
Lesy mendadak naik pitam setelah melihat Niana yang baru pulang bersama Nur. Namun istri pertama dari suaminya itu tidak naik taksi online seperti sebelumnya. Niana datang dengan sebuah mobil dan entah milik siapa. Firasat Lesy mengatakan bahwa mobil tersebut merupakan mobil milik Niana sendiri. Akan tetapi, bukankah Niana tidak memiliki kendaraan pribadi?
"Jangan-jangan dia ...." Lesy bergumam, tetapi ia enggan untuk melanjutkan ucapannya. Ia tidak mau menduga-duga, karena jika dugaannya salah, kekesalannya hanya akan berakhir sia-sia. Kondisinya juga masih belum stabil. Ia tidak boleh banyak pikiran.
Namun meski berusaha untuk mengabaikan, rasa penasaran di hati Lesy justru semakin membesar. Ia ingin tahu tanpa harus bertanya terlebih dahulu. Lesy lantas berjalan ke arah pintu utama. ketika Niana serta Nur tidak segera masuk ke dalam rumah, melainkan asyik berbincang sembari memperhatikan setiap detail mobil. Secara perlahan Lesy membuka pintu tersebut, tetapi tidak terlalu lebar.
"Lumayan, 'kan, Nur? Walaupun hanya bekas, tapi setidaknya bisa aku pakai ke mana-mana. Prosesnya juga tidak sulit dan aku bisa langsung membawa mobil ini sendiri. Semua surat juga masih komplit, pemakaian mobil sebelum dijual pun hanya enam bulan saja. Meski tidak mewah, yang penting ada. Jadi, aku tidak perlu meminjam mobil Mas Endri lagi," ucap Niana yang terdengar di telinga Lesy.
Kemudian, Nur pun terdengar berkata, "Pilihan Nyonya memang selalu top! Tapi, Nyonya, apa Nyonya benar-benar tidak sayang dengan uang yang barusan Nyonya gelontorkan untuk mobil ini?"
Niana menghela napas setelah mendengar pertanyaan dari Nur. Mobil dengan merek T*y*ta Raize yang ia beli secara cash meski hanya bekas tetap memiliki harga cukup tinggi. Setidaknya 200 jutaan ia keluarkan untuk memiliki mobil berwarna biru tersebut.
"Tidak, Nur," ucap Niana tak lama setelah terdiam. "Hidupku saat ini hanya akan aku jalani dengan foya-foya. Dan lagi, aku akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada uang dua ratus juta yang aku gelontorkan." Ia menatap Nur sembari tersenyum.
Sayangnya, Lesy tidak dapat mendengar jawaban Niana atas pertanyaan dari Nur dengan jelas. Namun Lesy bisa mengetahui bahwa Niana terlihat tidak menyesal setelah membeli mobil bekas tersebut.
"Cih, hanya mobil bekas saja sok mau bangga, lagi pula, mobilku jauh lebih mewah!" ucap Lesy pelan, tetapi penuh dengan kebencian.
__ADS_1
"Sekarang aku tidak ingin memedulikan apa pun, Nur. Lagi pula, Mas Endri kan sudah ada yang mengurus. Istri keduanya yang bakal mengurus dia. Bayi di dalam kandungan wanita itu pun bukan anakku, tak ada alasan bagiku untuk ikut menabung demi anak di luar pernikahan itu. Toh, aku sudah memberikan bantuan dengan mendesak Dany untuk membantu Mas Endri dan aku juga masih mengisi bahan makanan di dapur rumah ini. Jadi, sisa uangku akan aku manfaatkan untuk keperluanku saja," ucap Niana tiba-tiba yang cukup mengejutkan diri Lesy. "Aku bisa membeli makanan enak di luar jika sedang malas memasak, aku bisa melakukan perawatan tubuh, membeli pakaian dan tas branded, termasuk memberikan gaji tinggi untuk dirimu, Nur. Aku kan karyawan kesayangan Tuan Dany yang kamu kagumi, aku bakal diberi banyak bonus nantinya hehe."
Nur sempat melongo setelah mendengar ucapan Niana yang seolah tanpa beban sama sekali. Dan ketika Niana berbisik untuk memberi tahu bahwa Lesy sedang menguping dari balik pintu, Nur langsung mengangguk paham. Namun ia pun tahu jika ucapan nyonyanya itu akan benar-benar terjadi. Karena Niana tidak berencana hamil dengan Endri lagi, dan tidak ada alasan untuk hidup super hemat seperti sebelum-sebelumnya.
"Ah, Nyonya Niana! Saya kan jadi kecipratan bonus besar kalau Nyonya merupakan karyawan kesayangan Tuan Dany. Nyonya Niana hebat sekali, wanita karier yang hidup tanpa terlalu bergantung pada suami. Bukan wanita lemah yang bisanya hanya merengek! Saya benar-benar kagum pada Nyonya Niana!" Nur pun tak ingin kalah dengan Niana yang sudah memberikan kalimat sarkastik super panjang.
Kemudian, Niana dan Nur tertawa bersama. Menertawai kebodohan Lesy yang bersembunyi di tempat tak akurat. Benar-benar konyol!
Sementara Niana dan Nur yang tampak kegirangan, perasaan Lesy dilanda kemarahan yang sangat besar. Rasanya ingin segera keluar dan menghardik si angkuh Niana. Namun jika ia melakukan hal itu, ia hanya akan ketahuan jika sedang menguping perbincangan mereka. Dan pada akhirnya, Lesy tidak punya pilihan lain selain pergi. Dan segala sumpah serapah serta umpatan kotor terus membersamai langkahnya untuk menuju kamar.
"Ssstttt ...." Niana meminta Nur untuk diam. "Dia belum tentu sudah pergi, Nur. Barang kali dia masih berada tak jauh dari sana."
"Eh, iya." Nur segera membungkam bibirnya dengan telapak tangannya sendiri. "Tapi, saya benar-benar senang jika dia sampai kesal, Nyonya, sungguh!"
Niana menyeringai. "Ya sudah, kalau begitu, mari kita menjadi orang jahat untuk menghadapi orang yang sangat jahat, Dik!"
Setelah itu, Niana langsung mengambil langkah untuk memasuki rumah yang masih milik suaminya tersebut. Sementara Nur mengikuti langkahnya dengan tergopoh-gopoh. Ketika membuka pintu yang sudah sedikit terbuka, senyum sinis Niana kembali terulas di bibirnya. Membuat Lesy kesal ternyata jauh lebih mudah. Sepertinya, Niana bisa membuat Lesy semakin tidak betah tanpa harus menyentuh diri bahkan hati wanita itu secara langsung. Dengan begitu, Niana tidak akan dilibatkan ketika kandungan Lesy bermasalah.
__ADS_1
***
"Mas!" seru Lesy pada Endri yang masih tampak sibuk di balkon kamar bersama sebuah laptop dan beberapa berkas. Namun Lesy tidak peduli, sebab ia ingin memberi tahu sang suami tentang sikap Niana yang mulai hidup foya-foya. Lagi pula, ia juga jengkel karena tidak bisa membeli barang istimewa di saat Niana terus berencana untuk berbelanja barang-barang mahal. Lesy tidak mau kalah saing apalagi jika sampai terlihat lebih buruk rupa dibandingkan Niana.
"Ya, Sayang. Ada apa? Aku masih bekerja," sahut Endri.
"Aku tahu, tapi setidaknya hentikan dulu kesibukanmu. Kamu harus melihat Mbak Niana di bawah. Dia kan masih istri kamu juga, Mas! Tapi, kenapa dia membeli mobil tanpa berbicara dengan kamu terlebih dahulu? Dan lagi, kenapa kamu tidak melarangnya yang hidup foya-foya sih? Perusahaan kamu kan sedang bermasalah dan aku sedang hamil! Apa dia tidak punya empati sama sekali?"
Jari-jari Endri yang sebelumnya sibuk mengetik kini mendadak terdiam. Ucapan Lesy cukup membuat Endri terkejut sekaligus heran.
"Mungkin itu hanya taksi online yang dia pesan saja, Lesy," ucap Endri yang masih enggan untuk percaya.
"Tidak, Mas! Bukan taksi! Mbak Niana menyetir mobil itu sendiri. Dan turun bersama pembantunya dari mobil itu! Dia benar-benar membeli mobil itu, Mas! Percayalah padaku. Harga mobil itu kalau tidak salah dua ratus jutaan, Mas, walaupun bekas sekalipun!"
Endri menghela napas panjang, enggan untuk mendebat ucapan Lesy. Keberadaan balkon kamar yang mengarah ke samping rumah memang membuat Endri tidak tahu apa yang terjadi di halaman depan. Namun sekalipun ucapan Lesy benar mengenai Niana yang membeli mobil, Endri harus tetap sadar bahwa dirinya sudah tidak boleh menentang. Walaupun tidak ada surat perjanjian yang mengikat kesepakatannya dengan Niana, Niana tetap bisa mengakhiri segalanya dan merugikan Endri yang belum sepenuhnya dapat memulihkan perusahaan.
***
__ADS_1