
"Silakan minumnya," ucap Nur sembari meletakkan tiga cangkir teh untuk ketiga orang yang duduk di ruang tamu itu. Matanya lantas melirik ke arah wanita asing yang memang lumayan cantik. Namun kecantikan wanita itu tak lantas membuat Nur merasa takjub, hatinya yang turut tercabik-cabik atas kisah Niana kini merasa sangat kesal. Bisa-bisanya wanita asing itu begitu tidak tahu malu dengan datang ke rumah yang ditinggali oleh Niana—istri sah dari Endri Satya Nugraha.
Nur yang merasa tidak boleh ada di tengah-tengah mereka segera pamit untuk kembali ke dapur, bahkan meski hatinya lara ketika harus membiarkan Niana sendirian dalam menghadapi Endri dan sang wanita simpanan. Namun ia tentu tahu batasan, ia hanyalah seorang asisten rumah tangga yang tidak boleh terlihat ikut campur lebih dalam. Sebaiknya ia menunggu perintah dari Niana, lalu bertindak sesuai keinginan nyonya tersayangnya tersebut.
Ketika Nur sudah pergi, Niana mulai mengambil napas dalam-dalam. Meski sangat enggan, ia tetap berusaha untuk menatap Lesy yang juga tengah menatap tajam ke arahnya sejak tadi. Wanita pengganggu rumah tangganya itu tampak sibuk mencengkeram lengan Endri. Sepertinya Lesy ingin menunjukkan bahwa dirinya memang jauh lebih dicintai daripada Niana.
"Niana, ini Lesy," ucap Endri yang baru sanggup memperkenalkan wanita idaman lainnya tersebut. "Dia akan tinggal bersama kita mulai ... malam ini."
Niana berusaha untuk tersenyum. Sesuai rencananya, ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan kedua manusia jahat itu. "Tentu saja, Mas, aku kan sudah tahu," sahutnya dengan tenang. Detik berikutnya ia menatap wajah cantik milik Lesy. "Senang bertemu dengan Anda, Nona Muda."
Lesy tidak senang. Bukan ini yang ia harapkan. Mengapa Niana tampak baik-baik saja? Bahkan cenderung menerima kehadirannya dengan lapang dada. Mungkinkah istri pertama dari Endri tersebut hanya sedang berpura-pura?
Pengaruh perasaan benci membuat Lesy tidak mampu menyembunyikan ekspresi sinis di wajahnya. Ia bahkan begitu lancang dengan tidak menyambut jabat tangan dari Niana, dan ia justru semakin mempererat cengkeraman tangannya di lengan Endri.
"Aku Lesy!" Lesy berkata dengan ketus. "Lesy Catarina Olive!"
"Nama yang bagus," sahut Niana kemudian menarik tangannya lagi. "Dan masih cukup muda rupanya."
"Tentu saja, dibandingkan dengan dirimu, tentu aku jauh lebih muda!"
Endri menelan saliva dan berangsur tidak enak hati ketika istri keduanya mengatakan hal demikian. Ia ingin menghentikan cara bicara Lesy yang kasar, tetapi ia masih harus memperhatikan kondisi Lesy yang sedang hamil muda. Kata dokter pun, kandungan Lesy masih cukup lemah, sehingga ia tidak boleh membuat Lesy banyak pikiran.
"Hoho, rupanya Anda adalah wanita yang sangat menyenangkan." Niana tertawa kecil. Menunjukkan betapa kuatnya diri serta hatinya. Karena pelan-pelan ia berangsur mengetahui jika Lesy masih memiliki sejumlah kekhawatiran. Sepertinya, Lesy takut kemungkinan Endri lebih memilih sang istri pertama.
__ADS_1
Ucapan Niana membuat Lesy cukup terkejut. "Me-menyenangkan katamu? Kamu yang—"
"Niana, kami sudah menikah." Endri memotong ucapan Lesy begitu saja. "Belakangan ini aku tidak pulang karena sedang mengurus Lesy dan pernikahan kami. Seperti yang telah kita sepakati, aku dan Lesy masih menikah secara siri."
"Oh! Benarkah?!" Niana berlagak terkejut. Ia tersenyum manis pada suaminya yang tampak tegang. "Terima kasih karena kamu masih mau mendengar ucapanku, Mas. Dan sebaiknya memang begitu, bukan? Demi nama baik kamu sendiri, Mas. Selamat ya untuk kalian berdua."
Mendengar ucapan Niana yang seolah sedang memberikan sindiran, mata Lesy langsung melebar. Tajam, ia menatap istri pertama dari suaminya itu. "Jadi, maksud kamu, aku hanya akan mencemarkan nama baik Mas Endri, begitu?! Sehingga, kamu meminta agar Mas Endri menikahi aku secara siri, begitu? Bukankah kamu terlalu jahat, Nyonya Niana?!"
"Lesy ...." Pelan, Endri menahan Lesy dengan menggenggam jemari istri keduanya itu.
Mata Niana menatap genggaman tangan Endri di jemari Lesy yang sarat akan sebuah ketulusan. Namun melihat sifat Lesy yang mudah marah seperti ini, Niana tidak yakin jika Endri akan bertahan untuk bisa menjadi pria yang sangat sabar dalam waktu lebih lama. Endri yang tidak pernah peka pasti lama-lama akan merasa kelelahan. Kemungkinan itu bisa menjadi celah yang bisa Niana manfaatkan.
Niana menghela napas, setelah itu ia berkata, "Kenapa Anda terus bersikap ketus pada saya, Nona Muda? Apakah saya memiliki kesalahan pada Anda? Bukankah ... yang seharusnya marah adalah saya, mengingat saya adalah istri pertama sekaligus istri sah dari suami saya? Ah ... maksud saya, suami kita? Tapi, saya tidak marah kok. Saya justru menerima kehadiran Anda dengan ramah."
"Mas! Aku tidak lemah!" Lesy menimpali. Ia benci ketika Endri menunjukkan kelemahannya di depan Niana. "Jangan mengada-ada, Mas! Dan lagi, aku tidak mau diurus oleh wanita tua yang tidak sadar diri itu!"
"Lesy, sayang ... please ...." Endri memperkuat cengkeraman tangannya di jemari Lesy. "Jangan mudah terbawa emosi, apalagi kerap berpikiran buruk sampai stres sendiri. Niana sudah berbaik hati akan membantu kita, jadi—"
"Mas Endri! Kita sudah sepakat kalau kamu akan lebih memperhatikan ak—" Ucapan Lesy tak selesai karena Niana langsung menyahut.
"Tentu saja! Aku akan membantu merawat calon anak kamu di rahim Nona Muda ini, Mas." Niana tersenyum lebar. "Mana mungkin aku tega membiarkan Nona Lesy yang kandungannya ... L-E-M-A-H."
Lesy semakin naik pitam. Ia ingin menyiram wajah Niana dengan air teh panas di cangkir sajinya. Namun ia tidak bisa melakukan keinginannya tersebut, sebab ia tak ingin membuat Endri kecewa. Saat ini saja, Endri melihat Niana sebagai orang yang akan sangat berjasa. Jika keributan sampai terjadi, Endri bisa lebih membela Niana lagi.
__ADS_1
Berbeda dengan Lesy yang sudah sangat geram, perasaan Niana justru mendapatkan sebuah penawar. Sedikit penawar untuk mengobati perihnya luka yang ia miliki, kendati luka itu masih kerap terasa nyeri, apalagi ketika Endri menunjukkan sebuah perhatian untuk sang istri kedua. Namun setelah melihat sifat labil dan penuh emosi yang dimiliki oleh Lesy, Niana merasa rencananya akan berjalan dengan lancar. Misi untuk mengubah perasaan Endri untuk kembali mencintainya, mungkin misi inilah yang masih sulit untuk ia lakukan.
Oh, tentu saja, suatu saat ketika Endri kembali mencintainya lagi, Niana tidak akan memberikan balasan yang serupa. Seperti yang sudah ia katakan pada Dany, ia akan membuat Endri jatuh cinta padanya lagi, kemudian ia akan memanfaatkan perasaan Endri untuk melakukan banyak hal sesuai rencananya.
Dan tugas Dany hanyalah mengelabui Endri dengan sebuah tawaran kerja sama, tetapi Dany harus menghancurkan perusahaan Endri secara perlahan. Membuat Endri kegirangan setelah diberikan bantuan, lalu menjatuhkan rasa girang Endri sampai ke jurang derita paling dalam. Bayangkan! Betapa akan sengsaranya pria itu!
"Terima kasih, Niana. Terima kasih karena kamu mau memahami situasi kami dan memaafkan kesalahan kami padamu," ucap Endri pada Niana.
Rupanya, si pria paling tidak peka itu benar-benar mengira niat Niana begitu tulus.
"Mas! Dia itu beberapa kali sedang menyindir aku!" tandas Lesy. Ia tidak bisa menerima ucapan terima kasih suaminya pada sang istri pertama. "Dia bisa saja membahayakan untuk aku dan calon buah hati kita, Mas! Dia kan tidak sanggup memberimu anak, pasti dia memiliki rasa iri padaku, Mas!"
"Lesy, sudah aku katakan jangan berpikiran buruk, Sayang," sahut Endri.
"Hmm ...." Niana meraih cangkir teh dan menyesap teh tersebut secara perlahan. Detik berikutnya, ia kembali berkata, "Kalau saya seburuk itu di pikiran Anda, mengapa Anda rela datang ke rumah ini, Nona Lesy? Bukankah sebaiknya Anda menjauh dari saya? Dengan kehadiran Anda di tempat ini, saya rasa pikiran Anda mengatakan bahwa saya begitu lemah dan tak sehebat diri Anda."
"Itu ... ugh!" Mulut Lesy terkunci rapat. Rupanya istri pertama suaminya itu adalah wanita yang pintar.
Bahkan meski sudah berencana untuk membuat Niana pergi, Lesy harus tetap mengakui bahwa Niana begitu pandai dalam mendominasi keadaan. Baiklah, mungkin Lesy yang sedikit kurang tenang. Anak di dalam kandungannya benar-benar sulit untuk diajak bekerja sama. Membuat emosinya naik turun seperti rollercoaster.
Andai saja anak ini tidak ada! Ucap Lesy di dalam hatinya. Dan sungguh, kehamilan itu memang benar-benar tidak pernah ia inginkan. Ia bisa mendapatkan Endri dengan keberadaan anak itu, tetapi kehadiran anak itu tepat di saat perusahaan Endri sedang banyak masalah. Andai saja ia tidak sedang hamil, ia bisa memutuskan hubungan dengan Endri yang terancam bangkrut. Dan sekarang, wanita tua itulah yang akan membantu suaminya. Situasi kian merugikan dirinya.
Keadaan yang ada sekarang bukanlah hal yang Lesy inginkan.
__ADS_1
***