First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 48-Endri dan Lesy Bertemu Niana, Sekaligus Dominic Serta Arsyita!


__ADS_3

Dominic sudah menceritakan segalanya yang ia ketahui mengenai Niana pada aktris cantik yang masih betah hidup tanpa pendamping tersebut. Bahkan, Dominic tidak melewatkan kenyataan yang mengatakan bahwa Niana memang sudah dekat dengan Dany sejak masa kuliah. Mereka sudah seperti kakak adik yang tak pernah terpisahkan.


Dan meski bagi sebagian orang, hubungan Niana dan Dany lebih dari sebuah pertemanan, Dominic tetap yakin bahwa mereka tidak mungkin jatuh cinta satu sama lain. Apalagi ketika Dominic menjadi salah satu orang selain Arsyita yang tahu betul tentang ketakutan Dany mengenai sebuah pernikahan.


"Kamu bilang kamu tak yakin kalau di antara mereka tidak ada rasa cinta, tapi, Dom! Aku sungguh-sungguh yakin! Lagi pula, wanita itu cukup cantik. Cocoklah buat adikku yang tampan sekali," ceracau Arsyita.


Dominic menghela napas. "Ya ampun, Kak. Jangan mengada-ada. Masa Kakak mau mengajari Dany untuk merusak rumah tangga orang sih?! Ayolah! Banyak wanita di dunia ini. Daripada Niana, ada temanku seorang seniman yang cantik. Dia juga masih jomblo! Lebih baik Kakak jodohkan Dany dengan dia saja!"


"Waaah! Siapa?! Dan menurut kamu, Dany suka dia tidak? Maksudku ada kemungkinan suka tidak?" Mata Arsyita langsung berbinar.


"Gadis itu seorang pelukis dan saat ini berada di Italia. Untuk Dany kemungkinan menyukai dia atau tidak, ya, aku tidak tahu. Kakak silakan coba dulu."


Wajah cerah Arsyita langsung berubah masak. Matanya bahkan sampai menyipit lesu. "Alaaah. Seniman dan di luar negeri lagi. Tak mungkin Dany menyukai gadis itu." Ia menghela napas. "Tapi, Dom, terima kasih atas informasi yang kamu berikan. Mungkin aku memang terlalu berambisi untuk membuat adikku satu-satunya bisa mendapatkan seorang kekasih. Aku sampai menggunakan otak geserku untuk merebut wanita bernama Niana itu dari sang suami."


Melihat wajah lesu Arsyita, hati Dominic berangsur terenyuh sekaligus prihatin. Ia tahu betul kondisi kakak beradik tersebut. Namun sebagai orang luar, tidak ada yang bisa ia lakukan, selain memberikan sedikit saran atau mungkin suatu hiburan. Dan mengenai Niana, tentu ia tidak segila itu dengan membantu rencana Arsyita untuk menghancurkan rumah tangga wanita yang sempat ia sukai tersebut. Ia sendiri masih tidak mengerti, baik pada Arsyita, maupun Dany yang belum lama ini memberikan penawaran mengenai bantuan untuk merebut Niana dari sosok Endri.


"Ayo, Kak, kita pulang. Besok Kakak ada syuting, 'kan? Ah, di mana manajer Kakak?" tanya Dominic sembari berangsur bangkit dari duduknya.


Arsyita menghela napas dan berangsur bangkit dengan lesu. "Di meja lain, aku akan meneleponnya sambil jalan. Ayo keluar."


"Baik, Kak."


Akhirnya Dominic dan Arsyita meninggalkan meja makan yang sebelumnya telah mereka reservasi. Mereka berjalan bersamaan. Arsyita pun sudah sibuk dengan ponsel yang telah menempel di telinganya, ia tengah menghubungi manajernya.


Tak membutuhkan waktu lama, seorang pria dengan usia sekitar 20an tahun bergabung di antara Dominic dan Arsyita. Mereka tak lagi berjalan berduaan saja, melain bertiga. Arsyita pun tidak merasa khawatir seandainya ada paparazi yang mengintai. Ia tinggal membuat klarifikasi seandainya ada gosip yang mencatut namanya dan nama Dominic.


Perbincangan kecil pun masih terjadi di antara mereka bertiga, bahkan ketika mereka nyaris sampai di pintu keluar. Sebelum akhirnya ... Dominic dibuat tercengang oleh keberadaan seseorang. Endri?! Suami Niana yang baru memasuki pintu utama, tetapi mengapa seorang wanita mengalungkan tangan di lengan pria itu?!

__ADS_1


Dominic langsung mengambil langkah begitu cepat sampai membuat Arsyita dan sang manajer menjadi bingung. Namun aktris tersebut turut kalang kabut dalam mengejar Dominic, pun manajernya.


"Mas Endri!" seru Dominic.


Detik itu juga, Endri dan Lesy yang hampir membelokkan arah untuk mencari meja kosong langsung menghentikan langkah mereka. Keduanya kompak menatap pria yang memberikan seruan. Dan betapa terkejutnya Endri ketika mendapati pria tak asing itu. Bukankah pria itu adalah salah satu sahabat Niana?!


"Mas Endri? Apa kabar?" Dominic bertanya setibanya di hadapan Dominic. Ia juga tersenyum begitu lebar untuk menyembunyikan kebingungan sekaligus rasa penasarannya.


"Siapa, Mas?" tanya Lesy pada Endri, sementara tangannya kian erat dalam menjerat lengan suaminya itu.


Arsyita serta sang manajernya berdiri di belakang Dominic dan tetap masih bingung. Siapa pasangan itu pun, mereka berdua sama sekali tidak tahu.


"Ah, saya Dom, teman Niana, Mas! Masa lupa sih? Oh, di mana Niana? Kami sudah lama tidak bertemu. Ah, Nona ini siapa ya? Adik Anda?" tanya Dominic memancing.


Endri gelagapan. "Oh ... y-ya, mm—"


"Kakak!" Dominic memberikan peringatan pada Arsyita. Lalu ia menatap Endri lagi. "Kok Niana tidak diajak, Mas? Barang kali kami bisa saling bersalam lagi. Di mana dia?"


"Niana, Niana ...." Endri bingung berat. "A-ada di—"


"Aku di sini, Dom!" Suara seorang wanita pun terdengar. Melainkan Niana yang juga telah memasuki restoran itu bersama seorang gadis berpenampilan sederhana, tetapi imut.


Niana berjalan mendekati Dominic, Endri, Lesy, Arsyita, dan satu orang yang tidak ia ketahui namanya. Sesaat setelah itu, ia menghentikan langkah tepat di hadapan mereka semua. Ia tersenyum pada Dominic lalu kembali berkata, "Hai, Dom! Apa kabar?"


"Ni-niana? Ke-kenapa kamu ada di sini?" Endri menyahut terlebih dahulu.


"Mbak mengikuti kami ya?!" Lesy benar-benar kesal dengan kehadiran istri pertama suaminya itu. Lalu ia semakin mengeratkan cengkeramannya di lengan Endri.

__ADS_1


Niana berangsur menatap kedua orang yang jahat itu, lalu tersenyum. "Tidak, Nona Lesy. Coba lihat di belakang saya ada Nur. Kami sedang berbelanja sendiri. Dan kebetulan kita bertemu di sini. Kalian berdua sedang berkencan ya? Lebih nyaman berduaan jika saya tidak ada di rumah ya?"


Endri tidak mau jika Niana sampai salah paham. "Ni-niana, aku bisa menjelaskan ini. A-aku dan Lesy—"


"Mas! Ini kan waktu buat kita!" Lesy mencegah Endri yang ingin memberikan penjelasan pada sang istri pertama.


Mata Niana menyipit bagai bulan sabit saat senyumannya semakin melebar. Detik berikutnya, ia menyondongkan tubuhnya ke arah wajah Lesy yang memang lebih pendek darinya. Ia mengusap rambut Lesy dengan halus, bahkan meski ada keinginan besar di hatinya untuk segera menjambak rambut wanita itu. Dan tentu saja istri kedua suaminya itu langsung menepis tangannya.


"Tenang saja, Nona, saya tidak akan mengganggu kencan kalian berdua. Saya dan Nur akan pindah restoran saja. Jangan panik! Kasihan anak di dalam kandungan Nona lho!" ucap Niana. Ia pun menarik tubuhnya lagi dan berkata pada Nur, "Ayo, Nur. Kita makan di tempat lain saja. Agar tidak mengganggu kencan suamiku dan istri keduanya."


Endri ingin menangis. Badannya panas dingin. Niana tampak marah sampai mengatakan kenyataan di hadapan Dominic dan dua orang yang ada di antara mereka, padahal Endri sedang mencoba membujuk Lesy agar mau pindah. Ia serba bingung, dan akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengikuti langkah Lesy yang menuntunnya untuk segera mencari meja kosong.


Dominic, Arsyita, serta sang manajer begitu tercengang. Mata mereka bertiga terbuka cukup lebar. Seperti sebuah drama, dan mungkin kejadian itu bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk membuat salah satu scene di drama maupun movie.


"Waaah! Dugaanku betul-betul tepat, Dom!" ucap Arsyita ketika Niana berangsur pergi bersama Nur sesaat setelah merunduk pamit. Lalu Arsyita bergerak ke hadapan Dominic, ia mengguncang tubuh Dominic. "Dom! Bisa, Dom! Dany punya kesempatan!"


Namun Dominic hanya terdiam ketika Arsyita memperlakukannya se-demikian rupa. Ternyata itu alasannya. Alasan mengapa Dany tiba-tiba memberikan penawaran konyol untuknya. Dany ingin membuatnya merebut Niana dari suami yang sudah mendua. Niana, padahal di pertemuan terakhir, Niana tampak begitu ceria. Nyatanya wanita itu sedang menyimpan luka.


"Aku harus bicara padanya!" ucap Arsyita yang berencana untuk mengejar Niana.


"Jangan, Kak!" ucap Dominic sembari menahan lengan wanita itu. "Kondisinya tampak buruk. Jangan diganggu. Biar aku saja yang mengurusnya."


"Mm, oke! Aku serahkan padamu ya, Dom!"


Arsyita yakin ia bisa membuat Niana menjadi milik Dany. Melihat perselingkuhan terang-terangan yang dilakukan oleh suami Niana, ambisi Arsyita semakin membesar. Lagi pula, menghancurkan rumah tangga yang memang sudah hancur karena pihak pria yang bodoh sepertinya tidak terlalu haram, pikir Arsyita. Kendati secara akal sehat, ia tidak boleh meyakini hal tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2