat Endri memaafkan dirinya serta kesibukannya yang benar-benar banyak, sampai ia mengabaikan pesan dari sahabat terdekatnya sendiri.


Detik berikutnya, Niana lantas menatap Dany, lalu kembali berkata, "Maaf. Aku tidak terlalu memeriksa ponsel hehe." Ia beralasan.


"Hmm ...." Dany menghela napas berat. "Lalu bagaimana? Kamu mau makan siang bersamaku, 'kan? Ada yang ingin aku bicarakan. Dan menyangkut Dom."


"Dom?" Dahi Niana lantas mengernyit. "Kenapa dengan dia? Tadi pagi aku bertemu dengannya dan dia memintaku makan siang bersama juga. Dan ... maaf, aku sudah terlanjur menerima tawarannya. Aku juga tidak bisa mengajak kamu hari ini, Dan." Karena Niana harus melakukan sesuatu untuk menipu suaminya.


Mata Dany mengerjap-ngerjap. Ia pun menelan saliva. "Dom memintamu makan siang bersama? Untuk apa?"

__ADS_1


"Entah. Mana kutahu, tapi yang pasti, ya kami akan makan dong, Dan!" Niana menghela napas dan suara embusannya terdengar cukup keras. Ia menurunkan arah pandangnya. "Aku tak bisa mengajak kamu, karena ada yang harus aku lakukan."


"A-apa itu?"


Niana kembali menatap Dany. Sebuah senyum lantas terulas manis di bibirnya yang terpoles liptint merah cherry. "Ada saja."


"Katakan padaku, Niana!" Dany yang merasa tidak terima tetap menagih. Dan bahkan, ia sampai menahan lengan Niana yang hendak kembali ke meja kerja.


Mata Niana langsung membelalak. Dirinya terkejut. Ruang kerjanya memiliki jendela kaca transparan. Para bawahannya akan langsung mengetahui apa yang dilakukan Dany padanya. Dan benar saja, ketika Niana melihat para staf, mereka sudah memelototkan mata dan langsung membuang muka ketika ia menatap. Detik itu juga, Niana langsung menghempaskan tangan Dany dari lengannya.


Mendapat perlakukan sedemikian rupa membuat Dany agak terkesiap. Bukan karena Niana menepis tangannya, melainkan pada dirinya sendiri. Ia baru sadar bahwa dirinya sudah merenggut lengan wanita itu. Dulu, ia selalu merasa biasa saja. Namun sekarang ... entah mengapa, ia merasa berdebar-debar dan malu parah!


"Banyak yang melihat! Bahkan meski kita sudah berteman sejak, orang-orang akan beranggapan jika ada apa-apa di antara kita. Kita bisa dianggap sedang berselingkuh, tahu!" tegas Niana.


"Nanti saja, Dany. Aku belum tahu apakah aku akan berhasil. Aku belum bisa mengatakan apa pun. Dan ... aku harap kamu segera keluar, sebelum mereka membuat gosip semakin parah, Tuan CEO! Fatalnya, jika sampai banyak karyawati yang cemburu padaku yang bisa dekat dengan Tuan CEO yang tampan!" Niana tersenyum setelah berkata demikian.


Namun Dany merasa agak malu. "Tampan mbahmu itu!"


"Hah? Apa? Mbahmu? Hahaha! Tumben sekali kamu menyangkal ketampananmu, Dany?! Biasanya kamu narsis sekali lho!"

__ADS_1


"Biar saja. Aku lagi malas denganmu, Niana. Pesanku tak dibalas dan sekarang ajakan makan siangku ditolak. Hah! Kemarin-kemarin kamu tidak mau didekatkan dengan Dom, tapi sekarang kamu malah lebih memilih makan siang dengannya daripada aku. Dan tadi pagi, Dom sepertinya sudah tahu mengenai kondisimu dengan Endri. Kamu juga telah bercerita padanya? Waaah! Sepertinya kamu ingin dia menggantikan diriku, ya? Okay, Niana ... baiklah, aku pergi dulu! Selamat makan siang bersama Dom, Niana!"


Tanpa pikir panjang, Dany memutuskan untuk meninggalkan ruangan Niana. Namun di sepanjang perjalanannya untuk keluar, ia terus memasang ekspresi penuh penyesalan yang sudah bercampur dengan rasa malu. Bagaimana bisa, ia mengatakan banyak kalimat konyol yang pasti akan membuat Niana bingung. Dan lagi, bagaimana jika Niana menganggapnya sedang cemburu? Padahal ia sendiri pun sangat yakin jika dirinya tidak menyukai merujuk jatuh cinta pada wanita itu. Ia yakin penilaian Dominic serta kakaknya adalah sesuatu yang salah. Mereka hanya mengada-ada saja!


Sesuai dugaan Dany, Niana masih terpaku dan melongo. Ia bingung dan bertanya-tanya. Ucapan terakhir Dany yang begitu panjang terkesan memberikan arti yang ambigu. Padahal selama ini Dany tidak pernah bersikap seperti itu. Namun apakah Dany sedang merasa marah karena merasa bahwa dirinya sudah tak sepenting Dominic yang tiba-tiba datang di hadapan Niana?


"Ah, tak mungkin. Buat apa juga dia sampai marah karena hal itu?" ucap Niana sembari menggeleng-gelengkan kepala. Detik berikutnya, ia berencana mengambil kunci mobil, tas, dan juga ponselnya. Jam makan siang sudah tiba dan ia harus segera bergegas. Ia pun sudah menghubungi Endri.


***


Endri sudah memindahkan Lesy ke apartemen tanpa bantuan siapa pun. Karena tidak ada barang berat, ia bisa mengangkut semua barang milik istri keduanya itu. Dan tentu saja, Lesy masih tampak murung. Endri pun tidak tahu bagaimana ia harus membujuk agar istrinya keduanya itu dapat tersenyum. Ia sudah menyerah dan biarkan saja untuk saat ini.


"Aku mau ke kantor. Sudah setengah hari aku mengurus pindahan kam— ... maksudku kita. Kamu tenang saja, aku akan segera mengemas beberapa barangku dan tinggal di sini, Lesy. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan kantor terlalu lama. Perusahaanku baru pulih, dan aku tidak ingin mengecewakan pihak yang sudah bersedia membantuku keluar dari keadaan kritis," ucap Endri.


Lesy menghela napas. "Terserah!" ucapnya ketus dan tetap marah.


"Baiklah," sahut Endri lalu menghela napas dalam-dalam. "Kamu istirahat dulu. Jangan lupa minum obat. Untuk makan, kamu bisa memesan dulu sebelum aku menyewa asisten rumah tangga untuk kamu. Nanti aku akan mengirimkan uang jatah bulan ini untuk kamu."


"Iya!"

__ADS_1


Baiklah, Lesy memang belum bisa dibujuk. Endri pun segera bangkit. Tanpa makan siang dan tanpa sebuah kecupan. Mau bagaimana lagi. si ibu hamil sedang tak mood, dan ia pun begitu. Dan, sebenarnya ia ingin bertemu dengan Niana. Meski sebenarnya jadwal pertemuannya dengan sang istri pertama yang mengaku ada pertemuan lain terlebih dahulu, baru akan tiba setengah jam lagi, Endri tetap ingin segera keluar dari tempat ini daripada sesak napas melihat wajah sang istri yang tak bersahabat sama sekali.


***


__ADS_2