
Lesy terpaksa harus merelakan kepergian suaminya bersama sang istri pertama. Seharusnya ia yang berada di posisi Niana, seharusnya dirinya yang diperkenalkan sebagai istri yang akan memberikan buah hati, bukan justru Niana—si wanita mandul itu! Sampai kapan dirinya harus menjadi pihak ketiga sekaligus istri kedua yang tidak memiliki status resmi? Ia pun masih takut tentang kemungkinan Endri dan Niana hanya menjadikannya sebagai rahim pengganti.
Lesy tidak tahu. Ia sudah kerap meminta Endri untuk menceraikan Niana, tetapi lagi-lagi alasan soal kerja sama dengan perusahaan teman Niana menjadi alasan dari penolakan suaminya itu. Bukankah kalau sudah menandatangi berkas kesepakatan, pihak perusahaan pemberi bantuan tidak bisa melarikan diri dari perjanjian? Dan Niana yang hanya orang luar bahkan meski menyandang status sebagai teman dari sang CEO tidak akan bisa mempengaruhi isi perjanjian, bukan? Namun mengapa Endri begitu takut?
"Aku tidak mau, aku sungguh tidak mau berakhir seperti ini. Mas Endri itu milikku, wanita tua itu tidak boleh merebutnya dariku," gumam Lesy sembari menggigiti buku jarinya.
Karena jika bukan Endri, Lesy merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ia juga sudah tidak memiliki pekerjaan. Dan jika orang-orang tahu bahwa dirinya hanya istri cadangan, ia pasti akan kesulitan mencari pekerjaan. Apabila Endri sampai meninggalkannya, ia tidak punya pilihan lain selain hidup miskin atau kembali ke rumah ayahnya yang suka mabuk-mabukan. Ia tidak mau kembali ke rumah orang tua satu-satunya itu yang bahkan sudah ia anggap mati sejak lama.
"Aaaaaaaakkkkh!" Lesy memekik kesal.
Nur yang baru saja selesai menyapu lantai kedua dan hendak turun tentu terkejut oleh suara pekikan Lesy dari arah kamar. "Kenapa lagi dengan Mak Lampir satu itu? Masa' baru ditinggal sebentar sudah kesakitan? Lantas, bagaimana dengan Nyonya Niana selama ini? Huh!"
Ketika hendak melanjutkan niatnya untuk turun, kecemasan justru muncul di hati Nur. Sebagai manusia biasa yang masih memiliki hati nurani, ia khawatir sekaligus iba jika sampai terjadi sesuatu pada Lesy. Dan lagi, celakanya wanita pengganggu rumah tangga itu bisa membuat Nur disalahkan oleh Endri.
"Duh! Menyebalkan!" Dengan terpaksa Nur memutar badannya dan bergegas menuju kamar Lesy.
Nur mengetuk pintu kamar tersebut setelah tiba di sana. "Apa Anda sedang kesulitan? Apa mual lagi?!" tanyanya dengan suara keras diiringi ekspresi yang begitu julid. "Mbak Lesy?"
"Berisik! Aku tidak apa-apa! Pergilah sana, dasar pembantu kampungan! Aku tidak membutuhkan rasa iba dari gadis norak sepertimu!" sahut Lesy dari dalam.
"Dih! Kalau kenapa-napa dengan bayinya, Anda bisa diomeli lho, Mbak! Bilang saja kali kalau butuh bantuan, saya kan belum sejahat Anda, Mbak. Saya masih mau bantu. Sebelum saya berubah pikiran nih! Tuan Endri juga tidak akan pulang jika ditelepon, soalnya beliau sudah menitipkan Anda pada saya. Kalau pun terjadi sesuatu pada Anda, sayalah yang akan mengantar Anda ke rumah sakit, bukan Tuan Endri. Mungkin beliau baru akan datang kalau acara sudah selesai sembari menahan cemas di sana. Dan yang paling fatal, beliau bisa saja memarahi Anda yang tidak bisa menjaga kondisi lho!"
"Ugggh ...."
Lesy mengumpat pelan. Kesal karena mau tidak mau ia harus membenarkan ucapan pembantu rumah tangga kampungan itu. Bahkan seorang pembantu pun sama sekali tidak menghargainya, lantas, bagaimana dengan orang lain yang mengetahui statusnya sebagai istri kedua? Padahal tidak hanya dirinya yang bersalah, nyatanya Endri juga tergoda pada pesonanya. Namun mengapa seolah-olah hanya dirinya yang dianggap hina?
Detik berikutnya, Lesy memutuskan untuk bangkit. Mungkin ia memang memerlukan bantuan dari Nur. Untuk makan malam, minum obat, vitamin, hingga menjaga kondisinya yang masih kerap mual. Hal ini menyebalkan, tetapi ia tidak bisa membuat janinnya berada dalam masalah besar.
***
Kecanggungan menyelimuti diri Endri, ketika dirinya masih tidak bisa membuka perbincangan di sepanjang perjalanan. Sementara istri pertamanya pun tetap terdiam sejak memasuki mobilnya sekitar lima menit yang lalu. Padahal perjalanan masih membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit lagi, belum lagi jika macet. Bukankah akan aneh jika terus saling terdiam seperti ini?
Berbeda dengan Endri, Niana tidak merasa canggung sedikit pun. Tidak pula santai atau bahkan tenang. Keterdiamannya diakibatkan oleh sesuatu yang masih ia pikirkan. Mengenai Dany yang belum juga membalas semua pesan yang ia kirimkan. Rupanya Dany memang merasa kecewa. Padahal seharusnya Dany tidak bersikap demikian hanya karena Niana menolak untuk didekatkan dengan Dominic.
Niana tidak habis pikir. Mengapa pria secerdas itu bisa bersikap kekanak-kanakan? Ah, mungkinkah sisi gelap Dany yang jarang diperlihatkan memanglah demikian? Niana menghela napas dalam-dalam lalu mengembuskan napasnya itu secara kasar.
"Apa kamu sedang ada masalah, Niana?" Endri akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Ia pun heran mengapa Niana menghela napas seberat itu. Bisa jadi Niana sedang kesulitan. Dan sebagai seorang suami, ia harus membantu, bukan?
__ADS_1
"Hmm?" Niana berangsur menatap Endri. Detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Tidak kok, Mas. Tidak ada."
"Kamu tampak resah."
"Aku hanya lelah."
"Benarkah? Tadi ada lembur? Kamu kan pulang terlambat."
"Tidak kok. Aku tidak lembur. Aku mampir ke kedai kopi dulu bersama Dany."
Mendengar nama Dany, wajah Endri langsung syok. Mengapa harus bersama Dany? Tadi siang Dany sudah mempermalukan dirinya dan sekarang Niana mengaku sempat mampir ke kedai kopi bersama CEO itu? Apakah Dany memang sudah mulai bertindak untuk bisa segera merebut Niana darinya?
"Bu-bukannya kamu tidak boleh sembarangan bersama atasanmu, Niana?" tanya Endri ingin memastikan sekaligus ingin membuat Niana sadar. "Lagi pula, kamu kan masih wanita yang memiliki suami. Orang-orang bisa memandangmu dengan tatapan meremehkan lho."
Mata Niana yang sempat sayu gara-gara memikirkan Dany, kini refleks melebar. Senyumannya yang sinis lantas terulas yang kemudian berubah manis ketika Endri memberikan tatapan.
"Apa kamu juga mengalaminya, Mas? Maksudku apa kamu juga pernah dipandang remeh ketika kepergok berduaan dengan Nona Lesy saat dirimu masih memiliki istri?" serang Niana.
Deg! Jantung Endri seperti ditusuk belati bermata tajam. Ia menelan saliva dengan susah-payah. "I-itu ...."
Endri terdiam. Setelah dibuat syok oleh kenyataan bahwa tadi sore Niana sempat bersama Dany, kini perasaan syok itu bertambah karena Niana memberikan jawaban sedemikian rupa. Niana memang mencoba menjelaskan, tetapi Endri pun tahu jika Niana tengah memberikan sindiran. Dan sungguh, Endri merasa dirinya memang sudah terlanjur hina. Dengan kehinaannya itu, bagaimana mungkin ia bisa memperbaiki hubungannya dengan Niana?
"Aaah, tidak terasa sudah hampir satu bulan aku tinggal dengan istri keduamu, Mas. Aku pikir aku akan hancur lebur, ternyata aku malah semakin terbiasa. Yah, terbiasa menghindar dan dicaci maki tanpa aku melakukan kesalahan haha. Aku istri pertama tapi justru seperti pelakor saja. Berapa sih usia Nona Lesy, Mas? Dia masih teramat muda ya?" celetuk Niana.
"Memasuki usia dua puluh lima tahun," sahut Endri datar.
"Ouh. Pantas saja aku dianggap wanita tua terus haha.
Ternyata perbedaan usia kami memang cukup banyak. Aku kan sudah tiga puluh dua tahun. Kalau kamu, tiga puluh tahun ya, Mas? Mm, aku baru ingat kamu seumuran dengan Dany, Mas."
"Niana?"
Niana menatap Endri. "Ya, Mas?"
"Bisa tidak kamu berhenti menyebut nama Dany?"
Niana memicingkan mata. Senyuman sinisnya terulas lagi. "Kenapa memangnya? Jangan-jangan ... kamu cemburu ya?"
__ADS_1
Endri berangsur memperlambat laju mobilnya. "Iya, aku cemburu. Dan itu hal yang wajar, bukan? Aku masih suami kamu, Niana."
"Wajar kok! Aku kan tidak bilang bahwa kecemburuanmu adalah hal aneh, Mas." Niana lantas menjatuhkan kepalanya di pundak Endri, sebagai salah satu langkah untuk memperlancar rencananya. "Aku justru senang karena rasa cemburu kamu masih ada untukku, Mas. Aku pikir kamu sudah sepenuhnya memikirkan istri keduamu saja."
Endri menelan saliva dengan susah payah. "Kamu ... apa kamu memang benar-benar merasa senang, Niana?"
"Jelas dong! Setidaknya aku tidak benar-benar dilupakan oleh suamiku."
"Apa kamu tidak membenciku?"
"Mmm ... benci sih, hehe. Tapi, sepertinya rasa cintaku masih lebih besar daripada kebencianku padamu, Mas."
Senyum senang merekah di bibir Endri. "Niana?"
"Iya, Mas. Ada apa lagi? Kenapa terus memanggil namaku sih?" Niana menarik dirinya dan menatap sang suami. "Ah, apa aku terlalu membuatmu jijik?"
"Ti-tidak! Tidak sama sekali! Ini pertama kalinya bagiku melihat kamu yang begitu manja seperti saat kita masih berpacaran dulu."
"Mm, begitu ya? Maafkan aku, Mas, karena selama ini aku selalu cuek padamu dan penampilanku sendiri. Aku hanya ingin menjadi istri yang penurut dan mandiri, tidak lagi seperti Niana muda yang begitu manja dan cengeng. Tapi, ternyata kamu justru mencintai aku yang super cengeng ya?"
Endri menatap Niana secara sekilas. "Sepertinya aku memang merindukan dirimu yang masih menjadi pacarku. Mm, Niana?"
"Iya?"
"Bagaimana ... bagaimana jika setelah pulang dari rumah Ayah dan Ibu, ki-kita mampir ke suatu tempat?"
"Ke mana?"
"Mm ... i-itu, ho-hotel." Endri gelagapan.
"Ya ampun! Hahaha. Kenapa gugup begitu? Aku kan istri kamu, Mas! Kenapa mesti gugup? Tapi bagaimana dengan istri keduamu?"
"Lupakan dia dulu. Please ...."
Endri masuk ke dalam perangkap Niana. Akhirnya malam ini Endri tergoda dan bahkan rela mengabaikan istri kedua yang sedang hamil muda. Demi bisa membuat hubungan mereka renggang, tampaknya Niana memang harus merelakan tubuhnya untuk disentuh lagi oleh suaminya. Karena mau bagaimanapun ia menghindar, cara ini tetap harus ia lakukan. Dan ia tidak membutuhkan jasa Lesy untuk menghalangi Endri untuk malam ini, tetapi mungkin di malam-malam selanjutnya.
***
__ADS_1