
Hari beranjak pagi. Pagi ketiga setelah Lesy pindah ke rumah itu. Niana yang tadi malam masih tidur sendirian kini sudah membuka matanya sejak subuh telah tiba. Bahkan, saat ini ia tampak begitu sibuk di dalam dapur. Seperti sebelum-sebelumnya, ia membantu Nur untuk mengolah makanan. Apalagi di hari libur, ia akan lebih banyak berkreasi membuat kue dengan asisten rumah tangganya tersebut. Meski sudah mulai mengubah diri, Niana tetap tidak ingin meninggalkan rutinitas paginya sama sekali. Ia bukanlah wanita malas seperti Lesy yang mungkin belum terbangun.
"Nyonya, bagaimana Nyonya bisa setegar ini ketika suami Nyonya tidur di kamar sebelah dengan perempuan lain?" celetuk Nur yang sejujurnya sudah memikirkan hal itu sejak lama. "Nyonya kenapa harus nekat sih?"
Aktivitas Niana terhenti ketika ia masih sibuk menuang sop buntut di atas mangkok berukuran besar yang terbuat dari keramik. Detik berikutnya, ia menatap Nur lalu berkata, "Sepertinya aku sudah mati rasa deh, Nur. Aku sudah cukup lama menangisi kelakuan mereka. Tapi, ada beberapa momen yang akhir-akhir ini bisa membuat hatiku agak puas, Nur. Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah balas dendam. Kalau ditanya perasaanku bagaimana, ya hampa, Nur. Seolah tidak ada apa pun di sana, selain kemarahan yang begitu besar. Aku sudah benar-benar rusak, Nur. Kalau terlena sedikit, mungkin aku bisa membunuh mereka suatu saat nanti. Oleh sebab itu, terus awasi diriku ya, Nur. Jangan biarkan aku kehilangan kendali."
Nur melongo oleh jawaban Niana, dan ia hanya mengangguk. Detik berikutnya, ia memilih untuk melanjutkan aktivitasnya lagi.
Niana sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mungkinkah ia memang sudah mati rasa secara emosional? Ataukah ia hanya sedang senang ketika melihat Endri tak bisa banyak berkutik lagi?
Sepertinya Niana belum berada di tahap depresi parah, mati rasa mungkin masih terlalu berlebihan baginya. Dan ia tidak boleh membuat diagnosa untuk dirinya sendiri tanpa bantuan seorang ahli. Namun entah mengapa, ia sudah berkenan untuk menunjukkan senyuman, meskipun bukan sebuah senyum yang ramah melainkan senyum meremehkan. Ia merasa suatu saat akan begitu senang dengan penderitaan besar yang mungkin bisa Endri alami.
"Aaaadddduuuuh! Bau bawang tahu, Mas! Ini apa sih?! Aku kan jadi mual!" Tiba-tiba terdengar ucapan Lesy yang keras.
Niana dan Nur langsung saling bertatapan. Lalu Nur menunjukkan ekspresi jijik.
"Mungkin lagi ngidam, Nur, biarkan saja. Tidak usah digubris. Nanti ketika aku kerja dan dia banyak permintaan lagi, lebih baik kamu menyingkir saja. Kalau Mas Endri marah-marah, aku yang akan membelamu. Lagi pula, aku yang merekrut dirimu, bukan mereka. Aku akan mengambil alih kewajiban untuk memberimu gaji, jadi mereka tidak berhak untuk memberimu perintah lagi," jelas Niana.
__ADS_1
Nur mengangguk mantap. "Baik, Nyonya!" Ia menggerakkan tangannya untuk menghormati Niana bagaikan hormat pada sang Pusaka. "Selama tiga hari ini dia juga suka perintah-perintah terus!"
"Aduh, Nur! Kenapa harus masak segala sih pagi-pagi? Sudah tahu ada orang hamil, kenapa masih pakai bawang-bawangan segala?! Bau banget tahu!" omel Lesy lagi dan masih berada di luar dapur.
Tak berselang lama, Lesy muncul di ambang pintu dapur. Dan ia mendapati keberadaan Niana serta Nur yang sibuk mengolah makanan. Ia terdiam sembari terus menutupi hidungnya. Ia juga menggertakkan gigi karena tidak senang dengan kehadiran Niana. Rupanya, Niana tak hanya kampungan melainkan juga cocok menjadi pembantu rumah tangga. Wanita seburuk itu ... pantas saja jika Endri sudah bisa jatuh cinta.
"Mbak Niana kenapa tidak pengertian sekali sih? Aku sedang hamil, Mbak!" ucap Lesy yang sudah mengubah caranya menyebut nama Niana. "Oh! Mbak Niana kan memang belum pernah merasakan jadi ibu hamil, wajar sih, kalau tidak tahu rasanya."
Niana menghela napas. Karena enggan berdebat panjang, ia memutuskan untuk kembali melanjutkan aktivitasnya. Nur yang melihat sikapnya juga lantas meniru. Lagi pula, tidak ada gunanya meladeni wanita hamil yang malas, lemah, serta manja seperti Lesy. Kalau Niana mendebat, Lesy mungkin bisa melakukan playing victim. Niana bukan wanita bodoh dan ia yakin Lesy akan menggunakan cara itu untuk membuatnya berada di posisi sebagai orang yang bersalah.
"Mbak Niana ini tidak punya hati, ya?! Aku itu sedang hamil dan tidak bisa tahan dengan aroma bahan dapur! Kenapa kalian tidak segera menyelesaikan aktivitas kalian sih?!" Lesy kembali mengomel. "Kalau Mbak memang tidak bisa hamil setidaknya hargai orang yang sedang hamil, dong! Benar-benar tidak tahu malu ya! Dasar wanita mandul!"
Detik itu juga Niana menghentikan aktivitasnya. Kali ini Lesy sudah keterlaluan. Apa hak Lesy mengatainya mandul tanpa bukti yang jelas? Hanya karena belum hamil, belum tentu tidak bisa hamil, bukan? Mengapa selain tega mengambil suaminya, mulut Lesy juga sejahat itu?
"Nur, buatkan susu hamil lagi buat aku yang sudah hamil dong!" titah Lesy pada Nur.
Nur menjatuhkan pisaunya di atas meja. "Tidak mau. Kenapa saya harus meladeni Anda terus-terusan?!" Dan ia menolak sesuai yang Niana perintahkan.
__ADS_1
Lesy yang nyaris memutar badan membatalkan niatnya. Detik berikutnya, ia berjalan ke arah Nur dengan kemarahan yang sudah sangat besar.
"Hei, kurang ajar sekali kamu?!" Lesy membentak Nur. "Kamu itu hanya pembantu di rumah ini, tahu!"
"Dan Anda kan juga cuma perebut laki orang yang begitu hina sampai tak tahu malu ketika hamil di luar nikah!" sahut Nur geregetan.
"A-apa?" Mata Lesy kian melebar. Urat-urat hijau di wajahnya bermunculan. "Kamu!" Tak lama lagi ia bisa memukul wajah Nur.
Namun ....
"Nur!" Endri pun datang. Ia juga marah karena sempat mendengar ucapan Nur yang begitu lancang. "Jaga mulut kamu, Nur! Lesy juga majikan kamu—"
"Saya hanya tidak bisa menerima nyonya tersayang saya disakiti oleh Tuan terus-terusan! Saya bahkan lebih baik dipecat, daripada harus meladeni wanita itu, Tuan! Tidak apa-apa kok. Daripada saya harus ikut berdosa karena mendukung perbuatan kalian pada Nyonya Niana!"
Wajah Endri langsung kebas. Sebelumnya ia sudah diabaikan oleh kedua mertuanya, Dany, bahkan, Niana, dan kini Nur yang hanya seorang pembantu mulai berani bersikap kurang ajar padanya. Geram sekali rasanya. Ia seperti sudah tidak memiliki harga diri lagi. Apakah jangan-jangan inilah yang Niana inginkan? Apakah Niana memang sudah membuat keadaannya menjadi runyam? Namun, mungkinkah wanita sebaik Niana yang kerap menuruti semua perkataannya bisa merencanakan hal yang sangat merugikan untuk dirinya?
***
__ADS_1