First Wife'S Mission

First Wife'S Mission
Episode 30-Kamu Masih Bisa Datang Ke Kamarku Kapan Saja Kok, Mas


__ADS_3

Endri begitu sabar dalam menemani Lesy, bahkan tak segan ia menuntut istri keduanya itu untuk menuruni setiap anak tangga. Apalagi ketika Lesy baru saja mengeluh sakit di bagian perut, tentu Endri harus lebih siap siaga. Sebagai calon ayah, Endri memang perlu bersikap sedemikian rupa tak hanya demi Lesy, melainkan juga calon buah hatinya.


Namun perhatian Endri mendadak teralihkan ketika dirinya mendapati Niana yang baru saja keluar dari bagian dapur. Kemungkinan besar Niana baru saja berbincang tentang keadaan rumah dengan Nur. Penampilan Niana yang begitu cantik dan sangat jauh jika dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya membuat Endri sampai terpana bahkan tanpa ia sadari langkahnya turut terhenti begitu saja.


Riasan di wajah Niana sebenarnya tidak jauh berbeda dengan riasannya tadi malam, tetapi Niana tetap terlihat segar dan menawan di mata Endri yang sebelumnya selalu melihat Niana sebagai wanita memalukan.


"Mas!" ucap Lesy. "Ayo!" Ia cukup gugup karena kehadiran Niana yang sudah rapi, sementara dirinya masih mengenakan piyama.


"Tunggu di sini sebentar, Lesy, jangan ke mana-mana ya," ucap Endri sembari melepaskan genggaman tangannya di telapak tangan sang istri kedua.


"Mas! Jangan begitu dong! Mas!"


Sayangnya, Endri sudah terlanjur berlari untuk menghampiri Niana sebelum Niana keluar dari pintu utama.


"Niana tunggu dulu!" seru Endri.


Detik itu juga, Niana langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Endri yang sedang berlari kecil ke arahnya, lalu berangsur menatap Lesy yang kemungkinan besar sedang merasa kesal. Niana segera tersenyum dan meluruskan posisi tubuhnya.


"Ada apa, Mas? Ada yang perlu kamu bicarakan padaku?" tanya Niana ketika Endri sudah berdiri di hadapannya.


"Ya," sahut Endri. "Ayah dan Ibu mengundang kita untuk makan malam. Ada pengumuman yang bakal mereka sampaikan, mengenai adik perempuanku satu-satunya."


"Pft ... haha. Aku juga tahu kok kalau adik perempuanmu memang hanya satu, Mas. Kamu kan sedang berbicara dengan aku yang sudah sangat mengenal keluargamu, bukan dengan Nona Lesy."


"Ah, itu ...." Endri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya ia terlalu gugup dalam menghadapi Niana yang kian menawan. "Maaf ...."


"Kenapa harus meminta maaf sih, Mas?" Niana masih ingin tertawa. Matanya juga masih sesekali melirik Lesy, sementara istri kedua suaminya itu masih memutuskan untuk berdiri di tempat. Sepertinya Lesy masih tertekan dengan ucapannya beberapa saat yang lalu. "Tapi, kenapa kamu justru mengajak aku? Bukannya hal itu akan menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan istri keduamu pada kedua orang tuamu, Mas Endri?"

__ADS_1


Lesy mulai pasang telinga. Dan ia akan marah jika Endri tetap memilih Niana. Bahkan bisa jadi, pilihan Endri pun menentukan jawaban atas pertanyaan mengerikan yang sempat muncul di benaknya. Oh, tidak! Dan jangan sampai mereka berjalan berduaan saja! Lesy harus ikut!


Detik berikutnya, Lesy memutuskan untuk segera menuruni sisa anak tangga yang perlu ia pijaki. Ia berjalan menghampiri suami dan juga sang istri pertama suaminya itu.


"Niana? Kita kan masih suami istri, dan lagi, ini soal keluarga besar kita juga. Bukannya kamu ingin menjaga hati mereka juga? Maksudku hati kedua orang tuaku? Bukankah kamu juga menyayangi mereka? Aku tahu kalau perjanjian kita tidak memperbolehkan kita saling mengurusi masalah masing-masing. Tapi, bukankah kamu sudah keterlaluan dalam membuat dinding pembatas di antara kita? Di saat aku pun masih menjadi suami kamu, Niana? Lalu, kamu ingin menolak undangan itu begitu saja?" ucap Endri yang akhirnya mengeluarkan unek-unek hati.


"Mas Endri! Aku kan juga istri kamu, kalau Mbak Niana tidak mau, aku kan bisa datang sebagai menantu! Bukannya ucapan Mbak Niana benar bahwa undangan itu merupakan momen yang tepat bagimu untuk memperkenalkan diriku pada mereka?" sahut Lesy.


Endri menghela napas. Resah dan kesal karena Lesy mendadak menjawab. Detik berikutnya, ia menatap ke arah Lesy dengan wajah penuh harap. "Tolong untuk saat ini kamu mengerti aku dulu, Lesy. Aku hanya tidak mau ada hal buruk terjadi pada anak kita seandainya reaksi keluargaku begitu buruk terhadap kehadiranmu."


"Aku kan bukan orang yang buruk! Kenapa harus diberi reaksi yang buruk?!" Lesy mulai geram.


"Karena mau bagaimanapun kamu itu istri keduaku, bukan istri pertama yang sah!" Endri menggigit bibir bawahnya setelah menyadari dirinya telah salah bicara. "Lesy, maksudku—"


Wajah Lesy tampak syok berat. "Mas, kamu ...?"


"Lesy, bu-bukan begitu maksudku, aku ...."


"Sudah, sudah," ucap Niana berlagak melerai pertengkaran Endri dan Lesy. "Kalian ini kenapa sih? Masih pagi lho! Tidak baik! Lagi pula aku hanya bertanya lho, Mas, bukan menolak ajakan kamu. Aku kan ingin tahu apakah kamu bisa mempertimbangkan ide untuk memperkenalkan istri barumu pada kedua orang tuamu, Mas. Kalau kamu memang belum siap, tentu aku akan bersedia mendampingimu, Mas. Lagi pula, sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Ayah dan Ibu Mertua yang sangat menyayangi aku, aku ingin bertemu dengan mereka. Soalnya asyik sih kalau mendengar cerita dari Ibu Mertua sambil membuat camilan hehe."


"Oh, kamu ingin pamer soal hubungan kamu dengan Ayah dan Ibu Mertua ya?! Sengaja ya mau bikin aku kesal?!" Lesy mendadak naik pitam.


Niana langsung menutup mulutnya. Ekspresi di wajahnya tampak lebih memelas. "Aduh, Mas, maafkan aku. Sepertinya aku sudah salah bicara. Aku tidak berniat seperti itu, sungguh! Lagi pula aku kan sering menceritakan kegiatanku dengan Ibu Mertua padamu, Mas, kebiasaanku belum hilang dan malah membuat Nona Lesy tersinggung. Aku sungguh-sungguh meminta maaf pada kalian."


Endri menghela napas. Meski selalu sabar dalam menemani Lesy, ia tetaplah manusia biasa yang bisa merasa kesal ketika mendengar banyak keluhan, apalagi saat menghadapi sebuah kemarahan. Niana, saat ini, Endri justru merasa Niana lebih bisa ia jadikan sebagai sandaran.


"Niana, maafkan Lesy, dia memang masih belum stabil. Sebelum bekerja pun aku harus memeriksa kandungannya lagi. Jadi, tolong kamu lebih mengerti lagi," ucap Endri berusaha membuat kedua istrinya tak bersitegang. Namun pada akhirnya ia tetap lebih menekan Niana agar Niana masih bersedia untuk memberikan pengertian.

__ADS_1


Niana menelan saliva. Rupanya Endri memang masih lebih mementingkan Lesy. Tadi malam pun Endri meminta maaf atas semua perilaku sang istri kedua.


"Tak masalah, Mas. Aku akan selalu memberikan pengertian kok," ucap Niana.


"Omong kosong! Kalau kamu mau mengerti seharusnya kamu yang sudah tidak dicintai lekas pergi dari sini!" seru Lesy tidak terima.


"Lesy!" bentak Endri.


Mata Lesy langsung melebar. "Mas, kamu membentak aku? Mas, dia itu sedang memanipulasi kamu lho!"


"Berhentilah merengek, Sayang. Dan segera lakukan hal yang tadinya ingin kamu lakukan." Endri berangsur melembutkan suaranya sembari menggenggam jemari sang istri kedua. "Maafkan aku, aku hanya tidak mau kamu marah-marah terus."


"Kamu keterlaluan, Mas! Mau bagaimanapun aku sedang mengandung anak kamu!" Air mata keluar dari mata Lesy.


Niana semakin terpuaskan. Situasi itu akhirnya ia menangkan. Hubungan Endri dan Lesy semakin menuju puncak kekacauan. Akan lebih bagus jika ia menambahkan satu hal untuk memporak-porandakan keadaan.


"Mas, sepertinya aku harus segera berangkat. Kalian jangan bertengkar terus. Nona Lesy juga harus tetap menjaga kandungan, bukan? Jangan marah-marah terus, ya. Saya akan menghindar sekarang juga," ucap Niana.


"Hati-hati, Niana." Sebenarnya Endri ingin mengantar seperti kebiasaannya dulu. Namun ia tidak berani menawarkan diri, apalagi Lesy sedang menangis saat ini.


"Ah, Mas!" Niana berucap lagi. Namun bukan karena ia melupakan hal yang ingin ia sampaikan. Ia sengaja bersandiwara. "Soal ucapanmu tadi, mm, aku tidak membangun batasan begitu tebal kok. Perjanjian kita hanya sebatas tidak mengurusi urusan satu sama lain. Pintu ruanganku tetap terbuka untukmu jika kamu ingin datang. Lagi pula, sebagai seorang istri aku harus tetap memberikan pelayanan, bukan? Oleh sebab itu, datang saja jika kamu mau dan aku sedang senggang. Aku berangkat ya, Mas."


Endri cukup syok, tetapi dalam perasaan lega. "I-iya," jawabnya.


"Mas! Kamu apa-apaan sih?! Aku sedang menangis lho, kenapa terus menatap dia sih?!"


Seringai sinis dan pandangan mata yang tajam mengiringi langkah kaki Niana untuk keluar dari rumah itu. Dan ia tidak tahu lagi jawaban Endri terhadap rengekan Lesy. Padahal ia sudah memberikan peringatan agar Lesy tidak marah-marah lagi, tetapi rupanya wanita itu memang sulit untuk mengendalikan diri.

__ADS_1


"Semoga saja Lesy selalu berhasil menghalangi Endri, setiap kali Endri ingin menemuiku atau bahkan ke kamarku," gumam Niana. Dan inilah mengapa ia berani mengatakan bahwa pintu ruangannya masih terbuka untuk Endri kapan saja, sebab ia yakin Lesy akan terus menjerat tubuh Endri agar Endri tidak bisa mendekatinya lagi. Seandainya Endri akan mendatanginya, mungkin memang sudah waktunya bagi Niana untuk bergerak dengan cara yang sebenarnya ingin ia hindari. Lagi pula, membuat Endri mencintai lagi adalah salah satu dari sekian misinya. Itu artinya ia pun harus siap ketika Endri membutuhkan dekapannya.


***


__ADS_2