First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 26-Pertemuan Dominic Dengan Niana


__ADS_3

"Niana! Sini, sini!" seru seorang wanita pada seseorang yang baru saja memasuki restoran itu.


Niana yang sempat celingak-celinguk akhirnya tercerahkan ketika wanita itu yakni Rubel menyebut namanya dengan begitu lantang. Ah, rupanya Rubel masih sama saja. Dan mungkin jauh lebih bawel. Hanya penampilan Rubel yang terlihat lebih berbeda. Tak ada lagi kacamata tebal yang membingkai matanya, dan ketika Niana lebih mendekat serta dapat melihat dengan jelas, rupanya Rubel menggunakan softlens cokelat. Padahal dulu, Rubel tidak berani memasukkan benda itu ke dalam rongga matanya.


"Oh, astaga! Kamu cantik sekali! Aaaa! Kangen deh!" ucap Rubel sesaat setelah berdiri dan memeluk tubuh Niana dengan erat. "Tapi, kenapa kamu tampak lebih anggun, tidak lagi bawel seperti aku, Nyonya?" Ia bertanya sembari melepaskan pelukannya.


Niana tersenyum. "Aku kan sudah dewasa, Sis!" Ia menyentil pucuk hidung Rubel yang tidak terlalu mancung itu. "Bagaimana kabarmu? Selama ini aku hanya bisa melihatmu lewat statusmu saja, aku tak berani mengirim pesan hehe."


"Alah! Kenapa pakai tak berani segala? Aku malah berpikir nomormu sudah tidak aktif karena kamu jarang membuat story, Sis!" sahut Rubel. "Aaaa! Pokoknya aku senang sekali bisa bertemu kamu lagi, Niana! Kamu semakin cantik! Gemas sekali deh!"


"Hei, Ladies! Apa kalian tidak melihat ada dua pangeran di sini?" sela Dominic.


"Ah! Dom!" Niana langsung menatap Dominic yang tampak memegang gelas berisi air mineral. "Hai, Dom! Bagaimana kabarmu selama ini?" Ia lantas duduk di salah satu kursi, lalu Rubel mengikuti sikap yang ia ambil.


Dominic tersenyum. Namun ia tidak segera menjawab. Hatinya membenarkan ucapan Rubel mengenai Niana yang semakin cantik. Mungkinkah karena sudah menjadi istri dari seorang pengusaha? Namun bukankah belakangan ini perusahaan suami Niana sedang didera masalah? Dominic mengetahui hal itu dari salah satu reporter yang ia kenal. Kabar mengenai perusahaan Endri yang diprediksi bisa gulung tikar memang sempat masuk dalam berita, tetapi karena perusahaan Endri tidak sebesar perusahaan manufaktur milik keluarga Dany, kabar itu tampaknya tak terlalu digubris oleh banyak orang.


"Hei, Dom! Apa sebegitu terpananya dirimu pada kecantikan Niana sampai tak berkedip seperti itu?" celetuk Dany setelah mengamati ekspresi di wajah Dominic.


"Aih! Memangnya kenapa jika aku terpana pada gadis mungil yang lugu, dan tiba-tiba datang seperti seorang aktris begini, Dany? Aku hanya kaget saja," tukas Dominic.


Niana memicingkan matanya pada Dany. Sebal karena Dany bisa saja membuat suasana menjadi lebih canggung. Lagi pula, mengapa Dany mendadak menggodanya dengan menggunakan Dominic? Dulu pun sepertinya Dany pernah menyarankannya untuk menjalin hubungan dengan Dominic, tetapi ia tidak pernah menganggap serius ucapan anak konglomerat tersebut.

__ADS_1


"Ah, kabarku baik, Niana. Aku mencapai cita-citaku di dunia hiburan. Aku sudah membiayai banyak film, sinetron, dan berbagai acara layar kaca." Dominic akhirnya memberikan jawaban untuk Niana. "Bagaimana dengan dirimu? Bagaimana kabar Ayah dan Ibu? Apa mereka baik-baik saja?"


"Tentu saja, Dom. Rumah makan Ayah dan Ibu menjadi lebih besar. Karena kalian turut memberikan ilmu pada mereka, jadi, mereka pun jadi begitu pandai hehe. Terima kasih banyak. Kalau ada waktu silakan mampir," sahut Niana.


Rubel menghela napas. "Kenapa acaranya tidak di tempat rumah makan Ayah dan Ibu saja kalau begitu?" Dan yang ia maksud adalah kedua orang tua Niana. "Kita kan bisa bertemu dengan mereka."


"Maaf," ucap Dany. "Bukannya tidak mau. Tadi siang pun aku datang ke rumah makan Ayah dan Ibu, tapi aku diberi makanan gratis. Aku tidak mau membuat Om Surya dan Tante Rita malah memberi makanan cuma-cuma untuk kita. Lain kali kita datang ke rumah mereka saja."


"Ya ampun! Mereka tak akan rugi dengan memberi kalian makanan gratis, Gengs!" Niana lantas menggeleng-gelengkan kepala. "Sekalipun kalian datang ke rumah, mereka pasti tetap akan memberi makan gratis!"


"Iya sih! Kalau tidak makan, Ibu bakal lebih banyak mengomel, hahaha." Dominic tertawa.


"Su-suami?" Dan akhirnya pertanyaan semacam itu muncul juga. Niana ingin terlihat baik-baik saja. Namun gejolak pedih di dalam hatinya tetap membuatnya gelagapan. "Di-dia sibuk."


"Oh sibuk. Sayang sekali ...."


Rubel menerima alasan yang Niana katakan. Namun tidak dengan Dany yang pastinya sudah tahu apa yang terjadi. Pun juga Dominic yang mulai menangkap raut sendu di wajah Niana. Hingga ia pun mulai teringat akan ucapan Dany tadi siang, mengenai tawaran Dany yang akan membantunya untuk mendapatkan Niana. Apakah pernikahan Niana memang dilanda masalah? Raut wajah Niana yang gelisah seolah memberikan pertanda buruk.


Namun ... siapalah Dominic? Ia bukan orang yang memiliki wewenang untuk menyelidiki kejadian di pernikahan Niana dan Endri untuk mendapatkan kesimpulan terjelas. Ia hanya seorang pria yang dulu sempat mengagumi Niana dan dirinya juga pernah terguncang setelah mendengar pernikahan Niana dengan pria lain. Saat ini pun ia tidak tahu apakah perasaannya terhadap Niana masih ada atau sudah tak lagi tersisa.


"Makan dulu saja, kenapa justru terdiam?" Dany ambil suara.

__ADS_1


Niana mengerjap-ngerjapkan matanya lalu mengangguk pelan. "Ide yang bagus, Pak Bos!" Dan ia berusaha untuk melontarkan candaan.


"Oh, benar juga! Niana kan bekerja di perusahaan Dany. Aku sampai lupa. Eh, gila kamu, Dan! Sebegitu hebatnya dirimu menyembunyikan identitasmu. Bahkan kami tidak pernah tahu bahwa kamu adalah adik aktris terkenal," ucap Rubel.


Niana mengangguk setuju. "Dan asal kalian tahu, aku sempat dituduh masuk ke dalam perusahaan itu karena koneksi dari Dany. Ck, ck, ck, menyebalkan sekali ketika dituduh seperti itu padahal aku melamar dengan ujian berat dan dengan kemampuanku sendiri."


"Ah! Sudahlah! Lagi pula, kalau kalian tahu sejak lama bahwa aku anak konglomerat, pasti kalian berteman denganku tidak dengan hati yang tulus!" sahut Dany. "Bisa saja kalian memorotiku hehe!"


"Enak saja! Memangnya kami semiskin itu?" Rubel menghela napas. Namun tak berselang lama, senyum liciknya lantas terulas. "Tapi, malam ini kamu yang bayar, 'kan, Tuan CEO?"


"Eleeeh!" Dominic mengusap wajah Rubel.


Mereka tertawa. Bahkan Niana juga ikut tertawa. Seolah tak ada yang perlu ia pikirkan. Dan apa yang sempat ia takutkan atau apa yang membuatnya merasakan hawa kecanggungan kini sudah menghilang. Teman-temannya masih sama seperti sedia kala. Dan mungkin hanya dirinya yang lebih banyak berubah. Ia tidak lagi mampu untuk ceria. Tersenyum saja hanya menggunakan senyuman palsu semata.


Dan ketika tawa Niana terhenti, Dominic pun turut terdiam. Ia memperhatikan wajah Niana yang cantik tetapi tampak kesepian. Mungkinkah spekulasi yang ia buat adalah suatu kebenaran, atau nyaris mendekati kenyataan? Bagaimanapun itu, ia tetap harus diam saja, bukan?


Sementara Dominic yang terus memperhatikan Niana, Dany justru memperhatikan Dominic. Dan Dany semakin yakin jika Dominic memang masih menyukai Niana. Tinggal bagaimana Dany bisa mendorong Dominic agar bersedia untuk menyelamatkan Niana dan menghentikan rencana gila yang tetap ingin Niana lakukan.


"Ah! Andai Keisya ada di sini," ucap Rubel, setelah akhirnya acara makan dimulai.


***

__ADS_1


__ADS_2